NovelToon NovelToon
Rahim Bayaran Mafia Kaya

Rahim Bayaran Mafia Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: I'ts Roomie

Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang sekarat, Aluna terpaksa menerima tawaran yang tak masuk akal yaitu menjadi rahim bayaran bagi seorang pria yang dikenal sebagai mafia paling kejam dan tak tersentuh.

Pria itu, Arka Mahendra, bukan hanya dingin dan berbahaya, tapi juga menyimpan rahasia kelam di balik keinginannya memiliki seorang anak. Tidak ada cinta dalam perjanjian mereka. Hanya kontrak, batasan, dan harga yang harus dibayar.

Namun semuanya berubah ketika kehidupan Aluna perlahan terjerat dalam dunia gelap Arka. Ancaman datang dari musuh-musuh yang mengintai, sementara perasaan yang seharusnya tidak pernah ada mulai tumbuh di antara mereka.

Di tengah bahaya, pengkhianatan, dan rahasia masa lalu yang terkuak, Aluna dihadapkan pada pilihan yang menghancurkan, tetap menjadi “rahim bayaran”… atau mempertaruhkan segalanya untuk cint

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Hari itu juga semua proses administrasi berjalan dengan sangat cepat dan efisien. Arka langsung mengirimkan tim khususnya untuk mengurus semua keperluan rumah sakit ibu Aluna tanpa membiarkan Aluna pusing memikirkannya.

Aluna melihat sendiri bagaimana semua orang di rumah sakit tampak takut dan sangat hormat pada pria itu. Bahkan direktur rumah sakit pun berbicara dengan nada terbata bata saat berhadapan langsung dengan Arka.

Sebelum pergi meninggalkan rumah sakit, Aluna sempat mencium kening ibunya untuk terakhir kalinya sebelum masuk masa isolasi yang panjang.

Ia berjanji dalam hati akan melakukan semua ini dengan ikhlas dan kuat demi wanita yang telah melahirkannya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang selama ini.

Mobil mewah yang membawa Aluna, berhenti di depan sebuah rumah besar yang sangat megah dan tertutup rapat. Rumah itu terletak di kawasan elit yang jauh dari keramaian dan hiruk pikuk kota.

Suasana di sana terasa sangat sunyi dan dingin seolah tidak ada kehidupan sama sekali di dalam bangunan mewah itu.

"Ini akan menjadi tempat tinggal Non Aluna selama sembilan bulan ke depan. Tuan Arka sudah menunggu di dalam ruang tengah untuk menyambut, Non," ucap sopir yang mengantarnya sambil membukakan pintu mobil dengan sopan.

Aluna melangkah masuk dengan perasaan campur aduk antara ketakutan dan rasa penasaran yang besar.

Rumah itu sangat indah dan mewah dengan perabotan antik yang bernilai tinggi, tetapi terasa sangat hampa dan tanpa jiwa.

Tidak ada suara tawa atau keributan, hanya keheningan yang mencekam dan membuat bulu kuduk merinding.

Arka sudah berdiri di sana menunggunya dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Ia tampak lebih santai dengan mengenakan kemeja hitam yang lengan bajunya digulung hingga siku, memperlihatkan urat urat tangannya yang kekar.

Namun, tatapan matanya tetap saja tajam dan membuat orang lain merasa kecil serta takut seolah sedang dinilai oleh seekor singa lapar.

"Kamar kamu ada di lantai atas sebelah kanan ujung koridor. Kamu akan tinggal terpisah dariku agar tidak ada gangguan, dan batasan antara kita tetap terjaga dengan baik," ucap Arka menunjuk ke arah tangga mewah di sudut ruangan.

Aluna mengangguk patuh sambil memeluk tas kecil berisi barang bawaan yang sangat sedikit itu.

"Baik Tuan. Saya mengerti dan akan mematuhinya."

"Pembantu akan mengatur semua kebutuhanmu mulai dari pakaian hingga makanan sehari hari. Ingat, aturan utamamu hanya satu. Jangan pernah mencoba lari atau mencari tahu urusanku yang tidak perlu dan bukan ranahmu," lanjut Arka lagi dengan nada datar dan tegas.

"Mulai besok pagi kamu akan mulai menjalani serangkaian pemeriksaan medis menyeluruh untuk persiapan. Prosesnya mungkin tidak nyaman dan sedikit menyakitkan, tapi kamu harus kuat dan sabar. Ingat selalu tujuan utama kamu ada di tempat ini," tambah Arka tanpa memberi jeda untuk bernapas.

Malam pertama di rumah asing itu terasa sangat panjang dan sepi. Aluna berbaring di atas kasur yang empuk dan lembut, namun ia tidak bisa memejamkan mata sama sekali.

Ia memikirkan ibunya yang sedang terbaring sendirian dan juga nasibnya yang kini sepenuhnya bergantung pada pria dingin dan berbahaya itu.

Ia sadar betul bahwa hidupnya mulai sekarang tidak akan pernah sama lagi. Ia berada tepat di sarang singa dan harus berhati hati setiap detiknya agar tidak dimangsa hidup hidup oleh pemilik rumah yang sangat berkuasa itu.

Keesokan paginya, Aluna dibangunkan oleh suara ketukan pintu yang halus dan sopan. Seorang wanita paruh baya yang mengenakan kebaya sederhana masuk membawa nampan berisi sarapan bergizi lengkap. Wanita itu bernama Bude Min yang sudah bertahun tahun bekerja setia untuk keluarga Arka.

"Selamat pagi, Non Aluna. Silakan makan dulu selagi hangat. Tuan Arka titip pesan agar Non harus makan yang banyak dan teratur demi kesehatan tubuh dan calon bayi nanti," ucap Bude Min dengan senyum ramah dan tetap menjaga jarak profesional.

Aluna duduk dan mulai menyantap makanan itu dengan lahap. Rasanya enak dan lezat, tapi ia menelan dengan susah payah karena pikirannya masih kacau dan tidak tenang.

Ia terus bertanya tanya dalam hati, apakah keputusan yang diambilnya kemarin benar atau justru menjerumuskan dirinya ke dalam neraka duniawi.

.........

Siang harinya, datanglah tim dokter pribadi milik Arka yang terdiri dari orang orang ahli di bidangnya. Mereka membawa peralatan medis yang canggih dan modern.

Mereka melakukan berbagai tes dan pemeriksaan menyeluruh pada tubuh Aluna, mulai dari sampel darah hingga kondisi rahim secara detail.

Prosesnya terasa sangat intim dan memalukan bagi Aluna, namun ia harus menerimanya dengan lapang dada sebagai bagian dari perjanjian yang sudah ia tanda tangani.

Dokter kepala mengatakan bahwa tubuh Aluna sangat sehat dan memiliki kondisi yang sangat ideal untuk proses implantasi embrio yang direncanakan.

Genetik gadis itu dianggap sangat murni dan bersih sehingga sangat cocok untuk menyangga benih dari keturunan Mahendra yang sangat istimewa.

Arka yang mendengarkan laporan itu dari jauh di balik pintu hanya mengangguk singkat tanpa menunjukkan ekspresi apa apa.

Meski, di dalam hatinya terselip rasa puas bahwa pilihan yang ia ambil tidak salah dan sangat tepat sasaran.

Hari hari berikutnya Aluna mulai terbiasa dengan rutinitas yang kaku dan membosankan. Ia hanya boleh bergerak di area tertentu saja yang sudah diizinkan oleh pihak keamanan.

Buku buku atau majalah yang boleh dibacanya pun sudah diseleksi ketat agar tidak mempengaruhi kondisi mental dan emosinya selama masa kehamilan nanti.

Arka jarang sekali muncul kecuali pada jam makan malam yang diadakan tepat pukul tujuh setiap harinya.

Mereka duduk bersebelahan di meja makan yang sangat panjang namun jarang berbicara lebih dari dua tiga kata. Suasana meja makan selalu dipenuhi keheningan yang canggung dan menegangkan.

Suatu sore Aluna memberanikan diri bertanya saat mereka sedang duduk berdua di teras belakang menikmati semilir angin sore.

"Tuan Arka..." panggil Aluna pelan dengan suara yang hampir tak terdengar.

"Apa?" jawab Arka singkat tanpa menolehkan wajahnya yang sedang menatap pemandangan taman yang tertata sangat rapi.

"Kenapa Tuan sangat ingin punya anak? Apa Tuan tidak punya istri atau kekasih yang bisa melahirkan untuk Tuan secara wajar dan normal?" tanya Aluna berani meski jantungnya berdegup kencang takut akan memancing kemarahan pria itu.

Pertanyaan itu membuat Arka terdiam cukup lama. Pria itu menatap jauh ke arah horizon matahari yang mulai terbenam perlahan. Wajahnya tampak menyimpan banyak beban dan kesedihan mendalam yang jarang terlihat oleh orang lain.

"Aku tidak bisa punya keluarga dengan cara biasa seperti orang orang pada umumnya Aluna," jawab Arka akhirnya dengan suara yang berat dan parau.

"Dunia tempatku hidup ini tidak mengenal cinta atau kasih sayang. Yang ada di sana hanyalah kekuasaan dan kekuatan belaka untuk bertahan hidup."

"Aku butuh ahli waris untuk meneruskan garis keturunanku dan menjaga kekuasaanku nanti setelah aku tiada. Tanpa adanya anak, maka kekayaanku dan pengaruhku pasti akan dihabisi atau direbut oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab," lanjut Arka lagi dengan mata yang tajam menyiratkan ambisi yang sangat besar.

"Jadi anak itu hanya akan menjadi alat kekuasaan bagi Tuan?" Aluna merasa sedih dan pilu membayangkan nasib bayi yang akan dikandungnya nanti kelak.

"Anak itu akan mendapatkan segalanya. Harta, kemewahan dan kekuasaan tertinggi di negeri ini," Arka menoleh menatap wajah Aluna dalam dalam.

"Tapi dia tidak akan pernah tahu apa itu rasa hangatnya sebuah keluarga yang utuh dan bahagia. Sama seperti apa yang aku rasakan sejak kecil."

Aluna terdiam mendengar pengakuan jujur itu. Ia mulai mengerti bahwa di balik sikap dingin dan kejamnya Arka, sebenarnya ia adalah pria yang sangat kesepian dan terluka oleh masa lalunya.

Rasa takutnya perlahan berganti menjadi rasa iba dan keinginan untuk mengerti isi hati pria itu lebih dalam lagi.

1
Xiao Juan
ni orang tua mulutnya pen gua tampar, nyolot bet anying, manaa ada dimana-mana lagii, ikut campur bangett
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!