Nara tumbuh di keluarga yang mengajarinya satu hal sejak kecil jangan merepotkan.
Dua puluh dua tahun kemudian, Nara lulus kuliah. Bukan dengan pesta tapi dengan catatan pengeluaran ibunya sejak ia lahir, dan permintaan untuk mulai "membalas."
Nara butuh kerja. Butuh uang. Butuh keluar.
Ia datang ke Adristo Group untuk interview posisi admin. Yang tidak ia tahu ia salah masuk ruangan. Dan orang di depannya bukan HRD.
Ia Rayan Adristo. CEO. Tiga puluh tahun. Dingin, efisien, dan sedang mencari istri kontrak untuk enam bulan ke depan demi menghentikan ibunya yang terus-terusan mengatur kencan buta tanpa izin.
Still Me adalah cerita tentang perempuan yang tumbuh tanpa kehilangan dirinya. Tentang belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan diri. Dan bahwa menjadi utuh bukan tentang menemukan orang yang melengkapi tapi tentang akhirnya berani berdiri sebagai dirimu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
STILL ME CHAPTER 9: Lowongan
Mencari pekerjaan pertama sebagai fresh graduate itu rasanya persis seperti melempar koin ke dalam sumur yang gelap gulita.
Kamu melemparkannya dengan penuh harapan, lalu berdiri di bibir sumur, menajamkan telinga. Menunggu. Berharap ada suara pantulan air yang menandakan koinmu telah sampai. Tapi sering kali, kamu berdiri di sana sampai kakimu pegal, dan suara itu tidak pernah datang. Koinmu tertelan dalam kehampaan, seolah sumur itu tidak punya dasar.
Satu minggu setelah pertemuanku dengan Sari di kafe, kamarku resmi berubah fungsi menjadi pusat komando perang.
Laptop di atas meja belajarku nyaris tidak pernah dimatikan. Layarnya selalu menampilkan tab portal lowongan kerja yang terus-menerus ku-refresh. JobStreet. LinkedIn. Kalibrr. Tech in Asia. Semuanya kubuka.
Aku melamar kerja secara gila-gilaan.
Bukan lagi memilih-milih perusahaan mana yang memiliki 'budaya kerja yang sehat' atau 'potensi jenjang karir yang menjanjikan'. Persetan dengan itu semua. Kriteria pencarianku sekarang sudah menyusut menjadi satu variabel tunggal yang paling primitif: nominal gaji.
Kalkulator di otakku tidak pernah berhenti berputar sejak Ibu menyodorkan buku catatan merah itu.
Jika standar UMR kota ini sekitar empat setengah juta rupiah, dan tagihan wajib dari Ibu adalah tiga juta rupiah sebulan, maka sisa uangku tinggal satu setengah juta.
Satu setengah juta rupiah.
Itu harus cukup untuk membayar sewa kos (karena aku menolak tinggal di rumah ini lebih lama lagi setelah gajian), uang makan tiga puluh hari, ongkos transportasi, pulsa internet, sabun mandi, dan sisa kewarasan.
Secara matematis, itu sama saja dengan misi bunuh diri secara perlahan. Aku tidak akan hidup, aku hanya akan bertahan untuk bernapas. Karena itu, aku harus mencari pekerjaan dengan take home pay jauh di atas standar fresh graduate. Sebuah kemustahilan yang terpaksa harus kuubah menjadi kenyataan.
Klik. Apply.
Isi formulir. Upload CV. Klik. Apply.
Copy-paste Cover Letter. Ubah nama perusahaan. Klik. Apply.
Aku berubah menjadi mesin pencari kerja. Ratusan lamaran sudah kukirim ke berbagai posisi. Staf administrasi, asisten manajer yang kualifikasinya kuterjang saja meski aku kurang pengalaman, staf pemasaran, hingga asisten pribadi petinggi perusahaan. Pokoknya apa saja yang mencantumkan angka di atas tujuh juta di kolom gajinya.
Tapi, seperti koin di dalam sumur tadi, sebagian besar lamaranku tidak pernah mendapat balasan.
Sesekali, ada email masuk yang membuat jantungku melompat kegirangan. Namun begitu kubuka, isinya selalu template penolakan yang dibungkus dengan bahasa korporat yang sopan tapi memuakkan:
Terima kasih atas ketertarikan Anda. Kualifikasi Anda sangat mengesankan, namun saat ini kami memutuskan untuk melanjutkan dengan kandidat lain yang lebih sesuai dengan kebutuhan kami. Kami akan menyimpan CV Anda di database kami.
(Omong kosong,) rutukku dalam hati setiap kali membaca kalimat terakhir itu. (Kalian bahkan tidak mem-print CV-ku. Kalian langsung membuangnya ke tong sampah virtual.)
Dan di luar kamarku, cuaca tidak jauh lebih baik.
Tekanan di rumah kini terasa jauh lebih pekat dari sebelumnya. Ibu tidak memarahiku. Ia tidak membentak atau menyindirku secara kasar. Ia melakukan sesuatu yang jauh lebih efektif untuk menghancurkan mentalku.
Ia bertanya. Setiap hari.
"Udah ada panggilan interview hari ini, Ra?"
Pertanyaan itu biasanya dilontarkan saat kami sedang makan malam, atau saat aku baru keluar dari kamar mandi. Nadanya sangat biasa, seolah ia hanya menanyakan apakah cucian sudah diangkat dari jemuran.
Tapi di telingaku, pertanyaan itu terdengar seperti suara jarum jam bom waktu yang sedang berdetak mundur.
"Belum, Bu. Masih proses screening dari perusahaannya," jawabku, selalu dengan jawaban defensif yang sama.
"Oh. Ya udah. Barangkali besok," balas Ibu sambil tersenyum tipis, lalu menaruh sepotong tahu goreng ke piringku. "Makan yang banyak, biar besok tenaganya ada buat tes masuk kerja."
Ibu tidak menyebut soal uang tiga juta itu lagi. Ia tidak pernah mengungkit buku catatan merah itu sejak hari ia menunjukkannya padaku. Ia menyimpannya kembali ke dalam laci. Tapi justru di situlah letak terornya. Buku itu tidak perlu diungkit, karena hantunya sudah bergentayangan di setiap sudut rumah ini.
Aku menelan makananku seperti mengunyah serbuk gergaji.
Aku harus keluar dari rumah ini. Aku harus segera mendapatkan pekerjaan, membayar lunas ekspektasinya, lalu mengepak barang-barangku dan pergi. Aku tidak peduli ke mana, asalkan tidak di bawah atap yang sama dengan tagihan nyawaku sendiri.
Memasuki hari kesebelas masa pengangguranku, keputusasaan mulai mengetuk pintu.
Jam di sudut layar laptopku menunjukkan pukul 01:15 dini hari. Mataku sudah perih dan merah karena terlalu lama menatap layar. Punggungku pegal. Sebotol air mineral yang kubawa sejak sore sudah habis tak bersisa.
Aku me-refresh halaman portal lowongan kerja untuk yang kesekian ratus kalinya hari ini.
Daftar perusahaan yang mencari 'Staf Administrasi' bergulir di layar. Gajinya rata-rata standar. Tiga juta, empat juta, mentok di angka lima juta untuk perusahaan multinasional yang mensyaratkan pengalaman dua tahun.
Aku memijat pelipis kananku yang berdenyut.
Mungkin aku harus menurunkan standarku. Mungkin aku harus menerima kenyataan bahwa aku memang harus hidup dengan satu setengah juta sebulan. Mungkin aku bisa mencari kos-kosan super murah tanpa jendela, makan mi instan dua kali sehari, dan berjalan kaki ke kantor sejauh apa pun itu untuk menghemat ongkos.
Pikiran-pikiran itu mulai bermunculan, menggerogoti tekadku.
Tepat saat aku hendak menutup laptop dan menyerah pada malam itu, jariku secara tidak sengaja menggeser touchpad dan menekan halaman berikutnya dari hasil pencarian.
Sebuah logo perusahaan berukuran besar dengan desain minimalis namun elegan muncul di posisi teratas kolom rekomendasi, dilengkapi dengan label 'URGENTLY HIRING'.
ADRISTO GROUP
Mataku langsung terpaku pada nama itu.
Adristo Group. Bahkan orang awam yang tidak pernah menonton berita bisnis pun tahu nama itu. Itu adalah konglomerasi raksasa yang gurita bisnisnya ada di mana-mana. Properti, rumah sakit mewah, perhotelan, hingga logistik pengiriman barang. Gedung pusat mereka adalah Menara Adristo, sebuah menara kaca berlantai tiga puluh lebih yang berdiri angkuh di jantung Segitiga Emas Jakarta.
Mendapat pekerjaan di sana ibarat mendapat tiket lotre bagi seorang sarjana baru.
Aku mengklik tautan lowongan itu dengan cepat. Jantungku mulai berdebar.
Posisi: Staf Administrasi.
Tipe Pekerjaan: Full-time.
Aku membaca deskripsi pekerjaannya dengan teliti, berharap menemukan celah.
Kualifikasi:
- Minimal S1 dari semua jurusan.
- Fresh Graduate dipersilakan melamar.
- Memiliki kemampuan analitis yang tinggi, terorganisir, dan detail-oriented.
- Mampu menjaga kerahasiaan tingkat tinggi (Non-Disclosure Agreement wajib ditandatangani).
- Mampu bekerja di bawah tekanan ekstrem secara independen tanpa supervisi berlebih.
Aku mendengus pelan membaca syarat terakhir. Mampu bekerja di bawah tekanan ekstrem? Bahasa korporat yang sangat transparan untuk 'jam kerja tidak masuk akal dan atasan yang siap memecatmu kapan saja'.
Tapi bukan kualifikasi itu yang membuat napasku terhenti. Melainkan angka yang tertera terang-terangan di kolom kompensasi dan benefit di bawahnya.
Perusahaan itu tidak memakai istilah 'Gaji kompetitif' untuk menyembunyikan nominal. Mereka menuliskan range angkanya secara eksplisit. Dan angka bawah dari range tersebut... nyaris menembus tiga kali lipat dari UMR standar kota ini.
Mataku membulat sempurna. Rasa kantuk yang tadi menyerangku menguap tak berbekas dalam hitungan detik.
Tiga kali lipat UMR.
Jika aku berhasil mendapatkan posisi ini, aku bisa memberikan tiga juta rupiah kepada Ibu setiap awal bulan dengan senyum lebar di wajahku. Aku masih memiliki sisa uang yang sangat melimpah untuk menyewa kamar kos yang bersih, makan enak tiga kali sehari, menabung, dan yang paling penting aku bisa membeli kebebasan mutlakku tanpa harus mengemis.
Aku menatap layar laptop itu seolah benda itu adalah bongkahan emas.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, tanganku bergerak cepat. Aku melampirkan Curriculum Vitae terbaikku. Aku menulis ulang Cover Letter di badan email, memilih kata-kata dengan sangat hati-hati, menonjolkan kemampuan adaptasi dan ketahananku dalam bekerja sesuatu yang ironisnya sudah dilatih dengan sangat baik oleh ibuku sendiri.
Aku membaca ulang draf email lamaran itu tiga kali untuk memastikan tidak ada typo satu huruf pun.
Lalu, aku menekan tombol Send.
Email sent.
Aku menyandarkan punggungku ke sandaran kursi kayu, mengembuskan napas panjang. Itu dia. Koin terbesarku sudah kulempar ke dalam sumur yang paling dalam.
Besoknya, rutinitas pagiku berjalan seperti biasa. Menghindari kontak mata terlalu lama dengan Ibu di meja makan, lalu kembali mengurung diri di kamar untuk memandangi layar laptop.
Jam sebelas siang. Belum ada balasan.
Jam tiga sore. Masih kosong.
Aku mulai membujuk diriku sendiri untuk bersikap realistis. Perusahaan sebesar Adristo Group pasti menerima ribuan lamaran dalam sehari. Kesempatan CV-ku dilirik oleh mesin screening HRD mereka mungkin hanya sepersekian persen. Jangan menaruh harapan terlalu tinggi, Nara. Ketinggian hanya akan membuat jatuhnya semakin sakit.
Pukul tujuh malam, saat aku baru saja selesai mandi dan sedang mengeringkan rambut dengan handuk, layar HP-ku yang tergeletak di atas kasur menyala. Ada notifikasi email masuk.
Aku mendekat dengan langkah pelan. Mengusap layar lockscreen.
Nama pengirimnya membuat aliran darahku mendingin.
HRD Recruitment Adristo Group
Subjek: Undangan Walk-in Interview & Assessment - Staf Administrasi
Tanganku sedikit gemetar saat menekan notifikasi itu. Layar membuka isi email.
Kepada Yth. Saudari Nara Kusuma,
Terima kasih atas ketertarikan Anda untuk bergabung dengan Adristo Group. Berdasarkan peninjauan awal terhadap kualifikasi Anda, kami mengundang Anda untuk hadir dalam tahap seleksi dan wawancara massal yang akan diselenggarakan pada:
Hari/Tanggal: Besok, 9 Agustus 2024
Waktu: 08.00 WIB - Selesai
Tempat: Menara Adristo, Jl. Jend. Sudirman Kav. XX, Jakarta.
Dresscode: Kemeja putih, bawahan hitam kain, sepatu pantofel hitam tertutup.
Mengingat urgensi pengisian posisi ini, proses rekrutmen akan dilakukan dalam satu hari (One-Day Hiring). Kandidat yang lolos tahap assessment awal akan langsung diwawancarai oleh pihak manajemen di hari yang sama.
Harap membawa dokumen cetak (Hardcopy) lengkap.
Aku membaca email itu berulang-ulang sampai mataku perih. Aku mencubit punggung tanganku sendiri untuk memastikan aku tidak sedang bermimpi. Sakit. Ini nyata.
Mereka tidak membuang waktu dengan proses screening berminggu-minggu. One-Day Hiring. Besok.
Aku langsung melompat dari kasur, membuka lemari bajuku dengan panik. Aku mengaduk-aduk tumpukan pakaian, mencari kemeja putih lengan panjang terbaik yang kumiliki. Kutemukan satu kemeja berbahan katun yang kerahnya masih lumayan kaku, meski kainnya tidak terlalu mahal. Kutemukan rok hitam selutut yang sedikit kebesaran di pinggang, tapi masih bisa diakali dengan ikat pinggang.
Lalu, sepatu pantofel. Aku mengeluarkan sepatu pantofel hitamku dari rak bawah. Ada sedikit goresan di bagian ujungnya karena sering kupakai saat sidang skripsi dulu. Aku harus menyemirnya malam ini sampai mengkilap agar goresan itu tersamarkan.
Aku menyiapkan semuanya di atas tempat tidur dengan presisi layaknya seorang prajurit yang sedang mempersiapkan perlengkapan perang sebelum terjun ke garis depan.
Ijazah. Check.
Transkrip nilai yang sudah dilegalisir. Check.
Fotokopi KTP. Check.
Pasfoto terbaru berlatar biru. Check.
CV yang sudah kucetak di kertas tebal kualitas premium modal sisa uang terakhir di dompetku. Check.
Semuanya kumasukkan ke dalam map plastik bening dengan sangat hati-hati, memastikan tidak ada satu pun ujung kertas yang terlipat. Kertas-kertas ini, dan kemeja putih ini, adalah harga mati.
Malam itu, saat makan malam, aku tidak banyak bicara. Aku menyuap nasiku dalam diam yang terfokus.
Ibu melirikku dari seberang meja.
"Kok tumben diam aja? Ada apa?" selidiknya, matanya memindai wajahku.
"Besok pagi Nara ada interview kerja, Bu," jawabku, berusaha menjaga nada suaraku senetral mungkin agar tidak terdengar terlalu antusias. Aku tidak ingin memberikan harapan sebelum semuanya pasti.
Gerakan sendok Ibu terhenti seketika. Matanya langsung berbinar dengan cara yang sangat kukenal kilatan cahaya yang selalu muncul setiap kali ia mencium aroma keuntungan.
"Di mana? Perusahaan apa?"
"Adristo Group, Bu. Di Sudirman."
Aku sengaja menyebut nama perusahaannya. Dan benar saja, efeknya instan. Bahkan Ibu yang jarang menonton berita bisnis tahu nama itu.
"Adristo?!" Suara Ibu naik satu oktaf, nyaris memekik. "Itu kan perusahaan yang gedung kacanya tinggi banget di Jakarta itu, kan? Yang punya hotel sama mal besar di mana-mana?"
"Iya, Bu."
"Ya ampun, Nara! Hebat banget kamu bisa tembus panggilan ke sana!" Ibu meletakkan sendoknya, wajahnya sumringah luar biasa. Guratan lelah di sudut matanya seolah tersapu habis oleh bayangan gaji besar. "Posisi apa?"
"Staf Administrasi, Bu."
"Bagus, bagus. Perusahaan sebesar itu pasti gajinya besar. Tunjangannya banyak. Pasti bisa langsung ngangkat derajat keluarga kita." Ibu mengangguk-angguk cepat, pikirannya jelas sudah berlari jauh ke depan, melampaui proses interview yang bahkan belum kulakukan.
Ia tiba-tiba berdiri dari kursinya, berjalan ke arah kulkas, dan mengeluarkan sepotong ayam goreng paha sisa jatahnya. Ia meletakkannya tepat di atas tumpukan nasiku.
"Makan yang banyak, Ra," katanya lembut. Sangat lembut. "Biar besok otaknya jalan pas ditanya-tanya. Nanti malam bajunya Ibu bantu setrikain biar licin."
Aku menatap sepotong paha ayam goreng yang mendadak mendarat di piringku.
Seketika, ingatanku terlempar mundur ke belasan tahun yang lalu. Ke masa saat aku masih duduk di kelas empat SD. Saat Ibu meletakkan dada ayam ke piringku, menukarnya dengan narasi panjang tentang pengorbanannya dan tuntutan nilai seratus di kertas ulangan.
Pola itu terulang lagi.
Ayam goreng ini bukan hadiah. Ini adalah bentuk Down Payment (uang muka) dari ekspektasinya yang sebentar lagi akan ditagih berkali-kali lipat.
Aku menelan ludah. Rasa lapar di perutku mendadak hilang, digantikan oleh mual yang merayap di ulu hati.
"Makasih, Bu," jawabku pelan.
Aku mengambil garpu, menusuk daging ayam itu, dan memakannya perlahan. Aku mengunyahnya seperti mengunyah serpihan kaca.
Malam ini, aku akan tidur dengan alarm yang disetel pukul empat pagi. Besok, aku akan melangkah masuk ke Menara Adristo.
Aku tidak peduli seberapa ketat persaingannya besok. Aku tidak peduli apakah aku harus menghadapi ujian tertulis yang memeras otak atau pewawancara HRD yang paling galak sekalipun. Aku akan mendapatkan pekerjaan itu. Aku harus mendapatkannya.
Karena jika aku gagal, aku akan terjebak di meja makan ini, memakan paha ayam penuh syarat dari Ibuku selama sisa hidupku.