Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.
Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.
Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Matahari baru saja mengintip dari ufuk timur, membiaskan cahaya kuning pucat yang menembus celah-celah genting rumah Agus yang sudah banyak yang bergeser. Agus terbangun dengan rasa sakit yang menjalar dari tengkuk hingga ke pinggang. Ia hanya sempat memejamkan mata selama tiga jam setelah pulang dari klinik dini hari tadi. Di sampingnya, kasur lantai itu terasa lembap. Bau minyak kayu putih masih menyengat di udara, bercampur dengan bau apek dari bantal yang sudah menipis isinya.
Agus menoleh ke arah ruang tengah. Bapak agus sudah dipindahkan kembali ke kursi panjang kayu. Wajahnya tidak lagi sepucat semalam karena bantuan obat uap di klinik, tapi napasnya tetap terdengar berat. Ibu agus sedang duduk di lantai di samping suaminya, tertidur dengan posisi menyandar pada kaki kursi. Sebuah pemandangan yang membuat hati Agus terasa seperti diiris sembilu.
Agus bangkit dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Ia melangkah menuju dapur, mendapati hanya ada sisa air teh tawar dingin di dalam teko. Tidak ada nasi, tidak ada lauk. Uang yang ia miliki semalam sudah ludes untuk membayar klinik dan sebagian lagi ia titipkan pada ibunya untuk membeli bubur Bapak pagi ini.
Ia berjalan menuju kamar mandi di belakang rumah, mengguyur tubuhnya dengan air sumur yang dingin. Rasa dingin itu sejenak memberikan sentakan pada syaraf-syarafnya yang kelelahan. Saat ia mengeringkan badan, ia melihat luka goresan besi di lengannya semalam sudah mengering, meninggalkan bekas merah yang berdenyut pedih.
"Gus..." suara lemah bapak agus memanggil.
Agus segera mengenakan kaos kerjanya yang paling kusam dan menghampiri ayahnya. "Iya, Pak? Ada yang sakit lagi?"
Bapak agus membuka mata perlahan. "Kamu... berangkat kerja?"
"Iya, Pak. Harus berangkat. Hari ini ada kiriman bata ringan di gudang. Kalau Agus tidak masuk, nanti Pak Jono kasih jatahnya ke orang lain," jawab Agus sambil membetulkan letak selimut ayahnya.
"Maafkan Bapak, Gus. Uang lemburmu habis buat Bapak. Harusnya uang itu kamu pakai buat... buat menyenangkan hatimu sendiri," ucap bapak agus dengan suara yang sangat pelan, seolah-olah setiap kata yang keluar membutuhkan energi yang besar.
Agus memaksakan senyum. Ia memegang tangan ayahnya yang kurus. "Uang bisa dicari lagi, Pak. Yang penting Bapak napasnya sudah agak enak. Agus berangkat dulu ya. Ibu masih tidur, jangan dibangunkan dulu, kasihan semalam dia tidak tidur sama sekali."
Agus menghidupkan motor tuanya. Suara knalpot yang memekakkan telinga seolah menjadi pengingat bahwa hari yang berat baru saja dimulai. Di sepanjang jalan menuju gudang, pikirannya tidak tenang. Ia teringat utangnya pada Lukman sebesar lima puluh ribu rupiah. Bagi Agus, utang itu adalah beban moral yang sangat besar. Lukman meminjamkannya dari uang susu anaknya, dan Agus harus segera mengembalikannya, apa pun caranya.
Sesampainya di gudang material, suasana sudah ramai. Truk-truk besar bermuatan bata ringan sudah berbaris rapi. Debu putih dari potongan bata mulai beterbangan di udara, menciptakan suasana yang menyesakkan. Agus segera bergabung dengan kuli lainnya, memikul bata ringan yang berukuran besar itu di atas pundaknya. Meskipun namanya bata ringan, jika dipikul puluhan kali dalam sehari, beban itu tetap saja menghancurkan otot-ototnya.
Di tengah jam kerja, saat truk pertama selesai dibongkar, Agus menyelinap ke pojok gudang. Ia mengeluarkan ponselnya dari tas kain. Ia melihat layar yang retak itu dengan perasaan ragu.
Ada tiga pesan baru dari Nor Rahma.
Nor Rahma (21.30): "Mas Agus? Sudah sampai rumah belum? Kok tidak ada kabar?"
Nor Rahma (23.15): "Mas? Apa ada masalah di jalan?"
Nor Rahma (07.00): "Selamat pagi, Mas Agus. Semoga harimu menyenangkan ya di lapangan. Kabari aku kalau sudah tidak sibuk."
Agus menatap pesan-pesan itu cukup lama. Ada rasa hangat sekaligus perih yang menyatu di dadanya. Rahma mengkhawatirkannya. Rahma menunggunya. Namun, bagaimana ia harus menjelaskan situasinya? Haruskah ia menceritakan bahwa semalam ia menangis di klinik karena tidak punya uang tujuh puluh ribu rupiah? Haruskah ia bilang bahwa ia sedang memikul bata dengan perut kosong?
Agus mulai mengetik, lalu menghapusnya lagi. Ia merasa kata-katanya tidak akan pernah cukup.
Agus: "Selamat pagi, Rahma. Maaf baru balas. Semalam sampai rumah langsung tidur karena sangat capek. Pagi ini sudah mulai kerja lagi di gudang. Maaf ya sudah membuatmu menunggu."
Ia menekan tombol kirim. Ia memilih untuk tetap berbohong tentang kondisinya. Ia merasa menceritakan kesusahannya hanya akan membuat Rahma kasihan, dan Agus tidak ingin dicintai karena rasa kasihan. Ia ingin dicintai karena ia adalah laki-laki yang tangguh.
Namun, hanya dalam hitungan detik, Rahma membalas.
Nor Rahma: "Oh, syukur deh kalau cuma capek. Aku pikir ada apa-apa semalam. Jangan terlalu dipaksakan kerjanya, Mas. Kesehatan itu nomor satu. Oh iya, semalam aku cerita ke Ibu soal pertemuan kita. Ibu titip salam, katanya kapan-kapan main ke rumah."
Ponsel Agus hampir terjatuh dari tangannya. Salam dari ibu Rahma? Undangan untuk main ke rumah? Itu adalah sebuah kemajuan yang sangat besar dalam sebuah hubungan, namun bagi Agus, itu terdengar seperti vonis hukuman mati.
Datang ke rumah Rahma berarti ia harus berhadapan langsung dengan kenyataan kasta sosial mereka. Ia membayangkan dirinya duduk di ruang tamu rumah Rahma yang pasti bersih dan wangi, sementara ia hanya punya satu kemeja yang warnanya sudah pudar. Ia membayangkan ayah Rahma yang sukses bertanya tentang apa pekerjaannya dan apa rencananya untuk masa depan.
"Gus! Jangan bengong saja! Truk kedua sudah masuk!" teriak Pak Jono dari kejauhan.
Agus memasukkan ponselnya kembali ke saku. Ia memanggul lagi tumpukan bata ringan di pundaknya. Langkahnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Di setiap langkahnya, ia menghitung angka-angka di kepalanya.
Harian hari ini: 80 ribu.
Utang Lukman: 50 ribu.
Sisa: 30 ribu.
Beras: 15 ribu.
Telur: 10 ribu.
Sisa bersih: 5 ribu rupiah.
Lima ribu rupiah. Itulah sisa dari keringatnya seharian ini setelah membayar utang dan kebutuhan makan. Bagaimana mungkin dengan sisa lima ribu rupiah ia bisa membangun rencana masa depan yang diminta Rahma? Bagaimana mungkin ia bisa mendatangi rumah Rahma dengan modal lima ribu rupiah di saku?
Agus merasa semesta sedang mempermainkannya. Rahma memberikan pintu yang terbuka lebar, namun pintu itu berada di atas tebing yang sangat tinggi, sementara Agus berada di dasar jurang dengan kaki yang terikat beban ekonomi keluarganya.
Sore harinya, matahari terasa lebih menyengat dari biasanya. Debu bata ringan yang menempel di tubuh Agus bercampur dengan keringat, menciptakan lapisan putih yang gatal di seluruh kulitnya. Pundaknya sudah mulai lecet lagi, mengeluarkan cairan bening yang terasa perih setiap kali bergesekan dengan kaosnya.
Saat ia sedang beristirahat sebentar sambil meminum air dari keran, Pak Jono menghampirinya.
"Gus, Bapakmu bagaimana kondisinya?" tanya Pak Jono sambil menyodorkan sebatang rokok.
Agus menolak rokok itu dengan sopan. "Sudah agak mendingan, Pak. Semalam dibawa ke klinik."
Pak Jono mengangguk. "Syukurlah. Dengar ya, Gus. Kamu itu pekerja paling rajin di sini. Tapi saya lihat akhir-akhir ini pikiranmu seperti bercabang. Jangan sampai hilang fokus, bahaya kalau tertimpa barang berat."
"Iya, Pak. Maaf."
"Oh iya, bulan depan kontrak bongkar muat semen dari perusahaan pusat mau habis. Ada kemungkinan jumlah kuli di sini dikurangi karena alat berat mau masuk. Saya cuma kasih tahu kamu lebih awal supaya kamu bisa mulai cari-cari cadangan tempat lain. Saya ingin pertahankan kamu, tapi manajemen yang tentukan," ucap Pak Jono dengan nada prihatin.
Berita itu seperti petir di siang bolong bagi Agus. Jika pekerjaan ini hilang, maka satu-satunya sumber napas keluarganya akan terputus. Di saat Rahma memintanya untuk keluar dari gudang dan memiliki rencana yang lebih baik, kenyataan justru mengancam untuk menendangnya keluar tanpa persiapan apa pun.
Agus kembali bekerja. Kali ini ia bekerja dengan amarah yang tertahan. Ia memikul bata-bata itu dengan kasar, seolah-olah beban fisik itu bisa mengalihkan beban di pikirannya.
Saat matahari terbenam, Agus menerima upahnya. Ia segera menuju rumah Lukman. Dengan berat hati, ia menyerahkan selembar uang lima puluh ribu rupiah.
"Ini, Man. Terima kasih banyak ya buat semalam. Maaf aku cuma bisa kembalikan segini dulu," ucap Agus.
Lukman menerima uang itu dengan ragu. "Gus, kalau memang kamu masih butuh buat beli obat Bapakmu, bawa saja dulu. Aku masih bisa cari pinjaman lain."
Agus menggeleng kuat. "Jangan, Man. Kamu sudah bantu banyak. Susu anakmu lebih penting. Terima kasih ya."
Agus berjalan pulang dengan sisa uang tiga puluh ribu rupiah di tangannya. Ia berhenti di depan warung, membeli dua kilogram beras dan sebungkus mie instan. Sisa uangnya ia masukkan ke dalam saku, selembar lima ribuan yang sudah sangat lusuh.
Sesampainya di rumah, ia melihat ibunya sedang menyuapi ayahnya bubur sumsum. Bapak agus terlihat sangat lemah, namun ia memberikan isyarat agar Agus mendekat.
"Gus... ada pesan dari Rahma?" tanya ayahnya dengan suara serak.
Agus terdiam sejenak. Ia merogoh sakunya, merasakan uang lima ribu rupiah itu. Ia teringat undangan ibu Rahma.
"Ada, Pak. Dia bilang... dia senang bertemu Agus kemarin," jawab Agus bohong lagi. Ia tidak ingin ayahnya terbebani dengan cerita tentang undangan rumah itu.
"Syukurlah," bisik bapak nya sebelum akhirnya terlelap kembali.
Agus masuk ke dalam kamarnya yang gelap. Ia tidak menyalakan lampu. Ia duduk di tepi kasur, membuka ponselnya, dan menatap foto profil Nor Rahma. Wanita itu tampak begitu bahagia di depan sebuah gedung perkantoran yang megah.
Agus melihat telapak tangannya yang kini penuh dengan bercak putih debu bata ringan dan luka gores yang mulai membiru. Ia menyadari satu hal yang menyakitkan: Cintanya pada Rahma bukan hanya soal perasaan, tapi soal bagaimana ia harus bertarung melawan kemiskinan yang ingin menelannya hidup-hidup setiap hari.
Ia mulai mengetik pesan untuk Rahma.
Agus: "Rahma, sampaikan terima kasih ya buat ibumu. Tapi sepertinya dalam waktu dekat saya belum bisa main ke rumah. Kerja di gudang sedang sangat padat karena ada pengurangan orang bulan depan. Saya harus fokus dulu di sini."
Agus menekan tombol kirim, lalu melempar ponselnya ke ujung kasur. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Di dalam kegelapan itu, Agus merasa harga dirinya perlahan-lahan runtuh, seiring dengan rencana masa depannya yang semakin kabur tertutup debu semen dan bata.