NovelToon NovelToon
100 Cerpen Tengah Malam Untuk Anak-Anak

100 Cerpen Tengah Malam Untuk Anak-Anak

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: R.H Rahman

Bukan kisah pengantar tidur. Bukan untuk anak-anak manusia yang polos.
Ini adalah kitab untuk anak-anak jiwa yang sudah siap menghadapi kenyataan di balik kegaiban.
Bahwa di balik dinding realitas yang kau anggap nyata, terdapat celah.
Dan di dalam celah itu... hukum alam mati. Logika hancur.
Segala sesuatu menjadi abstrak, melengkung, dan berteriak.

PS: "Kamu bisa lari dari entitas di depan matamu, tapi kamu tidak bisa lari dari entitas di relung pikiranmu sendiri."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tertelan (Bag 28)

Badai yang tadinya terus menerus mengamuk kini seolah kehabisan tenaga. Raungan angin yang menderu kencang perlahan mereda menjadi desisan halus. Hujan deras yang menghantam atap seperti butiran batu berubah menjadi gerimis halus. Suaranya menjadi tenang, hesss... hesss... hesss... terdengar syahdu dan menenangkan, arti bahwa kekacauan di luar sana telah usai.

Suasana di dalam gubuk kembali hening. Hanya sisa-sisa dingin yang masih tertinggal di udara.

Mereka berempat duduk di masing-masing kursi kayu yang tersebar di ruang utama. Napas mereka mulai teratur kembali, meski wajah mereka masih terlihat lelah dan pucat. Lebih-lebih Umar, rautnya benar-benar pucat padam.

"Kira-kira besok pagi kita bisa jalan lagi gak ya, Pak?" tanya Herman pelan, mencoba memecah keheningan yang berat. "Saya takut kalau kita masih muter-muter di tempat yang sama."

Sulaiman menghela napas, matanya menatap lantai kayu yang gelap. "Kita harus keluar. Aku rasa... tempat ini bukan tempat yang baik buat istirahat terlalu lama. Ada yang jaga tempat ini."

"Iya, Pak. Tadi itu beneran serem banget. Saya kira gubuk ini kosong," sahut Deri sambil menggosok-gosokkan tangannya untuk menghangatkan badan. "Tapi aneh ya, kok bisa jadi rapi begini? Dan makanan itu..."

Percakapan mereka berjalan pelan, mencoba mengembalikan sedikit kewarasan di tengah mimpi buruk. Namun, percakapan itu terhenti mendadak saat telinga mereka menangkap suara langkah kaki.

Tep... tepp... tebb...

Suara langkah kaki yang pelan, berat, dan terdengar jelas berasal dari arah belakang, tepat dari balik tirai pembatas ruangan yang mengarah ke kamar tidur.

Jantung mereka serentak berhenti berdetak. Darah seakan kembali membeku di pembuluh nadi.

Pintu anyaman bambu yang tertutup rapat itu bergeser perlahan dengan sendirinya. Tidak ada angin, tidak ada sentuhan, tapi pintu itu terbuka.

Dan dari kegelapan kamar itu, muncullah sesosok tubuh.

Seorang nenek tua.

Sangat tua. Tubuhnya bungkuk hingga hampir membentuk sudut 90 derajat. Kulitnya keriput parah, menggambarkan usia yang mungkin sudah mencapai ratusan tahun. Namun yang paling mencolok adalah pakaian yang dikenakannya. Bukan kain kebaya atau daster biasa, melainkan baju longgar yang terbuat dari anyaman karung goni dan serabut kasar, warnanya abu-abu kotor, terasa kasar dan gatal meski hanya sekedar dilihat.

Nenek itu berjalan tertatih-tatih mendekati mereka. Wajahnya yang penuh kerutan itu justru menampilkan sebuah senyuman. Senyuman yang sangat rapi, sangat ramah, dan sangat... salah.

Matanya menyipit karena senyum itu, menampilkan kesan keramahan seorang nenek yang baik hati, tapi ada sesuatu di balik tatapan itu yang membuat bulu kuduk berdiri tegak. Sesuatu yang dingin dan lapar.

"Wah... ada tamu rupanya..." suara nenek itu keluar. Serak, lembut, tapi terdengar sampai ke pondasi sumsum. "Sudah lama rumah ini tidak didatangi orang sekuat kalian."

Deri dan Herman langsung membatu. Mata mereka terbelalak menatap sosok yang tiba-tiba muncul itu. Mulut mereka terbuka sedikit, siap untuk berteriak atau bertanya, tapi tubuh mereka tidak bisa bergerak. Umar pun bergegas turun dari kursinya dan berlari mendekat ke arah ayahnya.

Nenek itu berdiri tepat di tengah-tengah mereka, jaraknya hanya beberapa jengkal. Bau yang menyengat keluar dari tubuhnya. Bau batu kapur, bau jamur tua, dan bau anyir yang samar.

"Pasti lapar ya, anak-anak?" tanya nenek itu dengan nada manja dan memanjakan, sambil menunjuk ke arah lemari kayu di sudut dapur. "Di situ ada banyak makanan. Ikan, telur, roti... semua enak-enak. Silakan dimakan saja. Jangan malu-malu. Ini rezeki kok, heheh.."

Tangannya yang keriput dan berbulu halus itu terulur, menunjuk ke arah lemari dengan jari-jari yang panjang dan kuku yang retak-retak.

"Makanlah... pasti enak. Kalian kan capek. Makan biar kuat..."

Deri mulai tergoda. Suara nenek itu begitu menenangkan, begitu meyakinkan. Perutnya yang keroncongan seakan berteriak setuju. Matanya mulai melirik ke arah lemari, lalu kembali ke wajah nenek yang tersenyum ramah itu.

"Dia kan cuma nenek tua... dia baik... dia nawarin makanan..." bisik pikiran jahat di kepala Deri. Tangannya perlahan terangkat ingin menerima tawaran itu.

"DERI!

HERMAN!

Dan kamu, Umar!

JANGAN LIHAT! JANGAN JAWAB!

DIA BUKAN MANUSIA!!!"

Teriakan keras dari Sulaiman memecahkan hipnotis itu.

Sulaiman tidak menatap wajah nenek itu sedikit pun. Matanya menunduk tajam ke lantai, tangannya bergetar memegang bahu Umar.

"LIHAT KE BAWAH! JANGAN KALIAN BERANI MENATAP MATA ATAU WAJAHNYA! DIA JEBAKAN!" desis Sulaiman dengan napas tertahan, suaranya mendayu menahan ketakutan.

Deri dan Herman yang sadar dari lamunan, segera menundukkan wajah mereka kencang-kencang. Jantung mereka berpacu kencang. Mereka bisa merasakan kehadiran nenek itu sangat dekat. Mereka bisa merasakan bayangannya menaungi tubuh mereka, tapi mereka tidak berani mengangkat pandangan sedikit pun.

Keheningan yang mencekam kembali terjadi.

Nenek itu berhenti bicara. Senyumannya seakan perlahan memudar saat tidak ada yang menanggapinya. Mereka bisa mendengar suara napasnya yang panjang dan lambat. Heeeh... heeeh...

"Kenapa... tidak mau lihat nenek?" suara nenek itu berubah. Nada ramahnya perlahan bergeser menjadi nada yang lebih datar, dan sedikit menyakitkan. "Nenek kan baik... nenek cuma mau kasih makan..."

Mereka berempat tetap menunduk. Sulaiman bahkan meletakkan telapak tangannya menyelimuti kedua mata putranya. Keringat dingin membasahi punggung mereka. Mereka tahu, aturan main di dunia gaib itu sederhana: Jangan menatap, jangan menjawab, jangan menerima apa pun. Jika mereka menatap, jiwa mereka akan terseret. Jika mereka menjawab, mereka mengakui keberadaan makhluk itu dan memberinya celah hantaman.

Sulaiman memejamkan matanya, berdoa dalam hati sekuat tenaga, mencoba mengabaikan kehadiran sosok mengerikan yang berdiri tepat di samping bahunya.

"Mau ya makan? Nenek sudah siapkan capek-capek..." suara nenek itu kembali terdengar, kali ini disertai tawa cekikikan yang halus dan menjijikkan. "Hihihi... hihihi..."

Tiba-tiba, Umar merasakan ada sentuhan dingin di kepalanya. Tangan keriput itu sedang mengelus rambutnya perlahan. Sentuhan itu terasa ngilu, membuat kulit kepalanya perih dan mati rasa. Sulaiman yang juga berada di situ segera memalingkan pandangannya ke kanan, mencoba menghindari pemandangan tangan keriput yang berada tepat satu jengkal di depan hidungnya.

"Anak ganteng... makan ya..." ucapan itu tepat di telinga Umar

Umar ingin menjerit, tapi suaranya hilang ditelan ketakutan. Dia hanya bisa menggigit bibirnya hingga terasa asin dan berdarah, menahan diri agar tidak bergerak atau menoleh.

Setelah merasa usahanya menipu mereka sia-sia, suasana berubah menjadi tegang. Nenek itu terdiam beberapa saat, suara napas panjangnya terdengar seperti angin malam.

"Baiklah... anak-anak, kalau begitu... Nenek kembali ke kamar dulu. Tapi kalau kalian lapar, jangan sungkan, kalian boleh mengambil makanan di lemari, hihi hihihi..."

Mereka mendengar langkah kaki itu kembali bergerak. Teb... tep... tepp... Perlahan menjauh, kembali menuju pintu kamar.

Sebuah kelegaan namun penuh ketegangan menyelimuti mereka.

Saat suara langkah itu menghilang, dan terdengar suara pintu bambu ditutup kembali dengan pelan namun pasti, barulah Sulaiman menghela napas bebas seolah baru saja melewati maut.

"Alhamdulillah..." gumamnya lemah, keringat membasahi seluruh dahi dan lehernya.

Deri, Herman dan Umar kemudian mengangkat perlahan wajah mereka, napas mereka memburu hebat. Mereka menoleh ke arah pintu kamar yang kini kembali tertutup rapat.

"P Pak... itu siapa sebenarnya?" tanya Herman dengan suara gemetar. "Kenapa Bapak melarang kami melihat?"

Sulaiman menatap pintu itu dengan mata tajam dan penuh waspada.

"Itu bukan nenek. Itu penjaga tempat ini. Itu jelmaan yang sama dengan si pencangkul, cuma beda wujud," bisik Sulaiman cepat dan tegas. "Kalau kalian menatap matanya, kalian akan melihat wajah aslinya yang mengerikan, dan pikiran kalian akan langsung hancur. Kalau kalian makan makanan yang dia tawarkan, kalian akan jadi mayat yang dibaringkan di kegelapan."

Mereka saling berpandangan, menyadari betapa tipisnya garis antara hidup dan mati. Mereka baru saja selamat dari jebakan maut yang sangat halus.

Tapi pertanyaan besar kini menghantui pikiran:

Apakah nenek itu memang tinggal di sana? Di kamar itu? Di dalam gubuk yang sama dengan mereka?

Dan malam ini, mereka harus tidur... hanya dipisahkan oleh selembar dinding bambu tipis, dengan sosok yang menyamar menjadi nenek baik hati.

1
Mommy Dza
Baca sejak awal thor
hati bertanya tanya
mengapa di saat paling horor seperti yg digambarkan di awal cerita,
Mereka bertukar cerita horor ?🥹
Apakah jawabannya ada di bab selanjutnya?
Mommy Dza
👍💪💪💪💪
Mommy Dza
Semangat
Mommy Dza
👍👍💪
Mommy Dza
😱🥹
Mommy Dza
😱😱😵‍💫 Lariii
Mommy Dza
Teror baru dimulai
Mommy Dza
Wah penasaran dgn akhir ceritanya
Mommy Dza
Semangat Thor 💪
Mommy Dza
Waahhhh 💪
Mommy Dza
🥹🥹 Waahhh
Mommy Dza
Lanjut 💪
Mommy Dza
Horor
Mommy Dza
Teror baru dimulai 👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!