Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Bakti Sang Naga
Sinar matahari pagi masuk melalui celah-celah jendela kayu rumah Bapak Suryo. Vanesha Adeline terbangun dengan perasaan aneh. Ini pertama kalinya dia tidak bangun karena alarm ponsel atau suara bising klakson Jakarta, melainkan karena suara kokok ayam jago milik tetangga yang saling bersahutan.
Vanesha keluar dari kamar sambil mengucek matanya. Dia kaget melihat Nirmala Sari sudah rapi dengan seragam sekolahnya, sementara Ibu Siti Khumairoh sudah sibuk di dapur.
"Eh, Mbak V sudah bangun? Maaf ya Mbak, tidurnya pasti nggak nyenyak karena suara ayam," sapa Ibu Siti dengan ramah.
"Eh, nggak apa-apa kok, Bu. Malah segar banget udaranya," jawab Vanesha canggung. Dia kemudian melihat Guntur yang hanya memakai kaos singlet dan celana pendek, sedang sibuk menimba air di sumur belakang rumah.
"Walah, Mbak Mak Lampir sudah bangun! Ayo sini, Mbak, kalau mau mandi harus olahraga dulu. Di sini nggak ada shower otomatis, adanya shower manual pakai tenaga otot!" goda Guntur sambil memamerkan otot lengannya yang kencang saat menarik tali timba.
Vanesha mendekat dengan rasa penasaran. "Guntur, serius aku harus nimba sendiri? Nanti kalau tanganku lecet gimana?"
"Halah, manja banget! Ayo coba sini," tarik Guntur. Vanesha pun mencoba menarik tali timba itu.
BYURRR!
Karena tidak terbiasa, timba itu jatuh terlalu cepat dan mencipratkan air ke seluruh wajah Vanesha. Guntur tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya. "Hahaha! Nah, sekarang Mbak V sudah resmi dibaptis jadi warga Sidoarjo!"
"GUNTURRR! Kurang ajar kamu ya!" teriak Vanesha sambil mengejar Guntur di area sumur. Suasana jadi sangat riuh dengan tawa mereka, membuat Bagas yang sedang membetulkan rantai sepeda ikut cengengesan.
Namun, keceriaan itu tidak bertahan lama. Sebuah mobil sedan hitam mengkilap tiba-tiba berhenti di depan pagar rumah yang kecil itu. Suara klaksonnya terdengar sangat angkuh, membelah ketenangan desa.
Seorang wanita turun dengan kacamata hitam besar dan pakaian yang sangat mencolok. Dia adalah Amanda Felicia, mantan kekasih Guntur yang dulu membuangnya demi pria kaya. Di sampingnya, berdiri Kevin yang wajahnya masih terlihat lebam dan diperban sisa dihajar Guntur di Jakarta kemarin.
"Ya ampun, Guntur... Ternyata kamu benar-benar balik ke selokan asalnya ya? Lihat rumah ini, bau kotoran ayam!" ejek Amanda sambil menutup hidungnya dengan sapu tangan sutra.
Guntur menghentikan tawanya. Wajahnya mendadak dingin. Dia berjalan perlahan menuju pagar, diikuti oleh Vanesha yang masih basah kuyup tapi matanya sudah menatap tajam.
"Amanda... Kevin... Berani sekali kalian menginjakkan kaki di tanah kelahiran bapakku," ucap Guntur dengan suara rendah yang menggetarkan udara sekitar.
Kevin maju selangkah, meskipun badannya masih agak pincang. "Guntur, jangan sok jagoan! Aku ke sini bukan buat berantem. Aku ke sini mau kasih tahu Vanesha kalau dia dicari-cari oleh dewan direksi V-Group. Kamu sudah bawa kabur CEO kami ke kampung kumuh begini!"
Amanda melirik Vanesha dengan pandangan meremehkan. "Kasihan ya, Vanesha Adeline yang hebat sekarang malah main air sumur sama tukang ojek. Kamu nggak tahu ya, Guntur itu cuma sampah yang aku buang? Dan sekarang kamu malah memungutnya?"
Mendengar penghinaan itu, Ibu Siti Khumairoh keluar dari rumah dengan wajah sedih. "Maaf, Mbak... Guntur anak baik, jangan dihina begitu..."
"Diam kamu, Bu Tua! Jangan ikut campur urusan orang kota!" bentak Amanda kasar.
Seketika, suasana menjadi beku. Mata Guntur berkilat merah. Tanpa sadar, hawa panas Ya Qowiyyu Ya Matiin yang sempat luntur kemarin kembali membara di dalam dadanya. Tidak ada yang boleh menghina Ibunya, tidak di depan matanya sendiri.
"Amanda... Kevin..." Guntur mengepalkan tinjunya sampai terdengar bunyi berkeretek. "Kalian sudah melewati batas. Hari ini, aspal Sidoarjo akan merasakan darah kalian!"
Vanesha Adeline maju dan memegang lengan Guntur. "Guntur, jangan kotori tanganmu buat sampah kayak mereka. Biar aku yang urus si mulut sampah ini!
Setelah ketegangan dengan Amanda dan Kevin sedikit mereda karena mereka tidak berani mendekat melihat amarah Guntur, Guntur menarik napas dalam-dalam. Ia masuk ke dalam rumah dan mengambil ransel besarnya yang masih tergeletak di pojok ruang tamu.
"Ibuk, Bapak... sini sebentar. Guntur punya sesuatu buat sampeyan," panggil Guntur dengan nada bicara yang mendadak lembut dan takzim.
Ibu Siti Khumairoh dan Bapak Suryo mendekat dengan bingung. Vanesha Adeline, Bagas, dan Nirmala Sari pun ikut berkumpul melingkar di atas tikar pandan itu. Guntur membuka resleting tasnya, lalu mengeluarkan beberapa tumpukan uang tunai yang masih terikat rapi, hasil dari sisa gajinya menjadi orang kepercayaan Bang Soni dan tabungan ojeknya yang sangat ketat.
"Ini apa, Le? Kok banyak sekali uangnya?" tanya Ibu Siti dengan tangan gemetar.
"Ibuk... Bapak... ini hasil keringat Guntur selama di Jakarta. Guntur nggak mau lihat Ibuk harus jualan keliling lagi kepanasan. Guntur sudah belikan ruko kecil di pinggir jalan raya Gedangan atas nama Ibuk," ucap Guntur sambil menyerahkan sebuah kunci dan surat perjanjian sewa ruko jangka panjang.
Ibu Siti langsung menutup mulutnya, air matanya tumpah seketika. "Guntur... Ibuk nggak minta apa-apa, Nak. Yang penting kamu sehat dan selamat saja Ibuk sudah senang."
"Nggak, Buk. Guntur ingin Ibuk punya warung makan sendiri. Ibuk bisa jualan sambal teri dan penyetan yang paling enak se-Sidoarjo. Namanya sudah Guntur siapkan: 'Warung Sambal Mak Siti'," lanjut Guntur sambil tersenyum lebar. Bagas dan Nirmala Sari langsung bersorak kegirangan sambil memeluk kakaknya.
Bapak Suryo menepuk pundak Guntur dengan bangga. "Terima kasih, Le. Kamu benar-benar anak yang berbakti. Tapi apa uang ini cukup buat modalnya juga?"
Guntur melirik ke arah Vanesha Adeline yang sedari tadi memperhatikan dengan mata berkaca-kaca. Vanesha tiba-tiba maju dan meletakkan sebuah kartu ATM di atas meja.
"Pak, Bu... kalau untuk modal peralatan dapur, renovasi ruko, dan bahan baku bulan pertama, biar saya yang tanggung. Ini kado kecil dari saya karena sudah diizinkan menginap dan makan enak di sini," ucap Vanesha dengan tulus.
Guntur melongo, kembali ke mode sengkleknya. "Walah, Mbak V! Sampeyan kesurupan apa? Tadi katanya pelit, sekarang malah mau borong peralatan dapur?"
Vanesha melotot galak tapi bibirnya tersenyum. "Diam kamu, Guntur! Aku nggak mau lihat Ibu Siti capek. Lagian, aku mau jadi investor utama di warung ini. Nanti kalau aku kangen masakan Ibu, aku tinggal terbang ke sini!"
Suasana haru biru itu membuat rumah sederhana tersebut dipenuhi aura kebahagiaan. Guntur merasa sangat lega; meskipun di Jakarta dia harus bertaruh nyawa, tapi melihat senyum Ibu Siti Khumairoh saat memegang kunci warungnya sendiri adalah kemenangan terbesar yang pernah ia raih.
"Nah, besok kita langsung belanja peralatan ke pasar ya! Bagas, kamu jangan cuma makan, bantu angkut-angkut barang!" perintah Guntur yang disambut hormat lucu oleh Bagas.
Malam itu, rencana besar mulai disusun. Guntur Hidayat membuktikan bahwa meskipun kekuatannya luntur di depan wanita kaya, kekuatannya akan menjadi berlipat ganda saat digunakan untuk membahagiakan keluarganya sendiri.