Di usia 27 tahun, Vivian Wheeler mengira hidupnya sempurna—hingga ia mendapati dirinya menjadi "pelakor" tanpa sengaja dalam satu hari yang sama.
Setelah memergoki pengkhianatan George, Kekasihnya, yang ternyata telah beristri, Vivian kembali dihantam badai saat dituduh sebagai selingkuhan oleh seorang remaja histeris yang mengamuk hingga merusak mobil Porsche-nya.
Penyebabnya? Logan Enver-Valerio, pemuda 20 tahun yang angkuh, menggunakan foto Acak Vivian sebagai alasan palsu untuk memutuskan Moana.
Tak terima dihina "wanita tua" dan dijadikan tameng, Vivian mendatangi kampus Logan dengan penampilan yang menipu usia, siap memberi pelajaran pada bocah ingusan tersebut.
Pertarungan ego antara sang pewaris tegas dan brondong ini pun dimulai. Siapakah yang akan menyerah saat mulai mencampuradukkan dendam dan obsesi?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#29
Suasana dapur yang tadinya memanas kini mendadak hening, hanya menyisakan suara detak jam dinding yang seolah menghitung setiap detik ketegangan. Logan baru saja melangkah tiga meter menuju pintu keluar, kunci motornya sudah berada di genggaman, siap untuk kembali melarikan diri ke jalanan malam Los Angeles.
Namun, langkahnya terhenti. Punggungnya yang bidang tampak menegang sebelum akhirnya bahunya merosot, seolah seluruh amarah yang tadi membakar kini padam oleh rasa takut yang lebih besar: rasa takut kehilangan Vivian lagi.
Tanpa suara, Logan berbalik. Langkah kakinya yang berat kembali menuju dapur. Vivian masih berdiri mematung di samping meja marmer, matanya yang berkaca-kaca menatap kosong ke arah piring-piring yang sudah tertata.
Sebelum Vivian sempat bereaksi, Logan sudah berada di depannya. Ia menarik Vivian ke dalam pelukan yang sangat erat, seolah-olah wanita itu akan menghilang jika ia melonggarkan sedikit saja dekapannya.
"Maafkan aku, Sayang. Aku minta maaf," bisik Logan parau di telinga Vivian. Tangannya mengusap rambut Vivian dengan penuh penyesalan.
"Aku benar-benar minta maaf. Aku berengsek karena memaksamu. Aku berengsek karena membawa-bawa masa lalu yang tidak ada hubungannya denganmu."
Vivian terdiam sejenak dalam dekapan itu, menghirup aroma maskulin Logan yang bercampur dengan sedikit sisa keringat dan wangi sabun. Perlahan, ia membalas pelukan itu, membenamkan wajahnya di dada Logan yang bidang.
"Aku menghargai keputusanmu, Vivian. Sungguh," lanjut Logan, suaranya kini terdengar sangat tulus. "Aku tidak akan memintanya lagi sampai kau benar-benar siap. Aku tidak peduli berapa lama lagi aku harus menunggu. Maafkan aku karena sempat berpikir kau tidak menginginkanku."
Vivian melepaskan pelukannya sedikit, mendongak untuk menatap mata gelap Logan yang kini dipenuhi rasa bersalah. Ia mengusap pipi Logan dengan jemarinya yang lentur. "Kita baru saja berbaikan beberapa jam yang lalu, Logan. Dan kau sudah marah lagi seolah dunia akan kiamat. Rasanya sesak sekali, tahu?"
Logan meringis, ia meraih tangan Vivian di pipinya dan mengecup telapak tangannya. "Aku tahu. Aku terlalu egois. Aku hanya... aku terlalu takut kau hanya menganggapku sebagai figuran dalam hidupmu yang sempurna."
Vivian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menenangkan badai di hati Logan. "Kau bukan figuran, Logan. Kalau kau figuran, aku tidak akan berdiri di sini memasak untukmu setelah seharian bekerja."
Logan menarik napas lega, ketegangan di wajahnya luruh sepenuhnya. Ia memberikan kecupan lembut di kening Vivian. "Baiklah, ayo kita makan. Aku mencium bau daging wagyu yang hampir dingin, dan perutku mulai protes."
Makan malam yang tadi nyaris batal akhirnya terlaksana. Di bawah cahaya lampu gantung kristal yang temaram di ruang makan apartemen Logan, suasana menjadi jauh lebih tenang dan intim. Suara denting garpu dan pisau di atas piring porselen menjadi melodi latar yang damai.
Logan memotong dagingnya dengan presisi, lalu menyuapkannya ke mulutnya sendiri sebelum memberikan satu potongan kecil ke piring Vivian. "Masakanmu ternyata tidak seburuk kepribadianmu yang galak," godanya dengan kedipan mata.
Vivian memutar bola matanya, namun ia tidak bisa menahan tawa. "Kau beruntung aku sedang dalam suasana hati yang baik. Kalau tidak, kau mungkin sudah makan sereal malam ini."
"Kau tahu," Logan bersandar pada kursinya, menatap Vivian dengan tatapan jahil. "Mommy tadi siang sudah mulai mengirimiku gambar dekorasi kamar bayi. Dia terobsesi dengan warna biru dan emas."
Vivian tersedak minumannya sedikit. "Biru dan emas? Dia sudah yakin bayinya laki-laki?"
"Sepertinya begitu. Dan dia bilang, dia ingin cucunya punya mata seperti mataku," Logan terkekeh. "Tapi aku bilang padanya, anak-anak kita nanti harus tinggi sepertiku. Aku tidak ingin mereka pendek dan sulit meraih barang di rak atas sepertimu."
"Hey! Aku tidak sependek itu!" protes Vivian sambil melemparkan sepotong kecil brokoli ke arah Logan. "Lagi pula, kalau dia perempuan, dia harus punya rambut dan hidung sepertiku. Bayangkan betapa cantiknya dia."
Logan terdiam sejenak, membayangkan sosok kecil yang merupakan perpaduan antara dirinya dan Vivian. Pikiran itu, yang awalnya hanya bagian dari sebuah sandiwara kontrak, tiba-tiba terasa sangat indah dan nyata di benaknya. Ia menatap Vivian dengan tatapan yang sangat dalam.
"Dia pasti akan menjadi gadis tercantik di dunia, Vivian," ucap Logan rendah. "Dan aku akan menjadi ayah paling protektif yang akan mematahkan kaki pria mana pun yang berani mendekatinya."
Vivian merasakan dadanya menghangat. Ada sesuatu tentang cara Logan membicarakan masa depan—meski itu berawal dari kebohongan—yang membuatnya merasa aman. Ia meletakkan garpunya, menatap pria di depannya dengan saksama.
Pria yang jauh lebih muda darinya, pria yang memiliki luka yang sama besarnya dengan cintanya, dan pria yang baru saja ia sadari telah menjadi pusat dunianya.
"Logan," panggil Vivian pelan.
"Ya, Sayang?"
"Aku serius soal yang tadi. Soal kenapa aku butuh waktu," Vivian menarik napas panjang, menyingkirkan semua gengsi dan tembok kedewasaannya sejenak. "Tapi ada satu hal yang harus kau tahu."
Logan menunggu dengan sabar, ia menggenggam tangan Vivian di atas meja.
"Aku melakukan semua ini... aku datang ke lapangan, aku berbohong pada ibumu, aku ada di sini malam ini... itu bukan karena kontrak itu lagi," Vivian menatap tepat ke manik mata Logan. "Aku mencintaimu, Logan. Benar-benar mencintaimu."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Logan. Kata-kata itu, yang selama ini ia tunggu-tunggu, akhirnya keluar dari bibir wanita yang paling ia inginkan. Tidak ada gairah yang menuntut, tidak ada kemarahan, hanya kejujuran yang murni.
Logan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Vivian, dan menarik wanita itu berdiri. Ia memeluk Vivian dengan cara yang berbeda dari sebelumnya—pelukan yang penuh dengan rasa syukur dan perlindungan.
"Aku tahu, Vivian," bisik Logan di atas kepala Vivian. "Dan aku berjanji, aku akan menjadi pria yang pantas untuk cinta itu. Aku tidak akan pernah mengecewakanmu lagi."
Di malam yang dingin itu, di tengah kemewahan apartemen yang sunyi, dua jiwa yang sempat terombang-ambing oleh masa lalu akhirnya menemukan pelabuhan yang sesungguhnya.
Kebohongan tentang pengalaman mungkin masih tersimpan di hati Vivian, namun cinta yang ia utarakan adalah kebenaran paling nyata yang pernah ia miliki. Dan bagi Logan, pengakuan itu jauh lebih memuaskan daripada kemenangan apa pun di lapangan basket atau kepuasan fisik mana pun di dunia.