NovelToon NovelToon
Teror Maut Di Pabrik Karet

Teror Maut Di Pabrik Karet

Status: sedang berlangsung
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Hantu / Horor
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: UncleHoon

Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.

Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wartawan Itu Datang

Bab 32

Berita itu terus bergulir. Hari keempat setelah publikasi, kantor polisi desa yang semula sepi kini ramai oleh wartawan dari berbagai media. Mereka datang dari Jakarta, Surabaya, Medan, bahkan dari Malaysia. Semua ingin mewawancarai saksi mata. Semua ingin melihat langsung korban-korban yang selamat dari pabrik karet itu. Bambang bisa mendengar keributan dari balik jendela ruangannya. Suara orang berdesakan. Suara kamera berklik. Suara pertanyaan yang dilontarkan keras-keras.

Ipda Rini masuk dengan wajah lelah. “Kalian harus pindah. Tempat ini sudah tidak aman lagi.”

“Ke mana?” tanya Dewi.

“Ke rumah aman. Di luar kota. Tidak ada yang tahu lokasinya kecuali saya dan atasan.”

“Kapan?”

“Sekarang. Cepat.”

Mereka berjalan keluar melalui pintu belakang. Sebuah mobil berpintu gelap sudah menunggu. Mesinnya menyala. Mereka naik cepat. Mobil melaju meninggalkan kantor polisi. Bambang menatap ke belakang. Kerumunan wartawan masih di depan gedung, tidak sadar bahwa buruan mereka sudah lewat dari belakang.

Perjalanan memakan waktu sekitar dua jam. Mobil berhenti di sebuah rumah sederhana di tengah perkebunan sawit. Rumah itu terbuat dari kayu, berlantai papan, beratap seng. Di sekelilingnya, hanya pohon sawit yang terhampar luas. Tidak ada tetangga. Tidak ada jalan lain. Hanya satu jalan masuk dan satu jalan keluar.

“Ini rumah aman kalian,” kata sopir yang ternyata juga polisi. “Jangan keluar malam hari. Jangan nyalakan lampu terang-terangan. Jangan terima tamu tanpa izin.”

Mereka turun dari mobil. Bambang menghirup udara segar. Tidak ada bau anyir. Tidak ada bau takut. Hanya bau tanah dan daun sawit.

Rumah itu cukup besar untuk mereka bertiga. Ada tiga kamar tidur kecil, satu ruang tamu, satu dapur, dan satu kamar mandi. Listrik menyala meskipun kadang mati. Air sumur tersedia meskipun harus ditimba sendiri.

“Ini lebih baik daripada ruangan putih itu,” kata Ucok.

“Jauh lebih baik,” kata Bambang.

Mereka membersihkan rumah. Menyapu lantai. Mengelap meja dan kursi. Membuka jendela-jendela yang tertutup rapat. Udara segar masuk, membawa cahaya sore yang keemasan.

Sekitar pukul enam sore, sebuah mobil lain datang. Ipda Rini turun dengan membawa beberapa kantong plastik berisi makanan dan kebutuhan sehari-hari. Dia juga membawa kabar.

“Polisi sudah menangkap dua orang karyawan PT. Nusantara Gelap. Mereka akan dijadikan saksi.”

“Pak Toni?” tanya Bambang.

“Belum. Tapi kami punya petunjuk. Dia mungkin sudah keluar negeri. Kami sudah koordinasi dengan imigrasi.”

“Jadi dia bisa lolos?”

“Tidak. Interpol sudah kami hubungi. Dia tidak bisa bersembunyi lama.”

Ipda Rini pergi setelah matahari terbenam. Bambang, Ucok, dan Dewi duduk di ruang tamu. Lampu minyak tanah menyala redup. Listrik padam sejak satu jam lalu.

“Aku tidak percaya ini semua terjadi,” kata Bambang. “Beberapa minggu lalu aku masih di pabrik itu. Takut mati. Sekarang aku di sini. Di rumah aman. Dijaga polisi. Berita di mana-mana.”

“Hidup memang berubah cepat,” kata Dewi. “Kadang tidak butuh waktu lama untuk semuanya berbalik.”

“Tapi perjalanan kita belum selesai. Kita masih belum bisa pulang.”

“Kita akan pulang, Bambang. Tunggu waktu.”

Malam semakin larut. Mereka berbaring di lantai ruang tamu karena kamar-kamar masih berdebu. Ucok sudah mendengkur. Dewi memejamkan mata. Bambang masih terjaga.

Dia mendengar suara dari luar. Bukan suara angin. Bukan suara daun. Tapi suara langkah kaki. Pelan. Mendekat.

Bambang bangkit. Dia meraih parang kecil yang diselipkan di bawah bantal. Dia berjalan ke jendela, mengintip ke luar.

Seorang pria berdiri di halaman. Tinggi. Kurus. Berjaket hitam. Wajahnya tidak jelas karena gelap. Tapi posturnya tidak seperti polisi.

“Siapa di luar?” teriak Bambang.

Pria itu tidak menjawab. Dia terus berjalan mendekati rumah.

Bambang membangunkan Ucok dan Dewi. “Ada orang. Di luar.”

Ucok bangkit. Matanya langsung waspada. Dia mengambil parangnya. “Aku lihat.”

Ucok berjalan ke pintu. Membukanya pelan.

Pria itu berhenti. Dia mengangkat kedua tangannya. “Jangan takut. Saya tidak bersenjata.”

“Siapa kamu?” tanya Ucok.

“Saya wartawan. Dari Jakarta. Saya ingin bicara dengan kalian.”

“Bagaimana kamu tahu tempat ini?”

“Saya ikuti mobil polisi tadi sore. Dari kejauhan. Saya tidak masuk ke halaman karena takut ketahuan. Saya tunggu sampai gelap.”

Bambang keluar. “Kami tidak mau bicara dengan wartawan. Kembalilah.”

“Tunggu. Saya tidak seperti wartawan lain. Saya sudah meliput kasus ini sejak tiga tahun lalu. Saya tahu tentang proyek manusia karet. Saya tahu tentang Pak Toni. Saya punya informasi yang mungkin kalian butuhkan.”

Bambang dan Ucok saling bertatapan.

“Informasi apa?” tanya Dewi dari balik pintu.

“Tentang kolam. Tentang darah. Tentapa yang sebenarnya terjadi di pabrik itu.”

Dewi keluar. Dia berdiri di samping Bambang. “Saya kenal kamu. Kamu Ari, wartawan dari Tempo.”

Pria itu mengangguk. “Kamu Dewi, mantan wartawan yang sekarang freelance.”

“Apa yang kamu tahu tentang kolam?”

Ari mendekat. Suaranya berbisik. “Kolam itu tidak hanya satu. Ada kolam lain. Di tempat berbeda. Di pabrik yang berbeda. Proyek ini lebih besar dari yang kalian bayangkan.”

Bambang merasakan dingin di punggungnya. Kolam lain. Pabrik lain. Artinya, apa yang mereka hancurkan hanya satu bagian kecil dari kejahatan yang jauh lebih besar.

“Masuk,” kata Dewi. “Kita bicara di dalam.”

Mereka masuk ke rumah. Lampu minyak tanah dinyalakan lebih terang. Ari duduk di kursi kayu. Wajahnya kusam. Matanya sayu. Dia terlihat seperti orang yang tidak tidur berhari-hari.

“Ceritakan,” kata Dewi.

Ari menghela napas. “Tiga tahun lalu, saya mendapat informasi tentang sebuah pabrik pupuk di Jawa Timur. Pabrik itu tutup setelah kecelakaan besar. Banyak pekerja hilang. Saya menyelidiki. Saya temukan pola yang sama dengan pabrik tekstil di Jawa Tengah, pabrik kertas di Riau, dan pabrik karet di Kalimantan. Semua milik PT. Nusantara Gelap. Semua punya kolam yang sama. Semua menghasilkan makhluk yang sama.”

“Kamu sudah tahu sejak tiga tahun lalu? Kenapa tidak pernah menulis?” tanya Dewi.

“Karena saya takut. Setelah saya dapat informasi ini, rumah saya dimasuki orang. Dokumen-dokumen saya hilang. Harddisk komputer saya raib. Saya diancam. Saya berhenti. Tapi setelah berita kalian terbit, saya tidak bisa diam lagi.”

Bambang mengepalkan tangannya. “Jadi masih ada pabrik lain yang beroperasi?”

“Setidaknya dua. Satu di Sumatera. Satu di Sulawesi. Mungkin lebih. Saya tidak tahu pasti.”

“Kita harus hancurkan semuanya,” kata Ucok.

“Bukan tugas kita,” kata Dewi. “Tugas polisi. Tugas pemerintah. Kita sudah cukup berbuat.”

“Tapi kalau polisi tidak bergerak?”

“Maka kita dorong mereka. Dengan bukti. Dengan berita. Dengan tekanan publik.”

Ari mengeluarkan sebuah USB flash drive dari sakunya. “Ini semua yang saya kumpulkan selama tiga tahun. Dokumen. Foto. Rekaman. Nama-nama. Alamat. Semua. Saya serahkan pada kalian.”

Dewi menerima USB itu. Tangannya gemetar. “Kenapa tidak kamu publikasikan sendiri?”

“Karena saya takut. Kalian sudah berani. Kalian sudah terbuka. Kalian tidak punya banyak yang bisa hilang. Saya masih punya keluarga. Saya tidak bisa mengambil risiko.”

Bambang marah. “Jadi kalian wartawan hanya berani bicara kalau ada orang lain yang jadi tameng?”

Ari tidak menjawab. Dia menunduk. “Maaf. Saya pengecut.”

“Kamu bukan pengecut,” kata Dewi. “Kamu bertahan. Itu juga bentuk keberanian.”

Ari berdiri. “Saya harus pergi. Sebelum polisi tahu saya di sini. Jaga diri kalian.”

Ari berjalan keluar. Dalam hitungan detik, dia sudah menghilang di balik kegelapan.

Bambang menatap USB di tangan Dewi. “Kita harus lihat isinya.”

“Besok. Sekarang kita istirahat. Kita butuh pikiran jernih.”

Mereka kembali ke dalam rumah. Bambang berbaring di lantai. Pikirannya kacau. Kolam lain. Pabrik lain. Korban lain. Kejahatan yang tidak pernah berhenti.

Apakah perjuangan mereka tidak akan pernah selesai?

Apakah mereka harus terus melawan sampai kapan pun?

Bambang tidak tahu jawabannya.

Tapi satu yang dia tahu. Malam ini, dia masih hidup. Masih bisa bernapas. Masih bisa berharap.

Dan selama itu, selama itu dia tidak akan menyerah.

1
Mega Arum
lanjut kak... semoga lekas bertemu bpk dan ibu bambamg,,
Mega Arum
luar biaaa...
Mega Arum
lanjuuut tra Thoor
Mega Arum
menegangkan.... tp msh penasaran siapa pak toni dan apa maksut dr perusahaan karet membuat hantu karet
Mega Arum
bagus sekali Thoor..
Mega Arum
semoga segare terpecahkan misteri apa sbnrnya yg ada di pabrik karet,
Mega Arum
lanjut kak...
Astuti Puspitasari
jangan lupa sholat nak 👍
Astuti Puspitasari
Hati2 mbang, kamu hanyalah anak yang ingin berbakti/Whimper/
Mega Arum
sereem
Mega Arum
mampir thor.. semoga cerita nya bagus
Ma Vin
seru,,,, bikin deg_deg'n tpi pnasaran
Seindah Senja
lanjut Thor,ceritanya seruu bangeet,😍ikut deg² kan bacanya😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!