NovelToon NovelToon
ZHARA MEMUTAR DIMENSI WAKTU

ZHARA MEMUTAR DIMENSI WAKTU

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Balas Dendam
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Luh Belong

Namanya Zhara Chandrawinata, gadis berusia 20 tahun. Ia punya mimpi hidup tenang, bahagia, dan kaya raya.

Di balik senyumnya yang manis, Zhara tumbuh dari kluarga broken home, ia tidak menyangka hidupnya akan berjalan sulit, mimpi yang ia bangun, keputusan yang di ambil, kisah cintanya, selalu terbentur masalah.

Tahun demi tahun berlalu, Zhara mulai kehilangan arah. Pikirannya lelah, hatinya terluka, pada akhirnya tubuhnya menyerah. Zhara ditemukan meninggal karena Asam Lambung GERD yang ia derita.

Dewa kematian berkata. Jiwanya tidak dapat menyebrang, karena ada seseorang yang menukar jiwanya, agar Zhara hidup kembali.

Dalam gelap Zhara mendengar ada yang manggil namanya, “Zhaa.. bangun.. Jangan tidur dikelas! ” Zhara terbangun di ruang kelas dan melihat Tiara menggoyangkan lengannya.

Zhara kembali hidup dan siapa yang telah menukar jiwanya?
mengapa dewa kematian masih mengikutinya?
Apakah pertukaran jiwa itu tidak sempurna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Vitamin Sea

...Zhara tersenyum cerah, melihat garis biru laut sudah mulai terlihat jelas. Mobil pamanya melambat, lalu berhenti di terotoar tepi pantai. Angin laut membawa aroma asin yang menenangkan. Di hadapan mereka, hamparan pasir putih dan deburan ombak yang seakan menyambut kedatangannya....

...Biru yang semangat, langsung membuka pintu mobil, dengan semangat berlari keluar menuju pantai....

...“Akhirnya pantai!..” ujarnya sangat senang, angin laut menerpa wajahnya....

...Bibi turun sambil merapikan roknya “Pelan pelan Biru! Jangan langsung lari!...” ucap bibinya kawatir....

...“Zhara, sudah sampai,” ucap paman menutup pintu mobil, sambil tersenyum....

...Zhara keluar paling terakhir. Kakinya menyentuh pasir lembut yang hangat, Zhara berhenti untuk menikmati sejenak. Matanya menatap laut yang luas, ombak yang bergulung, dan langit biru yang cerah....

...“Disini...” Lambaian tangan karyawan hotel, mengarah kearah mereka....

...“Zhara ayo ikut paman. ” ajak pamanya berjalan mendekat, kearah karyawan hotel....

...Di bawah pohon ketapang, yang menghadap langsung ke pantai, sudah terhampar tikar cantik, lengkap dengan bantal duduk tersusun nyaman, payung pantai berdiri kokoh, dan ditengahnya keranjang berisi makanan dan minuman segar yang tertata rapi....

...“Dengan atas nama Bara Rahardja?...”...

...“Iya saya...” jawab pamannya tersenyum....

...“Silakan, selamat menikmati paket pikniknya,” ucapnya sopan, tersenyum sebelum berpamitan....

...“Terimakasih...” jawab pamanya tersenyum....

...“Mari kita bersantai di pantai” ucap Biru antusias....

...“Wah apa ini... Ternyata kamu bisa romantis juga Bara...tapi kenapa masih jomblo ya?.” goda bibinya seraya mengajak Zhara duduk....

...“Romantis bukan untuk pamer, tapi untuk yang tepat.” kata pamannya santai ikut duduk....

...“Terus, orang yang tepatnya ke mana?” celetuk bibinya dengan wajah nyengir....

...“Sudah di bawa kabur, sama musang birahi, yang katanya cuma temenan.” ucap pamanya kesal....

...“Buahaha... haha... haha” Tawa mereka pecah bersamaan, memenuhi suasana pantai yang sebelumnya tenang....

...“Zhara usiamu baru 21 tahun, jangan sedih cuma karena lelaki, seperti musang birahi. Paman saja sudah berusia 35 masih santai” ucap bibinya melirik pamannya....

...Paman hanya bisa geleng-geleng kepala, tapi kali ini ia ikut tertawa. “Iya... Widya...iya.”...

...“Paman ayoo... Naik kano bersamaku” ajak Biru menarik tangan pamannya. Berlari menuju arah pantai....

...Tak lama, mereka sudah berada di atas kano kecil, yang mengapung di permukaan air. Biru di depan, Paman di belakang mengayuh perlahan....

...Zhara dari tadi duduk di tikar, menikmati angin laut yang menyapu lembut wajahnya, ia menatap laut yang terbentang luas...

...Zhara sekilas melihat, ke arah keranjang anyaman yang terbuka, memperlihatkan isi yang menggoda. Buah buahan segar, camilan manis, dan minuman dingin yang tertata cantik. Ada juga hiasan bunga kecil yang membuat suasananya terasa lebih hangat dan estetik....

...“Bibi berfoto yuk, paket pikniknya terlalu cantik, sayang kalau tidak di abadikan.” ucap Zhara mengeluarkan ponselnya....

...“Wah... Ide yang bagus, sini bibi foto kamu lebih dulu.” bibinya mengulurkan topi pantai untuk Zhara....

...“Bibi…tunggu...” jawab Zhara memakai topi pantai, dan mencari posisi duduk yang nyaman....

...“Ya, pas banget… cantik,” puji bibi sambil menekan tombol kamera....

...Cekrek!...

...“Sekali lagi ya,” kata Bibi tersenyum....

...Cekrek!...

...“Nah, ini bagus banget. Yaampun kamu cantik banget Zhara.” bibinya tersenyum puas....

...“Bagus banget...“ Zhara melihat hasil fotonya, lalu tersenyum senang. Zhara dan bibinya bergantian saling foto satu sama lain....

...Setelah lama bermain kano, paman dan Biru datang, mereka ikut bergabung duduk, dan mengambil minuman....

...“Bibi... aku juga mau, ajak aku berfoto...” Biru mendekati bibinya....

...“Sekalian saja kita foto bersama, mengabaikan hari yang bahagia ini.” Ucap bibinya menarik paman Bara....

...Mereka semua berkumpul di depan tikar piknik yang cantik itu. Bibi mengatur posisi ponselnya, mencari sudut terbaik, dengan latar laut, dan langit yang mulai keemasan....

...“Paman jangan kaku begitu,” kata Zhara sambil tertawa kecil....

...“Itu bukan pose, itu lagi apel upacara senin, Paman.” celetuk biru melihat pamanya, yang berdiri dengan posisi tegak....

...“Coba santai sedikit Bara. Senyum yang manis, jangan kayak lagi bikin foto KTP.” ucap bibinya tertawa terbahak bahak....

...Paman Bara menghela nafas mencoba menurut, meski masih terlihat canggung dan raut wajah terpaksa, paman menarik sudut bibirnya sedikit....

...Semua tertawa melihat senyum pamanya....

...“Sudah... Sudah... Siap... Satu, dua, tiga!...”...

...Cekrek!...

...Cekrek!...

...Cekrek!...

...Dalam fotonya, paman memang masih terlihat sedikit kaku, tapi ada senyum kecil yang tulus di wajahnya....

...Di balik satu Cekrek! sederhana, tersimpan momen kecil. Tawa yang lepas, kebersamaan, dan kehangatan yang bahagia....

...“Ayo, Paman! Kita lomba berenang!” ucap Biru menatang menunjuk ke arah laut....

...“Ayo... Siapa takut.” jawab paman berlari mendahului. Biru bergegas mengejar pamannya....

...“Bibi cemilan ini enak dan manis, coba bibi cicipi...” ucap Zhara menawarkan cemilan pada bibinya, yang sibuk melihat hasil foto mereka....

...“Oh ya? Mana bibi coba…” bibinya menoleh penasaran....

...“Hem... Iya enak, manisnya pas, nggak bikin enek.” ujar bibinya mengunyah pelan....

...Zhara dan bibinya, mengobrol dan duduk santai di atas tikar piknik, kakinya diluruskan ke depan, sambil memandang laut, yang mulai diselimuti cahaya senja. Di tangannya, ia memegang cemilan kecil dari keranjang piknik....

...Zhara menggigit pelan, menikmati rasa manis, yang berpadu dengan angin laut yang sejuk....

...Biru berlari menghampiri Zhara. “Kak... Tolong berdiri dan lihatlah, aku menemukan sesuatu...” kata Biru dengan wajah serius....

...“Iya...” Zhara berdiri menuruti permintaan adiknya....

...Biru mendekati Zhara dan berdiri di sebelahnya....

...“Hup!”...

...Tanpa aba aba Biru sudah menggendongnya dan berlari cepat menuju pantai....

...“Biru!... apa yang kamu lakukan?...” teriak Zhara kaget....

...“Ehh... hati hati!....” teriak Bibirnya dari belakang, tapi sudah terlambat....

...“BIRU! Turunin aku!” teriak Zhara lagi, setengah tertawa setengah panik....

...Dalam hitungan detik, Biru sampai di bibir pantai. Biru langsung menceburkan diri bersama Sara ke dalam ombak....

...Byurrr!...

...Air laut memercik, ombak kecil bergelombang ke segala arah. Zhara muncul ke permukaan dengan wajah kaget....

...“Ahh! Dingin!” Zhara kaget, rambut dan bajunya langsung basah kuyup....

...“Biru!... kamu jahat!” katanya sambil memukul pelan lengan Biru....

...“Ini baru namanya healing kak... nikmati dari angin, pasir, kerang, sampai air lautnya secara langsung” ucap biru nyengir lebar....

...Bibi yang melihat dari kejauhan, hanya geleng geleng kepala sambil tersenyum. “Anak itu memang jahil.”...

...“Sudah ketebak…” jawab pamannya hanya tertawa kecil...

...“Ya… berkat Biru yang jahil, Zhara bisa ketawa lagi.” Bibi menghela napas ringan, lalu tersenyum....

...“Kadang, orang agak jahil itu, yang paling tulus, bikin orang lain merasa bahagia.” ucap paman mengangguk pelan....

...“Aku mau melihat Zhara dan Biru bahagia, mereka dari kecil sudah hidup menderita, setidaknya setelah mereka remaja bisa lebih merasa bahagia.” bibi Widya tersenyum....

...Mereka berdua masih melihat ke arah pantai. Di kejauhan, Biru dan Zhara masih tertawa, Zhara menyibakkan rambut basahnya, berlari mengejar Biru, dengan tatapan penuh ancaman, dan tertawa lepas....

...Zhara tersenyum bahagia, kakinya memercikkan air, setiap kali ombak kecil menyentuh pasir. Zhara berlari saling kejar mengejar, tawa mereka berdua pecah di antara suara ombak. Zhara hampir menangkapnya, tapi Biru dengan cepat menghindar....

...Zhara berlari lari di bawah indahnya langit pantai, yang perlahan berubah, menjadi warna senja oranye keemasan. Cahaya matahari yang mulai tenggelam memantul di permukaan laut, menciptakan kilauan hangat yang menenangkan....

...Langit yang menakjubkan, gradasi warna jingga, merah muda, dan sedikit ungu menyatu indah di cakrawala. Awan-awan tipis ikut terwarnai, seolah dilukis dengan cat lembut oleh alam. Seakan akan hari itu menutup rasa kawatirnya, dengan cara yang paling indah....

1
Rahayu
Semangat Thor, ceritanya mulai seru.
Luh Belong: Terimakasih😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!