Wei Ying adalah wanita single berusia 35 tahun yang memiliki hobi membaca web novel.
Wei Ying merasa iba pada karakter jahat dalam web novel yang ia baca, meski jahat karakter itu memiliki masa lalu yang kelam. Lalu karena terlalu terbawa suasana, ia berkata..
"Jika aku yang menjadi ibunya, aku pasti akan memberinya kasih sayang dan masa kecil yang bahagia.."
Kemudian, seolah menganggap omong kosong itu sebagai doa, layar handphonenya menyeret Wei Ying masuk.
Kini, Wei Ying menyesali perkataannya. Namun, bubur sudah jadi nasi. Ia bertekad untuk mengubah ending novel, dimana dirinya mati mengenaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5 Mendapat Kelinci
"Tunggu dulu!" teriak Wei Ying.
Seketika para wanita-wanita desa itu berhenti dengan alis mengkerut, "Jangan asal pukul! Jujur saja, aku tidak ingin memperkeruh kondisi ku sendiri. Jika kalian mengeroyokku dan tak sengaja salah pukul ke temen sendiri, aku juga yang di salahkan!" seru Wei Ying dengan senyum penuh arti.
Tapi, karena wanita desa yang pertama sudah sangat emosi, dia tak bisa berpikir jernih.
"Alah! Omong kosong! Jangan dengarkan jalang busuk ini, segera beri pelajaran!" serunya.
Wei Ying menghela nafas berat, pukulan demi pukulan di layangkan pada warga desa itu. Tapi, dengan lincah dan gesit Wei Ying menghindari semua itu. Hingga, sebuah pukulan dari wanita dengan baju merah mengenai wanita dengan baju biru.
Si baju biru kaget dan menatap tak percaya ke arah si wanita baju merah, lalu dengan penuh kesadaran si wanita baju biru menyerbu ke arah wanita si baju merah.
"Ya! Apa-apaan! Kenapa malah pukul aku!" sahutnya seraya melayangkan pukulan ke wanita si baju merah.
Si baju merah yang merasa tak bersalah karena itu tak di sengaja, segera berkelit dan membalas, "Itu tidak di sengaja! Mengapa kamu sangat sempit hati!" serunya.
Seketika, kericuhan terjadi pada wanita-wanita desa itu. Wei Ying yang melihat keributan itu, perlahan mundur, ia terkikik geli melihat tontonan udik di depannya itu.
"Aduh! Ini sakit!"
"Kamu yang mulai duluan!"
"Hei, berenti! Jangan bertengkar!"
Wei Ying melenggang pergi, ia menyelinap di antara semak-semak dan menghilang. Ia terus menyusuri jalanan menanjak dan berkelok. Sepanjang jalan, matanya tak henti menatap sekitar, mencari-cari sayur atau jamur liar yang timbuh.
Tahun ini musim kemarau begitu parah, membuat para petani di desa mengalami gagal panen, belum lagi jika sudah memasuki masa paceklik para bandit pasti akan datang menjarah cepat atau lambat.
Sayur, buah dan ikan yang hidup di hutan dan danau secara liar menjadi alternatif terakhir, dan hal itu membuatnya menjadi susah di cari belakangan ini.
"Ini ternyata lebih sulit dari pada kelihatannya!" bisik Wei Ying sambil bertolak pinggang.
Saat sedang termenung tiba-tiba seekor kelinci berbulu nila melompat dari semak-semak, mata Wei Ying segera berbinar melihat mangsa yang datang tanpa di undang tersebut.
"Oh! Sepertinya makan malam hari ini sudah diputuskan! Kelinci bakar, tidak buruk!" serunya.
Wei Ying mulai merangkak di tanah, ia mengendap-endap mendekati kelinci itu dengan hati-hati. Lalu menggunakan keranjang bambu yang di bawanya ia menjebak kelinci itu.
"Hap!" serunya. "Dapat!" teriak Wei Ying dengan gembira.
Seekor kelinci gemuk sudah di amankan.
Wei Ying segera turun gunung dan kembali pulang, tapi saat berjalan pulang wanita-wanita desa yang tadi merundungnya masih saling menjambak di tempat semula dan belum beranjak.
"Oi, mau sampai kapan kalian berguling-guling di sana seperti babi!" seru Wei Ying.
Wanita-wanita desa itu seketika berenti dan menatap nyalang ke arah Wei Ying.
"Hah! Kenapa baru sebentar sudah mau pulang? Apa sudah menyerah mencari sayuran liar dan akhirnya pulang!" seru mereka.
Wei Ying tersenyum kecil kemudian membuka tutup bakul yang di gendongnya, seketika mata para wanita desa itu melotot.
"Hei, bagaimana bisa kamu mendapatkan kelinci?!" tanyanya sembari berjalan terburu-buru mendekati Wei Ying.
Wei Ying tersenyum meremehkan, lalu dengan nada yang pongah dia berkata, "Tentu bisa dong! Apapun yang aku mau, aku pasti mendapatkannya! Jika aku bilang aku ingin makan daging kelinci, maka pasti aku akan makan daging kelinci. Dan jika aku bilang aku ingin makan buah-buahan segar, maka aku pasti akan mendapatkan buah-buahan segar."
Warga desa itu memandang Wei Ying dengan iri, sedangkan Wei Ying yang melihat reaksi itu begitu senang. Wei Ying lalu melenggang pergi meninggalkan rasa jengkel dan iri dengki pada warga desa.
Sepanjang jalan, ia bersenandung riang sambil memeluk bakul bambunya. Ia bahkan meloncat-loncat dengan senyum ceria di wajahnya.
Namun, tiba-tiba Wei Ying berhenti, ia menatap bakulnya dengan raut wajah bingung. "Ini hanya perasaanku saja atau bakul ini semakin berat?"
Wei Ying lalu membuka tutup bakul itu perlahan, dan alangkah terkejutnya saat melihat isi dari bakulnya...
garam sama gula pada burek warna nya🤭🤭🤭