NovelToon NovelToon
System Toko Sepuluh Ribu Alam

System Toko Sepuluh Ribu Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Ruang Ajaib
Popularitas:34.6k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Hao Qi hanyalah seorang mahasiswa yatim piatu miskin yang tercekik hutang rentenir dan selalu dipandang sebelah mata oleh orang-orang di sekitarnya.

Namun, nasibnya berubah drastis ketika ia tanpa sengaja mengaktifkan Sistem Toko Sepuluh Ribu Alam di ponsel bututnya. Melalui sistem rahasia ini, Hao Qi bisa menjual barang-barang murah sehari-hari seperti mi instan dan korek api gas ke berbagai dimensi lain dengan bayaran selangit berupa koin sistem, emas batangan, pil penempa tubuh, hingga teknik bela diri kuno.

Sambil menyembunyikan identitas dan kekuatan barunya, Hao Qi mulai melunasi hutangnya, menyadari keberadaan energi Qi di dunia modern, dan melangkah naik untuk menghancurkan para orang sombong yang dulu meremehkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Matahari telah sepenuhnya terbenam, digantikan oleh gemerlap lampu neon kota Jiangjing yang mewarnai langit malam.

Hao Qi melangkah menaiki tangga beton indekosnya dengan bersenandung kecil. Kantong plastik berisi dua porsi bebek panggang hangat menggantung di jarinya. Aroma sedap dari makanan itu menguar memenuhi lorong.

"Kriet..."

Pintu kamar Bibi Wang, sang induk semang, terbuka separuh. Wanita paruh baya itu sedang duduk di depan televisi sambil mengupas apel.

Hao Qi berhenti di depan pintu dan mengetuk pelan bingkainya.

"Tok! Tok!"

"Bibi Wang yang cantik! Aku pulang!"

Bibi Wang menoleh. Ekspresi wajahnya yang semula datar langsung berubah menjadi garang saat melihat Hao Qi. Ia meletakkan pisau buahnya di atas meja.

"Bagus kau berani pulang! Mana uang sewa yang kau janjikan siang tadi? Kalau kau berani mencari alasan lagi, malam ini juga barang-barangmu kulempar ke jalan!"

Hao Qi tidak merasa terintimidasi sama sekali. Senyum lebarnya justru semakin cerah. Ia membuka tas selempangnya dan mengeluarkan satu gepok uang tunai pecahan seratus Yuan yang masih disegel kertas bank.

"Bruk."

Hao Qi meletakkan tumpukan uang itu tepat di atas meja kecil di hadapan Bibi Wang, tepat di sebelah piring apel.

"Ini lima ribu Yuan, Bibi. Cukup untuk melunasi tunggakanku dan membayar sewa kamarku untuk enam bulan ke depan secara penuh. Tolong dihitung dulu."

Mata Bibi Wang terbelalak lebar. Mulutnya sedikit terbuka. Ia menatap tumpukan uang merah itu, lalu menatap Hao Qi dengan pandangan tidak percaya. Selama bertahun-tahun, pemuda ini selalu mengemis meminta perpanjangan waktu. Dari mana ia mendapatkan uang sebanyak ini dalam sehari?

"K-kau... kau tidak merampok bank, kan, Xiao Qi? Atau kau meminjam lagi pada lintah darat itu?!"

"Hahaha!"

"Tentu saja tidak, Bibi. Kakek buyutku ternyata meninggalkan sedikit warisan yang berharga, dan aku baru saja menjualnya hari ini. Aku orang kaya baru sekarang."

Hao Qi tertawa renyah, memberikan alasan yang sama seperti yang ia gunakan pada Manajer Lin di toko emas.

Bibi Wang buru-buru mengambil uang itu dan menghitungnya dengan cepat. Setelah memastikan jumlahnya pas dan uangnya asli, wajah garangnya seketika mencair, digantikan oleh senyuman manis yang jarang ia tunjukkan.

"Aduh, Xiao Qi! Bibi selalu tahu kau ini anak yang baik dan berbakti pada leluhur. Kalau kau butuh sesuatu, bilang saja pada Bibi, ya? Mau Bibi ganti seprai kamarmu besok pagi?"

"Tidak perlu repot-repot, Bibi. Oh ya, ini aku belikan bebek panggang untuk Bibi. Anggap saja sebagai permintaan maaf karena sering merepotkan selama ini."

Hao Qi menyerahkan satu kotak bebek panggang yang masih hangat.

"Ya ampun, kau baik sekali! Terima kasih, Xiao Qi! Selamat istirahat!"

"Sama-sama, Bibi!"

Hao Qi berbalik dan berjalan menuju kamarnya di ujung lorong. Ia merasa sangat lega. Menjadi orang yang punya uang benar-benar membuat hidup menjadi jauh lebih mudah.

Setelah menghabiskan porsi bebek panggangnya sendiri di dalam kamar, Hao Qi mandi dan berganti pakaian. Ia mengenakan kaus hitam polos, celana kargo gelap, dan jaket bertudung yang ia pakai sore tadi.

Hao Qi duduk di tepi kasur, menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang retak.

"Sistem, tampilkan saldo dan statusku saat ini."

"Ding!"

Layar transparan biru muda muncul di depan matanya.

"[Status Host: Hao Qi]

Kekuatan Fisik: Manusia Super Tingkat Rendah (Efek Pil Penempa Tubuh)

Keterampilan: Langkah Angin (Tingkat Dasar)

Saldo Sistem: 60 Koin

Ruang Inventaris: Terisi 10% (Senter, Baterai, Alat Medis)"

Hao Qi tersenyum tipis.

"Tidak buruk untuk hari kedua. Tapi, memiliki kekuatan saja tidak cukup kalau aku terus-terusan jadi pihak yang diburu."

Ia mengingat kembali dua pria berjas hitam sore tadi. Mafia tidak akan berhenti hanya karena kehilangan jejak satu kali. Jika mereka bisa menemukan rekaman CCTV jalanan, mereka pasti memiliki koneksi yang luas di kota ini.

"Daripada menunggu mereka datang dan mengacaukan hidup damaiku di kampus, lebih baik aku yang mengunjungi mereka duluan. Lagipula, aku belum mencoba seberapa mematikan Langkah Angin ini di malam hari."

Hao Qi menarik tudung jaketnya menutupi kepala.

"Kriet..."

Ia membuka jendela kamarnya yang mengarah langsung ke gang belakang indekos. Kamarnya berada di lantai dua, ketinggian yang dulu bisa mematahkan kakinya jika ia melompat turun.

Hao Qi melangkah naik ke ambang jendela. Ia memusatkan energi hangat dari perutnya, mengalirkannya dengan lancar ke kedua telapak kakinya.

"Wush!"

Hao Qi melompat turun. Tubuhnya seringan kapas.

"Tap."

Ujung sepatunya menyentuh aspal gang yang basah tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Tidak ada guncangan pada lututnya. Ia mendarat dengan sangat sempurna.

"Luar biasa."

Hao Qi bergumam dengan senyum ceria. Ia segera melesat membelah kegelapan malam.

Berkat ingatan fotografis sesaat yang ia miliki setelah memakan Pil Penempa Tubuh, Hao Qi masih mengingat dengan jelas pelat nomor mobil van hitam sore tadi. Plat nomor itu memiliki kode khusus wilayah Distrik Selatan, area yang sama dengan klub biliar milik Wang Lei.

Hanya butuh waktu lima belas menit bagi Hao Qi untuk berlari melintasi beberapa blok kota. Dengan Langkah Angin, kecepatannya setara dengan sepeda motor yang melaju di jalanan kosong, namun ia bisa bermanuver melewati gang-gang sempit dan melompati pagar pembatas dengan sangat lincah.

Ia tiba di Distrik Selatan. Daerah ini dipenuhi oleh kelab malam, bar, dan tempat karaoke (KTV) yang memutar musik dengan dentuman keras. Lampu-lampu neon menyilaukan mata.

Hao Qi melompat ke atas atap sebuah ruko berlantai tiga yang gelap. Dari sana, ia memantau jalanan di bawahnya dengan tajam.

"Di mana kalian menyembunyikan mobil itu?"

Mata Hao Qi menyapu deretan kendaraan yang terparkir. Sekitar sepuluh menit mencari, senyum lebarnya akhirnya mengembang.

Di sebuah gang buntu yang cukup lebar di belakang gedung "KTV Naga Emas", mobil van hitam itu terparkir dengan mesin yang sudah mati. Dua pria berjas hitam yang mencarinya sore tadi sedang berdiri bersandar di tembok bata dekat mobil tersebut. Mereka sedang merokok sambil mengobrol dengan suara pelan.

Hao Qi memfokuskan pendengarannya.

"Kakak Ketiga, Bos Zhao sepertinya sangat marah karena kita kehilangan jejak anak itu."

Pria yang sedang menghisap rokok itu mengeluh pelan.

"Tentu saja dia marah," balas Kakak Ketiga sambil membuang ludah ke tanah. "Bos Zhao sudah melapor pada pimpinan pusat bahwa dia menemukan benih praktisi bela diri yang bisa direkrut. Kalau kita tidak membawa bocah itu besok pagi, kita yang akan dijadikan makanan anjing."

"Lalu apa rencanamu? Jiangjing ini cukup besar. Anak itu bisa saja kabur ke luar kota setelah sadar kita mengincarnya."

Kakak Ketiga menyeringai dingin.

"Dia itu mahasiswa miskin, tidak punya uang untuk pergi jauh. Aku sudah menyuruh beberapa anak buah Wang Lei untuk menyusup ke kampus besok pagi. Begitu dia muncul di kelas, kita seret dia secara paksa. Tidak perlu peduli soal saksi mata lagi. Bos Zhao yang akan membereskan polisinya."

Di atas atap, Hao Qi mendengar semua rencana itu dengan sangat jelas. Matanya sedikit menyipit. Senyum di bibirnya tidak hilang, tapi kini terasa lebih dingin.

"Menyeretku secara paksa dari kelas? Itu akan sangat merusak reputasiku sebagai mahasiswa teladan,"

Hao Qi membatin dengan nada bercanda.

Ia memutuskan sudah waktunya untuk turun tangan. Ia tidak akan membiarkan preman-preman ini menginjakkan kaki di kampusnya besok pagi.

"Wush!"

Hao Qi melompat dari atap ruko berlantai tiga itu. Ia mengaktifkan Langkah Angin hingga batas maksimal. Tubuhnya meluncur turun seperti sehelai daun hitam yang tertiup angin kencang.

"Sret."

Ia mendarat tepat di belakang mobil van hitam, tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Kedua pria berjas itu, yang hanya berjarak sekitar empat meter darinya di dekat moncong mobil, sama sekali tidak menyadari kehadirannya.

1
Dell AliNka
lah pake beli vila kok masih sisa 5 jt
Hadi Hadi
sikat
Pecinta Gratisan
mantap💞 thor
Pecinta Gratisan
bantai thor
Pecinta Gratisan
mantap thor⚡🔨 cerita nya💞
Riyanganz
👍👍
Riyanganz
ceritanya menarik,semoga aja kedepannya ga monoton ceritanya
Orimura Ichika
nggak bisa nabung 🗿
Orimura Ichika: penasaran Thor sama lanjutannya🤭
total 2 replies
Gege
lucuan versi bogelnya jiuer ...🤣🤣
Aoooo: cute sekali /Drool/
total 1 replies
Aisyah Suyuti
good
Sebut Saja Chikal
yaah nunggu lg 😅
Hadi Hadi
up up up up up 😍😍😍
Gege
mantabbb...selalu apik dan epic updetannya
Orimura Ichika
oke juga
Manusia Biasa
nah itu berarti bakal ada kemungkinan perkembangan plot ke orang dunia lain, apa mc dapat Heroine dari dunia lain kayaknya lucu wkwk😂
Manusia Biasa
wkwkw nama saya adalah pemilik toko😭😭
Manusia Biasa
dan kalian gak tahu yang dihadapi itu MC🗿
Manusia Biasa
Menarik kak. karya ini punya potensi sih, semangat terus nulisnya
Manusia Biasa
itu senter mbak😂
Manusia Biasa
kalau ini dari dunia Isekai pasti🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!