“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”
Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Sangkar Emas yang Menyempit
Cahaya temaram dari langit Jakarta yang sedang bergelayut mendung menyusup melalui celah tirai kamar utama di kediaman Pradipta. Alika mengerjapkan mata dengan susah payah. Kepalanya terasa luar biasa berat, seolah baru saja dihantam benda tumpul. Saat ia mencoba menggeser tubuhnya, seluruh persendian seakan memberontak. Rasa ngilu yang tajam menjalar dari pergelangan kaki hingga ke tulang punggungnya.
Ingatan tentang peristiwa semalam berputar acak di kepalanya, serupa gulungan kaset yang rusak. Panggung malam gala yang megah, kilatan lampu kamera yang menyilaukan, cengkeraman tangan Narendra yang terasa mematikan, dan... wajah Dokter Raditya. Alika memejamkan mata rapat-rapat, mengutuk tubuhnya yang justru tumbang di saat ia harus tetap mempertahankan topeng kesempurnaannya.
Dengan sisa tenaga yang masih terkumpul, Alika memaksakan diri untuk bangkit dari ranjang. Ia harus bercermin. Ia perlu memastikan sejauh mana kerusakan yang telah terjadi pada tubuhnya. Saat kakinya menjejak karpet tebal, keseimbangannya goyah. Ia segera bertumpu pada tepian meja rias agar tidak tersungkur. Begitu matanya menatap pantulan diri di cermin, napas Alika seketika tercekat.
Ruam kemerahan yang biasanya hanya berupa semburat tipis di pipi, kini menebal dan meluas hingga ke pangkal hidung—membentuk pola malar rash atau sayap kupu-kupu yang sangat jelas. Lingkar matanya menghitam, sementara bibirnya sepucat kertas. Namun, hal yang paling memukul batinnya adalah ketika ia menyentuh rambutnya. Sisiran jemari yang pelan saja sudah cukup untuk mencabut segumpal rambut hitamnya yang kini merapuh.
Tok. Tok.
Pintu yang dibuka tanpa permisi membuat jantung Alika nyaris melompat karena terkejut. Dengan tangan yang gemetar, ia segera menyambar concealer dan bedak di atas meja untuk menutupi ruam tersebut, lalu menarik tudung robe sutranya demi menyembunyikan rambut yang menipis.
Narendra melangkah masuk. Pria itu sudah tampil necis dengan setelan jas tiga potong berwarna navy, memancarkan aura dominasi yang tak tersentuh. Pandangannya langsung tertuju pada Alika yang berdiri kaku membelakanginya di depan meja rias.
"Bahkan saat nyawamu hampir melayang semalam, hal pertama yang kau pedulikan pagi ini hanyalah riasan wajah?" suara Narendra membelah kesunyian. Nadanya dingin, sarat akan sindiran yang tajam.
Alika memutar tubuhnya perlahan. Ia menundukkan wajah, memastikan tudung robe-nya tetap menutupi bagian rambutnya. "Aku... aku harus bersiap ke kantor, Mas. Ada rapat evaluasi pasca-gala jam sepuluh nanti."
Narendra mendengus pelan, mengeluarkan tawa sinis yang tidak mencapai matanya. Ia berjalan mendekat, langkah sepatunya terdengar mengancam di atas lantai kayu kamar.
"Tidak akan ada rapat evaluasi untukmu hari ini. Tidak juga besok, atau minggu depan," ucap Narendra dengan nada mutlak. Pria itu berhenti tepat satu langkah di depan Alika.
Alika mendongak, menatap suaminya dengan raut bingung bercampur panik. "Apa maksudmu, Mas? Aku manajer humas. Ketidakhadiranku setelah acara sebesar semalam akan memicu pertanyaan dari jajaran direksi."
"Biarkan saja mereka bertanya. Joshua sudah mengurus izin cuti panjangmu dengan alasan pemulihan akibat kelelahan akut," potong Narendra tajam. Ia mencondongkan tubuh, menatap lurus ke dalam sepasang mata Alika yang memancarkan ketakutan. "Kau pikir aku akan membiarkan 'wajah' Artha Group pingsan lagi di depan ratusan kamera? Kau sudah menjadi liabilitas bagi perusahaanku, Alika."
Kata-kata itu meluncur bagai belati es, mengoyak sisa-sisa harga diri Alika. Namun, di balik ucapan kejam itu, tersimpan motif lain yang disembunyikan Narendra dengan sangat rapi: kecemburuannya. Narendra tidak tahan membayangkan Alika keluar dari rumah ini hanya untuk mencari alasan menemui Dokter Raditya lagi. Pemandangan semalam—saat dokter muda itu menerjang ke arah Alika dan menatapnya dengan kepanikan yang luar biasa—telah membakar ego Narendra hingga menjadi abu.
"Dan satu hal lagi," lanjut Narendra dengan suara merendah menjadi bisikan yang berbahaya. "Aku sudah membatalkan semua akses asuransi medismu ke Rumah Sakit Medika Utama. Mulai hari ini, kau dilarang keras menginjakkan kaki di sana."
Mata Alika membelalak sempurna. Rasa panik yang murni menyergap dadanya. "Mas! Kamu tidak bisa melakukan itu! Dokter Raditya yang memegang rekam medisku, dia yang tahu penanganan yang tepat untuk—"
"Untuk apa?!" bentak Narendra tiba-tiba, suaranya menggelegar hingga membuat bahu Alika tersentak hebat.
Narendra mencengkeram kedua bahu istrinya dengan kuat. "Untuk menutupi kedokmu?! Kau pikir aku tidak tahu permainanmu, Alika? Kau menggunakan alasan sakit agar bisa terus bertemu dengan pahlawan kesiangan itu! Aturan open marriage kita bukan berarti kau bisa menyeret selingkuhanmu ke depan wajahku di acara perusahaan!"
"Aku tidak berselingkuh, Mas! Aku benar-benar sakit!" Alika memohon, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia ingin berteriak bahwa tubuhnya memang sedang hancur, namun ketakutan akan reaksi Narendra yang mungkin akan mencampakkannya sebagai 'barang rusak' membuat kata-kata itu tertahan di ujung lidah.
Narendra melepaskan cengkeramannya dengan kasar, menatap Alika dengan tatapan jijik. "Simpan air matamu. Mulai siang ini, Dokter Hendrawan—dokter pribadi keluarga Pradipta—yang akan datang kemari untuk memeriksamu. Dia akan melaporkan setiap detail kondisimu langsung ke mejaku. Jika kau memang sakit, dia akan mengobatimu. Tapi jika dia menemukan bahwa kau hanya mencari alasan..." Narendra menjeda kalimatnya, matanya menggelap. "...aku pastikan kau tidak akan pernah melihat dunia luar lagi."
Pria itu membalikkan badan dan berjalan keluar kamar tanpa menoleh lagi, membanting pintu kayu jati itu hingga suaranya bergema di seluruh penjuru ruangan.
Alika merosot jatuh ke lantai, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Isak tangisnya pecah dalam keheningan yang mencekik. Sangkar emasnya kini benar-benar telah menyempit. Ancaman tentang kedatangan Dokter Hendrawan adalah mimpi buruk. Dokter keluarga itu terkenal sangat patuh pada Narendra. Jika Dokter Hendrawan melakukan tes darah lengkap dan menemukan antibodi antinuklear (ANA test) di dalam darahnya, rahasia tentang penyakit autoimunnya akan terbongkar. Narendra akan tahu bahwa istrinya adalah wanita penyakitan, yang tidak lagi pantas bersanding di sisinya.
Di tengah rasa putus asa yang menenggelamkannya, ponsel Alika yang tergeletak di atas ranjang bergetar pelan. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
"Ini Dokter Raditya. Suami Anda memblokir akses sistem rumah sakit, tapi dia tidak bisa menghentikan saya. Tubuh Anda dalam bahaya besar. Kita harus mencari cara agar Anda tetap mendapatkan obat imunosupresan itu."
Alika menatap layar ponselnya dengan napas terengah. Di satu sisi, ada Narendra yang memasang rantai di lehernya dengan dalih kepemilikan mutlak. Di sisi lain, ada seseorang yang mencoba menariknya dari jurang kematian. Babak baru dari permainan kucing-kucingan yang mematikan ini baru saja dimulai.