[cp akan terlambat]
negara : Indonesia
sinopsis:
Mati setelah seumur hidup bekerja sendirian itu melelahkan. Ketika Olyvia Arabella membuka mata, ia kembali ke usia 20 tahun—tepat saat calon ibu mertua menyodorkan amplop "uang perpisahan" yang ternyata hanya berisi seratus ribu. Dunia sudah gila: nilai uang menurun 10.000 kali lipat, dan hanya Olyvia yang sadar karena rekening bank masa depannya ikut terbawa. Sekarang ia menjadi satu-satunya konglomerat di dunia yang mendadak miskin. Tapi kekayaan tak membuat hidupnya lebih mudah, terutama saat para pria dari masa lalunya kembali—kali ini dalam keadaan jauh lebih melarat. Balas dendam tak cukup dengan uang. Tapi setidaknya, Olyvia bisa membeli waktu untuk memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Monyet Itu Muncul Lagi
Seminggu setelah pindahan, Olyvia sudah merasa seperti ratu di istananya sendiri. Pagi itu ia bangun di kamar utama dengan jendela besar yang menampilkan taman tropis dan kolam renang infinity. Sinar matahari masuk dengan lembut melalui tirai sutra, membelai wajahnya yang sudah glowing tanpa makeup.
Ia turun dari ranjang king size-nya, berjalan ke kamar mandi pualam, dan mandi di bawah shower hujan dengan lampu LED yang berubah-ubah warna. Air hangatnya seperti memijat tubuhnya yang masih sedikit pegal karena semalam ia berenang sendirian di kolam infinity sambil menikmati wine dari ruang bawah tanah.
Gue bisa mati bahagia di sini. Tapi jangan dulu. Masih banyak yang harus gue lakuin.
Setelah mandi, ia memakai blus sutra putih dan celana kulot hitam, kombinasi sederhana tapi elegan. Rambutnya yang sudah berkilau ia biarkan tergerai. Wajahnya hanya ia poles dengan moisturizer dan lip tint. Sudah cukup. Kecantikannya sekarang tidak butuh banyak polesan.
Ia berjalan ke dapur utama, membuat secangkir kopi dengan mesin espresso built-in yang harganya mungkin lebih mahal dari kos-kosannya dulu. Aroma kopi mengisi ruangan seluas apartemen lamanya.
Dapur gue sekarang lebih gede dari seluruh unit apartemen gue dulu. Gila.
Sambil menyeruput kopi, ia membuka ponselnya. Ada beberapa pesan dari grup sahabat.
Karina: Vy, lo inget kan? Besok kuliah mulai lagi. Jangan telat.
Sela: Gue gak sabar liat muka Cindy pas lo dateng pake BMW. Dia pasti makin sewot.
Olyvia tersenyum. Besok kuliah lagi. Berarti gue bakal ketemu Arjuna.
Seminggu ini ia berhasil menghindari mantannya itu dengan sempurna. Pindah rumah, ganti rutinitas, dan blokir semua nomor tidak dikenal. Tapi ia tahu, begitu masuk kampus, Arjuna pasti akan muncul lagi. Pria itu seperti nyamuk. Selalu kembali meski sudah diusir berkali-kali.
Gapapa. Gue udah siap sekarang. Gue bukan Olyvia yang dulu.
Hari Pertama Kuliah - Kampus Universitas Negeri Surabaya
BMW biru midnight Olyvia memasuki gerbang kampus dengan mulus. Beberapa mahasiswa yang sedang berjalan menoleh dan berbisik-bisik. Mobil semewah itu jarang terlihat di kampus, apalagi dikendarai oleh mahasiswi.
Olyvia memarkirkan mobilnya di tempat parkir dosen, karena di sana lebih luas dan aman. Ia turun dengan anggun, menyambar tas ransel kulitnya, dan berjalan menuju gedung fakultas.
Belum sampai sepuluh langkah, ia sudah mendengar bisikan dari beberapa mahasiswi yang ia kenal samar-samar.
"Itu Olyvia? Yang anak beasiswa itu?"
"Kok beda banget ya? Cantikan."
"Lihat mobilnya! BMW! Dia dapet dari mana?"
"Jangan-jangan dia..."
Olyvia tidak peduli. Ia terus berjalan dengan dagu sedikit terangkat, postur tegak, dan senyum tipis di bibir. Biarin mereka ngomong. Mulut orang gak bisa disumpel.
Ia masuk ke gedung fakultas dan berjalan menuju ruang kelas. Di koridor, ia melihat dua sosok yang sangat ia kenal: Karina dan Sela, sahabatnya yang sudah kembali dari kampung. Mereka berdua langsung terbelalak begitu melihat Olyvia.
"ASTAGA! VY!" teriak Karina setengah histeris.
Sela langsung meraih tangan Olyvia dan memutarnya seperti sedang menilai kontestan kecantikan. "Gila. Lo beneran berubah total. Rambut lo kinclong. Muka lo glowing. Baju lo... ini sutra ya? Berasa halus banget."
Olyvia tertawa kecil. "Iya, sutra. Beli di butik langganan."
Karina menggeleng tak percaya. "Lo sekarang kayak selebgram. Bukan, lebih dari itu. Kayak... kayak Crazy Rich Surabaya."
"Crazy Rich? Gue masih Olyvia yang sama, Rin. Cuma sekarang gue lebih sayang sama diri sendiri."
Sela menyikut Karina. "Tuh, dengerin. Bijak banget."
Mereka bertiga masuk ke kelas dan duduk di barisan tengah. Tidak lama, pintu kelas terbuka dan masuklah Cindy Amara. Gadis itu mengenakan gaun ketat berwarna merah menyala lagi, kali ini dengan detail payet di bagian dada. Riasannya tebal, bulu matanya lentik palsu, dan bibirnya merah mencolok.
Cindy langsung menatap Olyvia dengan tatapan penuh kebencian. Ia duduk di barisan depan bersama dua orang temannya, lalu mulai berbisik dengan suara yang sengaja dibuat cukup keras agar Olyvia mendengar.
"Gak tau deh dapet duit dari mana. Tiba-tiba punya BMW, beli rumah mewah. Anak beasiswa gitu loh."
Temannya menimpali. "Iya, curiga gue. Jangan-jangan dia jual diri. Kan sekarang banyak tuh cewek yang pura-pura suci padahal..."
Olyvia mengepalkan tangannya di bawah meja. Tahan, Oly. Jangan terpancing.
Sela sudah siap berdiri untuk membela, tapi Olyvia menahannya. "Biarin. Anjing menggonggong, kafilah berlalu."
Karina nyengir. "Bijak banget lo sekarang. Dulu lo pasti udah nangis."
"Dulu gue bodoh. Sekarang gue udah tobat."
Pintu kelas terbuka lagi. Kali ini yang masuk adalah dosen mata kuliah Advanced AI Systems, Pak Bram. Pria paruh baya berkacamata itu langsung memulai kuliah tanpa basa-basi. Olyvia fokus mendengarkan, meski otaknya sudah menguasai materi ini puluhan tahun lalu.
Kuliah berlangsung dua jam. Begitu selesai, Olyvia membereskan barangnya dan hendak keluar bersama Karina dan Sela. Tapi baru saja ia melangkah ke koridor, ia melihat sosok yang membuat jantungnya sedikit berdegup. Bukan karena rindu. Tapi karena waspada.
Arjuna Wicaksono. Dengan singkatan MONYET.
Pria itu berdiri di ujung koridor, menyandar di dinding dengan tangan di saku. Rambutnya masih hitam berantakan, kemejanya masih putih meski sedikit kusut, dan wajahnya masih tampan dengan rahang tegas dan mata teduh. Tapi Olyvia tahu, di balik ketampanan itu ada racun.
Begitu melihat Olyvia, mata Arjuna membelalak. Ia mendorong tubuhnya dari dinding dan berjalan cepat menghampiri. "Vy!"
Olyvia menghela napas panjang. Monyet itu muncul lagi.
Karina dan Sela langsung berdiri di samping Olyvia seperti pengawal pribadi. Karina melipat tangan. "Jun, lo mau apa lagi? Udah jelas Olyvia gak mau sama lo."
Arjuna mengabaikan Karina. Matanya hanya tertuju pada Olyvia. "Vy, aku cuma mau ngomong. Sebentar aja. Please."
Olyvia menatap Arjuna dengan datar. "Ngapain, Jun? Udah jelas kita putus. Lo juga udah ngirim surat ancaman lewat pengacara nyokap lo. Sekarang lo muncul lagi? Gak konsisten banget jadi orang."
Arjuna terkejut. "Surat ancaman? Aku gak tau soal itu! Mama yang kirim tanpa sepengetahuanku!"
"Terserah. Yang jelas, gue udah gak ada urusan sama lo."
Olyvia hendak melangkah pergi, tapi Arjuna menangkap pergelangan tangannya. "Vy, tolong. Aku mohon. Aku cinta kamu. Aku gak bisa hidup tanpa kamu."
Olyvia menatap tangan Arjuna yang memegang pergelangannya, lalu menatap mata pria itu dengan tatapan dingin. "Lepas."
Suaranya datar, tapi ada otoritas di sana yang membuat Arjuna refleks melepaskan pegangannya.
"Lo bilang lo cinta gue?" Olyvia melanjutkan. "Cinta yang kayak gimana? Cinta yang bikin lo biarin nyokap lo ngina gue? Cinta yang bikin lo gak pernah belain gue? Cinta yang bikin lo nyuri ide-ide riset gue buat perusahaan lo?"
Arjuna tersentak. "A-aku gak nyuri apa-apa!"
"Jangan bohong, Jun. Produk asisten virtual yang lo rilis minggu lalu? Itu algoritma natural language processing yang gue rancang. Lo akses catetan riset gue tanpa izin. Lo pikir gue gak tau?"
Wajah Arjuna memucat. Beberapa mahasiswa yang lewat mulai berhenti dan menonton. Cindy dan teman-temannya juga ikut menonton dari kejauhan dengan senyum sinis.
"Aku... aku cuma mau bantu kamu. Produk itu kan atas nama kita berdua..."
"Atas nama kita berdua?" Olyvia tertawa dingin. "Di mana nama gue di kredit produk itu? Di mana? Coba tunjukin."
Arjuna terdiam. Rahangnya mengeras, tapi tidak ada kata-kata yang keluar.
Olyvia melangkah maju, mendekatkan wajahnya ke Arjuna. "Denger ya, Jun. Gue udah gak cinta lo. Gue udah benci lo. Gue udah gak peduli sama lo. Lo itu sekarang cuma setitik debu di hidup gue. Ganggu, tapi gak berarti."
Ia mundur dan tersenyum manis. "Sekarang gue mau pergi. Lo jangan ikutin. Kalo lo ikutin, gue laporin lo ke polisi atas dasar stalking. Gue punya bukti puluhan nomor yang lo pake buat spam gue. Mau?"
Arjuna terpaku. Wajahnya campuran antara marah, malu, dan tidak percaya. Cindy yang menonton dari jauh malah ikut bersuara. "Wah, Olyvia galak banget. Kasian Arjuna. Padahal dia cuma cinta."
Olyvia menoleh ke arah Cindy. "Oh, Cindy. Lo masih di sini? Om-om lo mana? Masih cari rumah murah?"
Cindy tersentak. Wajahnya memerah padam. Teman-teman di sekitarnya mulai berbisik-bisik. Beberapa bahkan menahan tawa.
Olyvia tidak menunggu balasan. Ia meraih tangan Karina dan Sela, lalu berjalan pergi meninggalkan koridor yang kini ramai oleh mahasiswa yang menonton drama pagi itu.