NovelToon NovelToon
Aku Diculik Mafia Tampan

Aku Diculik Mafia Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Sinopsis – Aku Diculik Mafia Tampan

Alya, gadis sederhana yang bekerja keras demi menghidupi ibunya, tak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu kecelakaan kecil. Saat menabrak mobil mewah di tengah hujan, ia justru diculik oleh pemilik mobil itu—Kael Lorenzo, pria tampan, kaya raya, dan pemimpin mafia paling ditakuti di kota.

Dibawa ke mansion megah bak penjara emas, Alya dipaksa tinggal bersama pria berbahaya yang dingin dan kejam itu. Kael seharusnya menyingkirkannya, tetapi ada sesuatu pada Alya yang membuatnya tak mampu melepaskan.

Semakin Alya melawan, semakin Kael terobsesi.

Ia melarang Alya pergi.
Ia menghancurkan siapa pun yang mendekat.
Ia rela menumpahkan darah demi menjaga gadis itu tetap di sisinya.

Namun saat rahasia masa lalu Kael mulai terbongkar dan musuh-musuh mafia mengincar Alya, keduanya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya.

Bisakah Alya kabur dari pria yang menculiknya…
atau justru jatuh cinta pada mafia tampan yang menganggapnya milikny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat Pernikahan

Bab 10 – Surat Pernikahan

“Nona Serena datang… dan dia membawa surat pernikahan resmi!”

Kalimat pelayan itu bagaikan petir yang menyambar di tengah ruangan.

Alya membeku di tempatnya. Seluruh darah di tubuhnya seakan berhenti mengalir.

“Apa?” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar.

Ayah Kael menatap tajam ke arah pintu masuk, wajahnya terlihat puas seolah sudah menunggu kedatangan ini.

“Suruh dia masuk.”

“TIDAK.”

Satu kata itu meluncur begitu saja dari mulut Kael. Dingin, tegas, dan mutlak. Tidak ada ruang untuk penolakan.

Ayahnya menoleh perlahan, tatapannya menyala marah.

“Kau menolak perintahku lagi, Kael? Kau benar-benar ingin melawan takdir?”

“Aku hanya menolak drama murahan yang tidak perlu,” jawab Kael datar, tubuhnya tegak tak gentar sedikit pun.

Namun sebelum ketegangan itu mereda, suara langkah kaki terdengar jelas dari lorong aula depan.

Tok. Tok. Tok.

Suara hak sepatu tinggi yang mengetuk lantai marmer, terdengar anggun namun penuh dengan intimidasi.

Serena muncul di ambang pintu.

Ia mengenakan gaun panjang berwarna merah gelap yang membalut tubuhnya sempurna, menonjolkan setiap lekuk indahnya. Rambutnya disanggul rapi dan elegan, wajahnya tampak sempurna dengan riasan tegas, dan matanya memancarkan aura kemenangan serta keangkuhan.

Di tangannya yang berhias cincin berlian, ia menggenggam sebuah map dokumen berwarna hitam tebal.

Wanita itu berjalan mendekat, berhenti tepat beberapa langkah di depan Kael.

Tatapan matanya menyapu wajah Alya dengan sangat cepat… namun cukup lama untuk membuat Alya merasakan kebencian yang begitu pekat dan tajam menusuk.

Lalu seketika, wajah Serena berubah menjadi manis dan lembut saat menoleh ke arah Tuan Lorenzo.

“Maaf datang mendadak dan mengganggu, Tuan. Saya hanya ingin menyelesaikan sesuatu yang penting.”

Ayah Kael mengangguk tipis, senyumnya terlihat sangat setuju.

“Kau selalu diterima di rumah ini, Serena. Kau sudah seperti keluarga sendiri.”

Kalimat itu terasa seperti tamparan tak langsung bagi Alya. Dadanya sesak mendengarnya. Oh, jadi mereka sudah sedekat itu ya? batinnya getir.

Kael berdiri di sana dengan wajah datar tanpa ekspresi, seolah orang yang dibicarakan bukanlah dirinya.

“Apa maumu, Serena? Katakan saja. Aku tidak punya banyak waktu,” ucap Kael ketus.

Serena tersenyum miring, lalu perlahan mengangkat map hitam di tangannya.

“Ini.”

Ia membuka map itu dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen resmi dengan kop surat dan stempel yang jelas terlihat.

“Surat perjanjian pertunangan resmi yang ditandatangani oleh kedua keluarga kita… tiga tahun yang lalu.”

Alya menoleh cepat ke arah Kael, matanya membelalak.

“Pertunangan?”

Kael tidak menjawab. Ia tetap diam mematung.

Serena tertawa kecil, sangat menikmati reaksi kaget dan kecewa yang terlihat jelas di wajah Alya.

“Ya. Aku tunangan resmi Kael Lorenzo. Selama tiga tahun ini. Jadi kau pikir kau siapa? Hanya mainan sebentar?”

Jantung Alya berdetak aneh. Ada rasa nyut-nyutan yang tidak enak di ulu hatinya. Rasa kecewa? Atau rasa sakit karena merasa dibohongi?

Ah, tidak! Aku tidak peduli! batinnya berteriak mencoba meyakinkan diri. Aku tidak peduli sama sekali dengan pria egois dan kriminal ini!

Kael akhirnya buka suara, memecah keheningan yang menyakitkan itu.

“Itu hanya perjanjian bisnis antara orang tua. Itu bukan keinginanku dan bukan keputusanku.”

“Tapi kau juga tidak pernah menolaknya sampai hari ini! Kau menerimanya dengan diam!” sergah Serena cepat.

“Karena aku tidak tertarik sama sekali membahas hal bodoh seperti itu atau membahas dirimu,” jawab Kael sinis.

Wajah Serena memerah menahan malu dan marah.

Ayah Kael yang sejak tadi menyimak akhirnya angkat bicara dengan suara berat yang mematikan.

“Cukup! Perjanjian adalah perjanjian. Pernikahan itu tetap akan terjadi bulan depan. Itu sudah ditetapkan.”

Mendengar itu, sesuatu di dalam diri Alya rasanya runtuh sedikit.

Bagus. pikirnya pasrah. Biar mereka urus saja urusan mereka. Aku mau pulang. Aku mau cari Ibu.

Alya perlahan mulai menggeser kakinya ke belakang, berniat untuk mundur dan pergi diam-diam dari situasi drama yang semakin rumit ini.

Namun sebelum kakinya sempat melangkah menjauh, tangan besar Kael dengan sigap menangkap pergelangan tangannya. Mengunci erat, tidak membiarkannya pergi.

“Aku menolak.”

Suara itu rendah namun bergema keras di seluruh ruangan.

Suasana mendadak hening total. Mati bisu.

Ayahnya menatap Kael tak percaya, urat-urat di pelipisnya terlihat menonjol karena menahan amarah yang meledak-ledak.

“Kau berani? Kau berani mempermalukan keluargamu sendiri, merusak aliansi besar… hanya demi gadis tidak jelas ini?” tunjuknya kasar ke arah Alya.

Kael tidak mundur. Justru ia menarik tangan Alya, memaksa gadis itu berdiri tepat di sampingnya, menyandingkan tubuh mereka berdua.

“Ya. Aku menolak. Dan aku rela melakukan apa saja demi dia.”

“KAEL!” Alya membelalakkan mata, memukul pelan lengan pria itu. “Jangan libatkan aku! Aku nggak minta dilibatkan!”

Kael menoleh sedikit, menatap mata Alya dalam-dalam.

“Terlambat. Kau sudah ada di sini. Kau sudah bagian dari masalahku.”

Serena tertawa dingin, suaranya penuh penghinaan.

“Kau pikir gadis miskin dan polos seperti dia bisa bertahan hidup di dunia kita yang kejam ini, Kael? Dia tidak akan sanggup! Dia hanya akan membebanimu!”

Alya yang mendengar itu langsung menatap balik tajam, api kemarahannya menyala kembali.

“Setidaknya aku tidak pernah memaksakan diri! Setidaknya aku tidak menggunakan surat dan kekuasaan untuk meminta seseorang menikah denganku! Kalau cinta, ya cinta! Kalau tidak, ya jangan paksa!” seru Alya lantang.

Para bodyguard yang berdiri berjaga di sudut ruangan langsung menundukkan kepala, bahu mereka bergetar menahan tawa. Berani sekali gadis ini melawan Serena!

Serena terpancing emosi. Dengan mata membelalak marah, ia melangkah cepat dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi, hendak menampar wajah Alya sekeras yang ia lakukan pada Kael tadi.

PLAK!

Namun tamparan itu tidak pernah mendarat.

Tangan Serena terhenti di udara.

Kael menangkap pergelangan tangan wanita itu dengan sangat cepat dan kuat. Cengkeramannya begitu keras hingga Serena menjerit kesakitan.

“AAAA!!! Sakit! Lepaskan!”

“Jangan pernah… sentuh dia,” ucap Kael perlahan. Suaranya rendah, dingin, dan sangat berbahaya. Tatapannya seolah ingin membunuh.

Serena menatap Kael tak percaya, air mata mulai menetes.

“Kau… kau melindunginya sejauh ini? Padahal aku yang sudah bersamamu bertahun-tahun?”

“Aku akan melindunginya bahkan lebih jauh dari itu kalau ada yang berani menyentuhnya,” jawab Kael tegas, lalu melepaskan tangan Serena dengan kasar hingga wanita itu terhuyung mundur.

“CUKUP!!!”

Teriakan keras Tuan Lorenzo membuat seluruh dinding seakan bergetar.

“Sudah cukup kekacauan ini!”

Pria tua itu berjalan mendekat, berdiri di tengah-tengah mereka bertiga. Wajahnya murka luar biasa.

“Kalau kau benar-benar menolak Serena dan aliansi ini… maka kau menolak segalanya! Kau siap kehilangan segalanya?!” tantangannya.

Kael berdiri tegak, tak berkedip sedikit pun.

“Kalau harga dari aliansi dan kekuasaan itu adalah kebebasanku dan orang yang aku inginkan… maka aku menolak. Aku tidak butuh itu semua.”

Ayahnya menunjuk tepat ke wajah Alya.

“Semua ini… hanya karena perempuan ini?”

Kael menatap Alya. Ia menatap wajah gadis itu lama sekali. Sorot matanya berubah. Bukan lagi tatapan dingin atau sombong.

Lebih dalam.

Lebih lembut namun lebih berbahaya.

“Ya. Semua karena dia.”

Jantung Alya berdegup kacau tak karuan. Detaknya begitu cepat hingga membuatnya pusing.

Kenapa pria ini bicara begitu? Kenapa dia bicara seolah itu semua sungguhan? Kenapa jantungku bereaksi bodoh seperti ini?

Tuan Lorenzo tertawa dingin melihat keteguhan putranya. Ia tampak berpikir sejenak, lalu sebuah ide jahat terlintas di matanya.

“Baiklah. Kalau kau bilang begitu… buktikan.”

Kael menyipitkan matanya. “Maksud Ayah?”

Pria tua itu menatap Alya dengan tatapan menantang.

“Nikahi dia. Dalam waktu tujuh hari dari sekarang.”

BRUK!!!

Alya seakan tersambar petir. Ia tersedak udara sendiri, matanya melotot tak percaya.

“Apa?! Masak apa?! Bapak bercanda kan?!” pekiknya kaget.

“TIDAK MUNGKIN!!!” Serena juga menjerit histeris di sampingnya. “Tuan! Anda gila?! Jangan lakukan ini padaku!”

Tuan Lorenzo sama sekali tidak peduli dengan teriakan mereka. Ia tetap pada pendiriannya.

“Kalau kau benar-benar serius memilihnya dan bilang kau mencintainya… jadikan dia Nyonya Lorenzo resmi secepatnya. Buktikan pada semua orang.”

Ia berhenti sejenak, menatap tajam.

“Tapi kalau kau tidak berani… atau kau mundur sebelum tujuh hari… maka kau akan menikahi Serena bulan depan tanpa bisa menolak lagi. Itu tawaranku. Pilih.”

Ruangan kembali hening. Sangat hening hingga terdengar suara jarum jatuh pun jelas.

Kael menatap ayahnya tanpa ekspresi. Wajahnya sulit dibaca.

Lalu perlahan… ia mulai menoleh ke arah Alya.

Alya mundur panik, mengangkat kedua tangannya memberi jarak.

“Jangan… jangan lihat aku begitu. Jangan ambil keputusan bodoh! Tolak saja! Bilang tidak!”

Kael tidak peduli. Ia justru melangkah maju mendekati Alya, membuat gadis itu terpojok.

“Alya.”

“Tidak! Aku nggak mau dengar!”

“Satu minggu.”

“Nggak mau! Nggak mau!”

“Kau akan menjadi istriku.”

“KAEL LORENZO!!!”

Alih-alih marah, Kael justru tersenyum tipis.

Senyum miring yang sangat tampan, sangat nakal, dan sangat berbahaya. Senyum yang membuat dunia Alya seakan berhenti berputar.

1
Erna sujana Erna sujana
lanjut Thor,suka dgn CRT nya
wiwi: tunggu update bsok yah kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!