NovelToon NovelToon
SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Ana—si “Jutek" cantik yang keras kepala—tidak pernah takut pada siapa pun di kampus. Kecuali satu orang yang benar-benar membuatnya naik darah: **Adi**, dosen muda yang terkenal killer, dingin, dan terlalu sexy untuk diabaikan.

Pertemuan mereka selalu penuh ketegangan—tatapan tajam, debat panas di kelas, dan permainan kecil yang hanya mereka berdua pahami.

Ana yakin ia membenci Adi.
Adi justru menikmati setiap detik perlawanan itu.

Namun di balik kebencian yang keras dan gengsi yang tinggi, ada sesuatu yang perlahan tumbuh—**panas, berbahaya, dan semakin sulit disembunyikan.**

Karena kadang…
orang yang paling ingin kita lawan adalah orang yang paling membuat jantung kita berdebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

OBSERVASI SOSIAL dan KEBENCIAN YANG SEMAKIN MENJADI

Gosip tentang kedekatan Pak Adi dan Bu Myra menyebar secepat wabah di koridor fakultas. Entah kenapa, kabar itu terasa seperti kerikil di dalam sepatu Ana—kecil, tapi sangat mengusik setiap langkahnya. Sejak desas-desus itu memanas, Ana mulai menyadari satu kenyataan yang cukup memalukan: radarnya mendadak selalu terkunci pada sosok Adi.

Ada rasa penasaran yang menggerogoti hatinya. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya mereka bicarakan hingga tawa dan percakapan itu tampak begitu intens. Masalahnya, Adi dan Myra seolah tidak peduli pada sekitar. Mereka kerap menunjukkan kedekatan di tempat umum, memberikan kesan eksplisit kepada siapa pun yang melihat bahwa memang ada "sesuatu" di antara mereka.

"Nggak mungkin kan mereka cuma bahas silabus sampai sedekat itu?" pancing Ana saat mereka berkumpul di koridor. Dengan dalih 'mencari kebenaran', Ana mulai memengaruhi teman-temannya untuk ikut menyelidiki. Ia membungkus rasa irinya dengan alasan bahwa ini adalah berita besar yang layak menjadi bahan pergunjingan satu angkatan.

Siang itu, pemandangan yang dinanti sekaligus dibenci Ana kembali tersaji. Di depan ruang dosen—spot favorit mereka—Adi dan Bu Myra sedang berdiri bersandar pada pilar, mengobrol santai.

"Tuh, liat," bisik Ana tajam, matanya menyipit memperhatikan gerak-gerik Adi. "Gayanya udah kayak simulasi foto pre-wedding di tengah kampus. Kalian nggak penasaran mereka lagi bahas apa?"

Tya dan Andini saling lirik. Mereka tahu Ana sedang dalam mode "detektif jutek", namun mereka tidak menyadari bahwa di balik tatapan sinis itu, ada secuil rasa tidak rela yang sedang diperjuangkan Ana mati-matian.

Ana dan teman-temannya berpura-pura serius membaca papan informasi yang berada tak jauh di samping ruang dosen, tempat yang cukup strategis untuk "menguping". Masalahnya, papan pengumuman itu sudah ia baca tiga kali, dan isinya sama sekali tidak berubah. Andini, yang berdiri di sampingnya sambil melipat tangan, akhirnya bersuara.

"An?"

"Hm?"

"Kamu sadar nggak kalau papan itu isinya cuma jadwal seminar bulan lalu?"

Ana berkedip pelan, baru benar-benar mencerna teks di depannya. "Oh."

Ia kembali berpura-pura membaca, namun sudut matanya tetap melirik ke arah ruang dosen di ujung koridor. Di sana, Adi berdiri bersama Bu Myra. Ana refleks menegakkan tubuh, berusaha terlihat santai meski hatinya berdesir.

"Jadi… ini yang kamu sebut observasi sosial?" sindir Andini sambil menyipitkan mata. "Kita cuma lewat dan baca papan pengumuman, Din."

"Kita udah berdiri di sini lima menit, Ana!."bisik Andini dengan ketus, mencoba menyadarkan Ana. "Lima menit itu masih kategori sebentar!"

Di ujung koridor, Bu Myra tampak tertawa lebar sambil menyentuh lengan Adi sekilas. Darah Ana mendadak mendidih. "Tuh, lihat kan!" bisiknya tajam.

"Lihat apa?", Andini memastikan.

"Bu Myra, nyentuh-nyentuh pak Adi! Centil banget!"

Andini mengangkat bahu. "Itu cuma orang ketawa kali, An. Biasa saja, ah!."

"Ketawa boleh. Ngapain pake sentuh-sentuh segala!" Ana menyilangkan tangan di dada, wajah juteknya semakin terlihat jelas.

Percakapan di ujung koridor berakhir. Bu Myra melambaikan tangan dan pergi, sementara Adi berbalik menuju ruang dosen. Namun, tepat sebelum masuk, mata Adi menyapu koridor dan berhenti tepat di tempat Ana berdiri. Mata mereka bertemu. Satu detik yang terasa seperti selamanya. Adi mengangkat satu alisnya, sebuah gestur bisu yang seolah bertanya: Kamu lagi ngapain di sana?.

Ana langsung membuang muka ke papan pengumuman dengan kecepatan cahaya. "Jadi… seminar ini menarik banget ya!" serunya keras-keras.

Andini hampir tersedak menahan tawa, dan berbisik kembali, "An… seminarnya udah lewat setahun yang lalu."

Ana memejamkan mata, merutuki kebodohannya. "Sialan kamu ya, Din. Enggak bisa diajak kerja sama banget sih!."

Dari kejauhan, Adi masih berdiri di depan pintu. Sudut bibirnya terangkat sedikit. Ia jelas tahu sedang diawasi, dan itu jauh lebih memalukan bagi Ana daripada ketahuan mencontek saat ujian.

“Kamu ini kenapa sih, An?”. Ana membuka mulut hendak menjawab… tapi akhirnya memutuskan berhenti. Karena ia sendiri tidak yakin.

Kenapa, ya? ia bertanya pada dirinya sendiri dalam hati.

Harusnya ia tidak peduli. Adi itu dosen yang menyebalkan. Terlalu serius. Terlalu perfeksionis. Dan masalahnya adalah....

Ngapain kamu jadi kesel ngelihat dia dekat sama bu Myra? urusannya apa sama kamu An?.

Ana menghela napas panjang. Mencoba menjernihkan pikirannya.

Tapi di dalam hatinya, satu pikiran muncul yang membuat pipinya sedikit panas. Jangan-jangan… dia dari tadi sadar aku lihatin dia?

Kalau itu benar… maka situasinya jauh lebih berbahaya. Ana gak sudi kalau si Killer jadi GeeR.

Setelah insiden memalukan di depan papan pengumuman itu, hari-hari Ana terasa seperti medan perang yang melelahkan. Kelas demi kelas berlalu, namun satu hal tidak berubah: Ana merasa telah resmi menjadi "sasaran empuk" Adi. Entah kenapa, setiap ada pertanyaan sulit atau diskusi yang memojokkan, telunjuk Adi seolah punya magnet otomatis ke arah kursinya.

Namun, di balik tekanan akademik itu, sebuah narasi baru tentang sang dosen mulai terbentuk. Gosip di fakultas berkembang menjadi sebuah katalog panjang. Setelah Bu Myra, kini nama Bu Erika dari MIPA ikut terseret karena sering terlihat bercengkerama akrab dengan Adi. Tak lama kemudian, muncul kabar bahwa Adi juga rajin menyambangi Fakultas Ekonomi demi menemui Bu Fany.

Fakta bahwa Bu Erika dan Bu Fany sudah berkeluarga—dan Bu Fany dikenal sebagai sosok yang sangat religius serta bersahaja—memang meredam potensi skandal liar. Namun, bagi Ana dan lingkaran pertemanannya, pola itu sudah cukup untuk menarik sebuah kesimpulan besar.

"Dia itu nggak pilih-pilih status," bisik Tya sambil menyenggol lengan Ana. "Yang penting speknya di atas rata-rata, pasti diputusin urusannya buat diajak ngobrol."

Ana mendengus, memutar pulpennya dengan kasar. "Bukan perfeksionis namanya kalau kayak gitu. Itu mah penyakit."

Akhirnya, sebuah julukan baru lahir untuk Adi Pratama. Bukan lagi sekadar Dosen Killer, teman-teman Ana kini menjulukinya sebagai "The Aesthetic Hunter" si playboy yang hanya mau menghabiskan waktu dengan dosen-dosen berparas menawan dengan dalih 'diskusi akademik'.

Bagi Ana, julukan itu sangat pas. Itu menjelaskan kenapa Adi begitu betah mengobrol dengan dosen-dosen cantik di luar sana, sementara di dalam kelas, ia lebih hobi menyiksa mahasiswanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menguras otak.

-

-

Bersamaan dengan panasnya gosip soal kedekatan Adi dan beberapa dosen wanita, situasi di dalam kelas justru semakin menjadi-jadi. Setiap kali jam mata kuliah Psikologi Sosial dimulai, Ana merasa seolah-olah ruang kelas itu menyempit hanya untuk mereka berdua. Adi seakan punya radar khusus yang selalu berhasil menemukan keberadaan Ana, meski ia sudah berusaha "menghilang" di balik punggung teman-temannya.

Sejak mengetahui fakta bahwa Adi bukan sekadar dosen killer, melainkan seorang "The Aesthetic Hunter" yang hobi tebar pesona ke sana kemari, kebencian Ana naik ke level baru. Ada rasa kesal yang membuncah tiap kali melihat wajah tenang Adi di depan kelas—sebuah perasaan mengganjal yang tidak mampu Ana cerna. Kenapa ia harus sekesal ini melihat sang dosen akrab dengan wanita lain? Bukankah itu bukan urusannya?

Namun, satu hal mulai terasa benderang bagi Ana: Pak Adi sedang sengaja memancing emosinya.

Awalnya, Ana masih mencoba berprasangka baik. Mungkin ini cuma kebetulan, pikirnya. Atau mungkin karena jawaban-jawabannya selama ini memang cukup memuaskan standar tinggi pria itu. Namun, setelah berkali-kali kejadian yang sama terulang, pertahanan pikiran positifnya runtuh juga.

Cara Adi menyebut namanya, cara pria itu menatapnya sambil menunggu jawaban dengan satu alis terangkat, hingga seringai tipis yang hanya muncul saat Ana mulai terpancing emosi—semuanya terasa terlalu personal.

Ini bukan lagi sekadar proses belajar-mengajar. Ana mulai sadar sepenuhnya bahwa dirinya telah dijadikan target operasi oleh si Killer itu. Adi tidak sedang mengujinya; Adi sedang bermain-main dengannya. Dan bagi Ana, dijadikan objek "permainan" oleh seorang pria yang hobi mengoleksi perhatian dosen-dosen cantik adalah penghinaan terbesar bagi harga dirinya.

Suatu pagi di kelas. Adi sedang menjelaskan materi sambil berjalan perlahan di depan papan tulis. Mahasiswa duduk cukup tenang. Beberapa mencatat. Beberapa mulai terlihat mengantuk. Adi tiba-tiba berhenti. Ia menutup spidol dan menatap kelas.

“Ada yang punya pendapat tentang fenomena ini?”

Hening. Tidak ada yang menjawab. Beberapa mahasiswa bahkan menunduk, pura-pura sibuk dengan catatan mereka. Ana sudah hafal pola ini. Beberapa detik lagi pasti—

“Saudari Ana.”

Benar saja. Ana menutup bukunya dengan pelan sebelum berdiri. Ia bahkan belum sempat membuka mulut ketika melihat sesuatu yang membuat alisnya berkerut. Adi sedang menatapnya. Dan di sudut bibirnya ada senyum tipis. Bukan senyum biasa. Senyum yang… nampak sedikit jahil. Seolah ia sudah menunggu momen ini. Ana langsung merasa kesal. Dalam hati ia bergumam,

Ini orang sengaja banget.

Namun ia tetap menjawab pertanyaan itu dengan jelas. Diskusi berlangsung sebentar, beberapa mahasiswa ikut menimpali. Ketika Ana akhirnya duduk kembali, Andini berbisik pelan. “Kenapa sih kamu terus yang dipanggil?”

Ana menoleh sedikit ke depan. Adi sudah kembali menulis di papan, tapi sebelum menoleh sepenuhnya, ia sempat melihat satu hal lagi. Adi kembali tersenyum kecil. Senyum yang sama seperti tadi. Ana langsung memalingkan wajah dengan kesal. Beberapa hari kemudian kejadian yang sama terulang lagi.

Dan lagi.

Dan lagi.

Dia tidak tersenyum seperti itu ketika memanggil teman Ana yang lain.

Setiap kali kelas mulai sepi…

Setiap kali tidak ada yang mau menjawab…

Nama yang pertama keluar dari mulut Adi hampir selalu sama.

“Ana.”

Dan hampir setiap kali itu terjadi— Ana beberapa kali menangkap Adi tersenyum tipis lebih dulu. Seolah ia sedang menikmati sesuatu. Suatu siang setelah kelas selesai, Ana berjalan keluar bersama teman-temannya. Ia terlihat sedikit kesal.

“Pak Adi itu nyebelin banget,” katanya.

Andini dan Tya tertawa kecil. “Kenapa?”

“Dia selalu manggil aku.”

“Ya karena kamu pinter, An,” timpal Tya. Ana langsung menggeleng.

“Nggak gitu deh kayaknya.” Tya mengangkat alis. “Terus, maksud kamu gimana?” Ana menghela napas. “Dia sering senyum dulu sebelum manggil aku. Kayak… senyum jahil gitu lho.” Andini justru tertawa.

“Itu bukaknya ciri khas dia? senyum meremehkan.”

Ana berhenti berjalan sebentar. “Enggak ah, ini beda bukan sekedar meremehkan tapi kaya senyum jahil.” Ia menoleh kembali ke arah gedung kelas di belakang mereka. “Dia kayak sengaja ngerjain aku.”

Andini dan Tya masih tersenyum. “Kayaknya sih Pak Adi cuma suka diskusi sama kamu.” dan Tya mencoba menghibur. Ana mendengus pelan. “Kalau emang itu bener…” ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan, “…caranya nyebelin banget sih.”

"Atau...jangan-jangan, pak Adi naksir kamu kali, An!."

Kamu kan cantik, pas banget jadi target si "The Aesthetic Hunter"." Ledek Andini. Disambut tawa Tya.

"Dih, amit-amit!", balas Ana sambil menunjukan wajah jijik.

Sampai seluruh jadwal perkulihan selesai, mereka masih terus meledek Ana soal pak Adi. Namun ada satu hal yang Ana tidak sadari. Di dalam kelas yang sudah hampir kosong, selesai kelas tadi, Adi masih membereskan beberapa berkas di mejanya.

Ia teringat lagi ekspresi Ana tadi. Tatapan tajam. Nada kesal. Dan cara Ana menjawab pertanyaannya dengan penuh keyakinan. Adi tersenyum kecil sendiri. Entah kenapa—mahasiswi yang jelas-jelas tidak menyukainya itu justru membuat kelasnya terasa jauh lebih hidup.

Adi menikmati ketegasan Ana saat menyampaikan opininya, nampak kecerdasan dari caranya berfikir dan menyampaikan ide-ide, dan Adi juga menikmati setiap tatapan tajam yang ditujukan kepadanya dari mahasiswi cantik itu.

Hal itu selalu berhasil membuat Adi tersenyum.

Apakah si Killer beneran naksir Ana? Apakah mungkin?

1
Fitriani
😄😄
Murni Asih
dr pertama sy lngsng suka
dr pertama cerita nya kngsng seru ka
Nina Sani: makasih ya kak, stay tune ikutin kelanjutannya😇
total 1 replies
Sartini 02
kayaknya menarik ya kak Krn masih bab 1
lanjut kak....🤭🙏👍
Nina Sani: siaap 😇😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!