"Salah klik jurusan saat kuliah adalah bencana, tapi bangun dari koma dan bisa melihat hantu adalah petaka!"
Arini, dokter forensik yang aslinya clumsy dan penakut, harus menerima kenyataan pahit: ia terbangun dari koma dengan "bonus" mata batin terbuka. Kini, ruang otopsinya jadi ramai! Ia harus membedah mayat sambil mendengarkan curhat para arwah yang menuntut keadilan (dan permintaan konyol lainnya).
Untungnya, ada Mika—hantu gadis Tionghoa yang centil dan bar-bar—yang setia membantu Arini mengungkap fakta medis lewat "jalur gaib".
Masalahnya satu: Tunangan Arini, Baskara, adalah Jaksa kaku yang skeptis dan hanya percaya logika. Baskara memang bucin parah, tapi bagaimana jadinya jika sang Jaksa tahu bahwa bukti-bukti kemenangan kasusnya berasal dari bisikan makhluk halus?
Di tengah konspirasi maut yang mengancam nyawa, Arini harus memilih: Tetap waras di antara para hantu, atau terjebak dalam pelukan posesif sang Jaksa yang benci takhayul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Pembalasan dari Balik Kabut
Istri kedua Pak Darmawan, Siska, berjalan mondar-mandir di apartemen mewahnya dengan wajah pucat pasi. Berita penangkapan Mbah Suro sudah sampai ke telinganya. "Sial! Jaksa itu terlalu kuat. Aku harus melenyapkan dokter indigo itu sebelum dia bicara lebih banyak!" desisnya. Ia segera meraih ponsel dan menghubungi orang-orang bayarannya. "Culik dokter itu sekarang! Bawa ke gudang tua pelabuhan. Habisi kalau perlu!"
Malam itu, Arini baru saja keluar dari rumah sakit setelah jam shift malam yang melelahkan. Langkahnya terhenti di parkiran yang sepi saat dua pria bertubuh besar dengan penutup wajah tiba-tiba menghadangnya.
"Dokter Arini, ikut kami sekarang atau kaki Anda patah di sini," ancam salah satu pria itu sambil mengeluarkan pisau lipat.
Arini mundur dengan gemetar. "Siapa kalian?!"
Baru saja pria itu hendak menyergap, tiba-tiba sebuah suara tawa berat terdengar di udara.
"Woi! Berani-beraninya ganggu Dokter kesayangan gue!"
Tiba-tiba, sosok hantu Abang Tato muncul tepat di depan pria itu. Meskipun manusia biasa tidak bisa melihatnya, pria itu mendadak merasa tubuhnya membeku dan napasnya sesak.
"A-apa ini? Kenapa dingin sekali?" pria itu terhuyung.
Abang Tato berbisik di telinga pria itu, "Gue mati gara-gara bos lu, tahu nggak? Sekarang lu mau nyusul gue?!" Ia lalu menendang bayangan pria itu—tindakan gaib yang membuat si preman terpental jatuh tanpa ada yang menyentuh.
Mika muncul dari balik mobil sambil bersedekap. "Arini, lari ke arah mobil Baskara! Biar kami yang urus sampah-sampah ini!"
Arini berlari sekuat tenaga, namun pria kedua berhasil menarik tasnya. Saat itulah, sesosok wanita dengan gaun putih tahun 80-an muncul. Wajahnya yang tadinya sedih kini berubah penuh kemarahan. Istri pertama Pak Darmawan, Ratna, terbang melesat dan mencengkeram leher pria itu dengan energi hitam yang pekat.
"Kalian tidak akan menyentuh wanita baik ini!" pekik Ratna. Suaranya membuat kaca-kaca mobil di parkiran pecah berantakan.
Para penculik itu lari terbirit-birit, merasa nyawa mereka terancam oleh sesuatu yang tidak terlihat namun sangat nyata kekuatannya.
Ratna tidak berhenti di situ. Dengan amarah yang meluap, ia terbang menembus dinding, menuju apartemen Siska. Malam itu, Siska mendapatkan teror yang luar biasa. Cermin-cermin di rumahnya menuliskan kata "PEMBUNUH" dengan darah, dan Ratna menampakkan diri tepat di depan wajah Siska, menghantuinya hingga wanita pelakor itu menjerit histeris dan jatuh pingsan.
Di parkiran yang kini sunyi, arwah Pak Darmawan tiba-tiba muncul di samping Arini. Ia tampak jauh lebih tenang dari sebelumnya. Ia menatap Ratna yang baru saja kembali dengan tatapan penuh kerinduan.
"Ratna..." panggil Pak Darmawan lembut.
Ratna terpaku. Amarahnya seketika luruh. Dua arwah itu berdiri berhadapan di bawah lampu merkuri yang berkedip.
"Maafkan aku, Mas. Aku gagal menjagamu dari wanita itu," isak Ratna.
"Bukan salahmu, Ratna. Aku yang bodoh karena buta oleh sihirnya," Pak Darmawan mengulurkan tangan transparannya, menyentuh pipi Ratna yang kini tampak cantik kembali, bukan lagi hantu yang menyeramkan. "Terima kasih sudah menjaga rahasia kita lewat Dokter Arini. Sekarang, aku hanya ingin bersamamu... selamanya."
Mika yang menonton dari samping mulai sesenggukan, mengelap air mata gaibnya dengan lengan cheongsam-nya. "Duh, kenapa jadi drakor begini sih? Baper banget, Rin..."
Abang Tato juga ikut mengusap matanya yang biru. "Gue juga korban si Siska itu, Dok. Dulu gue kerja di proyeknya Pak Darmawan, gue tahu dia mau ngeracunin istrinya, makanya gue dibungkam pakai racun seblak saraf itu. Gue seneng akhirnya mereka bersatu lagi."
Arini menatap pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca. Keharuan ini membuatnya lupa sejenak pada rasa takutnya.
Tiba-tiba, sebuah mobil SUV hitam berhenti dengan suara decit ban yang keras. Baskara melompat keluar dengan wajah yang sangat panik. Ia langsung berlari ke arah Arini dan memeluknya dengan sangat erat, seolah-olah Arini akan menghilang jika dilepaskan sedikit saja.
"Arini! Kamu tidak apa-apa? Aku dapat laporan ada keributan di parkiran!" suara Baskara bergetar, tangannya meraba wajah dan bahu Arini, memastikan tidak ada luka sedikit pun.
Arini membalas pelukan Baskara, menyandarkan kepalanya di dada pria itu. "Aku aman, Bas. Teman-temanku... mereka melindungiku."
Baskara menatap sekeliling parkiran yang berantakan dengan kaca mobil hancur, namun tidak ada siapa-siapa di sana. Ia menghela napas, lalu mencium kening Arini berkali-kali dengan posesif. "Sudah cukup. Aku tidak akan membiarkanmu pulang sendirian lagi. Mulai malam ini, kamu tinggal di rumahku. Aku akan menjagamu dua puluh empat jam."
Mika langsung menyenggol lengan Arini sambil nyengir lebar. "Cieee... tinggal serumah! Rin, jangan lupa ajak aku ya, biar aku bisa nonton drakor live tiap malam!"
Arini tersenyum di balik dekapan Baskara. Meskipun hidupnya dikelilingi hantu, setidaknya ia tahu ada satu manusia yang siap menjadi tamengnya dari dunia mana pun.
lanjut thorr
lagian botol parfum taro diluar dulu deh rin kalo mau bikin anak. hantu lu resek🤭🤣🤣🤣