Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Alkohol dan Bayang-Bayang White Tea
Mobil SUV hitam itu berhenti di depan sebuah kelab malam eksklusif dengan papan nama neon yang elegan. Dewa (35 thn) melangkah keluar, jas mahalnya tersampir asal di bahu, dan kacamata bacanya sudah lama ia simpan di saku. Penampilannya yang sedikit berantakan justru membuat aura maskulinnya makin berbahaya.
Ia masuk ke dalam, mengabaikan dentuman musik techno yang memekakkan telinga. Di balik bar pribadi, seorang pria dengan gaya santai—Kevin, sahabat Dewa sejak kuliah—langsung menghentikan kegiatannya mengocok shaker.
"Wow, wow, wow! Siapa yang datang nih?" seru Kevin dengan nada mengejek yang kental. "Apa dunia lu kiamat, Dewa? Sampe kaki suci lu ini masuk ke bar gue lagi setelah bertahun-tahun?"
"Berisik," jawab Dewa singkat. Ia menghempaskan tubuhnya ke kursi tinggi di depan meja bar, memijat pelipisnya yang berdenyut.
"Ada apa gerangan, Dewa-ku sayang? Muka lo lebih kaku dari biasanya. Masalah tender? Atau masalah... kontrak 'muka badak' itu?" Kevin terkekeh, ia sangat tahu soal pernikahan kontrak Dewa.
Dewa menatap kosong ke arah botol-botol minuman di depannya. Aroma alkohol di sini sangat kuat, tapi anehnya, hidungnya seolah masih bisa menangkap sisa-asap aroma white tea dari Gisel yang seolah menghantuinya.
"Kasih gua minuman. Yang paling keras," perintah Dewa, suaranya parau dan penuh beban.
"Waduh, gawat nih kalau si Pendekar Dingin udah minta yang keras," Kevin menuangkan cairan amber ke dalam gelas kristal dan menyodorkannya. "Cerita sama gue. Kenapa? Bianca balik lagi, kan? Gue denger dari nyokap lo."
Dewa meneguk minumannya dalam sekali teguk. Rasa panas menjalar di kerongkongannya, tapi hatinya tetap terasa dingin. "Bianca datang, dan gue... gue lepasin tangan Gisel, Vin. Gue biarin dia dihina nyokap gue. Sekarang dia kabur."
Kevin terdiam, ekspresi main-mainnya hilang. "Lo bego, Dewa. Bianca itu cuma fotokopi dari masa lalu lo. Sedangkan Gisel... dia itu nyata. Dia yang jagain anak-anak lo sebulan ini, kan? Lo nggak bisa tuker berlian sama bayangan cuma karena wajahnya mirip."
Dewa mencengkeram gelasnya kuat-kuat sampai buku jarinya memutih. "Gue tahu. Makanya gue ngerasa mau gila sekarang. Rumah itu... rasanya mati tanpa ocehan dia yang nggak sopan itu."
"Kalau gitu, kenapa lo di sini? Kejar dia!" seru Kevin.
"Gue udah ke sana. Tapi dia nggak mau liat muka gue," Dewa menunduk, menatap pantulan wajahnya di atas meja marmer. "Dia bilang dia butuh waktu. Dan gue takut... waktu itu bakal bikin dia sadar kalau dia lebih baik nggak sama gue.
.Adegan di bar ini makin memanas! Kevin benar-benar sahabat yang bisa diandalkan karena dia tahu Bianca hanya akan menjadi "racun" bagi pemulihan hati Dewa.
Kevin baru saja menutup telepon dengan Hadi, asisten pribadi Dewa, memintanya segera datang untuk menjemput bosnya yang sudah mulai meracau menyebut nama "Gisel" dan "White Tea".
Dewa (35 thn) terkulai di meja bar, kemeja putihnya sedikit terbuka di bagian kerah, memperlihatkan bahu lebar-nya yang kokoh namun kini tampak tak berdaya. Aroma alkohol mulai bercampur dengan wangi maskulin tubuhnya yang biasanya kaku.
Tiba-tiba, aroma parfum mawar yang sangat elegan dan familiar menyeruak di antara bau alkohol. Seorang wanita dengan gaun merah mewah dan wajah yang 99% mirip Arumi melangkah mendekat. Bianca.
"Dewa?" Bianca menyentuh bahu Dewa dengan lembut, matanya yang cantik menatap Dewa dengan tatapan penuh perhatian yang dibuat-buat. "Astaga, kamu mabuk berat. Biar aku yang antar kamu pulang, ya?"
Kevin langsung memasang badan, ia berdiri di depan Dewa seolah menjadi perisai. "Wow, santai dulu, Tuan Putri dari Jerman."
Bianca menatap Kevin dengan dingin. "Aku kembarannya Arumi, Kevin. Aku yang paling tahu cara menangani Dewa. Biarkan aku membawanya."
Kevin terkekeh sinis, ia tidak terpengaruh sama sekali oleh wajah Bianca yang mirip mendiang sahabatnya. "Sorry, Bianca. Gue udah telpon asisten pribadinya buat jemput. Jadi Bapak CEO ini bakal pulang dengan aman tanpa 'gangguan' dari masa lalu. Silakan lo lanjutin minum, nikmati waktu lo di bar gue, tapi jauh-jauh dari Dewa."
Bianca mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. "Kamu tidak berhak menghalangiku!"
"Di bar gue, gue berhak atas segalanya," jawab Kevin telak.
Tepat saat itu, Hadi datang dengan terburu-buru. Ia langsung membopong Dewa yang sudah setengah sadar. Dewa sempat bergumam pelan saat melewati Bianca, membuat Bianca tersenyum penuh kemenangan, mengira Dewa memanggil namanya.
Namun, Hadi berbisik pada Kevin yang berdiri di sampingnya, "Dia panggil 'Gisel' lagi, Mas. Padahal matanya merem."
Kevin tertawa puas melihat wajah Bianca yang langsung berubah pucat karena kesal. "Denger itu? Nama yang disebut bukan 'Arumi' apalagi 'Bianca'. Udah, bawa dia pulang, Hadi. Pastikan dia nggak muntah di mobil mahalnya."
🥰❤️