Sial! .
Lagi-lagi Dom dibuat menangis karena cinta.
Satu kali lagi pria itu berlutut, memohon maaf dan mengemis cinta kepada istri kecilnya. Namun, sebesar apa cinta yang dia tunjukkan, Bella tetap menggeleng dengan linangan air mata. Hukuman telah wanita itu jatuhkan sepenuh cinta.
"Bella, apakah pria brengsek sepertiku tidak layak untuk mendapatkan kesempatan kedua?" Gugu Dominic dengan suara bergetar.
Keduanya saling mencintai, namun Dom kembali terlena dengan masa lalunya, perselingkuhan pria itu dengan Sarah menjadikan boomerang hebat bagi bahtera rumah tangganya bersama Bella.
Bisakah Dom merebut kembali rasa cinta dan percaya istri kecilnya seperti semula?
"Aku begitu mencintaimu, Bella. Dan kau hampir membuat pria seksi ini menjadi gila!" Desis Dominic, saat cintanya kali ini tercampur dengan ambisi amarah dan gairah.
D O N ' T P L A G I A T ! ! !
H A P P Y R E A D I N G, S U G A R R E A D E R S ! !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prince Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 — Batas Mulai Terlihat
Sore itu langit terlihat lebih gelap dari biasanya, meskipun waktu belum terlalu larut. Awan menggantung rendah, membuat suasana terasa berat sejak awal. Bella baru saja selesai merapikan beberapa berkas di meja ruang tengah—beberapa formulir pekerjaan yang tadi ia bawa pulang dari pertemuannya dengan Livia. Ia belum benar-benar memutuskan, tapi setidaknya… ia sudah melangkah.
Dan itu cukup.
Ia sedang duduk diam, membaca ulang salah satu dokumen, ketika suara pintu terbuka terdengar tanpa peringatan.
Bella menoleh.
Dominic masuk.
Namun seperti beberapa hari terakhir, ia tidak sendirian.
Diana berjalan di belakangnya.
Langkah wanita itu tetap ringan, percaya diri, seolah tidak ada yang perlu dipertanyakan dari kehadirannya di tempat itu. Bahkan sebelum Dominic sempat berkata apa-apa, Diana sudah lebih dulu tersenyum.
“Maaf ya, Bella. Aku ikut lagi,” ucapnya santai, nada suaranya terdengar seperti basa-basi yang tidak benar-benar membutuhkan jawaban.
Bella tidak langsung berdiri.
Ia hanya menatap mereka beberapa detik, lalu menutup berkas di tangannya dengan perlahan.
“Rumah ini bukan tempat kerja, kan?” katanya pelan.
Kalimat itu tidak keras.
Tidak juga tajam.
Namun cukup untuk membuat langkah Diana berhenti.
Dominic menoleh ke arah Bella, alisnya sedikit berkerut. “Kami cuma—”
“Aku tahu,” potong Bella lembut, tapi jelas. “Urusan kerja.”
Diana tersenyum tipis, seolah menikmati situasi itu.
“Iya, kerja,” tambahnya ringan.
Bella mengangguk kecil.
“Kalau begitu… seharusnya ada tempat yang lebih tepat.”
Sunyi.
Beberapa detik terasa panjang.
Dominic menghela napas pelan. “Bella, jangan mulai.”
Bella menatapnya.
Tatapannya tenang.
Terlalu tenang.
“Aku nggak mulai apa-apa,” jawabnya. “Aku cuma bilang… ini rumah.”
Tidak ada emosi berlebihan.
Tidak ada suara tinggi.
Namun justru itu yang membuat suasana terasa lebih menekan.
Diana mengalihkan pandangannya ke Dominic, lalu kembali ke Bella.
“Aku nggak masalah kok kalau kamu merasa terganggu,” katanya dengan nada yang terdengar manis. “Aku juga nggak akan lama.”
Bella tersenyum.
Tipis.
“Bukan soal lama atau sebentar.”
Ia berdiri perlahan.
Langkahnya tenang saat mendekat, tapi ada sesuatu dalam caranya berjalan yang membuat suasana berubah.
“Ini soal batas.”
Kata itu jatuh begitu saja.
Sederhana.
Namun berat.
Dominic menatapnya lebih tajam. “Maksud kamu?”
Bella berhenti beberapa langkah dari mereka.
Menatap keduanya tanpa ragu.
“Kalau memang ini kerja… ya kerjakan di tempat kerja,” ucapnya pelan. “Bukan di rumah. Bukan di ruang yang seharusnya… jadi tempat paling aman.”
Diana tidak langsung menjawab.
Untuk pertama kalinya sejak ia sering datang ke rumah itu, ekspresinya berubah sedikit.
Bukan karena tersinggung.
Lebih seperti… tertarik.
“Bella,” suara Dominic terdengar lebih rendah, sedikit menahan. “Kamu terlalu membesar-besarkan.”
Bella menggeleng pelan.
“Enggak.”
Ia menatap langsung ke mata Dominic.
“Aku justru baru mulai melihatnya dengan jelas.”
Kalimat itu membuat Dominic terdiam.
Dan entah kenapa… ia tidak suka cara Bella mengatakannya.
Bukan karena marah.
Tapi karena terdengar… selesai.
—
Akhirnya, Diana tidak lama tinggal.
Ia pamit dengan senyum yang masih sama, namun kali ini tidak lagi sepenuhnya santai.
“Besok kita lanjut saja ya, Dom,” katanya sebelum keluar.
Dominic mengangguk singkat.
Pintu tertutup.
Dan rumah itu kembali sunyi.
Namun suasana yang tertinggal… jauh dari tenang.
—
Dominic berdiri beberapa saat di tempatnya sebelum akhirnya menoleh ke Bella.
“Kamu kenapa?”
Pertanyaan itu terdengar lebih seperti tuntutan daripada kepedulian.
Bella kembali duduk di sofa, membuka berkasnya lagi seolah percakapan tadi tidak terlalu penting.
“Apa?”
“Kamu berubah.”
Bella berhenti sejenak, lalu mengangkat wajahnya.
“Iya.”
Jawaban itu datang tanpa ragu.
Dominic mengernyit.
“Kamu jadi… dingin.”
Bella menatapnya beberapa detik.
Lalu tersenyum kecil.
“Dari dulu juga aku dingin,” katanya pelan. “Kamu saja yang nggak pernah benar-benar lihat.”
Kalimat itu tidak dimaksudkan untuk menyakiti.
Namun tetap saja… terasa.
Dominic menghela napas, berjalan mendekat, lalu berdiri di depan Bella.
“Kamu punya masalah, bilang.”
Bella menutup berkasnya lagi.
Perlahan.
“Aku sudah bilang.”
“Kapan?”
Bella menatapnya.
“Setiap kali aku diam.”
Sunyi.
Dominic tidak langsung menjawab.
Dan lagi-lagi… ia tidak punya kata yang tepat.
—
Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya.
Mereka berada di ruang yang sama, tapi seperti berada di dunia yang berbeda.
Bella kembali ke kamarnya lebih dulu, membawa berkas-berkasnya. Ia duduk di meja kecil dekat jendela, mencoba membaca, mencoba fokus, namun pikirannya terus kembali ke satu hal yang sama.
Hari ini.
Bukan karena apa yang terjadi.
Tapi karena bagaimana ia menghadapinya.
Untuk pertama kalinya… ia tidak mundur.
Tidak juga diam tanpa arah.
Ia bicara.
Dan yang lebih penting… ia menetapkan batas.
Meskipun kecil.
Meskipun mungkin terlambat.
Namun cukup untuk membuatnya merasa… masih punya kendali.
—
Pintu kamar terbuka pelan.
Dominic masuk.
Langkahnya tidak langsung menuju tempat tidur seperti biasa. Ia berhenti beberapa langkah dari Bella, memperhatikan wanita itu yang masih duduk dengan berkas di tangannya.
“Kamu serius mau kerja lagi?”
Bella tidak langsung menjawab.
Ia menyelesaikan satu halaman, lalu menutup mapnya perlahan.
“Iya.”
“Kenapa tiba-tiba?”
Bella menoleh.
“Karena aku butuh.”
“Aku sudah bilang kamu nggak perlu.”
Bella tersenyum tipis.
“Dan aku sudah bilang… ini bukan soal perlu atau nggak.”
Dominic menghela napas, sedikit kesal.
“Terus soal apa?”
Bella berdiri.
Menatapnya dengan tenang.
“Soal aku.”
Dua kata.
Namun cukup untuk membuat Dominic terdiam.
Bella melanjutkan, suaranya tetap lembut.
“Aku nggak mau hidup cuma jadi bagian dari hidup orang lain.”
Sunyi.
Dominic menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya… ia benar-benar tidak mengenali wanita di depannya.
—
Malam itu, mereka kembali tidur dalam diam.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Bukan lagi sekadar jarak.
Tapi arah.
Bella tidak lagi menghadap ke Dominic.
Dan kali ini… bukan karena ingin menjauh.
Tapi karena ia sudah mulai berjalan ke arah lain.
Sementara Dominic…
Masih berdiri di tempat yang sama.
Tanpa sadar… perlahan tertinggal.
---
END BAB 9
.di otak para pelakor itu
dia cantik
dia sukses
tapi malah terobsesi sama milik orang lain
dan bodohnya para pria itu membuka pintu hati nya lebar"
aku bacanya ga nafas thor
ayo semangat bella
cape sama orang yg belum selesai sama masa lalunya
kita akan selalu sendirian
terabaikan
dan...bukan sesuatu yg jadi prioritas
dia datang hanya kewajiban 🥹
sebenarnya air mata bukan lah tanda kita lemah
tapi memberikan ijin buat tubuh kita mengeluarkan semua rasa
nangis aja..
yg kenceng.
tapi.....untuk saat ini aja
setelah nya kita bergerak maju ke masa depan
mereka kan selalu merasa di zona nyamannya
merasa kita akan ditempat dan rasa yg sama
walaupun apapun yg terjadi
tapi mereka lupa semua asalnya dr mereka 🥹🥹
kok aku yg emosi ya Thor
liat Diana yg ga tau malu
eh..mang lupa ya
pelakor mang semuanya ga tau malu🥹🥹
lelah itu sesuatu yg nyata tapi tida berasa🥹🥹
ini...memang dr awal seperti ada yg salah bukan?🥹🥹🥹