Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Matahari baru saja menyembul tipis di balik awan Malang saat Abraham menghentikan motornya di depan pagar rumah Prita.
Sesuai janjinya, ia datang pagi-pagi buta dengan jaket kargo dan sepatu bot lapangan yang tangguh.
Pramesti menyambutnya di teras dengan wajah yang tampak agak gemas.
"Eh, Ham. Sudah sampai ya?"
"Pagi, Pram. Pritanya sudah siap?" tanya Abraham sambil melepas helm.
Pramesti menghela napas panjang sambil menunjuk ke arah dalam rumah.
"Nah, itu dia masalahnya. Masuklah, Ham. Bangunkan saja sendiri. Aku sudah membangunkannya berkali-kali, tapi dia nggak bangun-bangun. Masih tidur pulas banget kayak kerbau," ucap Pramesti sambil terkekeh pelan.
Abraham sempat ragu sejenak. "Beneran boleh masuk, Pram?"
"Masuk saja, nggak apa-apa. Kamarnya yang di sebelah kiri itu. Biar dia kapok kalau yang bangunin malah kamu," goda Pramesti.
Dengan langkah ragu, Abraham melangkah masuk ke dalam rumah yang masih terasa sejuk itu.
Ia berjalan menuju kamar Prita dan mendapati pintu kamar yang sedikit terbuka.
Di sana, Prita masih meringkuk di balik selimut tebalnya, rambutnya berantakan di atas bantal, dan napasnya terdengar sangat teratur.
Abraham berdiri di ambang pintu, menatap gadis itu dengan senyum kecil.
"Prit..." panggilnya lembut, namun tidak ada reaksi.
Ia mendekat ke pinggir tempat tidur, lalu berdeham sedikit lebih keras.
"Prita, bangun. Katanya mau cari ikan bakar di Kondang Merak?"
Prita hanya melenguh pelan, malah menarik selimutnya lebih tinggi sampai menutupi hidung.
Abraham tertawa tanpa suara. Ternyata sisi manja Prita di pagi hari jauh lebih menggemaskan daripada yang ia bayangkan.
"Prit, kalau nggak bangun, aku tinggal sendirian lho," ancam Abraham bercanda.
Perlahan, mata Prita terbuka sedikit. Ia mengerjap-ngerjap, berusaha menyesuaikan cahaya lampu kamar yang remang.
Begitu pandangannya fokus dan melihat sosok pria tegap berdiri di samping tempat tidurnya, Prita langsung terlonjak duduk dengan mata membelalak.
"Mas Abraham?! Kok sudah di sini?!" serunya panik sambil refleks merapikan rambutnya yang awut-awutan.
Abraham tertawa kecil melihat ekspresi panik Prita yang sibuk menutupi wajah bantalnya.
"Ayo lekas mandi, Prit. Matahari nggak bakal nungguin kita di jalur lingkar selatan," ujar Abraham sambil melipat tangan di dada, bersandar santai di kusen pintu.
Prita hanya bisa mengangguk cepat dengan wajah merona.
Tanpa banyak protes, ia segera menyambar handuknya dan berlari kecil menuju kamar mandi.
Abraham kembali ke ruang tamu, berbincang sejenak dengan Pramesti yang sedang menyiapkan kopi pagi.
Dua puluh menit kemudian, Prita keluar dari kamar.
Ia mengenakan celana jeans dan jaket hoodie berwarna pastel, rambutnya diikat kuda dengan rapi.
Meski sudah wangi sabun, matanya masih tampak sedikit sayu dan sesekali ia menguap kecil.
"Sudah siap?" tanya Abraham sambil berdiri, kunci motor sudah di tangan.
"Sudah, Mas. Tapi kalau aku ketiduran lagi di jalan, jangan dimarahi ya," sahut Prita pelan, suaranya masih terdengar serak khas bangun tidur.
Abraham melangkah menuju pintu depan, lalu menoleh ke arah Pramesti yang berdiri di ambang pintu dapur.
"Pram, aku bawa Prita dulu ya. Nanti sore aku antar pulang dengan selamat," pamit Abraham dengan nada yang lebih formal, menunjukkan rasa tanggung jawabnya.
Pramesti mengangguk mantap sambil melambaikan tangan.
"Iya, Ham. Jaga adikku baik-baik. Jangan sampai dia mabuk laut!"
Prita pun naik ke boncengan motor besar Abraham.
Udara pagi Malang yang masih berkabut menyambut mereka saat motor mulai bergerak meninggalkan perumahan.
Rasa kantuk Prita perlahan terkikis oleh embusan angin segar, berganti dengan debaran jantung yang makin kencang setiap kali motor itu meliuk melewati tikungan menuju arah selatan.
Motor Abraham meluncur membelah aspal yang masih basah oleh embun pagi.
Sebelum benar-benar keluar dari wilayah perkotaan menuju jalur lintas selatan yang sepi, Abraham membelokkan motornya ke sebuah SPBU.
"Isi bensin dulu ya, Prit. Di depan sana pom bensin bakal jarang," ujar Abraham sambil membuka tangki motor besarnya.
Prita turun sejenak untuk meregangkan otot-ototnya yang masih terasa kaku.
Setelah tangki terisi penuh, mereka melanjutkan perjalanan beberapa kilometer hingga menemukan sebuah warung nasi pecel pincuk yang asapnya mengepul menggoda di pinggir jalan.
"Sarapan dulu. Perjalanan ke Kondang Merak itu butuh tenaga ekstra," ajak Abraham.
Prita hanya menurut, perutnya memang sudah mulai keroncongan karena tadi terburu-buru mandi.
Mereka makan dengan tenang di bawah pohon beringin besar yang menaungi warung tersebut.
Sesekali Abraham menggoda Prita yang masih tampak mengantuk, membuat gadis itu akhirnya tertawa kecil.
Sebelum benar-benar memasuki kawasan hutan jati, Abraham berhenti di sebuah minimarket waralaba.
"Tunggu sebentar, aku beli air mineral dan camilan buat di pantai nanti," pamit Abraham.
Prita menunggu di atas motor, memperhatikan punggung lebar Abraham yang menghilang di balik pintu kaca.
Tak lama kemudian, pria itu keluar dengan satu kantong plastik besar.
Saat Abraham menghampirinya, ia menyodorkan lima batang coklat berbagai varian ke hadapan Prita.
"Lho, Mas? Kok banyak banget coklatnya?" Prita terbelalak melihat deretan bungkus coklat yang disodorkan padanya.
"Buat kamu. Biar nggak ngantuk lagi di jalan. Lagian, katanya coklat bisa bikin suasana hati bagus, kan?" sahut Abraham santai sambil memasukkan sisa belanjaan ke dalam tas kargo motornya.
Prita menerima coklat-coklat itu dengan perasaan campur aduk.
Ia tahu harga semua makanan, bensin, dan belanjaan tadi tidaklah murah bagi seorang teknisi, namun Abraham membayarnya tanpa ragu sedikit pun.
"Mas, tadi sarapan, bensin, sekarang coklat, semuanya Mas yang bayar. Nanti gantian aku ya?" bisik Prita merasa tidak enak hati.
Abraham hanya tersenyum tipis sambil memasang helmnya kembali.
"Prit, selama kamu jalan sama aku, itu urusanku. Tugasmu cuma satu: nikmati perjalanannya dan jangan ketiduran lagi sampai jatuh."
Prita terdiam, menggenggam erat lima batang coklat itu di pangkuannya.
Rasa hangat yang menjalar di dadanya kini jauh lebih kuat daripada dinginnya angin pagi Malang Selatan.
Motor besar Abraham melaju stabil, membelah keheningan hutan jati yang rimbun.
Sinar matahari pagi mulai menyusup di antara celah dedaunan, menciptakan garis-garis cahaya yang indah di atas aspal jalanan lintas selatan yang mulus namun berkelok.
Prita sesekali mengeratkan pelukannya pada pinggang Abraham saat motor miring mengikuti tikungan tajam, aroma hutan yang segar bercampur dengan wangi parfum maskulin Abraham yang tertahan di balik jaketnya.
Setelah melewati deretan bukit kapur, aroma payau khas laut mulai tercium.
Suara deburan ombak perlahan mengalahkan deru mesin motor.
Tak lama kemudian, hamparan pasir putih yang luas membentang di depan mata.
"Kita sampai, Prit," ujar Abraham sambil memarkirkan motornya di bawah pohon ketapang yang rindang.
Prita turun dari motor dan langsung terpukau. Pantai Kondang Merak menyambut mereka dengan air yang sangat jernih, menampakkan terumbu karang dan ikan-ikan kecil yang berenang bebas di tepian.
Ombaknya yang relatif tenang karena terhalang gugusan pulau kecil di tengah laut membuat suasana terasa begitu damai.
"Wah, jernih banget, Mas!" seru Prita kegirangan.
Ia segera melepas sandalnya dan berlari kecil membiarkan air laut yang dingin membasuh kakinya.
"Lihat, Mas! Airnya biru banget!"
Abraham berjalan di belakangnya, membawa tas berisi camilan dan lima batang coklat yang tadi ia beli.
Ia memperhatikan Prita yang tertawa lepas, wajah gadis itu tampak bersinar terkena pantulan cahaya matahari pagi.
Tidak ada lagi gurat kelelahan atau kantuk yang tadi menghiasinya.
"Suka?" tanya Abraham pendek, berdiri di samping Prita sambil memandang cakrawala yang luas.
"Suka banget, Mas. Makasih ya sudah diajak ke sini. Ternyata naik motor ke sini nggak seburuk yang aku bayangkan," jawab Prita tulus, menoleh ke arah Abraham dengan senyum manis yang belum pernah ia berikan sebelumnya.
Abraham mengangguk pelan, matanya tetap tertuju pada laut lepas.
"Kadang kita harus berani menembus jalan yang berliku dulu untuk melihat pemandangan seindah ini, Prit. Sama seperti hidup, kan?"
Prita terdiam mendengar kalimat itu. Ia menyadari bahwa perjalanan ini bukan hanya soal mencapai pantai, tapi tentang bagaimana ia mulai merasa nyaman berada di samping pria yang selama ini ia anggap berada di luar dunianya.