NovelToon NovelToon
Kebangkitan Pewaris Rahasia

Kebangkitan Pewaris Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: BRAXX

Atlas hancur dalam semalam: dipecat karena jebakan kotor, dikhianati kekasihnya Clara yang berselingkuh dengan Stevan—anak bosnya, lalu diserang hingga tak sadarkan diri.

Tapi takdir berkata lain.

Kalung peninggalan nenek buyutnya, Black Star Diopside, yang selama 20 tahun ia kenakan, tiba-tiba terbangkit. Kalung itu memberinya kekuatan luar biasa: menyembuhkan penyakit, mendeteksi ajal, dan kekuatan fisik dahsyat.

Dari pegawai rendahan yang diinjak-injak, Atlas bangkit sebagai pewaris kekuatan rahasia. Ia bertemu dengan Tuan Benjamin, miliarder tua misterius yang membutuhkan pertolongan medisnya. Namun di balik kebaikan Benjamin, tersembunyi agenda besar.

Dengan adiknya Alicia yang terancam bahaya, Atlas harus melawan Stevan, Clara, hingga geng bayaran Dragon Blood. Akankah kekuatan kalungnya cukup untuk melindungi semua yang ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 - Bertemu Mantan

Atlas dan Alicia memasuki ruang VVIP sementara Tuan Benjamin sedang bersulang dengan rekan-rekannya. Semua mata tertuju pada mereka.

"Siapa itu?" kata salah satu dari mereka.

Tuan Benjamin melihat ke arah yang mereka tunjuk dan berkata, "Ah, Atlas, kemarilah, Nak!"

Atlas tersenyum lebar, menundukkan kepalanya, lalu berjalan menuju Tuan Benjamin.

Tuan Benjamin mengetuk gelasnya dengan sendok, berdiri dari kursinya, dan berkata, "Hadirin sekalian, mari sambut Atlas. Dia adalah rekanku."

Hampir sepuluh orang di ruangan itu mengangkat gelas mereka dan tersenyum kepada Atlas. Itu adalah pemandangan luar biasa bagi Atlas, yang belum pernah merasakan kehidupan layaknya orang besar yang memiliki segalanya.

Apa yang dilakukan Tuan Benjamin meninggalkan kesan mendalam. Keinginan Atlas untuk menyembuhkan penyakit Tuan Benjamin semakin meningkat. Rasa terima kasih memenuhi hatinya. Ia tidak pernah menyangka akan dihargai seperti sekarang. Biasanya, ia hanyalah sampah yang diejek banyak orang karena dianggap menjijikkan.

"Silakan duduk, Atlas, Alicia. Mari kita nikmati hidangan yang berbeda dari yang disajikan di luar." Tuan Benjamin memberi isyarat ke dua kursi kosong di sampingnya.

"Terima kasih, Tuan Benjamin."

Jantung Atlas berdegup kencang. Hidangan di hadapannya adalah makanan kelas atas yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Seorang pria berambut putih, yang dikenal sebagai pemilik merek perhiasan terkenal, duduk di seberang Atlas, mengamatinya dan berkata, "Jadi, Atlas, perusahaan apa yang kau miliki? Mungkin kita bisa bekerjasama. Aku sedang mencari tempat baru untuk menginvestasikan uangku."

"Um—."

Melihat Atlas kesulitan menjawab, Tuan Benjamin segera memotong percakapan. "Dia masih pendatang baru dalam dunia bisnis. Kami sedang menyiapkan sesuatu yang besar. Setelah semuanya siap, aku akan memberitahu kalian."

"Bagus sekali, aku menantikannya. Atlas, ketahuilah bahwa saat kau berada di dekat Benjamin, semua masalah hidupmu akan lenyap, dan kau akan menjadi orang hebat! Kami bertujuh di sini adalah pemimpin sukses yang bangkit dengan bantuan Benjamin. Pria ini terlalu hebat untuk dikalahkan!"

Atlas melihat empat orang yang duduk bersamanya di meja. Mereka semua tampak setuju dengan kata-kata pria berambut putih itu.

Atlas juga merasakan kekaguman. Sosok Tuan Benjamin yang sebelumnya ia curigai kini berubah menjadi pria yang sangat baik dan suka menolong.

Hal yang sama juga dirasakan Alicia, ia juga memiliki kekaguman yang sama seperti kakaknya. Meskipun ia tidak sepenuhnya memahami apa yang dibicarakan orang-orang di depannya, ia tetap tertarik untuk mengamati mereka.

Ia begitu fokus hingga tidak menyadari ponselnya bergetar selama beberapa detik.

"Alicia, ponselmu bergetar. Kau tidak mendengarnya?" tegur Atlas kepada adiknya.

"Uh!" Alicia mengeluarkan ponselnya dari tas dan melihat panggilan masuk dari Peter.

"Siapa yang meneleponmu?" Atlas melirik ponsel itu, tetapi Alicia segera menutup tasnya.

"Itu temanku, aku akan menjawabnya di luar.”

Alicia berdiri dan meninggalkan Atlas, yang terus memperhatikannya hingga ia tidak lagi terlihat.

Toilet adalah tujuan Alicia. Wajahnya masih tegang, bagaimana tidak? Peter adalah mantan pacarnya yang paling berkesan. Mereka telah berpisah selama enam bulan, tetapi cinta masih tersisa di hati Alicia.

Alicia juga tidak ingin Atlas tahu bahwa ia terlibat hubungan dengan seorang pria. Meskipun sudah lama berpisah, Atlas selalu menekankan kepada adiknya untuk tidak menjalin hubungan di usia muda.

Alicia menarik napas dalam-dalam dan menggeser jarinya untuk menjawab panggilan kedua dari Peter.

"Halo..." suara Alicia terdengar lembut dan halus.

"Halo, Alicia. Kau di mana? Apa kau sibuk?”

Alicia tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya saat mendengar suara pria itu yang dalam dan serak.

"Tidak, aku tidak sibuk. Kenapa kau meneleponku, Peter?"

"Aku sedang di kota ini dan mendengar kau juga ada di sini. Jadi aku meneleponmu. Aku ada di restoran dekat kawasan eksklusif bagian selatan. Ngomong-ngomong, kau di mana?"

"Benarkah? Aku sedang berada di gedung pertemuan di kawasan yang kau sebutkan! Aku bersama kakakku. Wah, kita sangat dekat, Peter."

"Kebetulan yang sangat menguntungkan. Kalau begitu, bisakah kita bertemu? Sudah lama aku tidak melihatmu, bahkan hanya mengobrol setengah jam saja sudah lebih dari cukup. Sejujurnya, aku memang berniat menemuimu, Alicia... aku merindukan senyummu."

Jantung Alicia berdebar kencang, sisa cinta di hatinya kembali menyala. Tentu saja ia ingin menerima tawaran ini. Namun, Atlas tidak pernah mengizinkannya pergi, apalagi untuk menemui seorang pria.

"Alicia, kau mendengarku?"

"Uh, ya, ya, aku mendengarmu, Peter. Tapi sepertinya aku tidak bisa menemuimu di sana."

"Kenapa? Bagaimana kalau aku yang datang menemuimu? Apa ada tempat untuk duduk di sekitar sana?"

Alicia ragu sejenak, bergumam dalam hati. 'Ide yang bagus, aku masih berada di dalam kompleks gedung. Atlas mungkin akan mengizinkannya. Lagipula, hanya mengobrol sebentar. Aku juga merindukan Peter.'

"Baiklah, kalau begitu kau datang ke sini. Aku akan kirim lokasinya, tunggu di luar dan telepon aku saat kau sampai. Kita bisa mengobrol di sekitar gedung ini."

"Bagus, dimanapun itu, selama aku bisa bersamamu, Alicia. Ngomong-ngomong, segera kirim lokasinya. Aku akan menunggu!”

Alicia mengakhiri panggilan. Ia melompat kecil di dalam toilet dan segera mengirim lokasi gedung pertemuan itu.

Alicia kemudian keluar dari toilet dan menemukan Atlas berdiri di dekat pintu ruang VVIP, melihat sekeliling.

"Atlas, ada apa?"

"Astaga, aku mencarimu, Alicia. Kau sudah pergi lebih dari sepuluh menit, aku kira sesuatu yang buruk terjadi padamu! Kembalilah ke dalam."

Saat Atlas hendak melangkah maju, Alicia menarik tangannya dan berkata, "Atlas, tunggu!"

"Apa?"

"Um, temanku ada di sini bersama pacarnya, dan kebetulan mereka sangat dekat dengan tempat ini. Dia bilang ingin bertemu denganku. Bolehkah aku menemuinya sebentar di luar? Kami tidak akan pergi ke mana-mana, hanya ingin mengobrol dan bernostalgia. Dia teman SMA-ku, dia selama ini di London, dan aku merindukannya. Tolong!" Alicia menangkupkan tangannya dan memohon kepada Atlas.

Atlas tampak ragu. "Siapa nama temanmu? Kenapa tidak bertemu besok saja? Kau bisa menghabiskan waktu lama dengannya."

"Cherry, kau pernah bertemu dengannya sebelum kau pindah ke kota. Kami memang ingin bertemu besok, tapi dia akan berangkat ke Kanada besok. Jadi, malam ini satu-satunya kesempatan untuk bertemu. Lagi pula, acara di sini masih berlangsung cukup lama. Setengah jam adalah waktu maksimal kami untuk mengobrol."

Atlas mengerutkan kening, dipenuhi keraguan, tetapi akhirnya ia menyetujui permintaan adiknya. "Baiklah, kau boleh menemuinya. Tapi ingat! Jangan pergi ke mana-mana!"

"Baik, terima kasih, Atlas! Aku akan menunggunya di luar. Kau kembali saja ke dalam dan temani Tuan Benjamin!"

Saat Atlas masuk kembali ke ruang VVIP, Alicia segera bergegas keluar. Beberapa pesan dari Peter muncul, memberitahunya bahwa ia sedang menunggu di taman di sisi kanan gedung.

Alicia mengikuti petunjuk itu dan mulai berjalan. Meskipun berada di area elit, lampu jalan menuju taman itu mati. Akibatnya, suasana menjadi cukup gelap.

Alicia tersenyum lebar saat melihat Peter melambaikan tangan kepadanya di dekat sebuah pohon. Kerinduan di hatinya tidak sabar untuk diluapkan.

"Hai, maaf kalau—."

Sebelum Alicia sempat menyapa Peter, tiba-tiba seorang pria bertopeng mendekat dari belakang dan menutup mulutnya dengan kain. Alicia segera melemah dan pingsan. Tubuhnya dibawa oleh dua orang lainnya dan dimasukkan ke dalam mobil hijau tua yang langsung melaju begitu pintu tertutup.

Tepuk tangan terdengar dari balik pohon. Stevan dan Bianca muncul dengan senyum licik di wajah mereka. Stevan menepuk bahu Peter dan berkata, "Kerja bagus, Peter. Aku akan segera mengirimkan uangmu.”

1
Was pray
flhasbacknya terlalu panjang, diringkas aja Thor, singkat tepat padat, kalau terlalu panjang jadi kayak emak2 yg lagi ngerumpi gak kelar2
Was pray
Alicia sosok cewek lemahkah?
Was pray
awal cerita dimulai konflik yg membosankan, urusan apem cewek
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Sebagai manusia, kita seharusnya belajar untuk tidak terlalu cepat menarik kesimpulan tentang seseorang hanya dari penampilannya.
Ungkapan "Don't judge a book by its cover" menekankan pentingnya tidak menilai seseorang hanya dari penampilan luar.
Penampilan fisik tidak mencerminkan kualitas, karakter, atau kemampuan seseorang yang sebenarnya.
Menilai berdasarkan penampilan dapat menyebabkan prasangka, kesalahan interpretasi, dan ketidakadilan.

Berikut poin penting mengapa kita tidak boleh menilai dari penampilan:
Kualitas Tersembunyi: Kebaikan atau karakter sejati seseorang sering kali tidak terlihat dari luar.
Menghindari Prasangka: Menilai orang lain dengan cepat dapat menghasilkan asumsi yang salah dan tidak adil.
Pentingnya Mengenal Lebih Dalam: Diperlukan waktu untuk memahami sifat dan hati seseorang, bukan sekadar melihat pakaian atau gaya mereka.
Keadilan dalam Berinteraksi: Semua orang layak dihormati tanpa memandang status sosial atau penampilan.
Prinsip ini mengajak kita untuk lebih terbuka, tidak mudah berprasangka, dan menghargai orang lain berdasarkan tindakan serta karakternya...🤔🤭🤗
amida
ditunggu part selanjutnya dengan sabar tapi deg-degan
Coutinho
teruskan kak
sweetie
semangat truss kak author
ariantono
.
Stevanus1278
dobel up dong kk
oppa
lanjut kak, jangan lama-lama
cokky
lanjut terus ya kak
corY
next chapter please, lagi butuh hiburan nih
Coutinho
kok bingung ya dengan jalan ceritanya, sebenarnya Benjamin ingin menyelamatkan Atlas atau ingin membunuhnya???
sweetie
terimakasih Thor, dobel up nyaaa, semangat terus
Billie
kualitas cerita selalu konsisten, keren
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
laba6
keren karya nya tor
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
Coffemilk
hadir tor
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
ariantono
jangan lama-lama up nya ya kak🙏🙏
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
king polo
ini baru seru
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
Budiman
ditunggu up berikutnya ya kak
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!