Warning !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada. Terimakasih 🙏
Di balik jubah sucinya sebagai pewaris pesantren, Zavier El-Shaarawy menjalani kehidupan ganda yang gelap di gemerlap Kota A. Sebagai pria liar yang haus kebebasan, ia terjerat dalam asmara membara bersama Zaheera Bareeka, gadis kota yang menjadi pusat dunianya. Namun, rahasia itu runtuh saat takdir menyeret mereka kembali ke tembok pesantren yang kaku.
Demi menutupi dosa dan menyelamatkan kehormatan keluarga, Zavier nekat membawa Zaheera masuk ke dunianya. Di bawah pengawasan Keluarga, sebuah pernikahan rahasia dilangsungkan demi menghalalkan sentuhan yang terlanjur melampaui batas.
Happy Reading Dear 🤗🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#21
Pagi itu, udara di sekitar Pesantren Al-Iman terasa begitu sejuk, seakan semesta turut menahan napas menyambut sebuah janji suci yang akan diikrarkan. Matahari muncul dengan malu-malu di balik awan tipis, menyinari tenda putih yang berdiri anggun di halaman ndalem. Aroma melati yang rontok dan wangi kayu gaharu yang dibakar menciptakan suasana sakral yang menggetarkan sukma.
Zavier berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Ia mengenakan jas pengantin berwarna putih bersih dengan sulaman perak halus di kerahnya. Peci hitamnya terpasang rapi, membingkai wajahnya yang tampak jauh lebih dewasa dan tenang, meski matanya masih menyimpan sisa-sisa sembab dari Shalat Taubat semalam.
"Sudah siap, Zavier?"
Suara bariton itu mengejutkannya. Gus Azlan berdiri di ambang pintu, mengenakan jubah hitam kebanggaannya. Tatapannya tetap tegas, tajam, dan penuh selidik, namun kali ini ada gurat haru yang ia sembunyikan di balik alisnya yang tebal.
Zavier mengangguk pelan. "Siap, Mas."
Azlan melangkah mendekat, membetulkan letak kerah jas adiknya dengan gerakan yang kaku namun penuh perhatian. "Ini adalah gerbang terakhirmu, Zavier. Setelah kalimat itu terucap, seluruh dosanya menjadi dosamu, dan seluruh langkahnya adalah tanggung jawabmu. Jangan kau sia-siakan kepercayaan Abi... dan jangan kau nodai nama baik keluarga."
Zavier menelan ludah, ia tahu Azlan masih menyimpan kecurigaan, namun ia hanya bisa menunduk takzim. "Mohon doanya, Mas."
Di masjid pesantren yang sudah dipenuhi oleh saksi dan kerabat, suasana mendadak hening saat Zavier duduk di depan meja akad. Di hadapannya, Pak Narendra duduk dengan tangan yang gemetar. Kyai Luqman berada di samping mereka, bertindak sebagai wali hakim dan saksi utama.
Zaheera berada di ruangan terpisah, didampingi oleh Umi Hannah, Ning Syafi'iyah, dan Mommy Kayes. Ia mengenakan kebaya putih panjang yang sangat anggun, wajahnya tertutup kerudung transparan yang indah. Tangannya dingin, ia terus meremas mukena sutra pemberian Zavier yang diletakkan di pangkuannya sebagai bagian dari mahar.
"Ananda Zavier El-Shaarawy bin Luqmanul Hakim..." suara Pak Narendra bergetar hebat. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Zaheera Bareeka binti Narendra, dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan perhiasan emas tiga puluh gram, dibayar tunai!"
Zavier menjabat tangan Pak Narendra dengan mantap. Ia memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah Zaheera, membayangkan semua malam gelap di kota A, dan membayangkan pintu taubat yang terbuka lebar di depannya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Zaheera Bareeka binti Narendra dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
Satu tarikan napas. Tegas. Tanpa keraguan.
"Sah?" tanya Kyai Luqman.
"SAH!" seru para saksi serempak.
Seketika, air mata Zavier luruh. Ia menundukkan kepala sedalam-dalamnya di atas meja akad.
Beban yang selama ini menghimpit dadanya, rasa hina yang membakar jiwanya, seolah menguap bersama angin pagi. Ia kini telah menghalalkan wanita yang pernah ia nodai. Ia telah menyelamatkan kehormatan mereka di hadapan Tuhan.
Acara dilanjutkan dengan prosesi sungkem. Suasana haru pecah saat pengantin baru itu bersimpuh di kaki orang tua mereka.
Zavier dan Zaheera pertama kali bersimpuh di depan Kyai Luqman dan Umi Hannah. Zavier mencium tangan Abinya lama sekali. "Abi... maafkan Zavier yang penuh kekurangan ini. Bimbinglah kami," bisiknya parau. Kyai Luqman hanya mengelus kepala putranya dengan mata berkaca-kaca, mendoakan keberkahan bagi rumah tangga mereka.
Kemudian, mereka beralih ke hadapan Pak Narendra dan Mommy Kayes. Saat Zaheera memeluk kaki daddynya, tangisnya pecah menjadi isak yang memilukan.
"Daddy... maafkan Zee. Terima kasih sudah mau menerima Zee kembali," isak Zaheera. Narendra hanya bisa memeluk putri tunggalnya itu, hatinya merasa lega karena telah menyerahkan putrinya kepada pria yang ia anggap paling bertanggung jawab.
Namun, momen yang paling emosional adalah saat mereka sampai di hadapan Mommy Sarah dan suaminya. Sarah duduk dengan wajah yang sudah basah oleh air mata. Ia melihat Zavier, putra yang ia besarkan dengan segala kebebasan, kini bersimpuh di depannya dengan pakaian santri yang mulia.
Zaheera mendekat ke arah Sarah. Sarah segera menarik Zaheera ke dalam pelukannya. Pelukan itu sangat erat, penuh dengan rahasia yang hanya diketahui oleh mereka bertiga. Sarah tahu betul apa yang telah dilalui Zavier dan Zaheera di kota A. Ia tahu apartemen itu, ia tahu gaya hidup itu. Melihat mereka akhirnya berakhir di pelaminan pesantren dengan wajah penuh penyesalan dan taubat, membuat hati Sarah yang keras melunak.
"Jaga dia, Zaheera... Jaga putraku," bisik Sarah di telinga Zaheera. "Zavier sangat mencintaimu sampai dia rela melakukan apa saja untuk membawamu ke tahap ini. Jangan kecewakan dia."
Zaheera mengangguk di pundak Sarah. "Terima kasih, Mommy... Terima kasih sudah menjaga rahasia kami."
Sarah melepaskan pelukannya, menatap Zavier dengan pandangan seorang ibu yang bangga namun sedih. Ia menyadari bahwa Zavier kini bukan lagi miliknya sepenuhnya, Zavier telah memilih jalannya sendiri—jalan menuju cahaya yang selama ini Sarah abaikan.
Setelah prosesi sungkem, Zavier mendekati Zaheera yang berdiri di dekat mimbar masjid. Untuk pertama kalinya, Zavier menatap mata Zaheera dengan berani. Tidak ada lagi pandangan yang ditundukkan karena malu atau takut fitnah.
Zavier meraih kening Zaheera, mengecupnya dengan sangat lama dan lembut. Zaheera memejamkan mata, merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun berhubungan dengan Zavier. Inilah ciuman pertama yang tidak menyisakan rasa bersalah. Inilah sentuhan pertama yang disaksikan oleh para malaikat dengan suka cita.
"Selamat datang di hidupku yang baru, Makmumku," bisik Zavier di depan wajah Zaheera.
Zaheera tersenyum, wajahnya merona merah, jauh lebih cantik daripada saat ia memakai riasan mahal di kelab malam. "Terima kasih sudah menjemputku, Imamku."
Di sudut ruangan, Gus Azlan memperhatikan pemandangan itu. Ketegasannya sedikit luruh. Ia melihat adiknya yang tampak begitu lega dan Zaheera yang tampak begitu bersyukur. Meski ia masih merasakan ada sesuatu yang disembunyikan, Azlan memilih untuk menyimpan kecurigaannya dalam hati. Ia berharap, cinta yang begitu besar di antara mereka benar-benar menjadi bahan bakar untuk hijrah yang istiqomah.
Hari itu, Pesantren Al-Iman menjadi saksi penyatuan dua jiwa yang pernah tersesat jauh di rimba kota, namun akhirnya menemukan jalan pulang melalui pintu pernikahan yang suci. Langit tampak semakin cerah, mengiringi langkah pertama Zavier dan Zaheera sebagai sepasang suami istri yang siap menuliskan lembaran putih di atas tumpukan debu masa lalu.
🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰