Han jian merupakan seorang pemuda dari klan Han yang tidak dapat ber kultivasi sejak kecil sehingga menjadi bahan hinaan di klan Han, ia tidak dapat ber kultivasi dikarenakan ia tidak memiliki dantian seperti yang lain nya melain kan sebuah pusaran hitam yang di akibatkan karena dantian nya telah hancur, namun nasibnya berubah setelah menemukan sebuah fragmen tulang di makam ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 秋天(Qiūtiān), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: NAGA TULANG HITAM DI LAUTAN KEMATIAN
Debu peperangan di Sekte Tulang Langit mulai mengendap, namun bagi Han Jian, setiap embusan napas adalah persiapan untuk badai yang lebih besar. Informasi dari ruang rahasia dewan tetua telah mengubah segalanya. Ia bukan lagi sekadar pemuda yang mencari keadilan untuk ayahnya; ia adalah pemegang kunci menuju misteri terbesar Kekaisaran Tulang Abadi.
“Kita tidak bisa terbang langsung ke Benua Pusat, Jian-er,” ucap Han Shuo saat mereka berdiri di dermaga terapung paling selatan sekte. Tubuh Han Shuo kini jauh lebih tegap, pendar perak di kulitnya telah kembali, meski belum mencapai puncaknya. “Langit menuju pusat dunia dijaga oleh Formasi Pemusnah Burung yang dikendalikan langsung oleh Kekaisaran. Satu-satunya jalan masuk yang tidak terdeteksi adalah melalui Lautan Tulang Putih.”
Han Jian menatap hamparan air di kejauhan yang tidak berwarna biru, melainkan putih susu—hasil dari miliaran fragmen tulang yang hancur selama jutaan tahun di dasar laut. “Laut yang bisa mematikan semua Qi?”
“Benar. Di sana, kultivator yang mengandalkan Dantian akan menjadi manusia biasa yang tak berdaya. Tapi bagi kita...” Han Shuo tersenyum tipis, “itu adalah taman bermain.”
Untuk menyeberangi lautan yang sangat korosif tersebut, mereka membutuhkan kapal khusus. Mereka tiba di Kota Pelabuhan Bayangan, sebuah tempat kumuh di pinggiran Dunia Atas yang menjadi sarang bagi para kriminal, pedagang gelap, dan bajak laut. Di ujung dermaga yang paling gelap, tertambat sebuah kapal raksasa yang tampak seperti kerangka mahluk laut purba yang dibangkitkan kembali.
Kapal itu adalah Naga Tulang Hitam.
Seluruh lambungnya terbuat dari tulang paus naga hitam yang telah diperkeras dengan logam meteorit. Layarnya bukan kain, melainkan membran sayap kelelawar raksasa yang mampu menangkap angin energi.
“Siapa yang berani mendekati bayiku?” sebuah suara parau menggelegar dari geladak kapal.
Seorang pria raksasa dengan satu mata tertutup kain hitam dan tangan kiri yang terbuat dari kait tulang muncul. Ia adalah Kapten Hook-Bone, seorang buronan yang telah menyeberangi Lautan Tulang Putih sebanyak dua belas kali dan tetap hidup.
“Aku butuh kapalmu untuk menuju Benua Pusat,” ucap Han Jian, melangkah maju. Aura emasnya ditekan, namun kehadirannya tetap membuat para kru kapal yang kasar itu terdiam sesaat.
Hook-Bone tertawa terbahak-bahak, memperlihatkan gigi-giginya yang terbuat dari taring binatang buas. “Benua Pusat? Kau tahu berapa banyak nyawa yang hilang hanya untuk mencapai garis pantainya? Aku tidak menerima emas, Nak. Lautan ini hanya menerima nyawa atau harta karun tingkat tinggi.”
Han Jian tidak banyak bicara. Ia melemparkan sebuah kantong kecil. Di dalamnya terdapat sisa Cairan Rejuvenasi Dewa yang ia ambil dari aula dewan. Saat Hook-Bone membuka kantong itu, bau harum esensi sumsum yang sangat murni membuat mata satu-nya melebar.
“Ini... esensi dewa?” Hook-Bone menjilat bibirnya. “Baiklah. Dengan ini, aku akan membawamu sampai ke neraka sekalipun. Naiklah!”
Pelayaran dimulai saat fajar menyingsing. Begitu Naga Tulang Hitam memasuki wilayah Lautan Tulang Putih, suasana berubah mencekam. Air laut yang berwarna putih susu mulai mendidih saat bersentuhan dengan lambung kapal. Kabut tebal muncul, menghalangi pandangan hingga hanya sejauh lima meter.
Di sinilah ujian dimulai. Han Jian merasakan bagaimana Qi di sekitarnya tersedot habis oleh lautan. Para kru kapal mulai terlihat lemas, mereka harus bergantung pada jimat perlindungan yang ditempel di dinding kapal. Namun, Han Jian justru merasakan kekuatannya berlipat ganda. Di tempat tanpa Qi ini, Tulang Emas Abadi-nya menjadi satu-satunya sumber energi yang stabil.
“Tuan Muda, ada sesuatu yang mendekat dari bawah,” peringatan datang dari salah satu pengintai.
Tiba-tiba, laut yang tenang meledak. Puluhan tentakel yang terbuat dari susunan tulang-tulang tajam melesat keluar, melilit lambung kapal Naga Tulang Hitam. Kapal itu berguncang hebat, hampir terbalik.
“Kraken Tulang!” teriak Hook-Bone. “Semuanya ke pos masing-masing! Jangan biarkan dia menarik kita ke bawah!”
Mahluk raksasa itu muncul ke permukaan. Ia adalah cumi-cumi raksasa tanpa daging, hanya kerangka putih yang memancarkan aura kematian tingkat Penyatuan Roh. Kraken itu adalah penjaga alami lautan ini, predator bagi siapa pun yang mencoba melintas.
Para kru mencoba menembakkan meriam tulang, namun tentakel mahluk itu terlalu cepat. Salah satu tentakel menyambar seorang kru dan menghancurkannya menjadi bubur dalam sekejap.
“Ayah, tetap di sini,” ucap Han Jian.
Ia melompat dari geladak kapal, langsung menuju kepala Kraken raksasa itu. Di udara, ia memanggil Tombak Pemutus Takdir. Tanpa adanya Qi yang mengganggu, Han Jian bisa memicu resonansi maksimal pada tulangnya.
“Seni Tulang: Meteor Emas!”
Han Jian meluncur jatuh seperti bintang jatuh yang membara. Tombaknya menghantam titik pusat kerangka kepala Kraken tersebut.
BOOOOOOMM!
Ledakan energi emas murni menciptakan gelombang besar di lautan putih. Kraken itu menjerit dengan suara infrasonik yang memecahkan kaca-kaca di kapal. Han Jian tidak berhenti di sana; ia menusukkan tangannya langsung ke dalam sendi tentakel mahluk itu dan menariknya dengan kekuatan fisik murni.
KRAAAAK!
Satu tentakel raksasa putus total. Han Jian menggunakan potongan tulang tentakel itu sebagai senjata, memukulkannya kembali ke arah tubuh Kraken. Perlawanan itu begitu brutal dan primitif; sebuah tarian kematian antara dua mahluk yang mengandalkan kekuatan struktur tubuh.
Melihat tuannya bertarung, Han Shuo dari atas kapal melepaskan aura peraknya untuk melindungi kapal dari serangan tentakel lainnya. Kerja sama ayah dan anak ini membuat Kraken Tulang menyadari bahwa ia tidak sedang menghadapi mangsa, melainkan pemangsa yang lebih tinggi dalam rantai makanan.
Setelah pertarungan sengit selama tiga puluh menit, Kraken itu akhirnya menyerah dan tenggelam kembali ke kedalaman laut, meninggalkan air putih yang kini bercampur dengan kilauan energi emas Han Jian.
Hook-Bone menatap Han Jian yang mendarat kembali di geladak dengan napas yang tetap stabil. Tidak ada satu goresan pun di tubuh pemuda itu.
“Demi leluhur bajak laut...” Hook-Bone menunduk hormat. “Aku telah berlayar di laut ini selama empat puluh tahun, dan aku belum pernah melihat seseorang menghajar Kraken Tulang dengan tangan kosong. Siapa kau sebenarnya?”
Han Jian menyeka setetes air laut dari pipinya. “Seseorang yang akan membuat Kekaisaran Tulang Abadi menyesal telah menciptakan lautan ini.”
Di ufuk barat, kabut mulai menipis, menyingkapkan siluet daratan raksasa yang dikelilingi oleh tembok emas yang menjulang tinggi hingga ke awan. Itulah Benua Pusat, jantung dari segala konspirasi.
“Kita hampir sampai,” ucap Han Shuo, berdiri di samping putranya. “Di balik tembok itu, bukan lagi sekte atau tetua kecil. Di sana adalah tempat para Raja Tulang dan sang Kaisar Abadi berkuasa.”
Han Jian mengepalkan tangannya. Ia bisa merasakan getaran dari tanah Benua Pusat yang memanggil tulang emasnya. Perjalanan membalas dendam telah mencapai puncaknya, dan Naga Tulang Hitam akan menjadi saksi pertama dari runtuhnya sebuah kekaisaran.