Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kota Emas dan Penduduk Limun
Lokasi: Dermaga Utama, Kota Saranjana (Dimensi Limun).
Waktu: Tidak Relevan (Di Sini Waktu Berhenti).
Kaki Sarah gemetar saat sepatu botnya menyentuh lantai dermaga. Bukan karena takut, tapi karena sensasinya. Lantai itu terlihat seperti emas padat, tapi saat diinjak terasa empuk seperti karet dan hangat seperti kulit manusia.
“Jangan ambil apapun,” bisik Dimas, matanya menyapu cakrawala kota yang menyilaukan. “Sekecil kerikil pun. Kalau kamu bawa keluar, itu akan berubah jadi kunyit atau batu nisan.”
Pemandangan di depan mereka melumpuhkan akal sehat.
Gedung-gedung pencakar langit menjulang menembus awan, tapi arsitekturnya bukan beton kotak-kotak. Gedung-gedung itu berbentuk seperti Totem Dayak raksasa yang diukir dari kristal dan logam mulia. Ukiran burung Enggang dan Naga mendominasi setiap sudut.
Jalan raya lebar membentang tanpa aspal, melainkan lempengan cahaya putih yang melayang. Kendaraan-kendaraan berbentuk kapsul lonjong meluncur dalam keheningan total, tanpa roda, tanpa suara mesin.
“Ini… Wakanda dengan kearifan lokal?” Gumam Sarah, mengecek Geiger Counter-nya. “Radiasinya nol. Oksigen murni 100%. Secara medis, tempat ini lebih steril dari ruang operasi.”
“Ini bukan sterilitas medis, Sar,” koreksi Dimas. “Ini kemurnian spiritual. Di sini nggak ada debu karena nggak ada kematian. Sel-sel nggak rusak.”
Mereka berjalan mengendap-endap di balik patung emas raksasa, menghindari area terbuka.
Di kejauhan, sekitar 500 meter dari Dermaga, terlihat sebuah bangunan paling megah. Menara Pusat. Bentuknya seperti Rumah Betang (rumah panjang adat Dayak) tapi disusun vertikal setinggi Burj Khalifa. Di puncaknya, ada cahaya merah berdenyut.
“Itu tujuannya,” tunjuk Dimas. “Pusat Energi. Mandau Sumpah pasti ada di sana.”
“Dan Mr. Vaan sudah menggelar karpet merah,” sahut Sarah, meneropong dengan monocular-nya.
Di alun-alun depan Menara Pusat, pasukan bayaran Mr. Vaan sudah mendirikan tenda taktis. Mereka memasang Jaring Faraday (penangkal sinyal) dan generator diesel yang berisik, merusak keheningan kota suci itu.
Jalan Raya Menuju Pusat Kota.
Saat mereka bergerak menyusuri gang-gang sempit di antara gedung kristal, Sarah tiba-tiba berhenti. Dia menarik lengan Dimas, menempelkan tubuh mereka ke dinding.
“Ada orang,” bisik Sarah.
Di jalan raya utama, serombongan penduduk Saranjana lewat.
Mereka tinggi-tinggi, rata-rata 2 meter. Kulit mereka putih pucat tanpa pori-pori, seolah terbuat dari pualam. Pakaian mereka adalah campuran jubah tradisional tenun emas dengan aksesoris logam futuristik yang menyala biru.
Wajah mereka tampan dan cantik luar biasa, simetris sempurna. Tapi mereka…
“Mata mereka kosong,” desis Sarah ngeri. “Nggak ada pupil. Cuma cahaya putih.”
Mereka berjalan dengan gerakan yang terlalu halus, seolah melayang. Mereka tidak saling bicara.
“Orang Limun,” kata Dimas pelan. “Mereka bukan hantu. Mereka manusia yang berevolusi di dimensi berbeda ribuan tahun lalu. Mereka sudah melampaui kebutuhan fisik. Nggak makan, nggak minum, nggak bicara.”
Salah satu penduduk itu, seorang wanita jangkung, berhenti mendadak. Kepalanya menoleh patah-patah ke arah gang tempat Dimas dan Sarah bersembunyi.
Jantung Sarah berhenti berdetak.
“Dia liat kita?”
“Diam,” perintah Dimas. Dia meremas jimat Pasak Bumi di sakunya, memancarkan aura perlindungan alam.
Wanita limun itu menatap kosong ke arah mereka selama lima detik, lalu kembali berjalan mengikuti rombongannya.
“Mereka nggak peduli sama kita,” Dimas menghela napas lega. “Bagi mereka, kita cuma serangga beda dimensi. Nggak nyata. Kecuali…”
“Kecuali apa?”
“Kecuali kita bikin keributan atau mencuri sesuatu.”
Alun-Alun Menara Pusat.
Dimas dan Sarah berhasil mendekati perimeter perkemahan Mr. Vaan. Mereka bersembunyi di balik pot bunga raksasa yang berisi tanaman pakis emas.
Mr. Vaan berdiri di tengah alun-alun, dikelilingi oleh teknisi dan dukun bayaran. Di depannya, pintu gerbang Menara Pusat tertutup rapat. Pintu itu terbuat dari kayu ulin hitam setebal satu meter, diukir dengan mantra pelindung yang menyala merah.
“Buka pintu ini!” bentak Mr. Vaan pada dukunnya.
“Gagal, Tuan,” jawab dukun itu gemetar. “Mantranya menolak. Ini Sandi Jiwa. Harus dibuka dengan darah keturuanan asli Panglima Burung.”
Mr. Vaan mendengus kesal. Dia memberi isyarat pada teknisinya.
“Persetan dengan mantra. Pakai Laser Drill.”
Teknisi Vaan mendorong sebuah alat bor laser industri raksasa.
WUUUNG…
Sinar laser hijau di tembakkan ke pintu kayu ulin itu.
ZRAASSS!
Pintu itu tidak terbakar. Justru laser itu memantul balik!
“Awas!”
Sinar laser memantul, memotong generator diesel Vaan menjadi dua.
BOOM!
Ledakan besar terjadi. Api berkobar. Asap hitam membumbung tinggi, menodai langit emas Saranjana.
Suara ledakan itu memecah keheningan abadi kota.
Tiba-tiba, seluruh lampu kota berubah warna. Dari putih tenang menjadi Merah Darah.
Suara sirine berdengung. Bukan sirine listrik, tapi suara tiupan Sangkakala yang bergema dari segala penjuru langit.
Penduduk Limun yang tadi berjalan tenang, tiba-tiba berhenti serentak. Mereka semua menoleh ke arah alun-alun. Mata putih mereka berubah menjadi merah menyala.
“Vaan bego!” Umpat Sarah. “Dia memicu sistem keamanan kota!”
“Ini kesempatan kita,” kata Dimas cepat. “Sistem pertahanan kota bakal fokus nyerang sumber ledakan (Vaan). Pintu belakang pasti terbuka sedikit karena reboot sistem.”
“Pintu belakang?”
“Setiap sistem pertahanan pasti punya celah ventilasi. Di arsitektur Dayak, selalu ada ‘Lubang Angin’ di sisi timur.”
Dimas menarik tangan Sarah.
“Kita masuk lewat samping selagi Vaan sibuk perang lawan satu kota.”
Sisi Timur Menara Pusat.
Sementara pasukan Vaan mulai menembaki Penduduk Limun yang menyerbu mereka seperti zombie futuristik, Dimas dan Sarah memanjat dinding kristal Menara Pusat menggunakan Grappling Hook (tali kait) milik Sarah.
Mereka menemukan celah ventilasi seukuran tubuh manusia di ketinggian 20 meter.
“Masuk!”
Mereka merayap masuk ke dalam lorong ventilasi yang dingin.
Di dalam, Dimas merasakan tekanan energi yang luar biasa besar.
“Kita dekat,” kata Dimas, melihat ujung lorong yang bercahaya.
Mereka melompat turun ke sebuah ruangan luas. Ruang Harta (The Vault).
Ruangan itu kosong melompong. Dindingnya terbuat dari emas murni. Di tengah ruangan, melayang di udara tanpa tali penyangga…
MANDAU SUMPAH.
Senjata itu indah sekaligus mengerikan. Bilahnya bukan besi, tapi Batu Meteorit hitam legam yang memancarkan asap tipis. Gagangnya terbuat dari tulang manusia yang diukir rumit, dihiasi rambut-rambut halus.
Senjata itu berdenyut seperti jantung. Dug… Dug… Dug…
“Itu dia,” bisik Sarah terpesona. “Mandau yang konon dipakai untuk memenggal seribu kepala penjajah dalam satu malam.”
Dimas melangkah maju perlahan. Dia tidak langsung mengambilnya. Dia mengeluarkan sarung tangan khusus yang sudah di mantrai.
“Sar, jaga pintu. Jangan sampai ada yang masuk.”
Dimas mendekati Mandau itu. Dia bisa mendengar bisikan-bisikan di kepalanya. Bisikan amarah. Bisikan perang.
“Siapa yang berani memegangku? Darah siapa yang kau bawa?” Suara berat terdengar di benak Dimas.
“Aku Dimas Pradipa,” jawab Dimas tenang, berbicara pada roh senjata itu. “Aku tidak membawa darah perang. Aku membawa darah perdamaian. Aku datang untuk mengistirahatkanmu, bukan memakaimu.”
Dimas menjulurkan tangannya.
Mandau itu bergetar hebat, menolak sentuhan Dimas. Energi tolakannya melemparkan Dimas mundur.
“Argh!”
“Dimas!” Sarah hendak lari membantunya.
“Jangan! Tetap di pintu!” Teriak Dimas sambil bangkit kembali. “Dia nguji aku!”
Tiba-tiba, pintu utama ruangan itu meledak terbuka.
BLAM!
Dua sosok terlempar masuk. Dua tentara bayaran Vaan yang sudah mati dengan kondisi mengenaskan (seperti dikeringkan).
Di ambang pintu, berdiri Mr. Vaan. Jas putihnya sudah robek-robek dan hangus. Wajahnya berdarah. Dia memegang tongkat sihirnya yang retak.
Dia satu-satunya yang selamat dari serbuan Penduduk Limun diluar.
“Kalian…” geram Vaan, napasnya memburu. “Tikus-tikus kecil yang licik.”
Vaan melihat Mandau yang melayang itu. Matanya berbinar gila.
“Akhirnya. Kekuatan mutlak.”
Vaan mengarahkan tongkatnya ke Sarah.
“Minggir, atau kubuat istrimu menjadi abu.”
Dimas berdiri diantara Vaan dan Mandau.
“Jangan sentuh barang itu, Vaan,” peringat Dimas. “Mandau itu punya kehendak sendiri. Dia bakal makan jiwamu sebelum kamu sempat mengayunkannya.”
“Aku tidak peduli!” Vaan menembakkan energi ungu dari tongkatnya ke arah Dimas.
DHIENG!
Dimas menangkisnya dengan keris Patrem-nya. Tapi kekuatan Vaan terlalu besar. Keris Dimas terlempar. Dimas tersudut ke dinding.
Vaan berlari ke Mandau Sumpah. Dia mengulurkan tangan serakahnya untuk mencengkeram gagang tulang itu.
“TIDAK!” Teriak Dimas.
Tangan Vaan menyentuh gagang Mandau.
Hening sedetik.
Lalu… Mandau itu tertawa.
Suara tawa yang mengerikan menggema di seluruh ruangan.
Bilah hitam Mandau itu tiba-tiba mencair seperti lumpur hidup, merambat naik ke lengan Vaan.
“AAAAHHHHH! APA INI?! LEPAS!” Jerit Vaan.
Lumpur hitam itu bukan melapisinya, tapi Memakannya. Daging tangan Vaan mulai mengering, disedot energinya oleh senjata haus darah itu.
“Dia bukan tuan yang layak,” kata Dimas ngeri. “Mandau itu… sedang makan siang.”
“Dim! Kita harus pergi! Gedung ini mau runtuh!” Teriak Sarah.
Getaran dari jeritan Vaan membuat struktur menara goyah. Langit-langit mulai retak.
“Kita nggak bisa ninggalin Mandau itu lepas!” Kata Dimas.
Dimas melihat Vaan yang sedang sekarat dimakan senjata itu. Dimas melihat satu-satunya kesempatan.
Saat Vaan melemah, ikatan energinya melonggar.
Dimas berlari, melompat, dan menendang dada Vaan sekuat tenaga.
BUGH!
Vaan terlempar ke belakang, terlepas dari Mandau itu. Tapi tangannya sudah putus, dimakan habis oleh senjata itu. Vaan pingsan (atau mati) karena syok.
Mandau itu melayang lagi, tapi kini dalam keadaan mengamuk. Energinya liar tak terkendali.
Dimas mengambil Kain Batik Tulis (yang sama dengan yang dipakai untuk Topeng Rangda, tapi lebih tebal) dari tasnya.
“Bismillah…”
Dimas melompat, menangkap gagang Mandau itu dengan tangan yang dibalut kain Mantra.
ZZZTTTT!
Rasa sakit luar biasa menjalar ke lengan Dimas. Rasanya seperti memegang besi panas membara.
“TIDUR! AKU BILANG TIDUR!” Bentak Dimas, menyalurkan seluruh tenaga dalamnya.
Cahaya di kalung jimat Dimas bersinar terang, melawan kegelapan Mandau.
Perlahan… sangat perlahan… asap hitam itu surut. Bilah meteorit itu berhenti bergetar. Mandau itu “tertidur”, mengakui dominasi spiritual Dimas (atau mungkin hanya lelah setelah memakan tangan Vaan).
Dimas jatuh berlutut, napasnya habis. Dia berhasil membungkus Mandau itu rapat-rapat.
“Dapat,” desah Dimas.
“Ayo lari! Sekarang!” Sarah menarik kerah baju Dimas.
Mereka berlari keluar dari Menara Pusat yang mulai runtuh, meninggalkan Mr. Vaan yang tergeletak di lantai emas, menjadi korban keserakahannya sendiri di kota yang tak mengenal ampun.