Liora dipaksa menikah dengan Arkan demi menyelamatkan perusahaan ayahnya yang hampir bangkrut. Ia mengira Arkan hanyalah pengusaha kaya biasa yang dingin dan tertutup. Kehidupan baru Liora dimulai di kediaman megah namun penuh ketatapan. Pelan tapi pasti, Liora mulai melihat keanehan-keanehan: pengawal yang selalu berjaga, orang-orang yang menunduk takut saat melihat Arkan, dokumen rahasia, hingga pembicaraan tentang organisasi bernama Bayangan Hitam.
Liora perlahan mengetahui kenyataan pahit: suaminya bukan sekadar pengusaha, melainkan pemimpin mafia paling berkuasa yang menguasai jalur perdagangan gelap, ekonomi bawah tanah, dan memiliki koneksi hingga ke pejabat tinggi negara. Dunia Liora berantakan, rasa takut bercampur kagum. Di sisi lain, Arkan yang awalnya menganggap Liora hanya kewajiban kontrak, mulai tertarik pada ketulusan dan keberanian gadis itu yang tidak pernah lari meski sudah tahu siapa dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Kediaman Mewah
Pagi hari menyapa dengan sinar matahari yang masuk lewat celah jendela, namun hatiku masih terasa dingin seperti es. Aku terbangun dengan perasaan gelisah, sisa ketakutan semalam masih terasa nyata. Aku bangkit dari tempat tidur, merapikan pakaianku, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk bersiap-siap turun ke ruang makan.
Di rumah besar ini, aku tidak bisa bersikap sembarangan, apalagi sebagai istri Arkan. Aku harus menjaga sikap, sebagaimana pesan suamiku kemarin.
Saat aku sampai di ruang makan, Arkan sudah ada di sana. Ia duduk di ujung meja makan panjang yang terbuat dari kayu mahoni berukir indah. Ia sedang membaca koran dengan tenang, secangkir kopi panas ada di sebelah tangan kanannya.
Pakaiannya hari ini lebih santai, kemeja putih lengan panjang yang digulung hingga siku, memperlihatkan lengan kekar yang berotot. Meski begitu, aura kekuasaan dan ketajamannya tetap sama, tidak berkurang sedikit pun.
"Selamat pagi, Arkan," sapaku pelan sambil duduk di kursi yang ada di seberangnya.
Arkan menurunkan korannya sedikit, menatapku sekilas dengan mata hitamnya yang dalam.
"Pagi. Makanlah. Hari ini aku harus pergi ke luar kota untuk urusan bisnis. Kau bisa melakukan apa saja di dalam rumah ini, tapi ingat aturan yang kukemarin. Jangan melanggar."
"Kau pergi berapa lama?" tanyaku berani bertanya, meskipun ingat pesannya untuk tidak bertanya urusannya. Tapi sebagai istri, setidaknya aku berhak tahu berapa lama aku akan sendirian di rumah besar ini.
Arkan diam sejenak sebelum menjawab dengan nada datar.
"Tiga atau empat hari. Ada masalah yang harus diselesaikan di luar negeri.
Bu Sari akan mengurus kebutuhanmu selama aku tidak ada. Jika ada apa-apa, cukup katakan padanya."
Aku mengangguk pelan, mulai menyantap sarapanku yang disajikan pelayan. Roti bakar, telur orak-arik, dan susu hangat. Semuanya enak dan berkualitas, tapi rasanya hambar di mulutku.
Selama makan, suasana sangat hening. Tidak ada percakapan, hanya bunyi sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Para pelayan yang lewat pun berjalan dengan langkah ringan, tidak menimbulkan suara sedikit pun, seolah mereka adalah bayangan yang bergerak.
Selesai sarapan, Arkan berdiri. Ia berjalan mendekatiku, lalu tanpa kuduga, ia mengulurkan tangannya dan merapikan sedikit rambutku yang berantakan. Gerakannya begitu tiba-tiba hingga aku tertegun menatapnya. Wajahnya masih datar, tapi ada kilatan sulit di matanya.
"Jangan pergi ke mana-mana sendirian. Pengawal pribadiku akan selalu ada di dekatmu, meski kau tidak melihatnya," ucapnya singkat, lalu berbalik pergi dengan langkah tegapnya.
Aku tetap duduk di sana, memegangi bagian rambut yang baru saja disentuhnya. Sentuhan itu dingin, namun entah mengapa membuat jantungku berdebar aneh.
Apa maksudnya mengatakan ada pengawal di dekatku? Apakah aku dilindungi... atau diawasi?
Setelah Arkan pergi, aku memutuskan untuk berkeliling rumah. Penasaran dan ingin mengenal lingkungan baruku. Rumah ini sungguh besar, lorong-lorongnya panjang dengan banyak pintu tertutup.
Aku teringat peringatan Arkan tentang sayap barat.
Aku berjalan menuju arah itu, rasa penasaran mulai mengalahkan rasa takutku. Di mana letak sayap barat itu? Dan apa yang ada di sana hingga dilarang keras untuk dimasuki?
Saat aku mendekati ujung lorong utama, aku melihat ada lorong lain yang berbelok ke kanan, berbeda dengan arah ruang tamu atau ruang keluarga. Di atas pintu gerbang kecil yang memisahkan bagian itu, tertera tulisan Sayap Barat dengan huruf emas yang tertanam di dinding.
Pintu itu tertutup rapat, dan ada dua orang pria berbadan besar berdiri di sana. Mereka bukan pelayan biasa, terlihat dari cara mereka berdiri yang siap siaga, dan pakaian seragam hitam yang ketat. Begitu melihatku mendekat, keduanya langsung menegang.
"Maaf, Nyonya. Bagian ini dilarang dimasuki atas perintah Tuan Arkan," ucap salah satu dari mereka dengan suara berat dan wajah tanpa ekspresi.
"Oh... aku hanya ingin melihat-lihat saja. Maafkan aku," jawabku cepat, lalu berbalik pergi sebelum mereka curiga.
Jantungku berdegup kencang. Penjagaan di sana sangat ketat, jauh berbeda dengan bagian lain rumah ini.
Apa yang disembunyikan Arkan di sana? Kantor rahasianya? Dokumen-dokumen penting? Atau mungkin... barang bukti kejahatan?
Pikiranku kembali pada ucapan yang kudengar semalam tentang "Bayangan Hitam".
Semakin lama aku di sini, semakin banyak keanehan yang kutemukan. Aku berjalan menuju taman belakang rumah untuk menenangkan diri. Taman ini sangat indah, penuh dengan bunga mawar berwarna-warni dan kolam ikan yang besar.
Di sudut taman, aku melihat Bu Sari sedang merapikan tanaman. Aku menghampirinya, berniat mengajak bicara, siapa tahu aku bisa mendapatkan sedikit petunjuk tentang suamiku.
"Bu Sari," panggilku lembut.
Bu Sari menoleh dan tersenyum ramah. "Ah, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?"
"Bu... bolehkah saya bertanya sesuatu tentang Arkan?" tanyaku ragu.
Senyum Bu Sari sedikit memudar, ia menoleh ke kiri dan kanan seolah memastikan tidak ada orang lain yang mendengar.
"Nyonya, sebaiknya jangan bertanya terlalu banyak tentang urusan Tuan Arkan. Banyak hal yang sebaiknya tidak Nyonya ketahui demi keselamatan Nyonya sendiri."
"Keselamatanku? Maksud Ibu apa? Arkan itu... pengusaha, kan? Ayahku bilang dia bergerak di bidang ekspor impor," cobalah beralasan.
Bu Sari menghela napas panjang, lalu ia berbisik pelan, "Nyonya, Tuan Arkan memang punya perusahaan ekspor impor, tapi itu hanya kulit luarnya saja. Sebenarnya... jangan kaget ya, Nyonya.
Tuan Arkan adalah orang yang sangat berkuasa. Dia memiliki koneksi di mana-mana, dari pejabat tinggi hingga orang-orang yang hidup di bawah hukum. Di dunia ini, banyak orang yang berutang nyawa padanya, dan banyak pula yang takut padanya."
Jantungku seolah berhenti berdetak. "Jadi... benar apa yang kuduga? Dia bukan sekadar pengusaha biasa?"
Bu Sari menggeleng pelan. "Tuan Arkan adalah pemimpin. Pemimpin dari sesuatu yang sangat besar. Orang-orang menyebutnya dengan berbagai nama, tapi yang pasti... satu perintah dari mulutnya, bisa mengubah keadaan sebuah kota, bahkan sebuah negara.
Nyonya, Tuan Arkan mungkin terlihat dingin dan keras, tapi percayalah, dia tidak pernah menyakiti orang yang tidak bersalah, dan dia selalu menepati janjinya. Termasuk janjinya untuk melindungi Nyonya dan keluarga Nyonya."
Aku terdiam mendengar penjelasan itu. Jadi dugaanku benar. Arkan bukan sekadar orang kaya, dia adalah sosok kekuatan besar yang tersembunyi di balik kedok pengusaha sukses. Dan organisasi misterius "Bayangan Hitam" itu... kemungkinan besar itulah kekuatan yang dipimpinnya.
"Terus... siapa nama sebenarnya dia di luar sana? Di dunia yang Ibu maksud itu?" tanyaku lagi, suaraku nyaris tak terdengar.
Bu Sari tersenyum getir. "Dia punya banyak nama dan julukan, Nyonya. Tapi ada satu nama yang paling terkenal, nama yang membuat siapa saja yang mendengarnya langsung tunduk dan segan. Nama itu adalah... Raja Bayangan."
Raja Bayangan. Nama itu bergema di kepalaku. Arkan, suamiku, adalah Raja Bayangan yang disegani seluruh dunia. Sosok yang selama ini hanya ada di cerita-cerita seram dan berita gelap, kini ada tepat di sampingku, tidur di atap yang sama denganku.
"Bu Sari... apakah dia berbahaya bagiku?" tanyaku dengan suara gemetar.
Bu Sari menggeleng tegas. "Tidak, Nyonya. Selama Nyonya menjadi istrinya, selama Nyonya setia dan tidak mengkhianatinya, maka tidak ada satu pun makhluk di dunia ini yang berani menyakiti Nyonya. Karena bagi Tuan Arkan, istrinya adalah satu-satunya hal yang berada di atas segalanya. Meski dia tidak pandai mengungkapkannya."
Aku menghela napas panjang, campuran rasa takut dan rasa aman memenuhi dadaku. Aku mulai mengerti mengapa rumah ini dijaga begitu ketat, mengapa semua orang bersikap sangat hormat dan takut padanya, dan mengapa Arkan memiliki aura yang begitu mengintimidasi.
Aku kembali masuk ke dalam rumah, berjalan melewati lorong-lorong yang kini terasa berbeda. Dulu aku mengira ini hanya rumah mewah biasa, tapi sekarang aku sadar, ini adalah benteng seorang penguasa gelap. Di setiap sudutnya tersembunyi rahasia, bahaya, dan kekuasaan yang tak terbayangkan.
Dan di antara semua ini, aku, Liora, wanita biasa yang lemah, kini harus belajar hidup berdampingan dengan Raja Bayangan itu sendiri. Perjalananku sebagai istri bos mafia yang disegani dunia baru saja dimulai, dan aku tahu, hidupku tidak akan pernah sama lagi.
jangan lupa mampir ya thor 💗, tinggalin jejak oke 😍