NovelToon NovelToon
PEWARIS YANG MENGGUNCANGKAN ISTANA

PEWARIS YANG MENGGUNCANGKAN ISTANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Penyesalan Suami / Sistem
Popularitas:15.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Enam tahun lalu, Alisha Husnah melangkah keluar dari kediaman mewah keluarga Raffasyah dengan hati hancur. Sebuah skandal menjijikkan yang dirancang rapi memaksanya percaya bahwa suaminya, Fardan, telah berkhianat. Alisha pergi, membawa rahasia besar tentang janin yang dikandungnya.

Kini, takdir membawa mereka bertemu dalam sebuah proyek besar. Fardan, sang CEO dingin yang menyimpan dendam atas kepergian istrinya, memberikan ultimatum kejam: kembali padanya atau kehilangan hak asuh atas putra mereka, Ghifari.

Namun, baik Fardan maupun keluarga besar Raffasyah tidak menyadari satu hal. Ghifari bukan sekadar bocah biasa. Dibalik wajah imutnya, tersimpan kecerdasan genius yang ia warisi dari ayahnya. Sementara orang tuanya terjebak dalam perang dingin dan sisa-sisa cinta yang luka, Ghifari mulai bergerak dibalik layar.

Dia bukan hanya ingin menyatukan Ayah dan Ibunya saja. Tapi misinya ingin membongkar topeng busuk para penghuni "istana" yang memisahkan keluarganya. Si kecil siap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TABIR PUTIH MENGHAPUS LUKA.

Suara detak jantung dari monitor di ruang ICU menjadi satu-satunya irama yang mengisi kesunyian. Alisha masih setia menggenggam tangan Fardan yang terasa kasar dan dingin. Ia baru saja menyelesaikan doanya saat jari-jari pria itu tiba-tiba memberikan tekanan kecil. Alisha tersentak, ia segera berdiri dan menatap wajah Fardan dengan saksama.

Kelopak mata Fardan bergerak perlahan, seolah sedang berjuang melawan beban yang sangat berat. Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, mata itu terbuka. Namun, tidak ada binar kelegaan di sana. Tatapan Fardan kosong, menatap langit-langit ruangan dengan dahi yang berkerut dalam.

"Fardan? Kau bisa mendengarku?" tanya Alisha dengan suara bergetar karena haru.

Fardan menoleh perlahan ke arah Alisha. Ia menatap wajah wanita di sampingnya itu cukup lama, seolah sedang memindai setiap lekuk wajahnya. "Siapa... Anda?"

Suara serak itu menghujam jantung Alisha lebih tajam daripada belati mana pun. Alisha mematung, tangannya yang menggenggam jemari Fardan perlahan melemas. "Ini aku, Alisha. Istrimu, Fardan. Kau tidak ingat padaku?"

Fardan memejamkan mata sejenak, tampak meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya. "Alisha? Nama itu terasa familiar, tapi aku tidak bisa mengingat wajahmu. Di mana aku? Mengapa kepalaku sangat sakit?"

Dewa yang baru saja masuk bersama dokter segera menghampiri ranjang. "Tuan! Anda sudah sadar? Ini saya, Dewa, asisten Anda!"

Fardan menatap Dewa dengan bingung. "Dewa? Ya, aku ingat namamu. Kita sedang mengerjakan proyek di Jakarta, bukan? Mengapa kita ada di tempat seperti ini?"

Dokter segera memeriksa refleks mata dan saraf Fardan. Setelah melakukan beberapa pengujian cepat, dokter mengajak Alisha dan Dewa keluar ruangan. Ghifari yang sejak tadi berdiri di pojok ruangan ikut melangkah keluar dengan wajah yang sulit dibaca.

"Nyonya Alisha, ini adalah efek dari trauma hebat dan hipotermia yang menyerang saraf otaknya," jelas dokter dalam nada rendah. "Tuan Fardan mengalami amnesia disosiatif. Sepertinya otaknya memilih untuk menghapus memori yang paling menyakitkan atau paling emosional baginya selama enam tahun terakhir."

Alisha menutup mulutnya, air matanya jatuh lagi. "Jadi dia melupakan aku dan Ghifari? Dia hanya ingat kejadian sebelum badai itu terjadi?"

"Tepat sekali. Memorinya terhenti pada masa di mana ia masih merasa sukses di Jakarta, sebelum konflik memuncak," tambah dokter tersebut.

Ghifari melangkah maju, menatap dokter dengan berani. "Apakah ingatannya bisa kembali jika ia melihat pemicu dari masa lalunya?"

Dokter itu mengangguk kecil. "Bisa, namun jangan dipaksa. Biarkan dia menemukan kepingan itu sendiri. Jika dipaksa, otaknya akan mengalami tekanan yang bisa berakibat fatal."

Alisha kembali masuk ke dalam ruangan. Di sana, Fardan sudah duduk bersandar di bantalnya. Ia menatap Ghifari yang masuk di belakang Alisha. Mata Fardan melebar saat melihat bocah itu.

"Anak ini... kenapa dia mirip sekali denganku saat kecil?" tanya Fardan dengan nada heran.

Ghifari mendekat, ia tidak menunjukkan kesedihan sedikit pun. "Namaku Ghifari. Aku adalah anak dari wanita yang kau lupakan ini."

Fardan tampak terguncang. Ia mencoba mengingat sesuatu, namun setiap kali ia mencoba, kepalanya terasa seperti dipukul palu besar. "Anakku? Aku punya anak? Tapi bukankah aku baru saja merayakan kesuksesan proyek properti di Jakarta? Alisha, apakah kita sudah menikah selama itu?"

Alisha menarik napas panjang, mencoba menenangkan badai di dadanya. "Kita sudah melewati banyak hal, Fardan. Sekarang istirahatlah. Jangan memikirkan apa pun dulu."

Selama beberapa hari berikutnya, suasana di rumah sakit menjadi sangat aneh. Fardan memperlakukan Alisha dengan sangat sopan, namun formal. Ia seperti pria yang sedang berkenalan kembali dengan mantan kekasihnya. Ia mengagumi kecantikan Alisha yang sekarang berhijab, namun ia kehilangan rasa emosional yang mendalam karena memorinya terhapus.

"Kau tampak berbeda dari bayangan samar yang ada di kepalaku, Alisha," ucap Fardan suatu sore saat Alisha membantunya makan. "Kau terlihat lebih bercahaya, lebih tenang. Apa yang terjadi selama enam tahun yang aku lupakan itu?"

Alisha tersenyum pahit sambil menyuapkan bubur. "Banyak hal, Fardan. Kau belajar tentang tuhan, dan aku belajar tentang ketabahan."

"Tentang tuhan?" Fardan mengernyit. "Maksudmu aku sudah mulai beribadah? Itu terdengar mustahil bagi pria sepertiku yang hanya memikirkan uang."

"Kau sudah berubah banyak sebelum kau pingsan di depan pintuku," jawab Alisha lirih.

Tiba-tiba, Lucas masuk ke ruangan dengan membawa sebuah tablet. Ia memberikan kode pada Ghifari. Ghifari mengangguk dan mendekati ranjang ayahnya.

"Ayah, kau ingin tahu siapa kau sebenarnya dalam enam tahun belakangan ini?" tanya Ghifari.

"Ghifari, jangan!" cegah Alisha, takut mantan suaminya akan jatuh sakit lagi.

Namun Fardan justru memegang tangan Ghifari. "Tunjukkan padaku, Nak. Aku lelah merasa seperti orang asing di hidupku sendiri."

Ghifari membuka sebuah file video. Bukan video CCTV yang menyakitkan, melainkan kumpulan foto dan video pendek yang selama ini ia ambil secara rahasia sejak Fardan tiba di London hingga kejadian di pesantren. Fardan melihat dirinya sendiri bersujud di atas sajadah, ia melihat dirinya menangis memeluk ibunya, dan ia melihat dirinya berdiri tegak di tengah badai salju di depan gerbang mansion Henry.

Tubuh Fardan mulai bergetar. Kepingan memori mulai menghantamnya seperti ombak besar. Suara Henry yang membimbingnya bersyahadat terngiang kembali di telinganya. Rasa dingin saat ia berdiri di depan pintu Alisha merayap kembali di kulitnya.

"Aku... aku mengingatnya," bisik Fardan. Suaranya mulai pecah. "Aku ingat saat aku berteriak memanggil namamu di tengah salju. Aku ingat saat aku bersumpah untuk menjadi pria yang lebih baik."

Fardan menatap Alisha dengan tatapan yang kini penuh dengan kerinduan dan rasa sakit yang mendalam. Memorinya telah kembali, bersama dengan semua beban dosa yang ia pikul.

"Alisha, maafkan aku. Aku mengingat semuanya sekarang. Aku ingat betapa jahatnya keluargaku padamu," ucap Fardan sambil mencoba meraih tangan Alisha.

Namun, sebelum Alisha bisa membalas, pintu ruangan terbuka kasar. Dewa masuk dengan wajah penuh keringat dan ketakutan. "Tuan! Nyonya! Gawat! Ibu Ratna dan Maya melarikan diri dari pesantren! Mereka terlihat di bandara menuju Swiss!"

Alisha dan Fardan tersentak. Kedamaian yang baru saja mereka bangun kembali terancam oleh badai lama yang belum benar-benar reda.

"Mereka tidak akan pernah menyerah, bukan?" tanya Alisha dengan nada putus asa.

Fardan mencoba turun dari tempat tidurnya meskipun tubuhnya masih lemah. "Tidak kali ini, Alisha. Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu lagi. Dewa, siapkan semuanya. Kita akan menghadapi mereka dengan cara yang berbeda."

Ghifari hanya terdiam di pojok ruangan, jemarinya kembali menari di atas layar tablet. "Mereka sudah mendarat di Zurich sepuluh menit yang lalu. Aku sudah mengunci semua rekening cadangan yang mereka bawa. Mereka akan datang ke sini tanpa uang sepeser pun."

Fardan menatap putranya dengan bangga sekaligus ngeri. "Kau benar-benar anakku, Ghifari. Mari kita selesaikan ini sekali dan untuk selamanya."

Keadaan di rumah sakit kini berubah menjadi tegang. Fardan yang baru saja pulih dari amnesia harus bersiap menghadapi konfrontasi terakhir dengan ibu kandungnya sendiri demi melindungi cinta yang baru saja ia temukan kembali.

1
Amy
coba ganti panggilannya kaka othor, masa suami istri tdak ada romantis2nya
Lia siti marlia
wel wel wel di tunggu pa alex🤣
Linda Muslimah: Seru lanjut kak 🤭
total 1 replies
Tata Hayuningtyas
jgn kelamaan up nya thor 🤭
Tata Hayuningtyas
cerita nya bagus dan ga bertele2
Amy
Cobalah terbuka alisha, karna seapik apapun kau menyembunyikan masalah, ada anakmu yg super, bisa membaca setiap masalah🤭
Lia siti marlia
untung ada gifari apapun yang di sembunyikan ibunya pasti akan ketahuan olehnya 😄👍
Lia siti marlia
sayng banget yah ayah hrnry sama alisha dan gifari saking sayang nya semua sudah di persiapkan secara matang👍
Lia siti marlia
lucu kamu fardan .....aduh gifari sampai kamar mamjmu di sadapnya nanti kalau mamahmu sama ayahmu lagi bikin adek buat kamu kamu jangan ngintpnya 🤭
Lia siti marlia
semangat fatdan💪
Uba Muhammad Al-varo
karma dibayar lunas dan langsung di terima Maya dan ibunya
Uba Muhammad Al-varo
Fardan........ inilah perjuangan sesungguhnya baru dimulai

perjuangan
Uba Muhammad Al-varo
Fardan ditinggal pergi oleh Alisa dan Ghifari 😭😭😭
Uba Muhammad Al-varo
good 👍👍👌 Fardan kamu tegas jangan kamu mau dikibulin melulu oleh ibu dan kakak mu
Uba Muhammad Al-varo
baru deh melek matanya Fardan setelah selama ini merem karena diselimuti kelicikan ibu dan Sherly
Uba Muhammad Al-varo
good job Ghifari........👍👍👌
Uba Muhammad Al-varo
kemenangan sementara ditangan Ghifari tapi perang ini belum usai /Hey//Hey/
Uba Muhammad Al-varo
pertarungan akan dimulai antara bocah dan CEO dingin 🤔🤔🤔
ceuceu
Anak Maya berapa kok ga ada?
tapi di sebutkan anak anak maya
Uba Muhammad Al-varo
Ghifari.........👍👍👌
Uba Muhammad Al-varo
fardan kata CEO tapi kena ogeb 🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!