Apa jadinya jika Elena, seorang Letnan Militer jenius dari masa depan terjebak di tubuh Rania Belmont. Nona bangsawan lemah yang selalu di siksa oleh Selir Ayah nya?
Di dunia baru ini, Elena bukan hanya harus membalas dendam pada mereka yang menyiksanya, tapi juga memikul beban berat dari sebuah Sistem. Mencegah Kiamat.
Caranya? Dengan menjinakkan Aron Gild, Raja Tirani berdarah dingin yang kekuatannya bisa menghancurkan dunia jika suasana hatinya memburuk.
Bagi dunia, Aron adalah monster, tapi bagi Elena, Aron adalah bayi besar yang haus kasih Sayang.
"Dunia ini bisa hancur besok, aku tidak peduli, tapi jika kamu yang pergi, aku sendiri yang akan memastikan tidak ada satu pun manusia yang tersisa di bumi ini untuk meratapi kematianmu, kamu adalah rumahku, Rania, dan rumahku tidak boleh tergores sedikit pun," ucap Aron posesif.
"Sial! Kalau dia se manis ini, indikator kiamatnya memang turun, tapi jantungku yang malah mau meledak!" batin Rania, mengigit bibir bawah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TATAPAN POSESIF
"Aku menyelamatkan nyawamu, dasar Kaisar Gila," desis Rania pelan, hanya untuk didengar oleh Aron.
Aron menyeringai tipis, sebuah senyuman yang terlihat sangat berbahaya namun juga penuh kepuasan, pria itu mengabaikan kekacauan di sekelilingnya, mengabaikan Viola yang pingsan dan Diana yang merintih ketakutan, fokusnya hanya pada gadis di pelukannya.
"Jadi ini caramu menjinakkan seekor monster?" bisik Aron, tangannya mengusap pipi Rania dengan ibu jarinya.
"Dan aku menyukainya," bisik Aron, lagi.
Rania mendengus, mencoba melepaskan diri dari pelukan Aron, namun cengkeraman pria itu justru semakin menguat.
"Lepaskan, Yang Mulia. Semua orang melihat," ucap Rania datar, meski jantungnya masih berdegup kencang karena sisa ketegangan tadi.
"Biarkan mereka melihat," jawab Aron dingin sambil melirik tajam ke arah para bangsawan, membuat mereka semua serentak menundukkan kepala ketakutan.
"Mulai hari ini, siapapun yang berani menyentuh milikku, akan berakhir lebih buruk daripada sekadar dicekik bayangan," ucap Aron, dingin.
"Siapa yang Anda sebut milik mu hah! Aku bukan milik siapa-siapa," ucap Rania, mendengus.
"Aku tidak meminta persetujuan mu, My Queen, saat kamu datang mengirimkan burung mu waktu itu, kamu sudah resmi menjadi milik ku," ucap Aron, dengan suara berat nya.
"Cepat lepaskan aku," ucap Rania, geram.
"Tidak mau," jawab Aron, santai.
Dante akhirnya sadar dari keterkejutannya, dia melangkah maju dengan wajah merah padam, campuran antara marah dan tidak percaya.
"Yang Mulia! Tolong lepaskan adikku!" seru Dante, mencoba mengambil kembali Rania.
Aron tidak melepaskan Rania, justru dia menarik Rania lebih dekat ke sisinya, menatap Dante dengan tatapan menantang.
"Duke Belmont, sepertinya perjamuan ini harus diakhiri lebih awal, aku punya banyak hal yang harus aku diskusikan dengan Lady Rania di ruang pribadiku," ucap Aron, melirik Rania dengan senyum menyebalkan.
"APA?! TIDAK!" teriak Dante dan Duke Victor bersamaan.
"Sistem, lain kali jangan suruh aku pakai cara begini lagi, ini benar-benar merepotkan, lihat lah Kaisar gila ini, di benar-benar gila," batin Rania sambil menahan pusing yang mulai menyerang kepalanya.
Aron tidak memperdulikan teriakan protes dari Duke Victor maupun Dante, dengan gerakan posesif, dia menggendong Rania ala bridal style, membuat Rania yang memang sudah lemas karena energinya terkuras hanya bisa membelalakkan mata.
"Turunkan aku, Aron! Kamu benar-benar sudah gila ya?!" protes Rania, tangannya memukul pelan dada bidang sang Kaisar.
"Diam lah, Nona Melati, kamu sudah menggunakan banyak energi untuk menjinakkan ku, jadi biarkan aku yang membawamu sekarang," bisik Aron tanpa menghentikan langkahnya menuju pintu samping aula.
"Yang Mulia! Rania adalah putriku, dia sedang terluka dan butuh istirahat. Tolong jangan bawa dia pergi begitu saja!" ucap Duke Victor mencoba menghalangi jalan Kaisar Aron
Aron menghentikan langkahnya sejenak, matanya berkilat dingin menatap sang Duke.
"Dia terluka karena kelalaianmu membiarkan ular di rumahmu sendiri, Duke Belmont. Mulai detik ini, tempat paling aman untuknya adalah di sampingku," ucap Aron, dingin.
"Dav!" panggil Aron, tegas.
Dav yang paham maksud Tuan nya, langsung mengangguk patuh.
"Mohon maaf, Duke, Tuan muda Dante, yang Mulia Kaisar butuh waktu berdua dengan Lady Rania, silakan Anda berdua mengurus masalah keluarga Anda di penjara bawah tanah terlebih dahulu," ucap Dav dengan wajah datar.
"Brengsek... dia menggunakan kekuasaannya untuk menculik adikku!" umpat, Dante mengepalkan tangannya kuat.
Di gendongan Kaisar Aron, Rania akhirnya menyerah untuk memberontak, kepalanya terasa sangat berat, dan aroma maskulin yang bercampur dengan sisa-sisa aroma kegelapan dari tubuh Aron entah kenapa justru membuatnya mengantuk.
"Kenapa... kenapa kamu tidak melepaskan ku? Masalahnya sudah selesai, kan?" tanya Rania dengan suara yang semakin mengecil.
Aron menunduk, menatap wajah pucat Rania dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Selesai? Ini baru dimulai, kamu sudah masuk ke dalam duniaku, memberikan ciuman yang mematikan itu, lalu kamu pikir bisa pergi begitu saja Hem?" tanya Kaisar Aron, dengan suara seraknya.
Ceklekk
Aron memasuki ruang kerjanya yang megah dan meletakkan Rania di atas sofa yang empuk dengan sangat hati-hati.
Rania memejamkan matanya, namun dia merasakan tangan hangat Aron mengusap hiasan bulan sabit di dahinya, lalu turun ke bibirnya yang tadi bersentuhan dengan bibir pria itu.
"Kamu adalah obat sekaligus racun bagiku," gumam Aron pelan, berlutut di depan sofa, tidak memedulikan martabatnya sebagai seorang Kaisar.
"Katakan padaku, siapa kamu sebenarnya? Tidak mungkin sampah keluarga Belmont memiliki kekuatan untuk menenangkan kegelapanku," tanya Aron, pelan.
Rania membuka matanya sedikit, menatap wajah tampan Aron yang kini berada sangat dekat dengannya.
"Aku... hanya orang yang ingin bertahan hidup," jawab Rania lirih sebelum akhirnya kesadarannya benar-benar hilang karena kelelahan.
Aron terdiam melihat Rania yang sudah terlelap, lalu dia menarik selimut dan menyelimuti tubuh gadis itu.
"Bertahan hidup, ya?" ulang Aron tersenyum miring.
"Maka hiduplah di sisiku, Rania Belmont, karena aku tidak akan membiarkan maut sekalipun mengambil mu dariku sekarang," gumam Aron, dingin.
Aron tetap duduk di lantai, matanya tidak sedetik pun berpaling dari wajah tenang Rania yang tengah jatuh pingsan, dia memperhatikan setiap helai napas gadis itu, memastikan bahwa detak jantung Rania masih stabil setelah memberikan energi yang begitu besar untuk meredam kegilaannya tadi.
"Hanya butuh satu sentuhan darimu, dan duniaku yang hancur mendadak senyap," bisik Aron pelan, jemarinya yang panjang mengusap lembut pipi Rania yang terasa dingin.
Aron merasakan gejolak aneh di dadanya, sebuah perasaan protektif yang bahkan lebih kuat daripada rasa hausnya akan darah.
Selama bertahun-tahun, dia hidup dengan monster yang meronta-ronta di dalam jiwanya, namun gadis yang dianggap semua orang sebagai sampah ini justru menjadi satu-satunya pawang yang bisa menjinakkan monster tersebut hanya dengan sebuah pelukan dan ciuman.
"Dav, kemari lah," perintah Aron tanpa mengalihkan pandangannya.
Dav melangkah masuk ke dalam ruangan dengan kepala tertunduk, menghindari kontak mata langsung dengan tuannya yang sedang dalam suasana hati yang sangat tidak stabil.
Sebagai orang yang sudah puluhan tahun menjadi tangan kanan Aron, Dav tahu, di balik ketenangan Aron saat ini, ada obsesi yang sedang tumbuh.
"Siapkan tabib istana terbaik, suruh dia menunggu di depan pintu, tapi katakan padanya, jika dia berani menyentuh kulit Lady Belmont lebih dari yang diperlukan untuk memeriksa nadinya, aku akan memotong tangannya," ucap Aron dengan nada bicara yang sangat datar namun mengerikan.
Glek
Dav menelan ludah dengan susah payah, menyadari bahwa tuannya sudah benar-benar kehilangan kewarasannya demi gadis di depannya ini.
"Baik, Yang Mulia. Lalu bagaimana dengan keributan di aula? Para bangsawan masih ketakutan dan Duke Victor terus mendesak untuk masuk," tanya Dav, hati-hati.
suwun thor crazy upnya, matrehat thor