NovelToon NovelToon
Mr. Langit Tutor Nakal Ku

Mr. Langit Tutor Nakal Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jee Jee

cinta pertama jaman aku SMP sulit sekali aku lupakan... kenangan manis nya masih sama dan luka semasa SMA juga yang sulit aku lupa.. hingga suatu hari sahabat terdekat yang dari lahir udah barengan sama aku! kenalkan aku sama dia.. Tutor nakal ku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23

...

..

  Seminggu ini Jelita merasa dunianya sudah kembali normal. Berkat asupan "tutor intensif" dari Langit di apartemen, Jelita merasa tembok betonnya sudah cukup kuat untuk menghadapi apa pun. Dia sudah bisa tertawa lepas lagi, sudah bisa fokus kuliah, dan yang paling penting: dia merasa sudah berdamai dengan trauma masa lalunya. Yayan? Baginya, pria itu cuma sekadar bayangan kabur yang pernah lewat.

Tapi, Jelita lupa satu hal. Yayan adalah kembaran Langit. Kalau Langit punya sifat pantang menyerah yang "sesat", maka Yayan punya sifat keras kepala yang "berandalan".

Sore itu, Jelita baru saja keluar dari perpustakaan Ekonomi. Langit mengirim pesan kalau dia bakal telat karena ada urusan dadakan di jurusan. Jelita memutuskan menunggu di bangku taman depan fakultas.

Baru saja dia duduk, sebuah bayangan tinggi menutupi cahaya matahari di depannya. Jelita mendongak, berharap itu Langit yang datang lebih cepat. Tapi jantungnya langsung mencelos.

Yayan berdiri di sana. Jaket denimnya berantakan, rambutnya acak-acakan, dan ada senyum tipis yang terlihat... nggak tau malu. Mode berandalannya resmi on.

"Jalan yuk..." ucap Yayan santai, seolah-olah lima tahun terakhir nggak pernah terjadi.

Jelita menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai dirinya sendiri. Dia nggak mau lari lagi kayak dulu. "Gak usah gangguin gue!" jawab Jelita dingin.

Yayan justru duduk di sebelah Jelita, sangat dekat hingga bau rokok dan parfum maskulinnya yang khas tercium lagi. "Oh ya? Gimana kalau gue bilang... gue seumur hidup mau gangguin lo? Lo mau apa?"

Jelita menoleh tajam, matanya menatap Yayan dengan rasa tidak percaya. "Gila..."

"Gue emang gila karena lo," balas Yayan cepat, matanya menatap Jelita dengan intensitas yang bikin Jelita sesak napas. Tidak ada lagi keraguan di mata itu, cuma ada ambisi.

"Gue udah punya cowok. Jauh-jauh dari gue!" tegas Jelita, mencoba berdiri untuk menjauh.

Tapi Yayan dengan sigap menahan lengan Jelita, bukan dengan kasar, tapi dengan dominasi yang nggak bisa dibantah. Dia menatap Jelita tepat di bola mata, tatapan yang menantang sekaligus menghancurkan.

"Persetan sama cowok lo," gumam Yayan rendah. "Dia nggak tahu lo kayak gue tahu lo, Jee. Dan gue nggak peduli siapa dia. Yang gue tahu, lo itu punya gue yang tertunda."

Jelita merasa dunianya seolah berputar. Keberanian yang dia kumpulkan seminggu ini mendadak diuji habis-habisan. Yayan yang sekarang benar-benar berbeda—dia nggak lagi diam dan cuek, dia agresif dan nggak punya urat malu.

"Lo... lo bener-bener sakit, Kak," tuding Jelita gemetar.

"Emang. Dan obatnya cuma lo, jadi jangan harap gue bakal pergi cuma karena lo bilang lo udah punya orang lain," Yayan mendekatkan wajahnya, membuat Jelita bisa merasakan hembusan napasnya.

Jelita benar-benar merasa sedang terjebak dalam lubang dimensi yang salah. Pria di depannya ini—Yayan—bukan lagi kakak kelas yang irit bicara dan hanya "perang mata" dari kejauhan. Yayan yang sekarang benar-benar tidak punya urat malu. Dia berdiri begitu dekat, menantang semua aturan jarak satu meter yang selama ini Jelita jaga.

"Lo bener-bener udah kehilangan akal sehat ya, Kak?" desis Jelita, mencoba menarik lengannya, tapi genggaman Yayan seperti kunci baja yang dilapisi beludru—kuat tapi tidak menyakiti.

"Gue bilang apa? Gue emang gila," Yayan menyeringai, sebuah seringai yang sangat berandalan, sangat "Langit", tapi dengan aura yang jauh lebih gelap. "Kenapa? Lo kaget liat gue yang begini? Lo pikir gue bakal terus-terusan biarin lo hindarin gue?"

Di kejauhan, Felicia berdiri mematung dengan mulut menganga lebar. Matanya bolak-balik menatap Yayan lalu ke arah gerbang kampus, berharap Porsche hitam Langit tidak muncul sekarang juga.

"Demi apa..." gumam Felicia histeris dalam hati. "Itu si Langit ganti kostum jadi anak Teknik atau gimana? Tapi auranya... kok yang ini bau-bau masalah besar ya?"

Felicia nggak tahan lagi. Dia berlari kecil menghampiri Jelita, mencoba jadi penengah sekaligus saksi bisu. "Jee! Ini... ini siapa? cowok lo kok... eh, maksud gue, kok mirip banget?"

Jelita menoleh ke Felicia dengan wajah pucat. "Fel, bantuin gue..."

Yayan melirik Felicia sekilas, lalu kembali menatap Jelita, sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran orang ketiga. "Temen lo? Bilang sama dia, nggak usah takut. Gue cuma lagi jemput milik gue yang tertinggal."

"Lo bukan milik gue! Dan gue bukan punya lo!" teriak Jelita frustrasi. "Gue udah punya cowok, Kak! Dia jauh lebih segalanya dari lo!"

Yayan tertawa rendah, sebuah tawa yang meremehkan. "Persetan sama cowok lo itu, Jee. Mau dia pangeran dari langit sekalipun, dia nggak punya sejarah selama gue sama lo. Dia nggak tahu gimana rasanya jantung lo maraton cuma gara-gara gue liat doang"

Yayan semakin mendekatkan wajahnya, mengabaikan Felicia yang sudah hampir pingsan karena bingung. Jelita benar-benar tidak tahu kalau pria yang dia sebut "lebih segalanya" itu adalah orang yang tidur di kamar sebelah pria yang sekarang sedang mengintimidasinya. Jelita hanya merasa dia sedang dikepung oleh dua "gapura kabupaten" yang identik, yang satu memberinya pelangi, yang satu lagi memberinya badai.

"Ayo ikut gue. Sebentar aja," ajak Yayan, kali ini suaranya sedikit melunak tapi tetap penuh tuntutan.

"Gue nggak mau!"

"Jee, jangan bikin gue pake cara berandalan buat bawa lo ke atas motor gue," ancam Yayan setengah bercanda tapi matanya serius.

Felicia akhirnya bersuara, "Eh, Bang... sori ya, tapi Jelita udah mau dijemput pacarnya. Mending Abang pergi deh sebelum pawangnya dateng. Dia galak loh!"

Yayan melepaskan genggaman tangannya, tapi dia malah menyandarkan tubuhnya di bangku taman dengan santai, melipat tangan di depan dada. "Oh ya? Gue mau liat sehebat apa 'pawang' yang bikin lo berani nolak gue terang-terangan gini, Jee. Gue tungguin di sini."

Jelita lemas. Semesta benar-benar sedang bercanda. Langit bisa datang kapan saja, dan kalau Langit melihat Yayan... Jelita tidak bisa membayangkan kehancuran macam apa yang akan terjadi.

"Lo gila, Kak. Lo bener-bener gila," bisik Jelita sambil menarik tangan Felicia untuk menjauh, sementara Yayan hanya menatap punggungnya dengan tatapan yang sulit di artikan

1
Vike Kusumaningrum 💜
Gimana ceritanya itu, maksapun kamu udah telat Yan, Langit udah jauuuuh merubah Jelita, bahkan udah icip2 jg. lah kamu ???

susah jadi dirimu Jee. mana sodaraan pula. 🤦‍♀️
jhiee: kedua nya boleh gak beb😭😭😭 soalnya aku aja dilema.. mau milih siapa🤣🤣
total 1 replies
Desy Bengkulu
akan kan mereka bertemu ??

hohoho jawbanya ada di tangan kk author tercinta ini 🤣🤣🤣
jhiee: hahaha rahasia🤣
total 1 replies
Desy Bengkulu
🤣🤣🤣🤣masih jadi misteri , kucing agen rahasia 🤣🤣🤣
Desy Bengkulu
ngakak aku baca nya kak dari awal sampek yg ini , makan kurma si langit ngajarin yg enggak² berjung uji nyali kesabaran , tapi bagus sih, si langit bisa jaga kehormatan jelita
jhiee: sebenarnya ini novel harus di kasih label 21+ 🤣 karena ini gendre nya agak beda dari yang lain😭kalau di novel lain lebih mementingkan etika kalau di sini trabas aja🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!