NovelToon NovelToon
Bullet Train To Yesterday

Bullet Train To Yesterday

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Romansa Fantasi
Popularitas:391
Nilai: 5
Nama Author: AnaRo

Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
​Namun, semesta memiliki rencana lain.
​Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menonton Kisah yang belum usai

Kini, kami berempat terjebak dalam satu meja panjang. Aku di samping Zayn, dan Rain di hadapanku bersama Devanka. Aroma parfum mahal dan ketegangan rahasia memenuhi udara, jauh lebih menyesakkan daripada frekuensi dengingan mesin waktu yang pernah kurasakan.

Suasana di meja itu mendadak berubah menjadi medan perang dingin yang mencekam. Zayn yang tadi tampak santai dan hangat, kini duduk dengan punggung tegak, rahangnya mengeras. Di seberangnya, Devanka sibuk merapikan serbet dengan gerakan yang terlalu dipaksakan, seolah-olah kain itu adalah musuh bebuyutannya.

​Aku dan Rain hanya saling lempar pandang. Tanpa perlu kata-kata, insting kami sebagai "pendatang dari masa depan" langsung menangkap situasi ini. Ada sisa-sisa ledakan emosi di antara Zayn dan Devanka yang tertinggal dari masa lalu.

​"Kebetulan sekali ya, Zayn," Devanka membuka suara, nadanya setajam silet yang dibungkus sutra. "Aku pikir kamu masih sibuk 'mencari jati diri' di luar kota. Ternyata sudah sempat kencan buta."

​Zayn terkekeh sinis, tangannya memainkan sendok dengan ritme yang menyebalkan. "Waktu berubah, Devanka. Daripada terjebak di masa lalu yang... melelahkan, lebih baik membuka lembaran baru, kan?"

​"Lembaran baru atau sekadar ....?" sindir Devanka lagi, matanya melirikku sekilas dengan tatapan yang sulit diartikan.

​Aku hampir tersedak jus jerukku, tapi sebuah tangan di bawah meja menepuk lututku pelan. Aku menoleh. Rain sedang memotong steak-nya dengan sangat tenang, ekspresinya datar seolah ia sedang menonton drama picisan di televisi. Ia menyodorkan sepotong daging kecil ke arah piringku.

​"Cicipi ini, Ra. Saus jamurnya lumayan enak," bisik Rain, mengabaikan ketegangan yang hampir meledakkan meja kami.

​Aku mengikuti permainannya. Aku menusuk potongan daging itu dan mengunyahnya pelan. "Iya, gurih. Kamu harus coba asparagusnya juga, Rain."

​Kami berdua benar-benar menjadi penonton paling santai di barisan terdepan. Sementara Zayn dan Devanka mulai berdebat tentang "janji yang diingkari" dan "siapa yang pergi lebih dulu" dengan kalimat-kalimat kiasan yang pedas, aku dan Rain justru sibuk mendiskusikan tekstur makanan.

​"Jadi, Siska yang menjodohkanmu dengan... si Jati Diri ini?" tanya Rain pelan, matanya melirik Zayn yang sedang membalas sindiran Devanka tentang selera berpakaian.

​"Daripada aku diseret ke kencan buta oleh tanteku, lebih baik aku yang pegang kendali, kan?" jawabku lirih. "Tapi sepertinya agen perjodohanku kurang riset soal masa lalu kliennya."

​Rain tersenyum tipis, jenis senyum yang hanya ia tunjukkan padaku. "Setidaknya makanan di sini tidak mengecewakan. Anggap saja ini hiburan gratis sebelum kita menghadapi Niko nanti sore."

​"Kamu benar," sahutku sembari menyuap sesendok pasta.

​Zayn mendadak menggebrak meja pelan. "Cukup, Devaaanka! Kita di sini untuk bertemu orang baru, bukan untuk mengaudit kesalahan tiga tahun lalu!"

​"Aku tidak mengaudit, Zayn. Aku hanya mengingatkan agar Mbak Ayyara tidak salah pilih," balas Devanka dengan senyum kemenangan yang miring.

​Aku dan Rain hanya saling lirik lagi, lalu serentak menyuap makanan kami. Di tengah drama asmara anak muda yang membara ini.

​"Mau tambah hidangan penutup, Ra?" tawar Rain dengan nada paling sopan, seolah Zayn dan Devanka hanyalah patung dekorasi di meja kami.

​"Tentu. Chocolate lava cake kedengarannya bagus," jawabku mantap, membiarkan pertengkaran di hadapan kami menjadi latar musik pengiring makan siang yang tak terlupakan ini.

Setelah menandaskan hidangan utama hingga kenyang, aku dan Rain masih bertahan di posisi masing-masing. Kami bertransformasi menjadi penonton pasif yang cukup setia, mengamati Zayn dan Devanka yang piringnya masih penuh, seolah selera makan mereka habis terbakar oleh api adu mulut yang tak kunjung padam.

​Akhirnya, ketegangan itu mencapai puncaknya. Zayn berdiri dengan wajah yang kaku dan sisa-sisa kecanggungan yang nyata, berpamitan lebih dulu tanpa berani menatap mataku lama-lama.

Tak berselang lama, Devanka menyusul dengan langkah anggun yang dihentak-hentakkan ke lantai, meninggalkan aroma parfum mahal yang berbaur dengan sisa debat kusir mereka.

​Meja kami mendadak sunyi, menyisakan dua piring kosong milikku dan Rain.

​Baru saja aku hendak menarik napas lega, ponselku bergetar. Siska. Si agen perjodohan itu rupanya sudah berada di area yang sama dan ingin segera bertemu untuk meminta laporan pandangan mata. Belum sempat aku membalas pesannya, sosok Siska sudah muncul di ambang pintu, melangkah gesit ke arah meja kami, lalu tanpa permisi menarik kursi yang tadi diduduki Devanka.

​Siska meletakkan tasnya di atas meja, napasnya sedikit terengah. Namun, saat matanya beralih dari wajahku ke pria yang duduk tepat di hadapanku, gerakannya terhenti. Ia mengerjap berkali-kali, memandang Rain dari ujung rambut hingga ujung kaus hitamnya dengan raut wajah yang penuh tanda tanya besar.

​"Lho, Ra?" Siska mencondongkan tubuh, berbisik namun suaranya tetap terdengar jelas oleh kami berdua. "Tadi Zayn sudah laporan katanya dia pamit duluan karena... yah, ada insiden sedikit. Tapi ini siapa?"

​Siska menatap Rain dengan intensitas yang membuatku ingin tenggelam ke bawah meja.

"Maksudku, orang yang kupasangkan denganmu tadi kan Zayn. Kok sekarang kamu malah asyik makan siang sama... pria ini?"

​Ia menjeda kalimatnya, menatap Rain yang hanya membalasnya dengan senyum tipis yang sangat sopan.

​Siska beralih menatapku lagi, menuntut penjelasan. "Ra, jangan bilang kamu kencan buta sama dua orang sekaligus di satu meja? Atau ini kandidat dari bibimu yang lain?"

​Aku berdehem, mencoba menelan rasa kikuk yang mendadak menyerang.

"Bukan begitu, Sis," jawabku akhirnya, mencoba tetap tenang. "Keadaannya... sedikit lebih rumit dari skenario perjodohanmu."

​Rain hanya menyesap sisa air mineralnya, matanya menatapku dengan binar geli, seolah ia sangat menikmati posisiku yang kini terdesak oleh interogasi Siska. Sepertinya, hari Minggu ini akan menjadi hari yang sangat panjang sebelum kami sampai ke pesta ulang tahun Niko.

Daripada terjebak dalam interogasi yang semakin menyudutkan, aku memutuskan untuk memotong kalimat Siska dengan gerakan tangan yang tenang. "Sis, perkenalkan, ini Rain."

​Siska menyipitkan mata, seolah sedang memindai database di kepalanya.

Sedetik kemudian, matanya terbelalak. Ia menepuk jidatnya sendiri dengan cukup keras hingga menimbulkan bunyi plak yang membuat beberapa pengunjung kafe menoleh.

​"Ya ampun! Kamu... Rain yang itu?!" pekik Siska tertahan. Ia beralih menatap Rain dengan pandangan tak percaya. "Pantas saja wajahmu tidak asing! Kamu kan klien yang dijodohkan tantemu dengan Devanka siang ini!"

​Rain hanya menanggapi dengan anggukan sopan, sementara Siska mulai menggeledah tasnya, mengeluarkan ponsel dan sibuk menggeser-geser layar dengan cepat.

​"Gila! Aku memang yang mengatur kencan kalian berdua, tapi aku benar-benar tidak memperhatikan kalau kalian memilih lokasi kafe yang sama!" Siska tertawa renyah, seolah baru saja menemukan lelucon paling lucu tahun ini.

"Ra, ini benar-benar kebetulan yang ajaib. Aku menjodohkan kalian masing-masing dengan orang lain, tapi kalian malah berakhir di satu meja yang sama?"

​Aku melirik Rain. Ia tampak jauh lebih santai daripada aku, seolah sudah memprediksi bahwa Siska akan segera menyadari benang merah ini.

​"Jadi..." Siska menopang dagu, matanya bergantian menatapku dan Rain dengan binar penuh selidik.

"Gimana tadi? Zayn dan Devanka? Sepertinya mereka bukan tipe kalian, ya? Mengingat sekarang kalian malah kelihatan... akrab?"

​"Sangat akrab, Sis," sela Rain dengan nada datar namun mengandung sindiran halus. "Saking akrabnya, kami tadi menonton pertunjukan drama sejarah secara gratis di meja ini."

​Siska mengerutkan kening, tidak mengerti.

Namun, aku segera menimpali sebelum ia bertanya lebih jauh. "Sudahlah, Sis. Intinya kencan buta tadi gagal total untuk kami berdua. Tapi makanan di sini lumayan, jadi kami tidak merasa rugi-rugi amat."

​Siska menghela napas, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lemas. "Aduh, maaf ya, Ra, Rain. Sepertinya insting perjodohanku lagi tumpul. Tapi lihat kalian berdua duduk bareng begini, kok rasanya malah lebih pas, ya?"

​Aku hampir tersedak ludah sendiri mendengar ucapan Siska. Belum sempat aku membantah, Rain sudah bangkit dari kursinya.

​"Kami harus pergi, Sis. Ada urusan lain," ucap Rain sembari melirik jam tangannya. Ia kemudian menatapku, memberikan kode bahwa sudah waktunya kami meluncur ke medan perang berikutnya: pesta ulang tahun Niko yang kekanak-kanakan.

​Aku ikut berdiri, merapikan kardigan yang tersampir di bahuku. "Kami duluan ya, Sis. Kabari saja kalau ada kandidat lain yang lebih... waras."

​Siska hanya melambai lemas, masih tampak bingung dengan pemandangan kami yang melangkah keluar kafe bersama-sama.

Di luar, udara siang yang terik menyambut kami. Aku mengembuskan napas panjang, merasa beban kencan buta tadi akhirnya terangkat.

​"Jadi," kataku sambil menatap Rain yang sedang mencari posisi parkir motornya. "Siap untuk pesta 'rumput'?

​Rain tertawa pahit, memakai helmnya dengan gerakan mantap. "Setidaknya di pesta Niko, tidak akan ada kencan buta yang berakhir dengan debat kusir masa lalu."

​Aku tersenyum, lalu naik ke boncengan motornya. Di tengah deru mesin dan hiruk pikuk jalanan.

Di atas motor, embusan angin jalanan menerpa wajah kami, namun suara Rain masih terdengar jelas melalui celah helmnya.

​"Kamu tahu, Ra? Nenek Elia itu sebenarnya cuma pelaksana lapangan," ujar Rain, suaranya sedikit meninggi agar bersaing dengan deru mesin. "Dalang di balik kencan buta tadi adalah Ibuku.

Beliau yang menelepon dari luar negeri, mendesak Nenek untuk mencari siapa pun yang punya profil 'mapan' menurut standarnya. Devanka itu proyek ambisi beliau."

​Aku sedikit terkejut mendengarnya. Jadi, pengaruh ibu Rain ternyata melintasi benua hanya untuk memastikan putranya tidak melajang di tahun 2019 ini.

​"Sedangkan aku?" aku tertawa kecil, sedikit miris. "Aku adalah dalang untuk kencan butaku sendiri, Rain."

​Aku bisa merasakan bahu Rain sedikit menegang. Ia melirikku melalui spion motor. "Maksudmu?"

​"Aku yang menghubungi Siska secara sadar. Aku yang meminta dicarikan kandidat mana pun yang bisa dikompromi," jelasku jujur.

"Aku hanya ingin menciptakan perisai. Jika aku punya seseorang untuk dibawa ke pernikahan Bian, Ibu dan keluargaku tidak akan punya celah untuk menjodohkanku lagi dengan anak teman bapak atau siapa pun itu."

​Rain terdiam sejenak. Motor melambat saat kami mendekati lampu merah. "Jadi, kita berdua sama-sama sedang melakukan aksi sabotase terhadap ekspektasi keluarga?"

​"Kira-kira begitu. Bedanya, kamu disabotase dari luar negeri, sedangkan aku menyabotase diriku sendiri dari dalam," sahutku sembari merapatkan kardigan.

​Rain terkekeh pahit. "Ironis, ya. Kita melintasi waktu, mencoba menyelamatkan masa depan, tapi di sini kita malah sibuk menyelamatkan diri dari kencan buta yang payah."

​Lampu berubah hijau. Rain kembali memacu motornya, membelah kemacetan menuju kediaman Niko. Di balik punggungnya, aku merenung. Ternyata beban yang kami bawa tidak jauh berbeda. Kami sama-sama orang asing di garis waktu ini, mencoba mencari perlindungan di balik kepura-puraan agar hidup terasa sedikit lebih normal.

​"Omong-omong," Rain bersuara lagi saat kami sudah hampir sampai. "Kalau kencan butamu tadi gagal total karena Zayn ternyata punya 'sejarah' dengan Devanka, apa rencanamu selanjutnya untuk pernikahan adikmu?"

​Aku menatap deretan ruko yang kami lewati. "Entahlah. Mungkin menunggu kabar siska" Jawabku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!