Note: Ini cuma sekedar novel santai aja, kemungkinan besar dari kalian akan bosan membacanya. karena alurnya yang lambat, jadi jangan tanya author masalah debeh, aksi gelut gelut dan semacamnya yaa...😀
Xiao Yan bereinkarnasi ke dunia kultivasi modern sebagai bayi dengan status dan keahlian maksimal menyentuh angka 9999. Di tengah tragedi serangan monster yang merenggut nyawa ayahnya dan mengancam ibunya, dia tanpa sengaja melepaskan satu tembakan energi mematikan yang menghapus sang monster beserta daratan sejauh tiga kilometer dalam sekejap. Demi kehidupan yang damai dan tenang, Xiao Yan memutuskan untuk menyembunyikan identitasnya, meski takdir dan sistem di kepalanya seolah terus memaksanya untuk bertindak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Bibi Zhou mengeluarkan sebuah toples kaca kecil berisi bubuk lada dan meletakkannya di atas meja, tepat di depan wajah Xiao Yan.
"Astaga, Bibi Zhou, kamu tidak perlu repot-repot," kata Lin Mei, berusaha tersenyum kembali.
"Tidak apa-apa! Anggap saja hadiah dariku. Ah, aku buka tutupnya ya biar kamu bisa mencium baunya. Ini lada asli, loh!"
Tanpa menunggu persetujuan Lin Mei, Bibi Zhou memutar tutup toples itu dan membukanya lebar-lebar.
Syuuuuut.
Angin sepoi-sepoi bertiup dari jendela yang terbuka, membawa partikel debu lada hitam itu langsung terbang ke arah wajah Xiao Yan.
Xiao Yan yang sedang menunduk langsung melebarkan matanya. Hidungnya terasa gatal. Sangat gatal.
"Gawat," batin Xiao Yan panik.
Dia tahu apa arti dari rasa gatal ini. Ini adalah sensasi biologis sebelum bersin. Masalahnya, tubuhnya memiliki Kekuatan Fisik 9999. Kapasitas paru-parunya dan tekanan udara yang bisa dia hasilkan tidak sama dengan manusia biasa. Jika dia bersin di dalam ruangan ini secara normal, tekanan udaranya akan menciptakan badai topan mini yang akan menghancurkan seluruh apartemen dan mungkin meledakkan kepala Bibi Zhou.
"Ugh..." Xiao Yan menahan napasnya. Wajahnya mulai memerah.
"Ya ampun, Xiao Yan kenapa? Wajahnya merah sekali," tegur Bibi Zhou sambil menunjuk anak itu.
"Yan-er? Kamu sakit?" Lin Mei langsung panik. Dia berjongkok di depan putranya dan memegang dahi Xiao Yan. "Tidak demam. Kamu tersedak roti?"
Xiao Yan menggelengkan kepalanya dengan kuat. Dia tidak bisa berbicara. Dia mengerahkan seluruh fokus mentalnya untuk menahan dorongan udara dari dadanya. Pembuluh darah di pelipis kecilnya mulai terlihat menonjol.
"Aku harus mengeluarkannya. Tidak bisa ditahan. Kalau aku menelannya kembali, paru-paruku yang kuat akan memompa balik udara ini dan membuat jantungku berdetak secepat jet tempur. Ibu akan panik kalau mendengar detak jantungku," hitung Xiao Yan dalam hitungan milidetik.
Dia harus bersin, tapi dia harus mengarahkannya ke tempat yang aman.
Xiao Yan tiba-tiba berdiri dari karpet.
"Hah... Hah..."
"Yan-er, kamu mau ke mana?" Lin Mei semakin khawatir melihat putranya terengah-engah dan berjalan dengan langkah kaku menuju jendela yang terbuka.
"A-Angin..." ucap Xiao Yan dengan susah payah. "Mau... lihat... luar."
Dia meletakkan tangannya di kusen jendela. Xiao Yan mendongak menatap langit biru yang cerah. Ada sebuah awan putih tebal yang menggantung tepat di atas gedung apartemen mereka.
"Arah jam dua belas. Sudut elevasi delapan puluh lima derajat. Tidak ada burung, tidak ada pesawat, tidak ada kultivator yang sedang terbang dengan pedang di rute ini,' analisis Xiao Yan dengan cepat berkat Kecerdasan 9999 miliknya.
Dia membuka mulutnya. Dia menekan 99,99% tenaga fisiknya ke dalam tulang rusuknya, membiarkan hanya 0,01% tenaga yang keluar bersama dorongan bersin tersebut.
"Hatchi!"
Suara bersin itu terdengar sangat pelan dan lucu, persis seperti bersin balita pada umumnya.
"Astaga, ternyata cuma mau bersin," kata Bibi Zhou sambil tertawa lega. "Pasti karena lada hitamku. Maaf ya, Mei."
Lin Mei menghela napas lega dan mengelus dadanya.
"Hah... Syukurlah. Ibu kira kamu kenapa-napa, Nak."
Xiao Yan mengusap hidungnya dengan punggung tangannya. Dia masih berdiri menatap ke luar jendela.
Di ruang tamu, suara bersin itu terdengar biasa saja. Namun, di luar jendela, sesuatu yang tak kasat mata baru saja terjadi.
Dorongan udara berkekuatan sangat terkompresi melesat dari mulut Xiao Yan ke atas langit dalam garis lurus. Udara itu membelah angin, melesat menembus atmosfer dengan kecepatan suara.
Di atas sana, awan putih tebal yang tadi menggantung langsung terbelah menjadi dua bagian dengan potongan yang sangat rapi. Angin berembus kencang di sekitar atap apartemen sesaat, menggetarkan jemuran pakaian milik para tetangga.
"Wah, anginnya tiba-tiba kencang sekali di luar," komentar Bibi Zhou sambil melihat ke arah tirai yang berkibar.
"Iya, cuaca memang aneh akhir-akhir ini," balas Lin Mei. "Ayo, duduk lagi Bibi Zhou. Biar kubuatkan teh."
Xiao Yan berbalik badan dan berjalan kembali ke karpet busanya dengan wajah datarnya yang biasa.
"Sedikit meleset dari perhitungan. Aku menggunakan 0,015 persen tenaga, bukan 0,01 persen. Untung saja hanya awan yang terbelah," batin Xiao Yan sambil duduk.
"Ibu, teh," kata Xiao Yan datar, mengingatkan ibunya.
"Iya, iya, Tuan Muda kecil," goda Lin Mei sambil berjalan ke dapur.
Xiao Yan mengambil gelas susunya lagi. Hari ini baru dimulai, dan dia sudah hampir meratakan satu blok apartemen hanya karena bubuk lada hitam. Dia harus berlatih lebih keras lagi untuk mengontrol kekuatannya jika ingin benar-benar menikmati hidup yang santai dan tidak mencolok.
Setidaknya, untuk hari ini, kedamaian hidupnya sebagai anak normal masih terjaga. Tidak ada yang tahu bahwa awan di atas kota Awan Putih yang terbelah sempurna itu adalah hasil karya seorang balita berumur tiga tahun yang sedang flu.