Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki yang beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang terputus kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai. Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, dan memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Hari Sabtu pagi, kabut tipis masih melayang di atas hamparan kebun teh yang terletak tepat di seberang rumah Laura. Udara pagi membawa aroma menyejukkan, membuat setiap hembusan napas terasa menyegarkan. Laura sudah duduk di atas bangku kayu yang terletak di sudut taman depan rumahnya sejak pukul 6 pagi, di hadapannya ada Roni yang sedang menyusun peralatan fotografinya. Meja kecil di antara mereka penuh dengan buku catatan, sketsa konsep, dan beberapa sampul majalah yang menjadi referensi proyek mereka.
“Kita perlu menemukan sudut pandang yang berbeda untuk proyek ini, Lau,” ujar Roni sambil menyesuaikan lensa kamera DSLR-nya. “Majalah ingin sesuatu yang tidak hanya menampilkan keindahan alam secara visual, tetapi juga menyampaikan cerita tentang kehidupan orang-orang yang tinggal di sekitarnya.”
Laura mengangguk sambil melihat ke arah kebun teh yang luas. Beberapa pekerja sudah mulai aktif, bergerak dengan cepat sambil merobek daun teh muda yang masih segar. “Kamu tahu tidak, Doni pernah bilang bahwa setiap tempat memiliki cerita tersendiri yang perlu disampaikan dengan hati,” ungkapnya dengan nada yang lembut. “Dia selalu mencari sisi manusiawi dari setiap objek yang dia foto.”
Roni menoleh ke arahnya, wajahnya kental pengertian. “Kita bisa membuat itu menjadi inti dari proyek kita. Kita tidak hanya fokus mengambil gambar keindahan alam, tetapi juga menceritakan kisah orang-orang yang menjaga dan hidup dari alam itu.”
Laura mengambil buku catatannya yang sudah ia isi dengan berbagai ide selama beberapa hari terakhir. Di dalamnya terdapat sketsa lokasi-lokasi potensial; mulai dari kebun teh, sawah, hingga danau dan pegunungan di berbagai daerah lain. Setiap sketsa disertai dengan catatan tentang cerita yang mungkin bisa mereka gali dari setiap tempat.
“Mari kita mulai dari sini dulu, kebun teh di seberang rumahmu,” ajak Roni setelah melihat isi buku catatan Laura. “Kita bisa bertemu dengan pengelola kebun atau pekerja di sana, mendengar cerita mereka tentang hidup dan hubungan mereka dengan kebun teh ini.”
Setelah menyelesaikan sarapan yang diberikan ibunya, Laura dan Roni berjalan menyeberang jalan menuju kebun teh. Pintu masuk kebun yang terbuat dari kayu jati tua terbuka lebar, dan seorang pria tua berusia sekitar enam puluhan dengan topi rotan segera menyambut mereka dengan senyum ramah.
“Selamat pagi, Nak Laura,” ujar pria itu dengan senyum hangat. Ia sangat mengenal Laura berpuluh-puluh tahun karena sering melihatnya, bahkan di waktu Laura bermain di sekitar area kebun saat masih kecil. “Ada apa ya hari ini? Mau berkeliling atau ada keperluan khusus?”
“Pak Hadi, ini teman saya Roni. Kami sedang bekerja pada proyek fotografi untuk majalah lokal tentang keindahan alam dan kehidupan masyarakat sekitarnya,” jelas Laura melebar senyum ramah. “Bolehkah kami bertanya beberapa hal dan mengambil beberapa gambar di kebun ini?”
Pak Hadi mengangguk dengan senang hati. “Tentu saja boleh, Nak. Silakan saja. Kalau perlu, saya bisa memperkenalkan pada beberapa pekerja yang sudah bekerja di sini sejak lama. Mereka punya banyak cerita menarik untuk diceritakan, temanmu mungkin akan terkesan."
Ketiganya lalu berjalan bersama menyusuri lorong antara hamparan tanaman teh yang rapi. Akan tetapi pandangan pertama Laura saat mulai menyusuri jalanan setapak; adalah beberapa potong kain berwarna merah yang terikat di sebuah batang pohon kecil, pemandangan semacam itu praktis mengingatkannya dengan potongan kain merah yang bercampur tanah saat diuruk di liang makam Doni. Juga tentang tiga gaun merah yang semalam sempat ia lihat sepintas. Hatinya lalu berdebar, kepingan tiga pemandangan yang menyatu, berkorelasi menjadi pertanyaan; objek dadakan yang begitu kuat, namun setelah beberapa langkah menjauh, Laura memilih mengabaikan apa yang baru saja ia lihat, dan kembali fokus dengan tujuan utamanya bersama Roni.
Pak Hadi mulai menceritakan sejarah kebun teh yang telah berdiri selama lebih dari tujuh puluh tahun, awalnya didirikan oleh kakeknya sebelum kemudian diwariskan kepadanya. Ia juga menceritakan tentang bagaimana kehidupan masyarakat di desa seberang sana, sambil menunjuk ke arah timur yang jauh dari pemukiman kediaman Laura, mereka sangat tergantung pada keberadaan kebun teh ini.
“Banyak keluarga yang hidup dari hasil bumi ini,” ujar Pak Hadi yang lalu tangannya bergeser menunjuk ke arah sekelompok pekerja yang sedang duduk beristirahat di bawah pohon besar. “Mereka bekerja dengan hati karena tahu bahwa hasil kerja keras mereka akan membantu keluarga mereka dan menjaga kelangsungan hidup kebun yang sudah menjadi bagian dari sejarah tempat ini.”
Roni mulai mengambil gambar dengan hati-hati, menangkap setiap momen dengan kepekaan yang khas. Ia mengambil foto hamparan kebun teh yang membentang hingga ke kaki gunung Salak, pekerja yang sedang merobek daun teh dengan gerakan terampil, dan wajah-wajah mereka yang penuh kegigihan meskipun sudah bekerja sejak pagi hari.
Sementara itu, Laura mendekati salah satu pekerja perempuan yang sedang menyortir daun teh berdasarkan kualitasnya. Wanita berusia sekitar empat puluhan itu dengan ramah menerima kedatangan Laura, bahkan mengajaknya untuk mencoba merobek daun teh sendiri.
“Cara merobek daun teh harus benar agar kualitasnya tetap baik,” ujar wanita itu ramah sambil menunjukkan gerakan yang benar. “Saya sudah bekerja di sini selama lima belas tahun. Sejak suami saya meninggal, ini yang menjadi penghasilan utama untuk mencukupi kebutuhan anak-anak saya.”
Laura mendengarkan dengan seksama, mencatat setiap kata yang diucapkan wanita itu ke dalam buku catatannya. Cerita tentang perjuangan dan kegigihan yang disampaikan membuat hati Laura tergerak. Ia menyadari bahwa di balik keindahan alam yang indah, terdapat ribuan cerita tentang kehidupan manusia yang penuh dengan perjuangan namun juga penuh dengan harapan.
Setelah beberapa jam berkeliling dan mengumpulkan materi, Laura dan Roni kembali ke halaman depan rumah untuk merangkum hasil kerja mereka. Tetapi karena matahari pagi sudah mulai panas, mereka memutuskan berpindah duduk di taman belakang, bernaung di bawah pohon mangga, dengan secangkir teh hangat yang dibuat dari daun teh segar yang langsung diambil dari kebun yang baru saja mereka eksplorasi.
“Cerita-cerita yang kita dapatkan hari ini sangat luar biasa, Laura” ujar Roni sambil melihat kembali gambar-gambar yang ia ambil. “Jika kita bisa menyampaikannya dengan baik, proyek ini akan menjadi sesuatu yang berarti.”
Laura mengangguk sambil menulis beberapa catatan akhir di buku catatannya: “Hari ke-7. Bekerja bersama Roni di kebun teh di seberang rumahku. Mendengar cerita-cerita penuh makna dari Pak Hadi dan pekerja kebun lainnya. Aku menyadari bahwa setiap kehidupan memiliki cerita yang layak untuk diceritakan, setiap perjuangan memiliki makna yang patut untuk dihargai. Doni selalu ingin aku menggunakan kata-kataku untuk menyampaikan suara mereka yang tidak terdengar, dan kini aku merasa bahwa aku mulai menemukan cara untuk melakukannya.”
Saat itu pula, sebuah mobil berwarna silver berhenti di depan pagar rumah, Ariana dan Amelia datang mengunjunginya dengan membawa makanan dan bingkisan yang mereka persiapkan. Keduanya segera bergabung di taman belakang, melihat hasil kerja Laura dan Roni dengan penuh kagum.
“Kalian sudah mendapatkan materi yang sangat bagus!” Seru Ariana setelah melihat beberapa gambar dan membaca catatan Laura. “Kita bisa mulai merancang tata letak dan konsep visual untuk majalah ini besok jika kalian mau.”
“Kalau perlu, saya bisa membantu menghubungi beberapa teman yang bekerja di daerah lain untuk mendapatkan akses ke lokasi-lokasi menarik lainnya,” tambah Amelia dengan semangat. “Saya punya teman di beberapa daerah yang bisa memperkenalkan kita pada petani sawah dan seniman lokal yang ada di sana.”
Laura merasakan hatinya penuh kehangatan dan semangat. Ia melihat dukungan, dan melihat hasil kerja yang mereka mulai hari ini, dan melihat ke arah gunung Salak yang kali ini terlihat jelas tanpa adanya kabut dan tumpukan awan. Langit biru yang cerah, dan ia harus mengsinkronisasikan perasaannya saat ini, untuk seterusnya, agar sebisa mungkin jangan ada kelabu, kebimbangan atau ketakutan yang kembali memenuhi langit jiwanya.