Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.
Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.
Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33
Seharian penuh Aira memeras pikirannya sendiri, mencoba menemukan cara paling masuk akal untuk membujuk ibunya. Namun semakin dipikirkan, semakin terasa buntu. Kepalanya terasa berat, seperti dipenuhi benang kusut yang tidak bisa diurai. Keinginannya sederhana: kembali bekerja di perusahaan Bima. Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu.
Ibunya sudah terlanjur sakit hati.
Aira masih ingat dengan jelas bagaimana ibunya menatapnya waktu itu—penuh amarah sekaligus kecewa—setelah mengetahui bahwa putrinya dihina di tempat kerja. Sejak saat itu, pintu izin seolah tertutup rapat.
Aira menghela napas panjang sambil menatap layar ponselnya. Ia membuka daftar kontak, menggulir perlahan, berharap menemukan seseorang yang bisa diajak berdiskusi. Seseorang yang bisa memberi sudut pandang lain. Seseorang yang mungkin lebih didengar oleh ibunya.
Namun, nihil.
Tidak ada nama yang terasa tepat.
“Kenapa sih hidup jadi ribet begini…” gumamnya pelan.
Ia menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Matanya menatap langit-langit kamar yang terasa begitu asing meskipun sudah lama ia tempati. Pikirannya terus berputar, memutar ulang kejadian demi kejadian. Dari penghinaan Pandu, kemarahannya, hingga keputusan Bima yang langsung memecat pria itu.
“Setidaknya… sekarang sudah aman…” bisiknya.
Aira memejamkan mata.
Ia terlalu lelah untuk berpikir lagi.
“Tidur saja dulu… siapa tahu besok dapat ide,” ujarnya pelan sebelum akhirnya benar-benar terlelap.
---
Namun kenyataan tidak selalu sebaik harapan manusia.
Keesokan paginya, Aira justru duduk diam di sofa ruang tamu, dengan ekspresi kosong. Secangkir teh di tangannya sudah dingin, tak tersentuh sejak tadi. Pandangannya lurus ke depan, tapi pikirannya jelas tidak berada di sana.
Bibinya, Fatimah, yang sejak pagi memperhatikan tingkah Aira, akhirnya tidak bisa lagi berpura-pura tidak peduli.
“Kamu itu dari tadi pagi duduk di situ saja,” katanya sambil menyilangkan tangan. “Apa yang kamu pikirkan sampai wajahmu seperti orang kehilangan arah begitu?”
Aira tersentak kecil. Ia menoleh, sedikit terkejut karena tidak menyadari sejak kapan bibinya memperhatikannya.
“Bibi…” Aira ragu sejenak, lalu menghela napas. “Bibi sudah tidak marah lagi dengan Bima, kan?”
Fatimah mengangkat alis. “Pertanyaan macam apa itu?”
Aira menggigit bibirnya, lalu akhirnya memutuskan untuk jujur.
“Aku ingin kembali bekerja di sana, Bi.”
Ruangan seketika terasa lebih hening.
Fatimah tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Aira, mencoba membaca kesungguhan dari keponakannya itu.
“Aku sudah nyaman di sana,” lanjut Aira pelan. “Dan sekarang sudah tidak ada masalah lagi. Pandu yang dulu mengganggu dan menghina aku… sudah dikeluarkan oleh Bima.”
Fatimah sedikit mengangguk, tanda ia mendengarkan.
“Aku yakin sekarang tidak akan ada yang berani macam-macam lagi,” kata Aira, suaranya mulai terdengar lebih yakin. “Apalagi… Bima juga sudah membuat surat pernyataan kalau dia akan menjaga aku.”
Fatimah terdiam beberapa saat.
Ia tampak berpikir.
“Jadi masalahnya sekarang… ibumu tidak mengizinkan?” tanyanya akhirnya.
Aira langsung mengangguk. “Iya, Bi. Ibu benar-benar tidak mau dengar apa pun. Dia sudah terlalu kecewa.”
Fatimah menarik napas panjang, lalu mengambil ponselnya.
Aira langsung menatapnya heran. “Bibi mau ngapain?”
Fatimah hanya tersenyum tipis. “Kamu lihat saja nanti.”
Aira merasa sedikit tidak tenang, tapi ia memilih diam.
Beberapa detik kemudian, layar ponsel Fatimah menunjukkan panggilan video yang sedang berlangsung.
Nama yang muncul membuat jantung Aira berdegup lebih cepat.
“Ibu…”
Panggilan itu diangkat.
Wajah ibunya, Ratna, muncul di layar.
“Assalamu’alaikum,” sapa Fatimah dengan nada santai.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Ratna. “Ada apa, Fatimah? Pagi-pagi begini sudah video call.”
Fatimah tersenyum ringan. “Tidak boleh, ya, kangen sama kakak ipar sendiri?”
Ratna terkekeh kecil. “Boleh saja. Tapi pasti ada yang mau dibicarakan.”
Fatimah langsung ke inti. “Saya dengar… Kak Ratna melarang Aira untuk kembali bekerja di perusahaan itu?”
Ekspresi Ratna berubah. Ia mengangguk tegas.
“Saya tidak akan membiarkan anak saya kembali ke tempat yang sudah menyakitinya.”
Aira menunduk, jantungnya berdebar semakin kencang.
Fatimah mengangguk pelan, seolah memahami.
“Tapi Kak… sekarang keadaannya sudah berbeda.”
Ratna mengerutkan kening. “Berbeda bagaimana?”
Fatimah melirik Aira sekilas, lalu kembali menatap layar.
“Bima melamar Aira.”
“BI?” Aira langsung berdiri, panik. “Bibi! Jangan bilang begitu!”
Namun sudah terlambat.
Ratna terlihat sangat terkejut.
“Apa?” suaranya meninggi. “Atasan yang sudah membuat anak saya terluka itu… melamar Aira?”
Aira menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Ini makin kacau…” gumamnya pelan.
Fatimah tetap tenang.
“Memang terdengar mengejutkan,” katanya. “Tapi saya melihat sendiri bagaimana sikap Bima terhadap Aira.”
Ratna masih belum percaya. “Fatimah, kamu ini serius?”
“Sangat serius.”
Fatimah lalu mulai menceritakan kejadian-kejadian kecil yang ia saksikan.
“Waktu itu, Aira ketiduran di mobil,” katanya. “Bima tidak membangunkannya. Dia malah menggendong Aira masuk ke dalam rumah dengan hati-hati, supaya tidak terbangun.”
Ratna terdiam.
Aira membuka sedikit celah di antara jari-jarinya, mengintip reaksi ibunya.
“Dan cara dia memperlakukan Aira…” lanjut Fatimah, “tidak seperti atasan kepada bawahan. Lebih dari itu.”
Namun Ratna tidak langsung luluh.
“Kalau memang dia baik,” katanya tegas, “harusnya dia melindungi Aira sejak awal. Bukan membiarkan anak saya dihina seperti itu.”
Suasana mendadak tegang.
Fatimah mengangguk pelan. “Saya setuju.”
Aira menatap bibinya, sedikit terkejut dengan jawaban itu.
“Tapi Kak,” lanjut Fatimah dengan suara lebih lembut, “manusia bisa salah. Yang penting… bagaimana dia memperbaikinya.”
Ratna tidak langsung menjawab.
“Sekarang Bima sudah mengambil tindakan,” kata Fatimah. “Orang yang menghina Aira sudah dikeluarkan. Dan dia juga berusaha menunjukkan tanggung jawabnya.”
Ratna menatap layar dengan ekspresi sulit ditebak.
“Daripada hanya mendengar cerita,” kata Fatimah akhirnya, “lebih baik Kak Ratna menilai sendiri.”
“Menilai sendiri?”
“Iya. Temui langsung Bima.”
Aira langsung menoleh cepat ke arah bibinya.
“Bibi serius?” bisiknya.
Ratna tampak berpikir.
Beberapa detik terasa sangat lama.
Akhirnya, ia menghela napas.
“Baiklah,” katanya. “Saya akan datang akhir pekan ini.”
Mata Aira membesar.
“Saya ingin melihat sendiri seperti apa pria itu,” lanjut Ratna. “Kalau memang dia pantas… saya akan mempertimbangkan kembali.”
Fatimah tersenyum puas. “Keputusan yang bijak, Kak.”
Panggilan pun berakhir.
Ruangan kembali hening.
Aira masih berdiri di tempatnya, wajahnya pucat.
“Bibi…” suaranya pelan. “Ini… malah jadi masalah baru.”
Fatimah menatapnya santai. “Masalah atau kesempatan?”
Aira menggeleng cepat. “Bibi tidak mengerti. Bima itu… dia hanya berbohong.”
Fatimah mengernyit. “Berbohong?”
“Dia bilang melamar aku itu cuma supaya aman dari Paman dan Bibi waktu itu,” jelas Aira dengan nada gelisah. “Bukan sungguhan.”
Fatimah menyilangkan tangan.
“Jadi sekarang kamu takut kebohongan itu terbongkar?”
Aira terdiam.
Ia tidak bisa menyangkal.
“Kalau Ibu tahu itu cuma alasan…” katanya pelan, “aku tidak tahu apa yang akan terjadi.”
Fatimah menatapnya dalam.
“Kalau begitu,” katanya tenang, “kamu harus pastikan semuanya jelas sebelum akhir pekan.”
Aira menelan ludah.
Pikirannya yang sudah kacau sejak kemarin, kini terasa semakin berantakan.
Ia perlahan duduk kembali di sofa.
Tangannya meremas ujung bajunya.
“Kenapa semuanya jadi seperti ini…” gumamnya.
Di satu sisi, ia ingin kembali ke pekerjaannya.
Di sisi lain, ia harus menghadapi kenyataan yang jauh lebih rumit dari sekadar izin.
Pertemuan antara ibunya dan Bima.
Sebuah pertemuan yang bisa mengubah segalanya.
Dan yang paling membuatnya gelisah—
ia sendiri tidak tahu, mana yang benar dan mana yang hanya sandiwara.