NovelToon NovelToon
Kaisar Pedang Penelan Surga

Kaisar Pedang Penelan Surga

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Balas Dendam
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Sekte Langit Biru, Xiao Fan hanyalah murid sampah yang terdampar di Alam Kondensasi Qi lapis pertama. Dicemooh, dihina, dan nyaris diusir ke dapur luar—ia dianggap sebagai aib terbesar sekte. Namun, tak seorang pun tahu bahwa di balik tubuh lemahnya, tersimpan jiwa Kaisar Pedang yang pernah mengguncang sembilan langit. Selama tiga tahun, pedang kuno bernama Penelan Surga menggerogoti seluruh kultivasinya. Kini, pedang itu telah terbangun. Dengan teknik terlarang yang membalikkan hukum Surga dan Bumi, Xiao Fan memulai jalan sunyinya sebagai Kaisar Pedang Iblis. Misi pertamanya: menghancurkan sekte yang merendahkannya... hanya dalam seratus hari. Namun bagi Xiao Fan, tiga hari sudah lebih dari cukup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Pengamat dari Kegelapan

Fajar menyingsing di ufuk timur, mewarnai langit dengan semburat jingga dan ungu.

Xiao Fan membuka mata. Ia tidak tidur sepanjang malam, hanya bermeditasi sambil mempertahankan penghalang Qi Kematian tipis di sekeliling perkemahan. Entitas yang mengawasi dari kejauhan tidak pernah mendekat, tapi juga tidak pergi. Ia hanya diam di sana, mengamati.

Para pedagang mulai bangun. Lao Wang sudah sibuk menyalakan api untuk memasak sarapan. Dua pria yang dicurigai Liu Ruyan semalam—penjaga bayaran—kini terlihat lebih santai, membantu membereskan tenda.

Liu Ruyan menggeliat dan membuka mata. "Guru. Kau tidak tidur?"

"Cukup." Xiao Fan berdiri, meregangkan tubuh. "Kita lanjutkan perjalanan setelah sarapan."

Mereka makan bubur hangat bersama rombongan. Lao Wang bercerita tentang desa-desa di selatan, tentang Pegunungan Tulang Putih yang katanya angker, dihuni monster dan hantu. Para pedagang jarang melewati sana.

"Kalian mau ke Pegunungan Tulang Putih?" tanya Lao Wang dengan mata membelalak. "Gila. Tempat itu terkutuk. Banyak yang pergi, sedikit yang kembali."

"Kami hanya lewat pinggirannya," bohong Xiao Fan.

Lao Wang menggeleng. "Hati-hati, anak muda. Ada sesuatu yang tidak beres dengan gunung itu. Bahkan binatang pun menghindarinya."

Setelah berpamitan, Xiao Fan dan Liu Ruyan melanjutkan perjalanan. Jalan semakin menanjak, pepohonan semakin rapat. Sekitar satu jam berjalan, Xiao Fan tiba-tiba berhenti.

"Dia masih mengikuti."

Liu Ruyan menoleh. "Siapa?"

"Entitas yang mengawasi perkemahan semalam. Dia tidak menyerang, hanya mengikuti." Xiao Fan berbalik, menatap ke belakang. "Aku akan menyelesaikan ini. Tunggu di sini."

Ia menghilang ke dalam semak-semak.

Beberapa saat kemudian, ia muncul di cabang pohon tinggi, menatap ke bawah. Di sana, bersembunyi di balik batu besar, sesosok makhluk kecil berbulu abu-abu sedang mengintip ke arah jalan. Matanya besar dan bulat, telinganya panjang dan runcing. Bukan manusia. Monster Kera Hutan—makhlus cerdas tingkat rendah yang biasanya hidup berkelompok.

Xiao Fang melompat turun, mendarat tepat di depan makhluk itu. Kera itu menjerit kaget, mundur beberapa langkah, tapi tidak lari. Ia malah menatap Xiao Fan dengan mata penuh rasa ingin tahu, bukan permusuhan.

"Kenapa kau mengikuti kami?" tanya Xiao Fan.

Kera itu mengeluarkan suara berdecit, lalu menunjuk ke arah Liu Ruyan di kejauhan. Ia memukul-mukul dadanya pelan, lalu membungkuk—sebuah gestur yang aneh. Seperti... penghormatan.

Xiao Fan mengernyit. Sistem di kepalanya bersuara.

[Analisis: Kera Hutan ini memiliki kepekaan terhadap garis keturunan kuno. Ia mendeteksi darah Raja Kegelapan dalam diri Liu Ruyan dan menganggapnya sebagai sosok yang patut dihormati.]

"Kau menghormatinya?" tanya Xiao Fan.

Kera itu mengangguk cepat. Ia lalu menunjuk ke selatan, ke arah Pegunungan Tulang Putih, dan mengeluarkan suara peringatan—decitan panjang yang terdengar cemas. Ia membuat gerakan seperti sesuatu yang besar dan menakutkan.

"Ada bahaya di sana?"

Anggukan lagi.

Xiao Fan merenung. "Kau ingin memperingatkan kami?"

Kera itu mengangguk sekali lagi. Lalu ia merogoh bulu di lehernya dan mengeluarkan sesuatu—sebuah batu kecil berwarna hitam pekat yang berkilau aneh di bawah sinar matahari. Ia menyerahkannya pada Xiao Fan dengan kedua tangan, seperti memberikan hadiah.

[Mendeteksi artefak: Batu Penuntun Kegelapan.]

[Fungsi: Dapat mendeteksi energi Raja Kegelapan dalam radius 50 kilometer.]

Xiao Fan menerima batu itu. "Terima kasih."

Kera itu membungkuk lagi, lalu melompat ke pepohonan dan menghilang.

Xiao Fan kembali ke Liu Ruyan yang menunggu dengan wajah cemas. "Apa yang terjadi, Guru?"

"Seorang... pengagummu." Xiao Fan menunjukkan batu hitam itu. "Kera Hutan. Ia menghormatimu karena darah Raja Kegelapan di nadimu. Ia memperingatkan tentang bahaya di Pegunungan Tulang Putih."

Liu Ruyan menatap batu itu dengan takjub. "Aku... dihormati oleh monster?"

"Kau Putri Kegelapan. Dunia bawah tanah adalah wilayahmu. Wajar jika makhluk-makhluk tertentu mengenalimu." Xiao Fan memasukkan batu itu ke sakunya. "Ini akan berguna."

Mereka melanjutkan perjalanan. Hutan semakin lebat, sinar matahari semakin sulit menembus kanopi. Suara burung dan serangga perlahan menghilang, digantikan keheningan yang tidak wajar.

Menjelang sore, mereka tiba di kaki Pegunungan Tulang Putih.

Pegunungan itu sesuai namanya. Bebatuan kapur putih menjulang tinggi, kontras dengan hutan hijau di sekitarnya. Dari kejauhan, puncak-puncaknya terlihat seperti tulang belulang raksasa yang mencuat dari bumi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Tidak ada burung. Tidak ada angin. Hanya keheningan dan udara dingin yang menusuk tulang.

Liu Ruyan menggigil. "Tempat ini... terasa salah."

Xiao Fan mengangguk. Ia merasakannya juga. Qi Kematian di udara sangat pekat di sini. Bukan Qi Kematian alami seperti di Puncak Pelana Kayu, tapi sesuatu yang lebih busuk. Lebih kuno. Seperti sisa-sisa pertempuran besar yang tidak pernah benar-benar selesai.

[Lokasi terdeteksi: Pegunungan Tulang Putih.]

[Fragmen kedua Pedang Penelan Surga berada di dalam gua di puncak tertinggi.]

[Peringatan: Gua dijaga oleh "Penjaga Tulang"—monster undead tingkat tinggi.]

Xiao Fan menatap puncak tertinggi. Di sana, di balik kabut tipis, ia melihat mulut gua hitam yang menganga seperti tengkorak raksasa.

"Kita akan mendaki," katanya. "Tapi malam ini kita beristirahat di kaki gunung. Besok pagi kita masuk."

Mereka menemukan cerukan batu yang cukup untuk berteduh. Liu Ruyan duduk dan mulai bermeditasi, menyerap Qi Kematian yang melimpah di sekitar. Xiao Fan berdiri di mulut cerukan, menatap puncak.

Dua hari lagi Xue Lang akan tiba di Kota Giok. Begitu ia tahu mereka pergi, ia akan menyusul. Waktu semakin sempit.

Tapi malam ini, di bawah bayangan Pegunungan Tulang Putih, Xiao Fan merasakan sesuatu yang lain. Bukan hanya fragmen pedang yang menunggu di puncak. Tapi juga... jawaban. Tentang masa lalu. Tentang hubungan antara Kaisar Pedang dan Putri Kegelapan. Tentang mengapa nasib mereka terjalin erat melintasi ribuan tahun.

[Misi sampingan diperbarui: Temukan kebenaran tentang hubungan Kaisar Pedang dan Putri Kegelapan di Pegunungan Tulang Putih.]

Xiao Fan mengepalkan tangan. Besok, ia akan menemukan jawabannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!