Hamil dengan pria asing yang ternyata, Mafia???!
Aria hamil dari pria tak dikenal setelah malam yang menghancurkan hidupnya. Ia memilih mempertahankan anak itu, meski pikirannya nyaris runtuh.
Hingga pria itu kembali.
Lorenzo de Santis—datang, mengaku bertanggung jawab, dan masuk ke hidupnya tanpa izin. Namun Aria tidak tahu…
Bahwa kehamilan tersebut bukanlah kebetulan.
Melainkan rencana.
Dan pria yang berdiri di hadapannya bukan sekadar masa lalu yang kelam—
melainkan seorang bos mafia yang sejak awal telah mengendalikan segalanya.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBM — BAB 12
SEDIKIT TENTANG DE SANTOS
Lorong rumah itu sunyi.
Langkah kaki Aria dan Teresa terdengar pelan di atas lantai marmer yang mengilap, gema kecil mengikuti setiap langkah mereka. Dindingnya dihiasi lukisan-lukisan sederhana namun berkelas, jauh dari kesan berlebihan seperti mansion utama.
Teresa berjalan sedikit di depan, sesekali melirik ke belakang dengan senyum canggung.
“Maaf kalau jalannya agak jauh, Nyonya,” katanya pelan.
“Tidak masalah,” jawab Aria singkat, lalu memperhatikan wanita itu sejenak. “Siapa namamu?”
Wanita itu langsung menoleh, matanya berbinar. “Teresa!”
“Nama yang bagus!” kata Aria tersenyum sehingga wanita itu ikut tersenyum lebar.
“Sudah lama bekerja di sini?”
Teresa mengangguk cepat. “Sudah sekitar lima tahun.”
Aria mengangkat alis sedikit. “Cukup lama, kau betah sekali ya.”
“Iya…” Teresa tersenyum canggung, kali ini lebih lebar, sedikit malu. “Saya mulai kerja di sini sejak umur dua puluh. Awalnya hanya bantu-bantu di dapur, tapi lama-lama dipercaya untuk mengurus bagian dalam rumah.”
“Kenapa memilih bekerja di sini?”
Langkah Teresa melambat sedikit. “Untuk membiayai ibu dan nenek saya,” jawabnya jujur. “Ayah saya sudah lama meninggal. Jadi… saya yang tanggung jawab. Dan di sini... gajinya besar.”
Nada suaranya ringan, tapi jelas ada keteguhan di dalamnya.
Aria menatapnya beberapa detik. “Pasti pria itu menyusahkan mu.” kata Aria yang masih tersenyum santai.
Teresa hanya tersenyum kecil. “Sudah biasa, Nyonya.”
Mereka berjalan lagi.
Beberapa saat hening, sebelum Aria kembali membuka suara. “Orang-orang di rumah ini…” ia berhenti sejenak, memilih kata. “Seperti apa mereka? Dan... siapa saja?”
Teresa tampak sedikit ragu, tapi tetap menjawab. “Tuan Emilio itu… tegas, tapi sebenarnya baik,” katanya hati-hati. “Beliau jarang bicara banyak, tapi semua orang di sini menghormatinya. Dia ayah tuan Lorenzo.”
Aria mengangguk pelan.
“Kalau Nyonya Monica…” Teresa menelan ludah kecil. “Dia… sangat menjaga sikap. Tapi kadang… sulit ditebak dan harus dihindari.”
Aria hampir tersenyum tipis. Karena masuk akal untuk sikap Monica.
“Nyonya Monica, istri kedua tuan Emilio dan memiliki putra tuan Matteo. Pria tinggi dan putih, rambut cokelat.”
“Matteo...” gumam Aria pelan mencoba mengingat pria itu.
Teresa tampak sedikit bingung mencari kata. “Dia pria ramah, tapi… kadang ceroboh. Dan suka bicara tanpa berpikir panjang. Dan suka bermain wanita.”
Seketika Aria terhenti dan menoleh menatap Teresa yang langsung ikut terdiam.
“Apa ada yang salah, Nyonya?”
“Tidak. Lanjutkan.” kata Aria yang kembali berjalan. “Bagaimana dengan yang lain?”
“Ada Nona Adriana,” lanjut Teresa. “Jarang pulang. Tapi katanya sangat pintar. Dia adik sepupu tuan Lorenzo, ibunya sudah meninggal.”
“Lalu Tuan Vitorio… beliau jarang muncul di rumah, lebih sering di luar negeri. Dia ayahnya nona Adriana.”
Aria menyimak dengan tenang. Lalu akhirnya…
“Bagaimana dengan Lorenzo?”
Langkah Teresa terhenti sepersekian detik. Ia menoleh, wajahnya tetap sopan, tapi jelas lebih berhati-hati.
“Tuan Lorenzo…” ulangnya pelan. “Dia berbeda.”
“Berbeda bagaimana?” tanya heran Aria yang kini berhadapan dengan Teresa.
Teresa menggeleng kecil. “Saya tidak terlalu tahu, Nyonya. Dia jarang bicara. Dan kalau bicara… semua orang langsung diam.”
Aria tidak terkejut. “Itu saja?”
Teresa ragu sesaat. Lalu suaranya menurun sedikit. “Yang saya tahu… ibu kandung tuan Lorenzo sudah meninggal, dan kepergiannya karena dibunuh.”
Aria menatapnya. Keheningan jatuh di antara mereka.
“Siapa yang membunuhnya?” tanya Aria, lebih pelan namun ada rasa penasaran dan kaget.
Teresa menggeleng. “Tidak ada yang tahu. Atau… mungkin tidak ada yang berani bicara.”
Langkah mereka kembali berlanjut.
Namun kali ini, Aria tidak lagi benar-benar melihat sekeliling. Pikirannya tertahan pada satu hal. -‘Luka yang menyedihkan. Bagaimana dengan luka dipunggung nya?’ batin Aria yang jadi penasaran sendiri.
Tanpa disadari, mereka berhenti di depan sebuah pintu.
“Ini kamar Nyonya,” ujar Teresa, kembali tersenyum, seolah mencoba mengembalikan suasana.
Aria langsung tersadar, lalu mengangguk dan membuka pintu.
Ruangan itu tidak sebesar kamar di mansion utama, tapi terasa… lebih hangat. Tempat tidur sederhana dengan seprai bersih, jendela besar menghadap taman samping, dan furnitur minimalis yang tertata rapi. Dan semuanya serba warna gelap.
“…aku suka ini,” gumamnya pelan.
Teresa tersenyum lega. “Syukurlah.”
Aria menoleh padanya. “Kau tidak banyak bicara dengan orang di sini, ya?”
Teresa tertawa kecil, sedikit malu. “Jarang, Nyonya. Semua sibuk… atau tidak terlalu peduli.”
Aria terdiam sejenak. “Kalau begitu… kau bisa datang ke tokoku kapan-kapan atau ke kamarku.”
Teresa langsung menatapnya, terkejut. “Toko? Kamar?”
“Aku punya toko roti,” lanjut Aria. “Tidak besar, tapi cukup ramai.”
Mata Teresa langsung berbinar. “Benarkah? Saya suka sekali roti!”
Aria tersenyum tipis. “Datang saja kalau ada waktu.”
“Iya, Nyonya! Terima kasih!”
Ada ketulusan di sana. Hangat. Sederhana.
Hal yang jarang Aria temui sejak ia menginjakkan kaki di tempat ini.
“Baik, saya permisi dulu,” ujar Teresa akhirnya.
Aria mengangguk. Namun belum benar-benar pergi, ia memanggil Teresa sehingga wanita itu berbalik menatapnya lagi.
“Jangan panggil aku Nyonya. Panggil saja Aria!”
Mendengar itu Teresa nampak takut namun akhirnya dia mengangguk patuh dan pamit pergi.
Sunyi kembali.
Aria melangkah masuk lebih dalam, tangannya menyentuh permukaan meja, lalu berhenti di dekat jendela.
Tatapannya kosong. Pikirannya masih sama— Ibu Lorenzo… dibunuh.
Tanpa sadar, pikirannya melayang.
Ledakan.
Suara keras.
Kepulan asap di gedung.
Dan sosok ibunya… yang tak pernah kembali.
Aria memejamkan mata. Ibunya juga meninggal… dalam kekacauan saat sedang berkerja sebagai reporter.
Napasnya sedikit tertahan. Namun ia segera menggeleng pelan, memaksa dirinya kembali.
“Sudah cukup,” gumamnya.
Ia tidak ingin tenggelam di masa lalu. Tidak sekarang.
.
.
.
Gedung perkantoran itu menjulang tinggi, kaca-kacanya memantulkan cahaya pagi yang terang. Mobil hitam berhenti di depan.
Matteo keluar lebih dulu, langkahnya cepat, ekspresinya lebih hidup dari biasanya. Emilio menyusul di belakang, tenang seperti biasa.
Beberapa staf langsung menunduk hormat saat mereka masuk.
Begitu tiba di ruang kerja utama, Matteo langsung membuka pembicaraan.
“Kita harus mengubah arah bisnis ini, Ayah,” katanya tanpa basa-basi, berdiri di depan meja besar. “Ini tidak bisa terus dibiarkan.”
Emilio melepas jasnya, duduk dengan tenang. “Apa maksudmu?”
“Bisnis ilegal,” jawab Matteo tegas. “Kita harus menghentikannya.”
Keheningan jatuh.
Dingin.
Berat.
Emilio menatapnya perlahan. “Ulangi.”
Matteo menarik napas. “Perusahaan ini sudah cukup besar untuk berdiri sendiri. Kita tidak perlu lagi bergantung pada jalur itu. Terlalu berisiko.”
“Berisiko?” ulang Emilio pelan.
Nada suaranya mulai berubah. “Itu bisnis yang menjaga kita tetap di atas selama ini,” lanjutnya dingin. “Dan kau ingin menghentikannya begitu saja? Itu sudah berdiri sejak lama, Matteo.”
Matteo tidak mundur. “Aku ingin perusahaan ini tetap hidup di masa depan.”
Emilio bangkit dari duduknya.
Pelan. Namun tekanannya terasa.
“Kau tidak punya hak untuk mengambil keputusan sebesar itu, selama aku masih hidup.” kata Emilio tegas.
Matteo mengatupkan rahangnya.
Beberapa detik ia diam, lalu mengangguk kecil. “Baik,” katanya akhirnya. “Kalau begitu… aku tidak akan ikut bertanggung jawab jika perusahaan ini terseret karena bisnis ilegal Loren ataupun milik de Santos, Ayah.”
Emilio menyipitkan mata.
“Jika sesuatu terjadi karena bisnis ilegal itu,” lanjut Matteo, suaranya tetap tenang namun tegas, “jangan libatkan aku.”
Keheningan.
Lalu— Emilio tertawa pendek namun tajam.
“Sejak kapan kau bertanggung jawab atas kesalahanmu sendiri, Matteo?” katanya menusuk.
Matteo menegang.
“Sejak kapan keluarga ini pernah bertanggung jawab?” lanjut Emilio. “Kau tahu siapa yang selalu melakukannya.”
Matteo tidak menjawab. Tapi tatapannya berubah.
“Lorenzo,” ujar Emilio dingin. “Dia yang selalu membersihkan semuanya.”
Hening.
Lebih dalam dari sebelumnya. Matteo menghembuskan napas pelan.
“Karena itu sudah menjadi janjinya,” balas Matteo sesuai fakta yang dia tahu. “Dan itu bukan kesalahan.”
Emilio terdiam.
“Yang salah adalah apa yang terjadi di masa lalu,” lanjut Matteo, kini menatap langsung ayahnya dan sedikit tegas.
Ruangan itu membeku.
Emilio tidak menjawab. Namun untuk pertama kalinya— tatapannya… goyah.
Dan Matteo tahu.
Bukan hanya dia yang mengerti. Semua di keluarga itu sudah tahu soal janji masalalu Lorenzo.
Hanya saja…
tidak ada yang pernah benar-benar membicarakannya. Dan tidak ada yang tahu kisah dibaliknya, termasuk Lorenzo sendiri.