NovelToon NovelToon
SATU NAMA YANG TERHAPUS

SATU NAMA YANG TERHAPUS

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / Keluarga / Amnesia
Popularitas:734
Nilai: 5
Nama Author: Xingyu

Kakak tertua yang NGGA PEKA-an banget sama kasih sayang yg diberi orang sekitarnya dan dia cuma tau memberi tanpa sadar kalau dia juga butuh disayangi.

Momen momen bahagia terjadi di desa itu, sampai ketika kembali ke kota malah ada kejadian yang GONG banget...

Penasaran gimana ceritanya? Skuy pantau terus :v

JADWAL UPDATE :
Everyday.... (kalo ngga sakit / ada halangan) :v
12.00 WIB & 16.00 WIB

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xingyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kilas Balik Yang Mengintai

Pagi itu, aroma nasi goreng margarin buatan Arifin menuhin dapur, tapi suasananya nggak sehangat biasanya. Arifin (19) berdiri di depan kompor, tangannya sesekali mijit pelipis. Kepalanya masih kerasa berat, sisa dari "serangan" pusing semalem pas dia liat Ren dipukul Gibran.

Gibran turun duluan. Langkahnya nggak seberisik kemaren. Dia langsung duduk di samping Fahri, matanya masih agak sembab, tapi mukanya udah jauh lebih tenang. Dia nggak lagi nendang-nendang kursi atau masang muka nantang. Dia cuma diem, natap piringnya kosong.

Fahri nengok ke Gibran, terus nepuk bahu kembarannya itu sekali. "Makan, Bran. Lo butuh nutrisi buat emosi lo yang labil."

Gibran cuma nggumam nggak jelas, terus mulai nyendok nasi gorengnya pelan-pelan.

Nggak lama, Ren muncul. Pipinya yang lecet kemaren sekarang berubah jadi biru keunguan, kelihatan kontras banget di kulitnya yang bersih. Dia diem bentar di ambang pintu, ngeliatin Gibran dengan waspada.

"Ren, duduk. Makanlah mumpung masih anget," ajak Arifin. Dia nyodorin piring ke arah Ren.

Pas Arifin ngeliat memar di pipi Ren, dadanya kerasa nyut-nyutan lagi. Kenapa gue ngerasa bersalah banget ya? Padahal kan yang mukul Gibran? batin Arifin bingung. Namanya juga "Raja Nggak Peka", dia nggak sadar kalau itu adalah ikatan batin yang coba ngingetin dia soal janjinya buat jagain Ren di desa dulu.

"Makasih... Bang Arifin," Ren duduk di kursi paling ujung. Dia mulai makan dengan tenang, nggak terganggu sama tatapan sinis Gibran yang sesekali masih muncul.

"Gimana pipi kamu? Masih sakit?" tanya Arifin sambil duduk di depan mereka.

"Dikit... tapi nggak apa-apa. Bekas... gigitan Abang dulu lebih sakit," jawab Ren polos, tapi suaranya sengaja dikerasin dikit.

Deg.

Arifin tersentak. "Gigitan... Abang? Kapan Abang gigit kamu?"

Ren cuma diem, dia nggak jawab lagi. Dia cuma senyum tipis yang bikin Arifin makin pusing.

Tiba-tiba, pandangan Arifin kabur lagi. Dia ngelihat potongan gambar: seorang bocah (Ren) yang lagi nangis sesenggukan di bawah pohon jambu, dan tangannya sendiri yang lagi megang kapas. Suara di kepalanya kedengeran sayup-sayup: "Gigi kamu nggak patah kan, Ren?"

"Aduh...!" Arifin ngeringis, dia hampir aja ngejatuhin gelas tehnya.

"Bang?! Lo kumat lagi?" Fahri langsung sigap megang tangan Arifin.

Gibran yang liat Arifin kesakitan, refleks mau marah ke Ren lagi, tapi dia ngerasa tangan Fahri makin kenceng nyengkeram bahunya di bawah meja. Gibran akhirnya cuma bisa diem, nahan diri. Dia cuma natap Arifin dengan khawatir.

"Nggak apa-apa... cuma pusing bentar," Arifin nyenderin kepalanya ke kursi, napasnya buru-buru. "Kenapa ya tiap kali Ren ngomong sesuatu, kepala Abang kayak diledakin?"

"Secara medis, itu namanya trigger memori, Bang," jelas Fahri telaten. "Otak lo sebenernya tau jawabannya, tapi ego lo atau trauma lo masih nutup pintu itu rapat-rapat. Jangan dipaksa, nanti malah pingsan lagi."

Ren natap Arifin dengan rasa iba yang dalem banget. Dia pengen banget bilang, "Maafin Ren, Bang. Ren nggak bermaksud bikin Abang sakit." Tapi Ren tau, dia harus sabar.

"Bang Arifin... kalau pusing, Ren bisa pijit. Ren... inget caranya," tawar Ren pelan.

"Nggak usah! Bang Arifin butuh istirahat, bukan butuh pijatan anak kecil!" seru Gibran ketus, tapi dia langsung nunduk pas Fahri ngelirik dia tajam. "Maksud gue... biar Bang Arifin tidur aja."

Arifin senyum hambar. "Iya, Ren. Makasih ya tawaran kamu. Tapi Abang mau jaga kedai dulu bentar, hari ini banyak pesanan."

Pagi itu berakhir dengan suasana yang sangat aneh. Arifin yang terus berjuang lawan rasa sakit, Ren yang sabar menanti, Fahri yang jadi pengawas, dan Gibran yang mulai belajar nahan cemburu. Mereka berempat ada di bawah satu atap, tapi masing-masing punya "perang" sendiri di dalem kepalanya.

...----------------...

Siang itu, Kafe "Langkah" (nama kafenya) lagi ramai-ramainya. Jam makan siang bikin banyak orang kantoran mampir buat cari asupan kafein. Arifin sendirian di balik mesin espresso, tangannya bergerak lincah—tapi mukanya mulai dibasahi keringat dingin.

"Pesanan meja empat, satu Latte sama dua Americano!" seru Gibran dari arah depan. Gibran sekarang mulai dipaksa Fahri buat bantu-bantu bersih meja daripada cuma bengong di kamar.

Arifin mengangguk, tapi kepalanya mulai berdenyut. Suara mesin kopi yang bising dan pesanan yang terus masuk bikin fokusnya goyah. Pas dia mau nuangin susu ke cangkir, tangannya gemetar hebat. Cangkirnya hampir merosot dari meja.

Tiba-tiba, sepasang tangan yang lebih kecil tapi sangat tenang meraih pitcher susu itu.

"Biar Ren yang buat, Bang. Abang duduk bentar," ucap Ren pelan tapi tegas.

Arifin bengong. "Eh? Kamu bisa? Ini mesin mahal, Ren. Nanti kalau—"

Belum sempat Arifin selesai ngomong, Ren sudah memutar steam wand dengan gerakan yang sangat profesional. Dia mengatur suhu susu, lalu dengan satu gerakan halus, dia menuangkan susu itu ke cangkir, membentuk pola rosetta yang sempurna. Persis seperti gaya Arifin kalau lagi mood bagus.

Arifin melongo. "Loh... kamu belajar dari mana? Tante Sarah ngajarin ini juga di desa?"

Ren cuma diam sebentar, lalu menaruh cangkir itu di nampan. "Ren cuma... inget gerak-gerik Abang."

Arifin ngerasa jantungnya detak kenceng. Ada perasaan deja vu yang kuat banget. Di kepalanya muncul potongan gambar buram: dia lagi nuntun tangan kecil seorang bocah buat megang alat masak. Tapi sedetik kemudian, rasa sakit menghantam pelipisnya.

"Aduh..." Arifin megangin kepalanya, nyaris jatuh kalau Ren nggak nahan bahunya.

"Bang! Kan Ren bilang duduk dulu!" Ren narik kursi kayu di belakang meja bar, maksa Arifin buat duduk.

Gibran yang tadinya mau protes karena liat Ren pegang-pegang mesin kopi, langsung diam pas liat Fahri menatapnya dari pojokan. Fahri lagi nyatet stok kopi di tablet, tapi matanya nggak lepas dari mereka.

"Gibran, lanjut bersihin meja lima. Jangan melotot mulu," tegur Fahri dingin.

Gibran menggerutu pelan, "Iya, iya. Bawel lo, Ri." Dia balik kerja, meskipun sesekali masih ngelirik Ren dengan tatapan nggak suka. Tapi setidaknya, dia nggak lagi teriak-teriak kayak kemarin.

"Ren..." Arifin natap Ren yang sekarang lagi sibuk nerima pesanan pelanggan lain dengan bahasa yang sangat sopan dan rapi. "Kamu bener-bener pinter ya. Padahal kamu baru sehari di sini. Kamu berbakat banget jadi barista."

Ren cuma senyum tipis sambil nyerahin segelas air putih ke Arifin. "Ren bukan berbakat, Bang. Ren cuma... nggak mau liat Abang capek sendiri."

Arifin nyesap air putihnya, matanya terus merhatiin Ren. "Makasih ya. Nggak tau kenapa, liat kamu kerja di sini rasanya... tenang. Kayak Abang emang udah biasa dibantu sama kamu."

"Emang biasa, Bang. Abang aja yang lupa," batin Ren sedih.

"Oiya," Arifin teringat sesuatu. "Besok jadwal Abang kontrol ke dokter lagi. Ini jadwal pertama bulan ini. Kamu mau ikut? Atau mau di rumah aja sama Fahri-Gibran?"

Ren langsung menatap Arifin tanpa ragu. "Ren ikut. Ren nggak mau Abang sendirian di rumah sakit."

Arifin ketawa kecil, dia ngacak-ngacak rambut Ren. "Padahal ada Fahri sama Gibran, tapi kamu protektif banget ya. Padahal kan Abang yang harusnya jagain kamu, Ren."

Ren cuma diam. Dia tahu Arifin adalah "Raja Nggak Peka". Arifin nggak sadar kalau keputusannya buat bawa Ren ke mana-mana adalah awal dari hatinya yang mulai mencoba buat "kenal" lagi sama pemilik nama Ren.

#BERSAMBUNG

1
mai mai~
ni om om cekrak cekrek mulu dah kerjaannya, giliran keponakannya sakit malah ditinggal pulang
Xingyu
Terima kasih buat semuanya yang udha mampir 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!