Dunia di mata Shen Yu terbagi menjadi dua: realitas yang membosankan dan dunia fiksi yang ia cintai. Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, sebagian besar waktunya dihabiskan dengan hidung menempel pada halaman buku atau layar ponsel.
Ia bukan sekadar membaca—ia hidup di dalamnya.
Setiap kali menyelesaikan sebuah bab, imajinasinya tidak pernah berhenti berpikir. Ia sering membayangkan betapa indahnya jika bisa melangkah melewati batas kertas, menjadi tokoh utama yang mengalami petualangan epik, romansa yang mendebarkan, atau bahkan nasib tragis yang penuh drama.
Apa pun juga bentuknya, asalkan lebih berwarna daripada hidupnya yang datar ini.
"Ah, andai saja aku benar-benar bisa masuk ke dalam cerita..." gumamnya pelan sambil menyimpan novel yang baru saja selesai dibaca ke dalam tas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Bukan untuk dimintai tebusan, melainkan untuk dibuang begitu saja.
Orang-orang itu membawanya jauh—sangat jauh, hingga masuk ke dalam hutan belantara yang lebat. Mereka memukulinya, melukainya, lalu membiarkannya mati di sana dengan harapan bahwa "aib keluarga" ini tidak akan pernah kembali ke ibu kota.
"Ugh...!"
Shen Yu menghempaskan tubuhnya ke tanah, napasnya terengah-engah dan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Rasa sakit itu perlahan mereda, meninggalkan rasa ngilu yang menyelimuti setiap urat sarafnya.
Ia berbaring diam menatap langit yang mulai mendung, mencoba mengatur napas. Matanya melebar lebar saat memproses semua informasi yang baru saja masuk ke benaknya.
Qin Yu...
Putra saudagar kaya yang dianggap bodoh...
Dibenci keluarga... Diculik... Dibuang ke hutan...
Shen Yu menelan ludah dengan susah payah.
"Jadi... pemilik tubuh ini bukan orang sembarangan..." gumamnya pelan, suaranya bergetar. "Tapi nasibnya... jauh lebih menyedihkan daripada yang kubayangkan."
Ternyata, ia tidak hanya terlempar ke zaman kuno dan tinggal di gubuk reyot. Ia kini menempati tubuh seorang anak yang dikhianati, dihinakan, dan dibuang seperti sampah oleh keluarganya sendiri.
Dan yang lebih membuat Shen Yu merinding—anak ini bertahan hidup sendirian di tempat terpencil ini selama dua tahun penuh.
"Ternyata... hidup di dalam novel tidak semulus yang aku kira," batin Shen Yu tertawa getir. "Ini bukan cerita tentang bangsawan yang hidup mewah. Ini adalah cerita tentang bertahan hidup di dasar neraka."
Matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah-celah dinding kayu yang bocor, menyinari debu yang beterbangan di udara. Shen Yu perlahan membuka matanya, merasakan seluruh otot tubuhnya terasa pegal dan linu akibat berguling-guling di tanah keras kemarin sore.
Ia duduk perlahan, menyentuh pelipisnya yang masih terasa sedikit berdenyut. Ingatan baru itu kini sudah menyatu dengan baik di kepalanya—tidak lagi menyakitkan, namun meninggalkan rasa getir yang sulit dijelaskan.
Shen Yu menunduk melihat pakaiannya yang lusuh, penuh debu dan noda tanah. Bau apek dan keringat mulai menusuk hidungnya.
"Ah, benar juga... tubuh ini kotor sekali," gumamnya sambil mengibaskan debu di lengan bajunya. "Harus mandi dulu, kalau tidak bisa sakit nanti."
Ia berniat mencari air. Berdasarkan ingatan yang baru saja ia terima, tidak jauh dari sini seharusnya ada sumber air.
Sambil berjalan tertatih-tatih, Shen Yu mulai menyusun potongan-potongan kisah hidup pemilik tubuh ini—Qin Yu.
Ternyata, saat anak itu terluka dan terbuang tak berdaya di hutan dulu, ia tidak mati. Ia ditemukan oleh seorang kakek tua yang hidup menyendiri—seorang tunawisma yang baik hati.
Kakek itulah yang membawanya ke tempat ini: sebuah perkampungan terpencil yang sudah lama ditinggalkan penghuninya, sering disebut sebagai "Desa Mati".
Di sini, di bawah asuhan kakek itu, Qin Yu mulai belajar bertahan hidup. Mereka hidup sederhana, jauh dari kebohongan dan kebencian ibu kota.
Namun, takdir berkata lain. Sekitar tiga bulan setelah menemukannya, sang kakek meninggal dunia karena sakit tua. Sejak saat itu, Qin Yu benar-benar hidup sendirian. Setiap hari ia pergi ke hutan untuk mencari buah liar, akar-akaran, atau menangkap ikan kecil demi mengisi perutnya yang lapar.
Shen Yu menghela napas panjang.
"Anak ini... sebenarnya tidak bodoh sama sekali," batinnya berbisik pelan. "Pikirannya normal, bahkan sangat dewasa untuk anak berusia lima belas tahun. Hanya saja, luka batin karena kehilangan ibunya dan perlakuan keluarganya membuatnya depresi dan memilih menutup diri dari dunia."
Yang paling membuat Shen Yu tertekan adalah satu fakta lain yang tertanam kuat di ingatan Qin Yu.
Meskipun memiliki kesempatan dan tahu jalan pulang, anak ini sama sekali tidak memiliki keinginan untuk kembali ke ibu kota. Tidak ada sedikit pun niat untuk menemui keluarga Qin lagi.
Bagi Qin Yu, tempat itu bukan rumah—melainkan neraka. Di sana tidak ada kasih sayang, hanya ada penghinaan dan duri. Ia lebih memilih hidup menderita dan kesepian di sini daripada harus kembali merasakan kejamnya keluarga itu.
"Dasar... sungguh kejam," desis Shen Yu, kali ini merasakan emosi yang bercampur antara kesal dan iba.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau kembali, maka aku juga tidak akan kembali. Selama aku menempati tubuh ini, kita akan hidup untuk diri kita sendiri saja."
Shen Yu terus berjalan, menyusuri jalan setapak yang sudah ditumbuhi rumput liar. Setelah berkeliling cukup lama dan menembus semak-semak yang menjalar, akhirnya ia menemukan apa yang dicarinya.
Di depannya terbentang sebuah sungai kecil dengan air yang jernih dan tenang. Arusnya tidak deras, permukaannya memantulkan cahaya matahari, dan terlihat sangat sejuk.
"Akhirnya ketemu juga..."
Shen Yu tersenyum tipis. Air yang bersih ini mungkin menjadi satu-satunya kemewahan yang ia miliki di tempat terpencil ini.
Ia berjalan mendekati tepi sungai. Airnya begitu jernih hingga bisa melihat kerikil kecil di dasar sungai dan ikan-ikan kecil yang berenang lalu lalang. Suasana di sini jauh lebih sejuk dibandingkan di dalam gubuk yang pengap.
"Ah, rasanya nikmat sekali bisa mandi air dingin," gumamnya.
Tanpa pikir panjang—karena merasa tidak ada orang lain di tempat terpencil ini—Shen Yu mulai melepaskan pakaiannya yang lusuh, berbau, dan penuh debu. Satu per satu kancing dibuka, kain kotor itu dilipat sembarangan dan diletakkan di atas batu besar.
Kini, ia hanya menyisakan pakaian dalam yang juga tidak kalah kumalnya. Tubuhnya yang kurus dan pucat terpapar udara pagi yang segar.
Dinginnya angin sungai menyapu kulitnya, memberikan sensasi yang aneh namun menyegarkan bagi tubuh yang sudah lama tidak bersentuhan dengan air bersih.
Shen Yu melangkah masuk ke dalam air setinggi betis. Airnya dingin, sangat menyegarkan. Ia sudah siap menyiramkan air ke seluruh tubuh, berharap bisa membersihkan semua kotoran dan rasa lelah yang menumpuk sejak ia sadar di dunia ini.
Namun...
"AGH!!"
Tiba-tiba, rasa panas luar biasa dan menyengat meledak begitu saja di dalam perutnya.
Bukan rasa sakit biasa, melainkan rasa panas membara seperti menelan bara api, yang dengan cepat merambat naik melalui kerongkongannya menuju jantung dan kepala!
"S-sakit...!"
Shen Yu tersentak hebat. Wajahnya yang tadi sedikit berwarna kini berubah menjadi pucat pasi—bahkan lebih putih daripada kertas. Napasnya tersendat mendadak, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencengkeram lehernya dengan kuat, merenggut seluruh oksigen dari paru-parunya.
Matanya terbelalak, ia mencoba memegang dadanya dan mencari tahu apa yang terjadi, tapi tubuhnya tidak mau menurut. Kakinya yang tadi berdiri kokoh di dasar sungai kini lemas tak berdaya.
Belum sempat ia memproses apa yang sebenarnya terjadi, belum sempat ia berteriak atau bahkan memikirkan cara menyelamatkan diri, pandangannya mulai gelap.
Cahaya matahari yang tadi terang benderang perlahan memudar, berganti menjadi kegelapan total.
Tubuhnya yang kurus itu oleng, dan dengan suara pluak! yang basah, ia jatuh terduduk lalu terbaring terlentang di sungai yang dangkal itu.
Air dingin membasahi seluruh tubuhnya, tapi kesadarannya sudah tidak lagi ada di sana.
Kesadaran Shen Yu kembali datang perlahan. Rasa panas yang menyiksa tadi sudah lenyap, digantikan oleh suasana yang anehnya tenang dan terang.
Ia membuka matanya dengan berat. Namun, apa yang dilihatnya membuatnya sontak terbangun seketika dan duduk tegak.
"Eh?!"
Ia tidak lagi berbaring di sungai yang dingin dan jernih. Ia tidak berada di bawah terik matahari atau di dalam gubuk reyot itu.
Di hadapannya kini terbentang sebuah bangunan yang sangat besar, megah, dan modern. Kaca-kaca reflektif, tulisan besar di atas pintu masuk, dan tata letak bangunannya—semua itu sangat familiar.
Jantung Shen Yu berdebar kencang, bukan karena sakit, melainkan karena keterkejutan luar biasa.
"Ini... ini bukan mimpi kan?" bisiknya dengan suara bergetar.
Ia mengucek matanya berkali-kali, memastikan bahwa penglihatannya tidak salah. Tapi tidak peduli berapa kali ia melihatnya, bangunan itu tetap sama.
Ini adalah supermarket!
Persis seperti supermarket tempat ia biasa berbelanja di dunia sebelumnya—bahkan tampak sama persis dengan lokasi di mana ia tewas tertimbun reruntuhan!
Shen Yu menelan ludah. Otaknya yang terbiasa membaca ribuan novel mulai bekerja dengan cepat, menyambungkan titik-titik yang ada.
Rasa panas di perut tadi... pingsan mendadak... dan sekarang muncul bangunan ini di hadapannya...
"Tidak mungkin... jangan-jangan..." Napasnya tercekat, matanya membelalak lebar memandangi bangunan raksasa itu.
"Apakah ini... Ruang Ajaib?!"
Hal yang selama ini hanya ia baca di novel-novel fantasi! Ruang tersembunyi yang hanya bisa dilihat dan dimasuki oleh pemiliknya, yang berisi persediaan tak terbatas atau bahkan bangunan utuh dari dunia lain!
"Jadi... supermarket tempat aku mati itu... ikut terbawa bersamaku?!"
Shen Yu merasa dunia seakan berputar. Jika ini benar-benar Ruang Ajaib, maka nasibnya tidak seburuk yang ia kira! Di tengah kehidupan yang menderita di Desa Mati ini, ia memiliki sebuah gudang harta karun!
Dengan tangan gemetar dan jantung yang berdebar penuh harapan, ia perlahan melangkah maju mendekati pintu kaca besar itu, ingin membuktikan dugaan gilanya ini.