Di tengah panas Kalimantan yang tak kunjung reda, Budi Santoso-seorang sales biasa di Palangkaraya menemukan kehidupan yang berubah drastis setelah sebuah “sistem” misterius muncul di kepalanya. Awalnya hanya alat untuk naik level dan bertahan hidup, sistem itu kini menjadi satu-satunya harapannya saat alam mulai bermutasi dengan kejam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Taman Palangkaraya adalah spot hits di kota tempat kencan favorit, piknik, jogging, sampe foto-foto. Tiap musim indah: musim hujan daun hijau lebat, musim kemarau bunga-bunga mekar. Danau di tengahnya kayak permata biru, bunga teratai lagi rame berbunga. Karena cuaca aneh belakangan, air danau makin jernih, kayak safir gede di tengah taman.
Hari Sabtu, taman rame banget. Pasangan mesra di rumput, keluarga piknik, anak kecil lari-larian. Budi turun dari ojek, langsung lari ke area BBQ di pinggir danau.
Nggak lama, dia nemuin mereka.
Kelompoknya lagi sibuk nyiapin. Pak Candra lagi oles minyak ke daging kambing, sambil ngobrol sama Mbak Lia (bagian keuangan). Mbak Wulan lagi pegang terong, taburin cabe bubuk.
Mbak Lia cewek cantik di kantor: kulit putih, muka oval, mata besar. Tapi agak sombong, dingin sama cowok. Budi nggak terlalu deket sama dia, penasaran gimana Pak Candra bisa ajak dia ikut.
“Aku datang telat ya? Ini bikin ngiler banget,” kata Budi sambil nyengir.
Mbak Wulan muka montok, alis tebel, pipi berlesung pipit pas senyum keliatan lucu. Dia pasti anak orang kaya, liat dari baju dan tasnya. “Aku nggak undang kamu sih. Yang aku undang dompetmu.”
“Ini masyarakat kapitalis ya. Gelap banget. Aku makan banyak nih, biar mati kekenyangan!”
Pak Candra dan Budi sama-sama di marketing. Mereka lumayan akrab, tapi nggak terlalu deket. Budi sapa Pak Candra dan Mbak Lia, ngobrol sopan bentar, lalu ambil sayap ayam, taruh di panggangan.
“Kenapa kemarin nggak masuk?” tanya Mbak Wulan.
“Ceritanya panjang. Hampir mati,” jawab Budi sambil nyengir getir, inget kejadian kemarin.
“Ngibul!” Mbak Wulan angkat alis. Jelas nggak percaya.
Budi lumayan deket sama Mbak Wulan suka bercanda bareng. Dia pengen kasih warning, tapi nggak mau keliatan lebay.
“Percaya nggak kalau aku bilang kemarin ketemu ular gede banget?”
“Maksudnya di mimpi? Aku nggak goblok tau,” Mbak Wulan manyun.
Budi buka mulut, nggak bisa bales.
Pak Candra nyamber, “Di mana kamu liatnya?”
“Di bukit deket Muara Teweh. Temen serumahku hilang, jadi aku ikut polisi cari. Nemuin ular gede.”
“Gede gimana?”
“Tebelnya segede ember!”
Pak Candra nyengir. “Bohong kali. Di internet lagi rame soal tanaman dan hewan tumbuh cepet. Mungkin setebel paha manusia, bukan ember. Kamu pasti salah liat.”
Dia nengok Mbak Lia. “Mbak suka pedes nggak?”
“Sedang aja,” jawab Mbak Lia sambil lirik Budi sekilas.
Budi manyun. Orang-orang terlalu banyak baca berita aneh, jadi nggak percaya lagi.
“Beneran?” Mbak Wulan tanya takut-takut. Cewek biasanya takut ular.
Budi sabar jelasin, “Kenapa aku bohong? Situasinya bakal tambah parah. Liat tanaman di sekitar sini aja dipangkas terus. Kalau ke desa-desa, matamu bakal melotot.”
“Aku percaya,” Mbak Lia tiba-tiba bilang. Mukanya khawatir. Dia ragu bentar, lalu lanjut, “Om ku polisi. Belakangan banyak gelandangan hilang. Katanya dimakan tikus gede dari got.”
Pak Candra kaget. “Tikus makan orang?”
Mbak Lia diem aja, keliatan nggak enak hati.
Budi ngerasa campur aduk. Di satu sisi, hipotesisnya terbukti. Di sisi lain, dia takut apa yang bakal terjadi selanjutnya.
Tiba-tiba ada jeritan ketakutan dari kejauhan. Keributan besar. Orang-orang nangis, lari pontang-panting.
“Ada apa?” muka Budi langsung gelap. Dia nengok ke danau. Air lagi mendidih deket pinggir, warna merah darah muncrat ke permukaan.
Garis panjang muncul di air, kayak pedang tajam nyembul. Garis itu gerak cepet, sampe ke titik darah dalam hitungan detik.
Pusaran air muncul satu demi satu lebarnya sekitar satu meter, dalam setengah meter. Beberapa tabrakan, hilang atau jadi pusaran lebih gede.
Orang-orang lari kocar-kacir sebentar, lalu sadar monster di danau nggak bisa keluar air. Mereka berhenti, nonton dari pinggir. Beberapa cari penyebab, yang lain ikut ramein.
Berita nyebar cepet.
Sepasang suami istri mati. Mereka lagi mesra di pinggir danau, lepas sepatu, celup kaki ke air karena panas. Nggak ada yang notice kapan riak pertama muncul.
Ikan hitam aneh lompat dari air, tarik cowoknya ke bawah. Karena lagi pelukan, ceweknya ikut terseret. Keduanya mati bareng.
Polisi datang cepet, lokasi langsung ditutup.
Beberapa polisi keliatan nggak kaget. Pas dikasih tahu, langsung telepon atasan.
“Aku rasa kita nggak bisa di sini lagi. Pulang yuk,” kata Mbak Lia. Tangannya gemetar, mukanya pucet banget.
“Oke!” Pak Candra langsung setuju.
Pas jalan keluar, Pak Candra nengok Budi. “Kamu beneran soal ular itu?”
Budi angguk muram. “Aku mutusin berhenti kerja. Kalian juga siap-siap. Semuanya bakal lebih parah dari yang kalian bayangin.”
Pas keluar taman, beberapa mobil polisi berhenti. Taman Palangkaraya bakal ditutup beberapa hari buat bunuh semua ikan aneh di danau.
Mereka sampe persimpangan. Budi tanya, “Masih karaoke nggak?”
“Kalian aja. Aku nggak mood. Pulang dulu,” kata Mbak Lia geleng-geleng kepala.
“Aku juga nggak ikut,” Pak Candra ikut mundur.
“Kamu bilang mau berhenti kerja. Boleh minta nomormu?” Mbak Lia tanya, nengok Budi.
Budi agak bingung, tapi langsung jawab, “Boleh dong.”
“Tetap kontak ya!” Mbak Lia senyum tipis, goyang-goyang HP-nya. “Aku duluan.”
“Aku anter!” kata Pak Candra.
“Nggak usah. Naik ojek aja,” tolak Mbak Lia.
Setelah tukeran nomor, Budi masukin HP ke saku, nengok Mbak Wulan yang masih bengong.
“Kenapa masih shock? Kamu nggak takut kan?”
“Mengerikan banget! Kamu kok biasa aja?” Mbak Wulan nengok Budi aneh.
“Cowok kan lebih berani,” jawab Budi enteng. Dibanding kemarin, kejadian tadi kayak kecil. Makanya dia nggak takut.
“Pak Candra takut kok. Aku liat dia gemeteran,” Mbak Wulan bantah.
“Kamu cari alasan ya?” Budi nggak mau gosip, ganti topik. “Nggak jadi karaoke dong. Kita pulang aja?”
“Tentu aja jadi! Kenapa nggak?” Mbak Wulan langsung semangat.
“Cuma kita berdua?”
“Emangnya dua orang nggak bisa karaoke bareng?” Mbak Wulan manyun.
“Oke deh. Kamu cuma butuh dompetku kan?” Budi nyengir.
Mereka jalan bareng ke KTV terdekat, ngobrol santai.
“Kamu bilang kemarin ke bukit. Temen serumahmu ketemu?” tanya Mbak Wulan penasaran.
“Udah mati. Nggak usah aku ceritain caranya. Nanti kamu mimpi buruk,” jawab Budi sambil menghela napas.
“Jangan bilang dia ditelan ular itu!” Mbak Wulan mata membelalak.
“Aku nggak bilang apa-apa,” Budi jawab polos.
“Muka kamu bilang iya. Kalau aku mimpi buruk malam ini, salah kamu!” Mbak Wulan manyun.
“Realitas lebih serem dari mimpi buruk. Minimal mimpi buruk bisa bangun. Nasihat aku: pulang ke rumah, beli banyak makanan dan stok. Semakin banyak semakin baik. Aku takut semuanya bakal tambah parah,” kata Budi serius.
“Ayahku udah beli banyak kok. Malah bikin gudang bawah tanah. Awalnya aku pikir lebay. Dulu pas ramalan kiamat 2012, dia ikut bikin kapal sama temen-temennya. Kita ketawa semua waktu itu,” Mbak Wulan gumam.
“Kalau ada apa-apa parah, kamu bisa ke kontrakanku,” Mbak Wulan bilang pelan, mukanya merah sambil nunduk.