Ribuan tahun setelah Kaisar Primordial Wang Tian menghilang ke dalam keheningan dimensi untuk menjaga keseimbangan alam, silsilah darahnya telah bercabang menjadi klan-klan besar yang menguasai berbagai penjuru dunia.
Istri pertama, Lin Xuelan, melahirkan garis keturunan Penjaga Samudra. Istri ketiga, Mora, melahirkan klan Bayangan Langit. Istri keempat, Lin Xia (setelah menjadi manusia sepenuhnya), melahirkan garis Pedang Dewa. Namun, cerita kita kali ini bermula dari garis keturunan istri kedua, Sui Ren, Sang Permaisuri Angin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Pendakian Puncak Es Abadi dan Isyarat Perpisahan
Setelah transformasi besar yang dialami **Lin Meiling**, atmosfer di antara mereka berdua berubah. Ada rasa percaya diri yang tenang memancar dari Meiling, namun di sisi lain, **Wang Jian** merasakan firasat yang berat. Langit di utara kini tidak lagi biru; ia memutih, tertutup oleh badai salju abadi yang berasal dari **Puncak Es Abadi**—titik tertinggi di Benua Tengah dan tempat persemayaman **Leluhur Wang Sui-Ren**.
"Leluhur sedang mencoba menembus **Ranah Nascent Soul**," ucap Jian sambil menatap gunung yang tampak seperti pedang putih yang menusuk langit. "Jika dia berhasil, dia tidak lagi menjadi manusia. Dia akan menjadi entitas yang mampu membelah benua dengan lambaian tangan. Kita harus menghentikannya sebelum transformasi itu sempurna."
### **Melintasi Padang Bangkai Beku**
Perjalanan menuju kaki gunung membawa mereka melewati **Padang Bangkai Beku**. Tempat ini adalah kuburan bagi ribuan monster dan manusia yang mencoba menantang suhu ekstrem Puncak Es. Mayat-mayat di sini tidak membusuk; mereka membeku dalam ekspresi ketakutan yang abadi, menjadi patung-patung es yang mengerikan.
Meiling menggerakkan tangannya, dan cahaya bintang lembut menyelimuti mereka berdua, bertindak sebagai penghangat alami. "Jian, energi di sini... ia mencoba menyedot *Qi* kita. Ini bukan sekadar suhu dingin, ini adalah **Formasi Penghisap Kehidupan** berskala besar."
"Benar," sahut Jian. "Leluhur menggunakan kehidupan di sekitar gunung ini sebagai nutrisi untuk terobosannya. Dia benar-benar telah membuang kemanusiaannya."
Tiba-tiba, tanah di bawah mereka bergetar. Dari bawah lapisan es setebal sepuluh meter, muncul **Golem Es Kuno**, penjaga otomatis yang diciptakan dari energi murni gunung. Tinggi mereka mencapai tujuh meter, dengan lengan yang menyerupai gada raksasa.
"Biarkan aku, Jian!" seru Meiling.
Gadis itu melompat maju. Alih-alih melarikan diri, ia menari di antara ayunan gada golem. Tangannya membentuk segel alkimia di udara. **"Teknik Bintang: Disintegrasi Kristal!"**
Cahaya bintang ungu meluncur dari ujung jarinya, menghantam sendi-sendi golem. Seketika, struktur es yang keras itu retak dan hancur menjadi debu salju. Jian menatap dengan bangga; Meiling tidak lagi membutuhkan perlindungan konstan darinya.
### **Gerbang Badai dan Duel Melawan Bayangan Penatua**
Saat mereka mencapai gerbang utama Puncak Es, jalan mereka dihadang oleh sosok yang sangat dikenal Jian. Bukan manusia, melainkan **Boneka Arwah** yang dibuat dari mayat **Penatua Ruo-shan** yang Jian lumpuhkan di Kota Badai. Wajahnya pucat pasi, matanya kosong tanpa cahaya, namun energinya telah dipaksa naik hingga ke **Ranah Pemurnian Qi Bintang 9** oleh teknik hitam Leluhur.
"Ruo-shan..." geram Jian. "Bahkan setelah lumpuh, mereka masih memperalatmu."
Boneka Ruo-shan melesat maju, mengeluarkan badai es yang jauh lebih ganas dari sebelumnya. Pertarungan ini sangat emosional bagi Jian. Ia harus menghadapi bayangan masa lalunya yang paling pahit.
**"Putaran 6: Pelahap Badai!"**
Jian menahan badai es itu dengan tangan kosong. Ia merasakan dinginnya kematian mencoba merayap ke jantungnya. Namun, dengan **Inti Primordial Ganda**, ia memutar energinya berlawanan arah, menciptakan gesekan panas petir yang luar biasa.
"Beristirahatlah dalam damai, Paman," bisik Jian.
Tombak hitam Jian memancarkan api hitam yang pekat. Ia melakukan satu tusukan lurus yang membelah Boneka Ruo-shan menjadi dua bagian, membakar energi jahat yang menggerakkannya hingga menjadi abu.
### **Mata Badai: Percakapan di Ambang Perpisahan**
Malam terakhir sebelum mereka mencapai puncak tertinggi, mereka beristirahat di dalam sebuah gua es kecil. Di luar, badai salju menderu seolah-olah dunia sedang berakhir.
Meiling duduk di dekat api kecil yang dijaga oleh energinya. Ia menatap Jian dengan tatapan yang sulit diartikan. "Jian... setelah semua ini berakhir, apa yang akan kau lakukan? Jika klan Wang benar-benar hancur, ke mana kau akan pergi?"
Jian terdiam lama. Matanya menatap kobaran api. "Aku tidak pernah berpikir sejauh itu. Selama ini, hidupku hanya tentang bertahan hidup dan balas dendam. Tapi... mungkin aku akan mencari tempat yang tenang. Tanpa pedang, tanpa darah."
Meiling tersenyum tipis, namun ada kesedihan di matanya. "Kau adalah badai, Jian. Badai tidak pernah berhenti di satu tempat. Tapi aku... aku merasa ada jalan lain yang harus kutempuh. Alkimia bintang yang kupelajari... ia memanggilku ke arah yang berbeda."
Jian merasakan dadanya sesak. Ia tahu apa yang tersirat di balik kata-kata Meiling. Keberuntungan dan takdir telah mempertemukan mereka, namun jalan kultivasi sering kali memaksa dua jiwa yang selaras untuk berpisah demi mencapai puncak yang berbeda.
"Apapun yang terjadi besok," ucap Jian sambil menggenggam tangan Meiling. "Kau adalah satu-satunya cahaya yang kutemukan di dasar jurang."
Meiling menyandarkan kepalanya di bahu Jian. Di bawah tekanan aura Leluhur Wang yang semakin masif di atas sana, mereka berbagi momen ketenangan terakhir. Mereka tidak tahu bahwa besok, sebuah peristiwa besar akan memaksa mereka untuk mengambil jalan yang berbeda sama sekali.
### **Leluhur Wang Sui-Ren: Dewa Semu**
Di puncak tertinggi, di dalam istana es yang melayang, seorang pria tua dengan rambut yang menyentuh lantai duduk bermeditasi. Di sekelilingnya, energi alam berputar begitu cepat hingga menciptakan distorsi ruang.
Sebuah retakan mulai muncul di dahinya, dan dari dalamnya, sebuah cahaya keemasan mulai terpancar—**Nascent Soul**-nya mulai terbentuk.
"Datanglah, cucu pembangkangku..." suara Leluhur bergema di seluruh gunung, memicu longsoran salju yang dahsyat. "Jadilah tumbal terakhir bagi kebangkitanku."
Wang Jian berdiri, ia merasakan panggilan itu. Ia mengeratkan pegangan pada tombaknya. Masa depan Benua Tengah akan ditentukan dalam beberapa jam ke depan.
### **Status Kultivasi Akhir - Bab 18:**
* **Wang Jian:**
* **Ranah:** **Pemurnian Qi Bintang 3** (Puncak - Siap menerobos ke Bintang 4).
* **Kondisi:** Mental sangat fokus, namun memiliki beban emosional terhadap Meiling.
* **Lin Meiling:**
* **Ranah:** **Pemurnian Qi Bintang 1** (Stabil).
* **Kemampuan:** Penguasaan penuh atas Alkimia Bintang untuk pertarungan jarak menengah.
* **Musuh Utama:** Leluhur Wang Sui-Ren (Proses transisi ke Ranah Nascent Soul).
adalah bacaan wajib bagi penggemar genre kultivasi yang mencari cerita dengan kedalaman emosional dan aksi yang memukau. Meskipun memiliki beberapa kiasan (tropes) klasik genre Xianxia, eksekusinya tetap terasa segar dan membuat ketagihan.