NovelToon NovelToon
Tanah Berdebu

Tanah Berdebu

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan rahasia
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Warning !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada. Terimakasih 🙏

Di balik jubah sucinya sebagai pewaris pesantren, Zavier El-Shaarawy menjalani kehidupan ganda yang gelap di gemerlap Kota A. Sebagai pria liar yang haus kebebasan, ia terjerat dalam asmara membara bersama Zaheera Bareeka, gadis kota yang menjadi pusat dunianya. Namun, rahasia itu runtuh saat takdir menyeret mereka kembali ke tembok pesantren yang kaku.
Demi menutupi dosa dan menyelamatkan kehormatan keluarga, Zavier nekat membawa Zaheera masuk ke dunianya. Di bawah pengawasan Keluarga, sebuah pernikahan rahasia dilangsungkan demi menghalalkan sentuhan yang terlanjur melampaui batas.

Happy Reading Dear 🤗🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#6

Keesokan paginya, dosen di depan kelas masih sibuk menuliskan poin-poin ekonomi makro di papan tulis, namun fokus Zaheera telah terpecah. Ia melirik gadis di sampingnya, Fatimah, yang tampak begitu tekun mencatat.

Tidak ada tas bermerek di atas mejanya, hanya sebuah totebag kain sederhana dan alat tulis yang fungsional. Wajahnya polos tanpa sentuhan foundation atau eyeliner tajam seperti teman-teman Zaheera di Kota A. Namun, ada binar ketenangan yang membuat Zaheera merasa... nyaman.

Fatimah menoleh, menyadari bahwa Zaheera sedang memperhatikannya. Ia tersenyum tipis, lalu berbisik pelan agar tidak mengganggu jalannya kelas.

"Maaf, Zaheera... boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Fatimah ragu.

Zaheera mengangguk. "Tanya saja."

"Apa kamu... Nonis?" Fatimah bertanya dengan nada yang sangat hati-hati, seolah takut menyinggung perasaan. "Biasanya, satu dua orang yang tidak memakai kerudung di kampus ini adalah penganut agama lain. Karena mayoritas di sini adalah santri atau lulusan pesantren."

Zaheera tertegun sejenak, lalu menggeleng pelan. "Bukan. Saya Islam. Tapi saya tidak pernah pakai jilbab karena memang belum berhijrah."

Fatimah tidak menunjukkan ekspresi terkejut atau menghakimi. Sebaliknya, ia tersenyum tulus—jenis senyum yang jarang Zaheera temukan di dunianya yang lama, di mana senyuman sering kali merupakan topeng untuk menutupi persaingan. "Alhamdulillah. Setiap orang punya waktunya masing-masing, Zaheera. Yang penting hatinya tetap terjaga."

Zaheera mengamati Fatimah lebih dalam. Ia tidak menemukan mimik muka sahabat yang suka berkhianat atau membicarakan orang di belakang seperti teman-teman sosialitanya. Fatimah terasa asli.

"Jujur saja, Fatimah, aku sempat mengira daerah ini benar-benar pedesaan terpencil. Namun sepanjang jalan aku melihat banyak gedung tinggi dan keramaian. Ternyata tidak setertinggal itu, ya?"

Fatimah terkekeh kecil. "Ini memang kawasan pendidikan, Zaheera. Jadi pembangunannya cukup pesat karena banyak mahasiswa dari luar kota."

Saat bel istirahat berbunyi, Zaheera merasa beban di pundaknya sedikit terangkat. Namun, saat ia melangkah keluar kelas, ia melihat sosok tinggi tegap berdiri di koridor, sedang berbicara dengan beberapa mahasiswa. Itu adalah Gus Azlan, kakak Zavier. Tatapan Azlan menyapu kerumunan mahasiswi dan berhenti tepat pada Zaheera.

Berbeda dengan Zavier yang menatapnya dengan rindu tersembunyi, Azlan menatapnya penuh selidik dan kecurigaan, seolah ia bisa mencium aroma "dosa" dari Kota A yang masih melekat pada pakaian Zaheera.

Udara di koridor gedung Ekonomi mendadak terasa lebih dingin saat mata tajam Gus Azlan mengunci sosok Zaheera. Di antara ratusan mahasiswi yang berlalu-lalang dengan jilbab yang berkibar tertiup angin, Zaheera berdiri tegak laksana sebuah anomali. Rambutnya yang diikat messy bun dan kemeja oversized putihnya memang sopan secara aturan kampus, namun di mata Azlan, gadis itu tetap terlihat seperti "benda asing" yang mencolok.

"Fatimah," bisik Zaheera, suaranya sedikit bergetar. Ia menarik ujung lengan baju sahabat barunya dengan gerakan mendesak. "Ayo lewat jalan lain. Kita lewat tangga samping saja."

Fatimah mengernyitkan dahi, bingung melihat perubahan ekspresi Zaheera yang tiba-tiba tegang. "Lho, kenapa Zaheera? Kalau lewat tangga samping, kita harus memutar jauh, Memangnya ada apa?"

Zaheera tidak menjawab. Ia hanya terus menarik Fatimah, mencoba menghindar dari garis pandang Azlan. Namun, langkah mereka terlambat. Suara bariton yang berat dan penuh wibawa itu sudah memanggil sebelum mereka sempat berbelok.

"Fatimah."

Fatimah seketika mematung. Sebagai mahasiswi yang juga merupakan santriwati senior di pesantren, suara itu adalah titah yang tak boleh diabaikan. Ia segera menunduk takzim, merapatkan tas kainnya di depan dada.

"Gus Azlan," ucap Fatimah lirih sambil membungkuk hormat.

Zaheera terpaksa ikut berhenti. Ia berdiri di samping Fatimah, namun alih-alih menunduk seperti yang lain, ia memberanikan diri menatap pria di depannya.

Gus Azlan berbeda dengan Zavier. Jika Zavier memiliki binar mata yang hangat dan terkadang nakal, Azlan memiliki tatapan sedingin es yang seolah mampu menguliti rahasia paling dalam di hati seseorang.

Azlan berjalan mendekat. Langkah kakinya yang mantap menciptakan suara ketukan di lantai koridor. Ia mengenakan baju koko berwarna navy tua yang sangat rapi, dengan peci hitam yang terpasang tanpa cela. Ia adalah potret kesempurnaan seorang Gus; disiplin, kaku, dan penuh selidik.

"Kamu mahasiswi baru, putri dari Pak Narendra?" tanya Azlan. Pertanyaannya lebih terdengar seperti interogasi daripada basa-basi.

Zaheera menelan ludah, mencoba menguasai kegugupannya. "Iya. Saya Zaheera."

Azlan menyipitkan mata. Ia memandangi penampilan Zaheera dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tidak ada kebencian di sana, namun ada rasa tidak percaya yang sangat besar. "Selamat datang di Universitas Al-Iman. Saya harap kamu bisa segera menyesuaikan diri dengan lingkungan di sini. Ini bukan Kita A, Zaheera. Di sini, cara kita berpakaian dan bertindak mencerminkan siapa kita di hadapan Allah."

Kalimat itu telak. Zaheera merasa wajahnya memanas. "Saya tahu ini bukan Jakarta, Gus Azlan. Saya sedang berusaha belajar."

"Bagus kalau begitu," balas Azlan datar. Ia kemudian beralih pada Fatimah. "Fatimah, bimbing mahasiswi baru ini. Jangan sampai dia tersesat dalam aturan kampus, atau lebih parah lagi, jangan sampai dia membawa pengaruh yang tidak baik ke dalam kelas."

Kata-kata "pengaruh tidak baik" itu menusuk ulu hati Zaheera. Ingin rasanya ia membalas bahwa adik tersayang pria ini adalah orang yang paling sering membuatnya "tidak baik" di Kota A. Namun, ia teringat permohonan Zavier semalam: Jangan buat aku terlihat mencurigakan.

Azlan mengangguk sekilas lalu berlalu pergi tanpa senyum sedikit pun. Aura ketegasannya meninggalkan keheningan yang menyesakkan di koridor itu selama beberapa saat.

"Ayo, Zaheera... kita jalan lagi," ajak Fatimah dengan nada simpati. Ia bisa merasakan kegelisahan sahabat barunya.

Setelah berhasil menjauh dari area jangkauan Azlan, mereka duduk di sebuah bangku semen di bawah pohon beringin besar di depan kantin. Zaheera mengembuskan napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa sesak di dadanya.

"Maafkan Gus Azlan, ya, Zaheera," ucap Fatimah sambil membuka botol air mineralnya. "Beliau memang begitu. Orangnya sangat disiplin dan perfeksionis. Beliau adalah pengawas kedisiplinan di pesantren dan kampus. Berbeda sekali dengan adiknya, Gus Zavier."

Zaheera menoleh, matanya berbinar saat mendengar nama Zavier disebut. "Gus Zavier? Memangnya dia seperti apa di mata orang-orang di sini?"

Fatimah tersenyum tulus. "Gus Zavier itu idola semua santriwati. Beliau pintar, suaranya saat mengaji sangat merdu, dan orangnya jauh lebih ramah. Tapi yang paling dikagumi adalah kejujurannya. Beliau seolah-olah tidak punya cela. Makanya banyak yang bilang beliau itu mutiara pesantren."

Zaheera hampir saja tertawa getir. Mutiara pesantren? Jika mereka tahu mutiara itu pernah memegang gelas whisky dan menciumnya di tengah dentuman musik kelab malam, mungkin mereka akan pingsan massal.

"Tapi sejujurnya, Fatimah... aku merasa Gus Azlan menatapku seolah aku ini penjahat," keluh Zaheera.

"Itu karena kamu berbeda, Zee. Orang-orang di sini terbiasa dengan keseragaman. Saat melihat seseorang yang berani tampil apa adanya sepertimu, mereka merasa terancam atau curiga," Fatimah menjelaskan dengan bijak. "Tapi tenang saja, aku tidak seperti itu. Aku suka caramu bicara, kamu jujur."

Zaheera tertegun. Ia menatap Fatimah yang sedang merapikan jilbabnya yang tertiup angin. Di Jakarta, ia dikelilingi oleh gadis-gadis yang memujinya di depan namun menjatuhkannya di belakang. Mereka berteman karena merek tas atau lingkaran sosial. Tapi Fatimah? Gadis ini mendekatinya tanpa pamrih.

"Fatimah, boleh aku jujur?" tanya Zaheera.

"Tentu."

"Aku sebenarnya sangat takut di sini. Aku merasa tidak pantas. Ayahku ingin aku berubah, tapi aku merasa jiwaku tertinggal di Kota A."

Fatimah memegang tangan Zaheera. Tangannya terasa hangat dan sedikit kasar. "Perubahan itu tidak perlu langsung drastis, Zaheera. Allah melihat prosesnya. Dan soal merasa tidak pantas... kita semua pendosa, hanya saja Allah menutupi aib kita masing-masing."

Kata-kata itu menghantam kesadaran Zaheera. Allah menutupi aib kita. Itulah yang sedang terjadi pada Zavier. Allah sedang menutupi aib Zavier di hadapan keluarganya, dan ia adalah bagian dari aib itu.

Saat hendak berdiri untuk kembali ke kelas, Zaheera yang terburu-buru menyenggol meja semen itu. Tas selempang kecil miliknya yang tidak tertutup rapat terjatuh, dan seluruh isinya berserakan di atas tanah yang berdebu.

"Aduh!" pekik Zaheera.

Fatimah dengan sigap membungkuk untuk membantu memungut barang-barang Zaheera. Lipstik, bedak, kunci mobil, dan beberapa lembar tisu terkumpul. Namun, gerakan Fatimah terhenti saat tangannya meraih sebuah foto berukuran kecil yang terselip di antara lipatan dompet kartu Zaheera yang terbuka.

Foto itu memperlihatkan dua orang di sebuah balkon gedung tinggi dengan latar belakang lampu kota yang gemerlap. Seorang pria mengenakan kemeja hitam yang terbuka dua kancing atasnya, memeluk seorang wanita dari belakang dengan sangat mesra. Wajah sang pria terlihat jelas sedang tertawa, menempelkan pipinya ke pelipis si wanita.

Pria itu adalah Zavier. Tanpa peci, tanpa baju koko, dengan sorot mata yang penuh gairah dan keliaran. Dan wanita yang dipeluknya adalah Zaheera, mengenakan gaun malam yang sangat minim.

Jantung Zaheera seolah berhenti berdetak. Ia membeku di tempatnya, menatap Fatimah yang kini memegang foto itu. Fatimah terdiam cukup lama, matanya berpindah dari foto itu ke wajah Zaheera.

"F-Fatimah... itu kekasihku di Kota A," suara Zaheera tercekat di tenggorokan, nyaris tak terdengar.

Keheningan menyelimuti mereka berdua. Fatimah perlahan menarik napas panjang, lalu menyerahkan foto itu kembali dengan tangan yang masih sedikit kaku. Ia mencoba memaksakan sebuah senyum tipis, meski binar keterkejutan masih tersisa di matanya.

"Jadi... kalian sedang menjalani LDR?" tanya Fatimah lembut, mencoba menetralkan suasana yang mendadak mencekam.

Zaheera menerima foto itu dengan tangan gemetar. Pertanyaan Fatimah tentang LDR terdengar seperti pelampung penyelamat, namun juga seperti jebakan. Apakah Fatimah benar-benar tidak mengenali pria di foto itu? Ataukah ia hanya mencoba bersikap sopan?

"Iya... semacam itu," jawab Zaheera pendek. Ia segera menyisipkan foto itu ke bagian paling dalam dompetnya, seolah ingin mengubur bukti tersebut sedalam mungkin.

Fatimah mengangguk pelan, namun keceriaan yang tadi sempat menghangatkan suasana kini terasa agak hambar. Ada keheningan yang canggung saat mereka berjalan kembali menuju kelas. Fatimah beberapa kali terlihat ingin membuka mulut, namun ia mengurungkannya.

"Zaheera," panggil Fatimah saat mereka sudah sampai di depan pintu kelas. "Foto itu... lebih baik jangan sampai jatuh ke tangan orang lain. Terutama pengurus pesantren."

Zaheera menegang. "Kenapa? Karena pakaianku di foto itu?"

Fatimah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kasihan dan peringatan. "Bukan hanya itu. Di sini, segala hal yang berkaitan dengan hubungan tanpa ikatan sah dianggap pelanggaran serius. Apalagi jika... ah, sudahlah."

Kalimat Fatimah yang menggantung meninggalkan lubang besar di dada Zaheera. Apalagi jika apa? jika pria itu adalah Gus mereka sendiri?

🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
winpar
lnjuttttttt💪💪💪💪💪lnjuttttttt
winpar
thorrrr lnjut ceritanya thorrrr
Ros🍂: ashiappp kak🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
semangat thor 💪💪💪
Ros🍂: Jangan lupa di-like ya kak🙏 biar Author semangat, ma'aciww 🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
di tggu up ny ya thor jgn lm2 ,, aku nggak sanggup nggu lm2 🤣🤣🤣
Ros🍂: persis Zavier 🤣 nggak kuat lama-lama 🥰🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!