NovelToon NovelToon
MEMBURU ATAU DIBURU

MEMBURU ATAU DIBURU

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Zombie
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Di tengah panas Kalimantan yang tak kunjung reda, Budi Santoso-seorang sales biasa di Palangkaraya menemukan kehidupan yang berubah drastis setelah sebuah “sistem” misterius muncul di kepalanya. Awalnya hanya alat untuk naik level dan bertahan hidup, sistem itu kini menjadi satu-satunya harapannya saat alam mulai bermutasi dengan kejam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Budi duduk di pinggir tempat tidur, ngeliatin Rina yang udah tertidur lelap setelah nangis sampe capek. Matanya masih bengkak, pipinya basah bekas air mata. Budi angkat tubuhnya pelan ringan banget, kayak nggak ada tenaga lagi bawa ke kamarnya, taruh di kasur dengan hati-hati.

Pas mau narik tangan, Rina malah peluk lebih erat dalam tidurnya. Dia bergumam pelan, suaranya serak karena nangis lama.

“Mas Joko… jangan pergi…”

Budi diem aja, nggak gerak. Dada sesak. Rina lagi mimpi buruk, dan Budi cuma bisa nemenin.

Pelan-pelan, tangannya ngerasa sesuatu yang lembut. Matanya tanpa sadar turun ke bawah. Rina pakai daster tipis, celananya dilepas karena kepanasan pas pulang. Pahnya yang putih mulus terbuka lebar. Tangan Budi lagi di situ kultnya halus banget, kayak kapas mahal.

Budi bukan tipe orang yang manfaatin orang lagi lemah, tapi dia masih muda, darahnya masih panas. Mulutnya kering tiba-tiba. Godaan itu nyata banget.

Dia ngumpat dalam hati, buru-buru nengok ke samping, nggak mau liat lagi. Tapi gambarnya udah nempel di otak.

Sepuluh menit kemudian, napas Rina udah stabil, tidurnya lelap. Budi tarik tangan pelan-pelan, kayak kabur dari medan perang. Dia langsung mandi air dingin biar otaknya jernih lagi.

Keluar kamar mandi, Budi nyalain laptop, buka Shopee sama Tokopedia. Cari kata “pisau” atau “golok custom” atau “pedang hias panjang”.

Banyak toko muncul. Pisau panjang emang diatur ketat di Indonesia, tapi ada celah: pisau hias, pedang koleksi, atau replika samurai boleh diperjualbelikan selama nggak ada ujung runcing yang “berbahaya”. Budi tahu, dia butuh yang tajam dan kuat nggak cuma buat pajangan.

Dia klik toko yang ratingnya tinggi, banyak ulasan positif. Harganya lumayan: yang murah mulai Rp2 juta, yang premium bisa Rp10–20 juta. Budi mikir, kalau ketemu ular raksasa lagi sendirian, parang biasa nggak bakal cukup nembus sisiknya. Harus beli yang terbaik.

Dia buka chat penjual.

“Bisa custom?”

Penjual bales cepet. “Bisa banget, Mas. Mau spesifikasi apa?”

“Panjang sekitar 1,45 m, cocok buat tebas. Bahan apa yang recommended?”

“Biasanya orang pilih baja perkakas, H13, atau baja impor. Kalau mau tahan karat dan tajam banget, saya saranin baja VG-10 atau Damascus. Tapi harganya naik. Mau buat apa sih, Mas? Koleksi atau… self-defense?”

Budi senyum tipis. Penjual ini ngerti banget.

“Bisa nebak ya? Rekomendasi dong yang paling kuat.”

“Pinter nih Mas. Kalau buat self-defense, saya saranin full tang H13 heat-treated sampe 60 HRC. Bisa motong besi tipis. Berat sekitar 4 kg, panjang total 1,45 m termasuk gagang kayu sonokeling. Cocok buat orang tinggi 170–180 cm. Harganya Rp24 juta (bahan langka, stok terbatas).”

Budi mikir bentar. Duitnya masih ada, dan dia ngerasa uang lagi nggak berharga kayak dulu. “Kirim gambar contoh.”

Penjual kirim 10 foto sekaligus. Budi pilih yang mirip nodachi Jepang bisa satu atau dua tangan.

“Ini aja. Berat 4 kg. Kapan bisa kirim?”

“Pesanan fix ya Mas? Estimasi 3 hari, tapi kalau urgent bisa 2 hari. Tambah ongkir express.”

“Saya butuh cepet. Kalau besok kirim, tambah Rp10 juta.”

Penjual diem bentar. Lalu bales, “Deal! Transfer dulu 50% ya Mas, biar langsung proses. Total Rp34 juta.”

Budi transfer tanpa pikir panjang. Tiga puluh empat juta buat satu pisau? Dulu pasti mikir dua kali. Tapi sekarang, nyawa lebih mahal.

Besok paginya jam 9, Budi masuk ke Fitness Center terdekat di pinggir Palangkaraya gym gede yang ada di kawasan bisnis.

Dia nggak sengaja ke situ, cuma yang paling deket kontrakan. Dia butuh naikin Kekuatan. Dari kemarin, badannya masih ngerasa “kurang” meski udah level 4.

“Mas, daftar bulanan ya?”

“per 6 bulan aja. Ada promo nggak?”

Gadis di resepsionis ramah. “Ada Mas. 6 bulan Rp3 juta, include loker dan shower. Mau tambah personal trainer?”

“Berapa per jam?”

“Rp200 ribu. Bisa isi ulang di kartu.”

“Tambahin 10 jam dulu.”

Budi isi formulir, bayar pake kartu, langsung dapet kartu member. Dia langsung naik ke lantai dua gym luas banget, lebih dari 1000 m². Hari Sabtu rame: ada bapak-bapak angkat beban, cewek yoga, anak muda cardio, bahkan orang tua jalan di treadmill.

Budi nggak bawa baju ganti, langsung panggil petugas.

Cewek tinggi pake baju olahraga putih dateng. “Butuh bantuan apa, Mas?”

“Mau personal trainer 2 jam. Yang pro ya.”

“Siap Mas. Tunggu sebentar.”

Tak lama, cowok paruh baya berotot gede pake singlet dateng. Auranya berat, kayak binaragawan pensiunan.

“Mas Budi ya? Mau fokus binaraga?”

“Bukan. Panggil aja Budi. Saya mau naikin kekuatan dan stamina, tapi jangan sampe kurangin ketangkasan. Butuh latihan intens, target cepet.”

Pelatih nyengir kaku. “Oke, paham. Kita mulai dari tes dulu. Pemanasan lompat tali atau lari?”

“Lari aja. 30 menit.”

Pelatih agak kaget. “Yakin? Biasanya orang pemanasan 10 menit doang.”

“Yakin.”

Budi lari di treadmill. Setelah 30 menit, napasnya masih stabil, keringat baru mulai banyak. Pelatih makin penasaran.

“Oke, tes kekuatan. Bench press dulu. Santai aja, tambah beban pelan-pelan.”

Budi rebahan di bench press. Awalnya 60 kg ringan. Tambah 5 kg tiap sisi masih enteng. Pas 90 kg, baru mulai ngerasa beban.

Batasnya 95 kg.

Pelatih mata melebar. “Gila Mas, kekuatanmu udah level atlet. Aku aja maksimal 115 kg pake tenaga penuh.”

Budi hembus napas puas. Dulu pas kuliah tahun kedua, bench press-nya cuma 78 kg. Sekarang Kekuatan 10 poin. Kalau setiap poin naik 50%, berarti 11 poin bakal sekitar 100–110 kg. Bisa dicapai cepet kalau latihan intens.

Budi memijat otot-ototnya yang sedikit bengkak setelah latihan intens di gym. Jam sudah menunjukkan tengah hari. Dia mutusin makan siang dulu sebelum pulang santai ke kontrakan.

Rina pagi-pagi udah keluar pasti urus pemakaman Mas Joko. Karena Mas Joko bukan orang sini dan orang tuanya belum datang, semuanya jatuh ke tangan Rina. Budi nggak bisa bayangin betapa beratnya buat dia.

HP Budi berdering. Dia liat nama: rekan kantor, Mbak Wulan (sekretaris perusahaan). Dia angkat.

“Halo, Budi! Kemari sekarang dong. Kita lagi BBQ di Taman Palangkaraya. Ditraktir Pak Candra. Mbak Lia juga ikut nih.”

Budi nyengir kecil. “Aku baru makan siang. Kenapa nggak bilang dari kemarin?”

“Nggak bisa! Kamu harus datang. Nanti kita lanjut karaoke, butuh yang bayar tagihan,” kata Mbak Wulan manyun.

“Oh, dompet aku yang dirindukan ya. Oke deh, aku naik ojek online sekarang. Yang area BBQ terbuka di pinggir danau ya?”

“Iya, tempat biasa kita. Cepet ya, nanti nggak kebagian daging!”

Budi tutup telepon, pesen ojek online, langsung ke Taman Palangkaraya.

1
Jack Strom
Lanjut... 😁
Jack Strom
Mantap... Lanjut lagi!!! 😁
Jack Strom
Mantap... Lanjuuut!!! 😁
Jack Strom
Waktunya berburu... 😁
Jack Strom
Asah terus skillnya sambil bertahan hidup... 😁
Jack Strom
Asem... Kirain tadi yang namanya Jali itu manusia, eh ternyata seekor anjing... hahaha 😁
Jack Strom
Cih... Pura² jual mahal... 😁
Jack Strom
Eh... Blong??? 😁
Jack Strom
Hah??? 😁
Jack Strom
Bertahan... 😁
Jack Strom
Wow... Seram 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Chaos!!! 😁
Jack Strom
Lanjuuut... 😁
Jack Strom
Masih hmmm 🤔
Jack Strom
Hmmm??? 🤔
Jack Strom
Tekan dong... 😁
Jack Strom
Hmmm??? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Era gede²... 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!