Nara tumbuh di keluarga yang mengajarinya satu hal sejak kecil jangan merepotkan.
Dua puluh dua tahun kemudian, Nara lulus kuliah. Bukan dengan pesta tapi dengan catatan pengeluaran ibunya sejak ia lahir, dan permintaan untuk mulai "membalas."
Nara butuh kerja. Butuh uang. Butuh keluar.
Ia datang ke Adristo Group untuk interview posisi admin. Yang tidak ia tahu ia salah masuk ruangan. Dan orang di depannya bukan HRD.
Ia Rayan Adristo. CEO. Tiga puluh tahun. Dingin, efisien, dan sedang mencari istri kontrak untuk enam bulan ke depan demi menghentikan ibunya yang terus-terusan mengatur kencan buta tanpa izin.
Still Me adalah cerita tentang perempuan yang tumbuh tanpa kehilangan dirinya. Tentang belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan diri. Dan bahwa menjadi utuh bukan tentang menemukan orang yang melengkapi tapi tentang akhirnya berani berdiri sebagai dirimu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
STILL ME CHAPTER 20: Kos-kosan Lantai 40
Pukul 05:30 pagi.
Alarm dari ponsel pintarku berbunyi dengan nada standar yang monoton. Aku langsung mematikannya pada dering kedua, menyingkap selimut tebal seputih awan yang membungkusku, lalu bangkit dari ranjang king-size di Master Guest Suite.
Semalam, tubuhku dibalut oleh gaun sutra midnight blue yang harganya bisa untuk melunasi cicilan rumah subsidi. Pagi ini, realita kembali menampar wajahku.
Aku berjalan ke arah walk-in closet raksasa itu, menarik kemeja katun putih seharga lima puluh ribu rupiah yang sudah kusetrika semalam, lalu mengenakan rok kain hitamku. Aku mengikat rambutku kembali menjadi ekor kuda yang ketat. Sepatu pantofel bututku sudah menunggu di sudut ruangan, terlihat sangat menyedihkan berdiri di atas karpet Persia tebal yang melapisi lantai.
Aku menatap cermin besar di depanku.
Nyonya Adristo sudah lenyap. Nara Kusuma si Staf Analis Data Junior PT. Bina Tirta telah kembali online. Dan entah kenapa, memakai seragam murah ini terasa jauh lebih melegakan. Ini adalah sauh kewarasanku. Pekerjaan bergaji UMR ini adalah satu-satunya jangkar yang menahanku agar tidak hanyut dalam dunia fantasi bernilai satu miliar milik Rayan.
Aku meraih tas jinjing kainku dan melangkah keluar dari Sayap Timur menuju dapur Zona Demiliterisasi kami.
Di tanganku, terdapat tiga buah paper bag berisi katering mewah dari Helena yang semalam tidak sempat kami sentuh karena aku terlalu sibuk memproses syok akibat kebaikan hatinya.
Dapur marmer itu masih sepi dan remang-remang. Hanya ada lampu temaram dari cooker hood yang menyala.
Aku meletakkan tas-tas kertas itu di atas kitchen island. Sebagai seseorang yang pernah menghitung budget makan siang sampai ke digit ratusan perak, membiarkan Wagyu Beef Wellington dan Truffle Pasta rusak karena tidak disimpan dengan benar adalah sebuah dosa besar dalam ilmu ekonomi.
Aku membuka laci-laci kabinet dapur yang berlapis kayu mahal itu satu per satu, mencari wadah.
Nihil. Dapur seukuran lapangan voli ini dipenuhi oleh piring keramik handmade, gelas kristal, dan panci tembaga dari Prancis, tapi tidak ada satu pun wadah penyimpanan makanan yang pragmatis.
Beruntung, aku membawa tiga buah Tupperware plastik warna-warni lungsuran dari rumah Ibuku di dalam koper. Aku mengeluarkannya, lalu mulai memindahkan potongan-potongan daging super mahal itu ke dalam wadah plastik oranye pudar berlogo pudar. Sebuah penistaan estetika kuliner tingkat dewa yang akan membuat Chef bintang Michelin menangis darah jika melihatnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan terhadap makanan itu?"
Sebuah suara bariton yang berat dan sedikit serak mengejutkanku dari arah belakang.
Aku tersentak pelan. Telingaku tidak menangkap suara langkah kaki apa pun karena karpet tebal di lorong itu menyerap habis suaranya.
Aku berbalik secara refleks. Dan langsung menyesalinya.
Rayan berdiri hanya sekitar satu meter di belakangku. Ia sepertinya baru saja selesai menggunakan gym pribadinya di Sayap Barat. Ia mengenakan celana sweatpants abu-abu gelap yang menggantung rendah di pinggulnya, dan... tidak memakai atasan sama sekali.
Sebuah handuk putih kecil tersampir di lehernya. Keringat masih mengilap di dada dan perutnya yang memiliki struktur otot sepresisi patung anatomi Romawi. Dada bidang itu bergerak naik turun secara teratur, mengatur napas pasca-olahraga.
Aku mematung. Otak normalku tiba-tiba mengalami blank screen.
Aku bukan biarawati yang hidup di gua, tapi aku juga tidak terbiasa dihadapkan pada anatomi maskulin kualitas premium pada pukul enam pagi dengan jarak sedekat ini.
(Fokus, Nara. Dia Pihak Pertama. Kamu Pihak Kedua. Ini bukan adegan film. Tolong jangan menatap perutnya seperti orang idiot.)
Aku dengan cepat memutar bola mataku, menatap lurus ke arah cooker hood di atas kepalanya yang jauh lebih aman untuk stabilitas mentalku.
"Memindahkan makanan dari Ibu Helena ke dalam wadah kedap udara," jawabku sedatar mungkin, berusaha agar suaraku tidak terdengar bergetar karena panik fiksasi visual. "Sayang kalau basi. Ini aset karbohidrat dan protein kualitas tinggi yang bisa menekan biaya makan malam saya selama empat hari ke depan."
Rayan berjalan mendekat ke arah kitchen island. Bau khas aftershave dan aroma maskulin dari keringat bersihnya mendadak menginvasi udara di sekitarku, membuat ruang dapur raksasa ini tiba-tiba terasa sempit.
"Kamu memasukkan Wagyu A5 ke dalam kotak plastik jeruk itu?" tanyanya dengan nada tidak percaya, menatap Tupperware di tanganku dengan jijik.
"Fungsi kotak ini adalah mengisolasi oksigen, bukan untuk fashion show kuliner, Rayan," balasku, kembali ke mode pragmatisku.
Aku berbalik, membawa ketiga kotak Tupperware itu menuju kulkas dua pintu raksasa di belakangku. Aku menarik gagang pintunya hingga terbuka lebar. Hawa dingin menguar keluar.
"Kebetulan kita bertemu pagi ini. Ada hal administratif yang perlu kita selesaikan," kataku sambil menata kotak-kotak itu.
Aku menunjuk ruang di dalam kulkas layaknya seorang komandan membagi wilayah peta.
"Mulai hari ini, rak paling atas dan rak tengah adalah wilayah teritori Bapak. Silakan isi dengan botol air mineral dari mata air pegunungan Alpen Bapak, atau jus detox, atau apa pun itu. Dan rak paling bawah, ditambah dua laci buah di bawahnya, adalah teritori saya. Tidak ada aneksasi wilayah tanpa izin."
Rayan yang tadinya sedang mengeringkan rambut dengan ujung handuknya, menghentikan gerakannya. Ia menatapku dengan ekspresi speechless yang sangat langka.
"Kamu... baru saja mendeklarasikan pembagian rak kulkas?" ulang Rayan lambat, seolah sedang mencerna konsep yang benar-benar asing baginya.
"Benar. Ini untuk menghindari miskomunikasi silang antara persediaan susu kotak diskonan saya dengan susu organik impor Bapak," balasku tanpa menoleh, masih sibuk menggeser sebotol besar sparkling water miliknya ke rak atas agar Tupperware-ku muat.
Rak atas itu rupanya sedikit terlalu tinggi untukku. Aku harus berjinjit, meregangkan sebelah tanganku untuk mendorong botol kaca tebal itu ke belakang.
Namun, embun dingin di permukaan botol itu membuatnya licin. Botol kaca berat itu tergelincir dari ujung jariku, oleng, dan mulai jatuh ke arah wajahku.
Aku memejamkan mata, bersiap menerima benturan keras.
Namun benturan itu tidak pernah terjadi.
Sebuah lengan kekar berkulit pucat melesat dari arah belakangku. Tangan besar Rayan menangkap leher botol kaca itu tepat lima sentimeter di depan hidungku, menghentikan momentum jatuhnya dengan mudah.
Aku tersentak dan mundur selangkah karena kaget.
Masalahnya, aku lupa bahwa Rayan berdiri tepat di belakangku. Punggungku menabrak dada telanjangnya yang keras dan masih hangat oleh keringat.
Refleks, karena kehilangan keseimbangan, aku memekik tertahan. Tangan kiri Rayan secara otomatis melingkar di pinggangku, menahanku agar tidak terjungkal jatuh ke lantai marmer dapur.
Waktu mendadak membeku.
Punggungku menempel rapat di dadanya. Tangan besarnya mencengkeram pinggangku dengan kuat. Botol kaca di tangan kanannya melayang di udara. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang berdentum stabil menembus kemeja katun tipisku, kontras dengan detak jantungku sendiri yang kini berpacu ugal-ugalan menembus batas maksimal BPM.
Udara dingin dari kulkas yang terbuka meniup tengkukku, tapi wajahku terasa sangat panas. Jarak kami begitu dekat hingga jika aku menolehkan kepalaku sedikit saja ke belakang, hidungku akan bersentuhan langsung dengan rahangnya.
Satu detik.
Dua detik.
Kepanikan logis langsung mengambil alih sistem pusatku. Klausul nomor delapan: Tidak ada kontak fisik di luar acara keluarga. Kami telah melanggar perjanjian kontrak di hari keempat!
Aku langsung melepaskan diri dari pegangannya seolah tubuhnya dialiri listrik tegangan tinggi. Aku melompat maju satu langkah, berbalik menghadapnya, dan merapikan kerah kemejaku dengan gerakan yang sangat kaku.
"Terima kasih atas intervensi gravitasinya," kataku dengan suara yang satu oktaf lebih tinggi dari biasanya, menatap lurus ke arah kabinet di belakang kepalanya. "Saya salah mengkalkulasi koefisien gesekan botol kaca basah tersebut."
Rayan berdiri mematung di tempatnya. Tangannya yang tadi memegang pinggangku kini perlahan turun di sisi tubuhnya. Ia meletakkan botol kaca itu kembali ke rak atas dengan satu dorongan mudah.
Ia menatap wajahku yang berusaha keras mempertahankan ekspresi tembok, meski aku tahu telingaku pasti sudah memerah seperti udang rebus.
Ada kilatan geli yang sangat samar melintas di sepasang mata kelamnya. Pria ini sangat tahu bahwa aku sedang mengalami short-circuit otak karena insiden barusan, dan ia tampak menikmati fakta bahwa logikaku bisa dipatahkan.
"Sama-sama," jawab Rayan, suaranya kembali datar dan mendengung rendah.
Ia memundurkan tubuhnya, memberikan ruang bernapas yang sangat kubutuhkan, lalu menyandarkan pinggulnya ke tepi kitchen island. Ia melipat kedua tangannya di dada, matanya kini memindai penampilanku dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan kritis.
"Kamu benar-benar akan pergi ke kantor menggunakan pakaian itu?" tanyanya, mengalihkan topik pembicaraan layaknya seorang CEO tulen.
Aku melihat ke arah kemejaku sendiri. "Ada yang salah dengan standar pakaian staf administrasi logistik?"
"Itu pakaian yang kamu pakai saat menerobos masuk ke ruangan saya tempo hari. Sepatu pantofelmu bahkan sudah mulai mengelupas di bagian haknya," kritik Rayan tajam. "Kamu punya lima ratus juta di rekeningmu. Dan kamu adalah istri saya. Belilah pakaian kerja yang pantas."
"Pakaian ini sangat pantas dan ergonomis untuk berdesakan di gerbong KRL rute Sudirman-Depok," selaku defensif.
Rayan mengerutkan keningnya dalam-dalam, seolah aku baru saja mengucapkan bahasa alien. "KRL? Kereta komuter?"
"Ya. Alat transportasi massal berbasis rel. Bebas macet."
"Tidak," tolak Rayan mutlak. "Kamu tidak akan naik KRL. Daniel akan menyiapkan satu mobil dari pul kantor beserta sopir pribadi untuk mengantar-jemputmu setiap hari."
Aku memelototinya. "Bapak sudah gila? Saya ini Staf Analis Data Junior yang masih dalam masa percobaan. Kalau Nyonya Adristo turun dari Toyota Alphard berpelat hitam di depan ruko logistik tempat saya bekerja, itu baru namanya skandal nasional! Teman sekantor saya akan mengira saya adalah simpanan pejabat yang diselundupkan masuk ke payroll perusahaan!"
"Kalau begitu saya akan suruh Daniel membelikan mobil sedan biasa yang tidak mencolok agar kamu bisa menyetir sendiri. Atau saya bayarkan deposit taksi premium sebulan penuh." Ego Rayan sebagai penyedia finansial mulai meronta. Ia jelas tidak bisa menerima fakta bahwa perempuan yang secara hukum adalah istrinya, berdesak-desakan dengan puluhan ribu komuter di gerbong kereta.
Aku menghela napas panjang. Mengumpulkan sisa kesabaranku.
Aku menatap tepat ke matanya.
"Rayan," kataku, menggunakan intonasi yang jauh lebih lembut namun tegas, seolah sedang menjelaskan konsep matematika dasar kepada anak SD.
"Kalau saya naik taksi premium atau turun dari mobil pribadi setiap hari, saya akan menarik perhatian. Orang akan mulai mencari tahu siapa saya, dari mana saya berasal, dan pada akhirnya, mereka akan menemukan namamu di belakang saya."
Aku mengambil tasku dari atas kursi bar.
"Tapi kalau saya naik KRL memakai sepatu pantofel butut ini... saya tidak terlihat. Saya transparan. Saya hanyalah satu dari jutaan remah-remah kelas pekerja Sudirman yang tidak punya nilai berita bagi media mana pun. Penyamaran terbaik adalah dengan membaur di keramaian bawah tanah."
Rayan terdiam. Bibirnya terkatup rapat. Ia adalah seorang ahli strategi bisnis, dan ia tahu betul bahwa argumen yang baru saja kusodorkan sangat logis, anti-peluru, dan tidak bisa dibantah dari sudut pandang manajemen risiko.
Ia benci mengakuinya, tapi aku benar.
Rayan memalingkan wajahnya sejenak, menghela napas kasar dari hidungnya. Ia menyerah.
"Terserah kamu," gumamnya final, nadanya mengandung kekalahan yang enggan ia akui. "Tapi kalau jadwal KRL-mu membuatmu terlambat menghadiri acara keluarga yang sudah saya tetapkan, saya akan menyuruh Daniel menarikmu keluar dari kereta itu pakai helikopter jika perlu."
"Tidak akan terlambat, Pak. Akurasi ketepatan waktu saya berada di atas rata-rata," balasku puas.
Aku memutar tubuhku, berjalan menuju pintu keluar penthouse dengan langkah cepat. Aku memutar kenop pintu, bersiap melangkah keluar menuju lift khusus.
"Nara."
Suara Rayan menghentikan langkahku di ambang pintu. Aku menoleh ke belakang.
Pria itu masih bersandar di meja dapur, handuk putih masih melingkar di lehernya. Ia menatapku dari jarak sepuluh meter. Ekspresinya sulit dibaca.
"Selamat bekerja," katanya datar. Singkat. Tanpa tambahan apa-apa lagi.
Otakku berdenging sejenak. Aku tidak ingat kapan terakhir kali ada seseorang di rumah yang mengucapkan kalimat sesederhana itu kepadaku di pagi hari tanpa embel-embel tuntutan. Sri Wahyuni hanya mengucapkan kalimat itu jika ia mengharapkan sesuatu dariku. Tapi dari Rayan? Ini murni sebuah pengakuan atas keberadaanku.
Aku mengencangkan peganganku pada gagang tas kainku.
"Terima kasih. Selamat berolahraga, Rayan," balasku pelan.
Aku melangkah keluar dan menutup pintu penthouse dengan rapat di belakangku.
Begitu berada di dalam lift yang meluncur turun sendirian, aku menyandarkan tubuhku ke dinding kaca, memejamkan mata rapat-rapat. Telapak tanganku masih terasa dingin.
Sialan.
Dinding es di dadaku memang masih sangat tebal, tapi insiden di depan kulkas tadi sentuhan tangannya di pinggangku, panas tubuhnya, dan kalimat 'selamat bekerja'-nya barusan adalah sebuah peringatan bahaya level satu.
Aku harus lebih berhati-hati. Karena ternyata, ancaman terbesar dari kontrak satu miliar ini bukanlah ular-ular berbisa di rumah utama keluarga Adristo.
Ancaman terbesarnya adalah laki-laki yang berbagi rak kulkas denganku di lantai empat puluh ini.