NovelToon NovelToon
Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Office Romance / Komedi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Rumah terasa begitu sunyi sore itu. Hanya ada suara putaran kipas angin tua dan denting es batu yang beradu dengan gelas kaca. Sheila terduduk lesu di kursi ruang tamunya, menyeruput es teh manis yang sudah mulai tawar karena esnya mencair. Di depannya, layar televisi menyala menampilkan film komedi romantis, namun netra Sheila menatap kosong ke arah layar. Pikirannya tidak berada di sana.

Kata-kata Papa Jeremy di kantor tadi terus terngiang, bercampur dengan bayangan rahang Jeremy yang mengeras saat menyita ponselnya. Semua itu bermuara pada satu nama: Malik.

"Aku harus lupain Malik," bisik Sheila pada kesunyian ruangannya sendiri. Suaranya pecah, namun ada nada ketegasan yang baru di sana. "Karena kalau aku mikirin dia terus, aku nggak bakal maju. Aku cuma bakal jadi tawanan masa lalu yang sudah membuangku."

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Sheila meraih ponsel cadangannya. Ia membuka aplikasi Instagram. Jemarinya bergerak lincah namun terasa berat. Satu per satu, foto-foto yang menampilkan senyum Malik dihapus. Foto saat mereka merayakan ulang tahun di pinggir jalan, foto saat Malik memberikan buket bunga plastik saat ia wisuda, hingga foto-foto candid yang dulu ia anggap sangat manis. Semuanya lenyap dari feeds-nya dalam hitungan menit.

Tak berhenti di sana, ia masuk ke kontak dan memblokir nomor Malik secara permanen. Ia tidak mau lagi menunggu notifikasi yang tidak akan pernah datang.

Sheila kemudian berdiri, mengambil sebuah kotak kardus kosong dari dapur. Ia berkeliling kamar, memunguti barang-barang yang pernah Malik berikan. Sebuah jam tangan kayu yang kacanya sudah sedikit retak, jaket denim yang baunya masih menyisakan aroma parfum Malik, hingga tumpukan surat-surat kecil yang dulu sering Malik selipkan di tasnya. Semua ia masukkan ke dalam kardus itu tanpa sisa.

Setelah selesai, ia mengenakan cardigan abu-abu favoritnya. Ia menyambar kunci motor dan kardus itu. Pandangannya lurus, tidak ada lagi keraguan yang melumpuhkan seperti dua minggu lalu.

Perjalanan menuju Bekasi Timur terasa begitu panjang. Angin malam menusuk celah cardigannya, namun tekad di dadanya jauh lebih panas. Begitu sampai di lokasi proyek ruko yang disebutkan Alena, Sheila turun dengan langkah mantap. Ia melihat sosok pria yang sangat ia kenal sedang duduk di atas tumpukan semen, tangan kanannya masih terbalut gips, sedang mengawasi beberapa pekerja dari kejauhan.

Malik menoleh. Matanya membelalak kaget melihat Sheila berdiri di sana, di tengah debu konstruksi dan lampu temaram proyek.

"Sheila? Kamu... ngapain di sini?" tanya Malik, suaranya terdengar gugup dan penuh rasa bersalah.

Sheila tidak mendekat terlalu jauh. Ia meletakkan kardus berisi barang-barang itu di atas meja kayu darurat di depan Malik.

"Aku ke sini bukan buat ngemis lagi, Malik. Kalau kamu mikir gitu, kamu salah besar," ucap Sheila dengan suara yang tenang namun berwibawa. "Aku ke sini... cuma mau selesai. Aku nggak mau terus dihantui perasaan yang nggak jelas. Aku mau hidup tenang. Selama dua minggu ini aku merasa seperti orang gila karena terus mencari alasan kenapa kamu membuangku."

Malik tertunduk, tidak berani menatap mata Sheila yang tajam.

"Semoga kamu bisa hidup tenang dengan keputusanmu, ya," lanjut Sheila. "Dan satu lagi... ini barang-barang yang pernah kamu kasih ke aku. Aku kembalikan semuanya. Aku nggak mau ada satu pun benda di rumahku yang mengingatkan aku pada pria yang menyerah padaku saat badai datang."

"Shei, aku cuma mau kamu dapat yang terbaik..." sela Malik lirih.

"Terbaik menurutmu, bukan menurutku," potong Sheila cepat. "Makasih dua tahunnya, Malik. Makasih sudah berbagi semuanya sama aku. Ya, walaupun akhirnya kamu milih buat menjauh tanpa mau berjuang sedikit pun. Aku harus pergi sekarang. Aku sudah melepaskanmu, jadi tolong, jangan pernah muncul lagi dalam bentuk apa pun di hidupku."

Sheila berbalik. Ia merasa sebuah beban raksasa baru saja terangkat dari pundaknya. Ia berjalan menuju motornya, namun sebelum menyalakan mesin, ia mengeluarkan ponselnya. Ada lima panggilan tak terjawab dari Jeremy dan puluhan pesan singkat yang menanyakan keberadaannya dengan nada panik.

Sheila tersenyum tipis. Kali ini senyumnya sampai ke mata.

"Dan sekarang... kayaknya aku tahu di mana aku harus pulang," gumam Sheila.

Ia mengetik pesan singkat untuk Jeremy: "Pak, jemput saya di titik yang saya kirim. Saya mau pulang ke rumah Bapak."

Sheila tahu, Jeremy mungkin posesif, tengil, dan sering membuatnya darah tinggi. Tapi pria itulah yang berdiri di sana saat ia jatuh. Pria itulah yang menantang ayahnya demi melindunginya. Dan pria itulah yang tidak pernah membiarkannya berjalan sendirian di tengah kegelapan.

***

Malam itu, angin Bekasi yang lembap dan berdebu terasa kontras dengan kehadiran mobil mewah Jeremy yang terparkir di pinggir jalanan proyek yang mulai sepi. Jeremy berdiri bersandar di pintu mobilnya, wajahnya yang kaku perlahan melunak saat melihat motor matic Sheila mendekat dan berhenti tepat di depannya.

Jeremy segera melangkah maju, tangannya langsung mematikan mesin motor Sheila dan menatap asistennya itu dengan tatapan menginterogasi yang tajam.

"Sheila? Kamu habis dari mana bawa motor begini malam-malam ke tempat sepi?" suara Jeremy terdengar berat, ada nada cemas yang berusaha ia tutupi dengan otoritas.

Sheila melepas helmnya, membiarkan rambutnya yang sedikit kusut terurai. Matanya tidak lagi merah karena tangisan, melainkan tampak jernih dan tegas. "Habis menyelesaikan sesuatu, Pak. Kenapa? Bapak takut saya kabur?"

Jeremy mendengus, ia mengambil helm dari tangan Sheila dan meletakkannya di spion motor. "Cuma nanya saja. Kamu itu tanggung jawab aku. Ayo kita pulang. Motor kamu biar orangku yang urus nanti."

Jeremy membimbing Sheila masuk ke dalam mobil. Suasana di dalam kabin yang kedap suara itu mendadak hening. Wangi parfum kayu cendana milik Jeremy yang maskulin memenuhi ruangan, menciptakan kontras dengan bau debu proyek yang tadi menempel di cardigan Sheila.

"Kamu ketemu sama Malik?" tanya Jeremy tiba-tiba tanpa menoleh, jemarinya mengetuk kemudi dengan ritme yang tidak beraturan.

Sheila menyandarkan kepalanya ke kursi kulit yang empuk. "Iya... Dan aku sudah bilang ke dia kalau aku mau lupain dia. Semuanya sudah selesai, Jer. Kardus barang-barangnya sudah aku kasih. Aku nggak mau bawa beban itu lagi pulang ke rumah."

Mendengar itu, Jeremy mengerem mobilnya perlahan di bahu jalan yang gelap. Ia memutar tubuhnya, menatap Sheila dengan intensitas yang sanggup membuat oksigen di sekitar mereka seolah lenyap. "Beneran? Kamu nggak bohong cuma supaya aku nggak marah?"

"Aku nggak pernah seserius ini seumur hidupku," bisik Sheila.

Jeremy tidak berkata-kata lagi. Ia segera menjalankan mobilnya, namun kali ini bukan menuju rumah Sheila, melainkan kembali ke penthouse pribadinya. Ia butuh memastikan bahwa "aset" paling berharganya ini benar-benar telah menjadi miliknya seutuhnya, tanpa ada bayang-bayang pria lain di kepalanya.

Sesampainya di apartemen, suasana berubah menjadi sangat intim. Lampu-lampu kota Jakarta yang berkilauan di balik dinding kaca kamar utama menjadi satu-satunya sumber cahaya temaram. Jeremy melepaskan jasnya dan melemparnya ke sembarang arah, sementara Sheila berdiri mematung di tengah ruangan, merasakan ketegangan elektrik yang memicu adrenalin di setiap sel tubuhnya.

Jeremy melangkah mendekat, mengikis jarak hingga Sheila bisa merasakan hawa panas yang memancar dari tubuh pria itu. Tangan besar Jeremy merambat naik, menyentuh leher Sheila dan menariknya perlahan agar wajah mereka sejajar.

"Kamu bilang tadi... kamu tahu di mana kamu harus pulang," bisik Jeremy, suaranya serak dan rendah, mengirimkan getaran hebat ke seluruh saraf Sheila. "Tunjukkan padaku kalau itu bukan cuma kata-kata."

Sheila menatap mata gelap Jeremy yang penuh dengan gairah dan kepemilikan. Ia tidak lagi melihat seorang bos yang tengil, melainkan seorang pria yang selama ini berjuang dengan caranya yang keras untuk menjaganya. Sheila berjinjit, melingkarkan lengannya di leher Jeremy, dan memulai ciuman yang menuntut—sebuah pernyataan bahwa ia telah menyerahkan kuncinya pada pria ini.

Jeremy mengerang rendah, ia mengangkat tubuh Sheila dengan mudah, mendudukkannya di atas meja konsol kayu yang dingin sementara bibir mereka tetap bertautan dalam pagutan yang panas dan lapar. Ciuman itu tidak lagi lembut; itu adalah pertempuran perasaan, pelepasan dari segala tekanan dan rasa sakit yang mereka pendam selama berminggu-minggu.

Tangan Jeremy yang kuat mulai menjelajahi lekuk tubuh Sheila di balik cardigannya, memberikan sentuhan-sentuhan yang membakar kulit. "Malam ini, nggak ada kontrak, nggak ada denda, dan nggak ada nama Malik," desis Jeremy di sela napasnya yang memburu. "Cuma ada aku dan kamu, Sheila."

Sheila memejamkan matanya, merasakan dominasi Jeremy yang membuatnya merasa begitu diinginkan. Setiap sentuhan Jeremy seolah menghapus jejak masa lalu yang pernah ada. Di bawah temaram lampu kota, dalam dekapan pria yang paling ia benci sekaligus ia cintai, Sheila akhirnya menemukan arti "pulang" yang sesungguhnya—sebuah tempat di mana ia tidak perlu lagi takut untuk dijatuhkan, karena ada tangan yang selalu siap menangkapnya dengan penuh kuasa.

Malam itu menjadi saksi bisu bagaimana sang CEO tengil akhirnya berhasil menaklukkan hati asisten pribadinya, bukan dengan uang atau kontrak, melainkan dengan kehadiran yang tak tergoyahkan di tengah badai yang paling hebat sekalipun.

1
putmelyana
next Thor ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!