NovelToon NovelToon
Runtuhnya Tahta Langit

Runtuhnya Tahta Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Cahaya yang Memburu

Ruangan di bawah tanah itu berubah menjadi medan perang dalam sekejap.

Utusan Langit yang tadinya menyamar sebagai Ren Li kini melayang beberapa inci di atas lantai batu. Sayap-sayap cahayanya yang terbuat dari tulisan kuno berkedip-kedip, menebarkan bayangan aneh ke seluruh dinding katakomba. Matanya yang kini berupa bola cahaya murni menatap Xiao Chen dan Jenderal Tanpa Bayangan tanpa ekspresi.

"Kau tidak akan menang, Utusan," geram Jenderal itu. Separuh wajahnya yang membusuk berkedut, sementara separuh yang tampan menatap dengan kebencian yang membara. "Aku sudah hidup terlalu lama di bawah tanah ini. Aku tahu setiap sudut, setiap celah, setiap jebakan yang ditinggalkan Ras Dewa Patah."

"Jebakan kuno tidak akan menyelamatkanmu," jawab Utusan Langit. Suaranya bergema seperti berasal dari dasar sumur. "Aku dikirim langsung oleh Penguasa Surga Ketiga. Tugasku bukan hanya membunuhmu, Jenderal pembelot. Tapi juga memastikan benih Ras Dewa Patah tercabut sampai ke akar-akarnya."

Xiao Chen tidak menunggu lebih lama. Ia sudah belajar satu hal: dalam pertarungan melawan makhluk Surga, keraguan adalah kematian.

Ia melesat maju.

Energi Chaos dari tulang dada dan tulang punggungnya mengalir deras ke lengan kanan. Enam retakan di sana menyala keemasan, menciptakan jalur sempurna bagi kekuatannya untuk mencapai Yue Que. Pedang patah itu diayunkan dari atas ke bawah dengan kecepatan yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri.

SWIIISSSHHH!

Gelombang tak terlihat melesat ke arah Utusan Langit. Tapi makhluk itu hanya mengangkat satu tangan, dan sebuah perisai cahaya muncul di hadapannya. Ayunan Xiao Chen menghantam perisai itu, menciptakan percikan cahaya keemasan dan putih yang bertabrakan, lalu menghilang tanpa bekas.

"Energi Chaos-mu masih terlalu muda, Pewaris," kata Utusan itu. "Leluhurmu yang pertama butuh ribuan tahun untuk bisa melukaiku. Kau baru beberapa minggu."

"Tapi aku tidak sendirian."

Dari samping, Jenderal Tanpa Bayangan menyerang. Gerakannya aneh—setengah tubuhnya bergerak dengan kecepatan dan ketepatan seorang kultivator Alam Surga Sejati, setengahnya lagi terseret seperti mayat hidup. Tapi pukulannya tetap dahsyat.

Tangannya yang separuh membusuk menghantam perisai cahaya Utusan, dan kali ini perisai itu retak. Bukan karena kekuatan fisik—tapi karena sesuatu yang lain.

"Kau... kau menggunakan Energi Chaos juga?!" Utusan Langit terkejut.

Jenderal itu tersenyum—senyum yang setengah menawan, setengah mengerikan. "Aku sudah seratus tahun hidup di atas katakomba Ras Dewa Patah. Formasi di sini meresap ke dalam tubuhku. Aku bukan pewaris sejati... tapi cukup untuk menyakitimu."

Ia menarik tangannya, dan retakan di perisai cahaya itu melebar. Tapi Utusan Langit tidak tinggal diam. Sayap-sayap cahayanya mengepak, dan puluhan jarum cahaya melesat ke segala arah.

Xiao Chen melompat menghindar, tapi satu jarum mengenai bahu kirinya. Rasanya seperti ditusuk es dan api sekaligus. Energi Chaos di tubuhnya bergejolak, mencoba menetralisir energi asing yang masuk. Tapi itu menguras konsentrasinya.

Jenderal terkena lebih banyak. Tiga jarum menancap di tubuhnya, dan di setiap titik tusukan, cahaya putih mulai menjalar seperti akar, menggerogoti dagingnya yang sudah setengah mati.

"MENYERAHLAH!" raung Utusan Langit. "Kalian berdua bukan tandinganku!"

Xiao Chen berlutut, napas tersengal. Yue Que di tangannya bergetar.

"Kau tidak bisa mengalahkannya dengan kekuatanmu saat ini," kata pedang itu. "Tapi kau tidak harus mengalahkannya. Kau hanya perlu membuatnya pergi."

"Bagaimana?"

"Formasi katakomba ini. Jenderal bilang formasi ini menyembunyikan Energi Chaos dari Surga. Tapi kalau kau membalikkannya... formasi ini bisa menjadi senjata."

Xiao Chen menatap dinding-dinding katakomba. Di sana, samar-samar, ia melihat ukiran-ukiran kuno yang mirip dengan simbol di dadanya. Selama ini ia pikir itu hanya hiasan. Tapi sekarang ia sadar—itu adalah bagian dari formasi raksasa.

Ia menutup mata, membiarkan tulang punggungnya merasakan getaran-getaran di sekitarnya. Energi Chaos di tubuhnya beresonansi dengan ukiran-ukiran itu. Mereka seperti kabel-kabel yang terputus, menunggu seseorang untuk menyambungkannya kembali.

"Apa yang kau lakukan?!" bentak Utusan Langit, merasakan perubahan di udara.

Xiao Chen tidak menjawab. Ia fokus. Enam retakan di lengan kanannya, retakan di tulang punggungnya, retakan di tulang dadanya—semuanya menyala serempak. Tapi kali ini ia tidak menyalurkan energi ke Yue Que. Ia menyalurkannya ke lantai.

DUG!

Satu detak. Seperti jantung raksasa yang berdetak di bawah tanah.

DUG! DUG!

Detakan kedua, ketiga. Seluruh katakomba mulai bergetar. Ukiran-ukiran di dinding menyala satu per satu, menciptakan pola rumit yang belum pernah dilihat siapa pun selama puluhan ribu tahun.

Jenderal Tanpa Bayangan menatap dengan mata terbelalak. "Dia... dia mengaktifkan Formasi Penghalau Surga. Aku tidak tahu itu mungkin."

Utusan Langit merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya: ketakutan. Cahaya di tubuhnya mulai berkedip-kedip tidak stabil. Sayap-sayap tulisannya bergerak kacau.

"Apa yang terjadi?! Kenapa aku—"

"Formasi ini diciptakan Ras Dewa Patah untuk mengusir Utusan Langit dari wilayah mereka," kata Jenderal, suaranya penuh kekaguman. "Energi Chaos murni menolak keberadaan energi Surga. Semakin kuat formasi diaktifkan, semakin tak tertahankan tempat ini bagimu."

"TIDAK!" Utusan Langit berteriak, suaranya pecah. "Aku tidak akan pergi! Aku diperintahkan untuk—"

Cahaya di tubuhnya mulai meredup. Bukan karena ia melemah, tapi karena ruangan ini secara harfiah menolak keberadaannya. Seperti mencoba menyalakan lilin di tengah badai.

Dengan raungan frustrasi, Utusan Langit terpaksa mundur. Tubuhnya melesat ke atas, menembus langit-langit katakomba, menembus tanah, dan menghilang ke langit malam di atas Kota Batu Hitam.

Ruangan itu kembali sunyi. Ukiran-ukiran di dinding perlahan meredup, kembali ke keadaan semula.

Xiao Chen ambruk. Energi Chaos di tubuhnya hampir habis. Mengaktifkan formasi sebesar itu dengan Lapis Ketiga yang belum sempurna adalah tindakan bodoh. Tapi itu berhasil.

Jenderal Tanpa Bayangan mendekatinya, gerakannya semakin kaku. Jarum-jarum cahaya di tubuhnya masih menjalar, menggerogoti. "Kau... kau berhasil mengusirnya. Setidaknya untuk sementara."

"Berapa lama... sampai dia kembali?" tanya Xiao Chen, napasnya tersengal.

"Tidak tahu. Mungkin berhari-hari. Mungkin berminggu-minggu. Dia akan melapor ke atasannya dulu. Tapi dia pasti akan kembali. Dengan kekuatan lebih besar."

Xiao Chen menatap Jenderal. "Inti Kenangan itu. Kau harus memberikannya padaku."

Jenderal terdiam. Ia menatap bola kristal hitam yang masih terbaring di peti batu. "Kalau kuberikan padamu, kau akan pergi dari sini. Dan aku akan mati. Formasi ini... formasi ini adalah satu-satunya yang membuatku tetap hidup. Tanpa Inti itu, formasi akan mati. Dan aku bersama dengannya."

Xiao Chen menatapnya. "Kau sudah mati sejak lama, Jenderal. Kau hanya menunda."

Jenderal tersenyum—senyum tulus dari separuh wajahnya yang masih tampan. "Kau benar. Aku sudah lelah. Seratus tahun di bawah tanah... sudah cukup."

Ia berjalan ke peti batu, mengangkat bola kristal hitam itu. Ia membawanya ke Xiao Chen, meletakkannya di tangannya.

"Di dalamnya ada semua yang kau butuhkan. Peta menuju Pematah Langit. Sejarah rasmu. Dan... pesan dari ibuku. Dia menitipkannya untuk pewaris berikutnya."

Xiao Chen menggenggam bola itu. Hangat.

"Ada satu hal lagi," kata Jenderal. "Nama asliku... adalah Shen Yuan. Aku ingin seseorang mengingatnya. Bukan sebagai Jenderal Tanpa Bayangan. Bukan sebagai Utusan Langit pembelot. Hanya... Shen Yuan. Anak seorang wanita tabib desa."

"Aku akan mengingatnya, Shen Yuan."

Jenderal itu mengangguk. Lalu ia berjalan kembali ke altarnya, duduk bersila, dan menutup mata. Untuk terakhir kalinya.

Xiao Chen berdiri, memaksakan tubuhnya yang lelah. Ia menatap sekeliling katakomba untuk terakhir kali, lalu berjalan menaiki tangga batu.

Di atas, Hui menunggunya. Serigala hitam itu menjilati tangannya, ekornya bergoyang.

Mereka keluar dari lubang itu tepat saat fajar menyingsing. Langit di atas Kota Batu Hitam masih dipenuhi awan pengawas, tapi kali ini mereka tampak lebih gelisah.

Xiao Chen menatap bola kristal di tangannya. Di suatu tempat di dalamnya, ada jalan menuju senjata yang bisa mematahkan Langit.

"Kita pergi dari kota ini, Hui. Perjalanan kita masih panjang."

Mereka berjalan ke utara, meninggalkan Kota Batu Hitam yang terbangun dalam keheningan. Di atas, awan pengawas mengikuti. Tapi kali ini, Xiao Chen tidak merasa diawasi.

Ia merasa sedang memimpin jalan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!