NovelToon NovelToon
Kembalinya Putri Yang Terkutuk

Kembalinya Putri Yang Terkutuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Ilyar Justina dijatuhi hukuman pengasingan setelah dituduh merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, Raja Tyraven. Ia dikirim ke Dakrossa—penjara paling kejam di Kekaisaran Eldrath, tempat para penjahat paling berbahaya dibuang. Semua orang yakin gadis lemah lembut yang bahkan tak bisa bertarung itu tak akan bertahan lama di sana.

Namun, tahun-tahun berlalu, dan Ilyar kembali. Bukan sebagai sosok yang sama, melainkan seseorang dengan aura dingin dan kegilaan yang mengendap di balik senyumnya. Di hadapan saudara-saudaranya yang dipenuhi kebencian, ia hanya tersenyum tipis. “Sepertinya kalian sangat senang dengan kepulanganku.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

Ilyar menyeringai pada Eleth kemudian berkata, "Ini mulai seru. Kamu punya teknik yang sangat berguna untuk dipelajari."

Eleth menyudahi jeda pertarungan, melesat dan mengayunkan satu belati yang tersisa di tangan. Saat ini yang bisa dilakukan Ilyar hanya berkelit sembari mengikuti pergerakan tangan dan setiap teknik serangan yang dilancarkan Eleth. Dia perlu mempelajarinya, meski tindakan itu mengurangi pertahanan sehingga Eleth punya kesempatan melukainya. Mengiris daging Ilyar dengan bilah tajam belati.

"Mana kesombonganmu tadi? Sekarang kamu sadar seberapa jauh jarak kemampuan kita?" cibir Eleth seraya menjilat darah Ilyar yang meleleh di permukaan belati.

Ilyar mengembuskan napas perlahan setelah memahami sedikit cara bertarung Eleth. Lantas dia memandangi belati di tangan sebelum akhirnya tersenyum dan melesat untuk mengembalikan setiap serangan musuhnya. Sepasang mata Eleth melebar, meski terbilang masih kaku dan tampak asal-asalan, cara Ilyar menggunakan belati sekilas mirip gaya bertarungnya.

"Bocah ini!"

Eleth melompat mundur seiring genggaman pada belati menguat, kegelisahan mulai merayap dari ujung jemarinya.

"Pantas saja pertahanannya kurang, ternyata dia fokus mempelajari teknik bertarungku!"

Hufh...

Seolah tidak mempedulikan sekitarnya, sepasang mata Ilyar hanya fokus pada Eleth. Dia mengembuskan napas dan melesat untuk kembali bertukar serangkaian serangan.

Ting!

Dua senjata logam tipis yang menyapa satu sama lain meninggalkan bunyi denting tajam pendek yang tampak terputus-putus sebab terus terulang.

String!

Ukh!

Pada benturan selanjutnya, senjata mereka melepas bunyi tipis panjang seolah hendak mengiris indera pendengar semua orang.

"Apa-apaan bocah ini?"

Eleth menjerit dalam hati tatkala Ilyar makin mahir dalam penggunaan belati. Di beberapa momen, gadis itu nyaris menyelinapkan serangan mematikan ke area vitalnya. Terlambat sedikit saja, Eleth yakin akan terkapar dan bersimbah darah, mati dalam hitungan detik.

"Kemana fokusmu?" Ilyar bertanya sesaat wajahnya sudah berada di bawah kepala Eleth yang agak menunduk.

Eleth tak sempat mengelak sementara Ilyar mengubah posisi belatinya jadi terbalik lalu menggunakan gagang belati untuk memukul dagu bagian bawah Eleth.

"Apa yang dia lakukan? Padahal dia bisa membunuh Eleth."

"Dia membuang-buang tenaga."

"Lagi pula anak itu memang tidak pernah membunuh, kan? Dia menghajar kita sampai sekarat saja."

"Bukankah itu lebih mengerikan dari pada terbunuh cepat?"

Itulah komentar para tahanan yang menonton di kursi masing-masing. Sementara, Ilyar menunggu Eleth untuk berdiri dan kembali mendapatkan fokus dalam pertarungan.

"Apa kamu mengasihaniku?" Eleth meludah darah, bagian dalam mulutnya terluka akibat pukulan tadi.

Ilyar mengerutkan dahi. "Huh? Apa aku sepeduli itu padamu? Aku hanya tidak mau ini berakhir cepat karena masih banyak yang bisa kuamb-"

Ilyar merapatkan mulut sejenak. Berpikir seharusnya tidak memberi tahu alasan sebenarnya, yakni dia ingin bertarung sampai benar-benar lelah setelah mempelajari cara bertarung jarak dekat milik Eleth menggunakan belati. Dia akan mendesak pria itu terus bertarung sampai tidak mampu lagi berdiri. Sudah ada peluang, Ilyar ingin memanfaatkannya tanpa merugi sedikit pun.

"Ya, aku mengasihanimu karena begitu lemah." Ilyar memperbaiki alasannya.

Sudut bibir Eleth berkedut sementara para tahanan agak geleng-geleng kepala karena sudah tahu tujuan Ilyar membiarkan Eleth tetap berdiri di sana untuk bertarung lewat perkataan yang sempat terputus tadi.

Satu jam kemudian, belati di genggaman Eleth terlepas bersamaan tubuh yang limbung tak berdaya dengan sekujur luka sayat memenuhi tubuh. Sementara, Ilyar masih berdiri tegap, tapi raut wajahnya tidak terlalu puas.

"Sial! Sial! Seharusnya aku berhenti sejak awal, tapi dia sengaja memprovokasiku! Seharusnya aku sadar, sejak tadi dia sengaja menahan serangan mematikanku dan terus membiarkanku berdiri di saat bisa membunuhku! Dia memaksaku terus bertarung demi keuntungannya!"

Eleth meraung di balik ketidakberdayaan oleh rasa sakit yang membekukkan seluruh otot tubuhnya. Dia hanya mampu merasakan sensasi menusuk-nusuk dari luka-luka yang tertoreh di tubuhnya.

"Aku jadi punya banyak luka," komentar Ilyar sesaat mendapati luka-luka dari sabetan belati Eleth di lengan, perut, juga bagian pahanya. Dia menerima cukup banyak, tapi tidak separah lawannya.

Melihat kekacauan di lantai sepuluh yang timbul akibat pertarungan antara Ilyar dan dua terpidana mati, Solomon sama sekali tidak mengkritisi perbuatan salah satu dari mereka. Justru menikmati suasana setelah pertarungan usai, di mana dia mendapati Ilyar meringkus Eleth yang tidak berdaya. Penampilan serupa tampak dari Ilyar, tapi tidak separah lawan-lawannya.

Kepala Oras retak dan bocor akibat terkena kepala gesper dan tinju Ilyar. Sementara, Eleth seperti orang teler yang sekarat. Tubuhnya dipenuhi luka dan noda darah mulai mengering. Borgol rantai kembali dipasangkan sipir kepada Eleth dan Oras kemudian Ilyar meminta mereka untuk tidak dikeluarkan dari tahanan sampai hari eksekusi tiba.

"Tampaknya kamu bersenang-senang," komentar Solomon.

Ilyar segera mendelik tajam ke arah Solomon.

Aura yang dipancarkan gadis itu cukup membuat Solomon mengerti kemarahannya.

"Bukankah terbalik?" Ilyar mencibir.

"Seharusnya kamu berterima kasih. Bukankah kamu juga menikmatinya?"

Ilyar menahan decakan karena perkataan Solomon tidak sepenuhnya salah. Malas meladeni Solomon lagi, Ilyar berbalik memungut ikat pinggang yang sebelumnya dia pinjam, diserahkan pada pemiliknya.

"Terima kasih," ucap Ilyar pada si sipir, pemilik ikat pinggang itu.

Sipir menerimanya sambil menatap kilauan pada kepala gespernya tertutup noda darah.

Tampilannya jadi mengerikan.

"Kamu telah menyelamatkan petugas dan mencegah para tahanan yang hendak kabur, hadiah macam apa yang perlu kuberikan?" tanya Solomon.

Ilyar mendengkus. "Bukankah terlalu cepat?

Kupikir kamu tidak akan berhenti hanya untuk hari ini."

Senyum Solomon tertahan. Tentu saja, iya. Dia akan melepas para tahanan yang akan dieksekusi dalam waktu dekat. Mereka harus dimanfaatkan sebaik mungkin, setidaknya dibuat berguna sebelum kematian menjemput.

Sekujur tubuh Solomon bergelenyar.

Membayangkan bagaimana terkejutnya para musuh setelah tahu jika dia sedang melatih seorang monster dari keluarga Valgard. Bocah yang mereka jadikan kambing hitam akan berevolusi, tidak, melainkan berubah jadi hewan buas.

"Kalau begitu istirahatlah, akan kupanggilkan tabib untuk mengobati lukamu."

Ilyar menatap Solomon makin datar kemudian memalingkan wajah tanpa minat sembari meminta sipir yang dia pinjam ikat pinggangnya untuk mengantarnya ke ruang tahanan.

"Sebaliknya antar saja makanan ke ruang tahananku. Tidak perlu memanggil tabib, aku harus terbiasa dengan luka-luka ini," jawab Ilyar.

Di lain sisi, pada salah satu ruang tahanan di lantai lima, wajah Heidan menempel kuat pada pintu karena tangan gemuk Adrene mencekal kerah seragamnya melalui tray slot.

"Tidak bisakah Anda melepaskan saya dulu?" tanya Heidan.

Adrene melepaskan cengkeramannya setelah dibujuk Valeris dan Rubia. "Sebenarnya bocah itu baik-baik saja atau tidak? Kenapa kamu selalu mengatakan dalam waktu dekat akan mempertemukan kami, tapi sudah dua tahun lebih berlalu, kami tidak melihatnya! Apa kalian diam-diam menyiksanya?!"

Heidan membenarkan kerah seragam lalu berdehem. Sebenarnya itu hanya alasan demi menghindari tiga wanita yang selalu mendesaknya agar dipertemukan Ilyar.

"Hah saya juga lelah beralasan. Sebenarnya situasi di lantai sepuluh sangat kacau. Para tahanan terus saja membuat masalah dan kami tidak bisa membawa tahanan kelas bahaya kemari."

"Tapi kamu tahu, kan, jika Ilyar tidak akan membuat masalah seperti kabur atau sebagainya. Dia pasti akan tenang jika ingin menemui kami," kata Valeris.

Heidan setuju pada perkataan itu. Ilyar malah sangat senang jika bertemu tiga gurunya. "Benar, tapi masalahnya tidak ada waktu bagi Ilyar untuk menemui kalian. Lantai sepuluh itu... sekarang berada di dalam kendali Ilyar. Jika dia tidak ada di sana, situasinya akan runyam."

"Aku benar-benar tidak mengerti maksud bocah ini!" Rubia memukul pintu membuat Heidan yang berada di luar terkejut.

"Lantai sepuluh punya peraturan baru, di mana yang terkuat adalah aturannya. Semacam penguasa di antara para tahanan dan karena itu dia tidak boleh sembarangan meninggalkan lantai sepuluh.

Kekosongan kekuasaan bukan hal yang bagus.

Kalian mengerti?"

"Jadi maksudmu... Ilyar yang terkuat di sana?"

Heidan mengangguk. "Benar."

1
Mila Sari
Thor upnya yg banyak donk,,
Iry: malam ya beb
total 1 replies
PengGeng EN SifHa
Diam...mengamati...berakhir EKSEKUSI😐😐😐
𝐀⃝🥀Weny
ceritanya tambah seru aja thor..
Iry: hehehe iya beb
total 1 replies
Firniawati
ayo kak up lagi yg banyak 😍
Iry: sabar yahhhh, mungkin malam
total 1 replies
PengGeng EN SifHa
intrik..ambisius & haus akan valisldasi disebuah kerajaan..memang sangat membagongkan..baik didunia nyata maupun cerita❤️❤️❤️❤️
Gesang
seruuuuu👍👍👍
Firniawati
sangat bagus ceritanya seru tidak monoton dan membosanka,,terus semangat ya kk othor 🥰
Iry: waaaahhh makasih banyak❤
total 1 replies
Firniawati
kak kapan update lagi?
Iry: aku update hari ini
total 1 replies
EL MARIA
kok sama kaya yg di fizo yaa.... yg di fizo udh tamat dari lama ini autor nya sama kah
CaH KangKung,
👣👣
𝐀⃝🥀Weny
lanjut lagi thor.. ceritamu yang ini tambah seru dan penuh tantangan😊
𝐀⃝🥀Weny: yeeey.. thanks thor❤️❤️❤️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!