NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit 2

Legenda Naga Pemakan Langit 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

(SEASON 2) Di benua baru ini, Alam Inti Emas hanyalah debu di bawah sepatu para bangsawan. Raja Fana menjadi prajurit biasa, dan monster-monster Alam Penyatuan Langit berjalan membelah gunung dan membelokkan bintang. Tidak ada sekte lemah di sini; yang ada hanyalah Kekaisaran Kuno dan Klan Dewa yang dihormati layaknya pencipta.

Membawa garis keturunan Dewa Naga Primordial yang diburu oleh surga, Chu Chen menolak untuk merunduk. Di tanah di mana naga hanya dianggap sebagai mitos yang telah punah, ia akan membangkitkan kembali era dominasi mutlak. Jika surga menghalanginya, ia akan menelan surga itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Panglima

Tekanan sepatu bot berlapis emas itu meremukkan tulang rusuk sang Pengurus Rumah Lelang. Di bawah tatapan dingin tiga Panglima Raja Fana dari Pasukan Pemburu Bayangan Matahari, pasar gelap yang biasanya penuh dengan keangkuhan dan kejahatan itu kini hanya berisi ringkikan ketakutan.

"A-Ampun! Di bawah! Dia ada di lantai paling bawah!" Pengurus itu menjerit histeris sambil memuntahkan darah, menunjuk ke arah tangga batu melingkar di sudut ruangan dengan jari gemetar. "D-Dia menyewa Ruang Kedap Jiwa kuno! Tolong... jangan bunuh saya!"

Panglima terdepan, seorang pria jangkung dengan rambut dikepang rapi dan tatapan setajam elang, mendengus pelan. Ia menggeser kakinya dari dada Pengurus itu, lalu dengan satu gerakan santai, ia menginjak tenggorokan pria malang tersebut hingga hancur.

"Tinggalkan sepuluh orang untuk menjaga pintu keluar. Bunuh siapa saja yang mencoba lari," perintah Panglima Jangkung itu kepada anak buahnya. Ia menoleh ke dua Panglima Raja Fana lainnya. "Kita turun. Anak itu telah membunuh Kapten Yan Kuang. Jangan remehkan dia meskipun dia hanya berada di Alam Inti Emas. Jenderal Agung menginginkan kepalanya utuh."

Ketiga Panglima Raja Fana dan dua puluh prajurit pilihan Istana Jiwa Puncak melesat menuruni tangga batu melingkar bagaikan gelombang emas pembawa maut.

Di ujung tangga terbawah, lorong batu itu remang-remang. Namun, langkah para pemburu kekaisaran itu terhenti ketika mereka melihat dua sosok berdiri menghalangi jalan menuju Pintu Batu Penekan Jiwa.

Seorang pria tua yang memegang pedang dengan tangan gemetar, dan seorang wanita bergaun robek yang wajahnya sebagian tertutup sisa kain, memancarkan aura sedingin es abadi.

"Hanya seorang fana Lapis Kedelapan dan seorang wanita yang meridiannya lumpuh?" Panglima Jangkung mengerutkan kening, matanya menyapu lorong namun tidak menemukan tanda-tanda jebakan. Ia lalu menatap Pintu Batu Penekan Jiwa di belakang mereka. Pintu itu tertutup rapat, menghalangi semua gejolak Qi dari dalam.

"Pantas saja Niat Spiritual kita tidak bisa melacaknya. Dia bersembunyi di balik Batu Hitam kuno," ucap Panglima kedua, seorang pria berbadan kekar yang memanggul kapak raksasa. Ia tertawa meremehkan menatap Meng Fan dan Bai. "Singkirkan sampah-sampah ini dan hancurkan pintunya."

Dua prajurit Istana Jiwa Puncak melangkah maju, menghunus pedang perak mereka.

Meng Fan menelan ludah yang terasa seperti pasir. Dantian barunya bergejolak, namun ia tahu melawan ahli Istana Jiwa Puncak sama saja dengan menabrakkan telur ke batu karang. Meski begitu, ia tidak bergeser satu inci pun dari posisinya.

BUM!

Salah satu prajurit mengayunkan pedangnya dari jarak sepuluh langkah. Bilah angin Qi melesat, menghantam dada Meng Fan dengan telak.

"Gah!" Meng Fan memuntahkan darah, tubuhnya terlempar menghantam dinding lorong. Ia langsung tak sadarkan diri, tulang rusuknya retak parah, meski Dantiannya berhasil menahan nyawanya agar tidak langsung melayang.

Prajurit kedua mengarahkan pandangannya pada Bai. Ia menyeringai cabul melihat lekuk tubuh wanita itu di balik gaunnya yang robek. "Tuan Panglima, wanita ini lumayan juga. Bolehkah hamba menyimpannya setelah kita memotong kedua kakinya?"

Bai berdiri tegak. Matanya yang sebening kristal es menatap prajurit itu dengan kebencian dan keangkuhan mutlak. Di Benua Biru Langit, prajurit rendahan ini bahkan tidak layak mencuci sepatunya.

"Jangan sentuh dia dengan tangan kotormu," bisik Bai dingin.

Ia menggigit ujung lidahnya hingga berdarah. Mengabaikan segel Api Teratai Merah yang menekan meridiannya, Bai memaksakan diri membakar setetes Darah Esensi Istana Jiwa-nya yang masih tersisa di dasar jantungnya.

Seni Terlarang: Teratai Darah Pembeku Jiwa!

Seketika, darah yang menetes dari bibir Bai mengkristal di udara, berubah menjadi sebuah jarum es berwarna merah darah. Jarum itu melesat membelah udara dengan kecepatan yang melampaui batas pandangan ahli Istana Jiwa Puncak.

Pft!

Jarum es darah itu menembus tepat di antara alis prajurit yang sedang menyeringai cabul tersebut.

Senyum prajurit itu membeku. Seluruh tubuhnya, dari kepala hingga ujung kaki, langsung terlapisi es biru pucat dalam seperseribu tarikan napas. Ia mati berdiri sebagai patung es di tengah lorong.

Keheningan melanda lorong tersebut. Para prajurit kekaisaran terbelalak ngeri. Wanita yang meridiannya lumpuh ini baru saja membunuh rekan mereka dalam satu serangan diam-diam!

"Ugh..." Bai jatuh bertumpu pada satu lutut, batuk darah dengan hebat. Memaksakan serangan itu membuat jantungnya seolah ditusuk ribuan jarum. Ia tidak memiliki tenaga lagi bahkan untuk sekadar mengangkat tangannya.

Panglima Jangkung menyipitkan matanya, Niat Membunuhnya meledak. "Ilmu es tingkat tinggi... Kau menyembunyikan asal usulmu, Jalang! Beraninya kau membunuh prajurit Kekaisaran Matahari Suci!"

Panglima itu tidak lagi menyuruh anak buahnya. Ia sendiri yang melangkah maju, melepaskan tekanan Hukum Raja Fananya. Udara di lorong itu menjadi seberat timah cair. Bai ditekan hingga wajahnya hampir menyentuh lantai batu, tulangnya berderit menahan himpitan.

"Aku akan mencabut seluruh ingatan dari kepalamu, lalu melempar tubuhmu ke barak prajuritku," desis Panglima Jangkung itu. Ia mengulurkan tangannya, memadatkan Qi emas yang berniat mencengkeram tengkorak Bai.

Bai memejamkan matanya, menanti kematian yang menjemput.

Namun, sebelum jari-jari emas Panglima itu menyentuh rambut Bai...

DEG.

Sebuah getaran aneh merambat dari balik Pintu Batu Penekan Jiwa di ujung lorong. Getaran itu sangat halus, namun memiliki ritme yang membuat jantung ketiga Panglima Raja Fana di sana tiba-tiba berdetak lebih cepat secara tidak wajar.

DEG.

Getaran kedua terjadi. Kali ini, debu-debu di langit-langit lorong berjatuhan. Pintu Batu Penekan Jiwa—benda yang disebut-sebut bisa menahan serangan penuh dari ahli Penyatuan Langit sekalipun—mulai memancarkan cahaya merah darah dari sela-sela ukirannya.

"A-Apa yang terjadi pada pintu itu?!" seru Panglima berkapak raksasa, mundur selangkah.

Di dalam ruang rahasia, Chu Chen perlahan membuka matanya.

Lautan Qi di Dantiannya yang tadinya berwujud cairan telah sepenuhnya menguap, lalu memadat kembali, menciptakan sebuah fondasi padat yang mengambang di atas kehampaan. Di atas fondasi itu, sebuah perwujudan bayangan bangunan megah perlahan terbentuk.

Bangunan itu tidak terbuat dari batu giok atau cahaya spiritual putih seperti Istana Jiwa pada umumnya. Istana Chu Chen sepenuhnya dibangun dari kerangka tulang naga raksasa berwarna hitam legam, di mana pilar-pilarnya dialiri oleh lahar Api Teratai Merah, dan atapnya memancarkan ketajaman Niat Pedang Purba.

Alam Istana Jiwa Tahap Awal.

Tapi ini bukanlah Istana Jiwa manusia. Ini adalah Istana Jiwa Naga!

Chu Chen menghembuskan napas panjang. Kekuatan yang mengalir di setiap serat otot dan darahnya kini puluhan kali lipat lebih mengerikan daripada saat ia berada di Puncak Inti Emas. Ia bisa merasakan setiap riak energi, setiap niat membunuh dari puluhan semut yang berdiri di luar pintunya.

Ia melirik ke arah Bai yang sedang ditekan di luar sana melalui Niat Spiritualnya yang kini bisa dengan mudah menembus Batu Penekan Jiwa.

"Menyentuh barang milikku?" suara Chu Chen bergema sangat pelan di dalam ruangan.

Chu Chen bangkit berdiri. Ia tidak berjalan. Ia hanya merentangkan tangan kanannya dan mengepalkannya dengan pelan.

Di luar ruangan, Panglima Jangkung yang baru saja hendak menyentuh Bai mendadak merasakan hawa kematian yang paling murni dalam hidupnya.

BUMMMMMMMMM!!!!

Pintu Batu Hitam Penekan Jiwa yang setebal tiga tombak itu... meledak dari dalam!

Bukan sekadar pecah, pintu batu tak tertembus itu hancur menjadi jutaan serpihan kerikil tajam yang terhempas keluar bagaikan badai peluru pelontar ke arah pasukan kekaisaran.

"Bertahan!" jerit ketiga Panglima Raja Fana serempak, melepaskan perisai Qi emas mereka.

TRAAANG! KRAAS! BUMMM!

Lorong bawah tanah itu berubah menjadi mesin penggiling daging. Badai pecahan batu penekan jiwa yang didorong oleh ledakan aura Istana Jiwa Naga mencabik-cabik perisai puluhan prajurit Istana Jiwa Puncak. Jeritan kesakitan bergema saat baju zirah perak mereka tembus, tubuh mereka terlempar, dan darah membasahi dinding lorong.

Ketiga Panglima Raja Fana berhasil menahan badai tersebut dengan perisai Hukum mereka, namun mereka semua terdorong mundur belasan langkah, dada mereka sesak akibat gelombang kejut yang menentang nalar itu.

Debu tebal mengepul dari puing-puing pintu yang hancur.

Dari balik kepulan debu itu, terdengar suara langkah kaki yang stabil, tenang, dan memancarkan wibawa mutlak dari pemangsa yang baru saja terbangun dari tidurnya.

Sesosok pemuda melangkah keluar. Jubah abu-abunya bergerak tertiup angin panas. Sepasang matanya yang gelap kini memancarkan cahaya emas vertikal yang menyala layaknya dua bintang mati. Di belakang pemuda itu, mengambang bayangan semu dari sebuah istana yang terbuat dari tulang naga dan api darah, menekan seluruh hukum alam fana di dalam lorong sempit tersebut.

Bai, yang tergeletak di lantai, menengadah menatap sosok itu dengan napas tertahan. Ia merasakan tekanan yang belum pernah ia saksikan seumur hidupnya.

Chu Chen menundukkan pandangannya, melirik Bai yang sedang berdarah di dekat kakinya, lalu mengangkat wajahnya untuk menatap ketiga Panglima Raja Fana yang kini membeku dalam ketidakpercayaan.

"Kalian terlalu berisik," ucap Sang Naga Pemakan Langit, suaranya sedingin jurang maut, "Saat aku sedang menikmati makanku."

1
Nur Aini
Thor, yg kaisar abadi penentang surga 2 kok blm update juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!