NovelToon NovelToon
Sang Kaisar Abadi Yang Terlahir Kembali

Sang Kaisar Abadi Yang Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Seorang Kaisar Abadi yang berkuasa dan ditakuti di seluruh alam semesta dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang terdekatnya. Namun, alih-alih jiwanya hancur, ia terbangun kembali sebagai seorang pemuda tak berguna di sebuah klan kecil yang hampir punah, ribuan tahun di masa depan. Dengan semua ingatan dan pengetahuannya yang luas dari kehidupan sebelumnya, ia memulai kembali perjalanan kultivasinya. Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Benang Perak dari Langit Kesepuluh

Keheningan malam menyelimuti kamar gudang yang reyot itu. Cahaya rembulan menerobos celah-celah dinding bambu, menciptakan garis-garis perak di lantai tanah yang dingin. Namun Arga tidak memperhatikan semua itu. Seluruh fokusnya tercurah pada satu hal—seutas benang energi perak kebiruan yang kini berdenyut pelan di dalam Dantian-nya.

Qi dari Langit Kesepuluh.

Jantungnya masih berdetak kencang. Dalam tiga ribu tahun hidupnya sebagai Kaisar Langit, ia telah melihat dan merasakan segala jenis energi. Qi dari sembilan lapis langit—dari yang paling kotor di dunia fana hingga yang paling murni di Langit Kesembilan—semuanya pernah ia serap dan kuasai. Tapi ini... ini berbeda.

Ini bukan sekadar Qi murni. Ini adalah esensi penciptaan itu sendiri.

Langit Kesepuluh, pikirnya sambil menutup mata, membiarkan kesadarannya menyelam lebih dalam ke dalam Dantian. Dalam semua kitab kuno yang pernah kubaca, Langit Kesepuluh hanya disebutkan sebagai legenda. Tempat di mana para Dewa pertama dilahirkan. Tempat yang bahkan Kaisar Abadi tidak bisa menjangkaunya.

Tapi benang perak di Dantian-nya adalah bukti nyata. Bukti bahwa Langit Kesepuluh benar-benar ada. Dan bahwa entah bagaimana, tubuh lemah ini memiliki koneksi ke sana.

Arga mengamati benang itu lebih dekat dengan Mata Batin Langit-nya. Benang itu sangat tipis—lebih tipis dari rambut bayi—dan panjangnya hanya sekitar setengah ruas jari. Tapi kualitas energinya... luar biasa. Jika Qi dari Langit Kesembilan adalah emas murni, maka benang ini adalah sesuatu yang bahkan tidak bisa dibandingkan dengan logam mulia mana pun. Ia berada di kategori yang sama sekali berbeda.

Satu tetes energi ini saja mungkin setara dengan seribu tahun kultivasi di Langit Kesembilan.

Tapi ada masalah.

Benang itu hanya satu. Dan ia tampak... pasif. Tidak bergerak, tidak mengalir, hanya diam di sana seperti ular kecil yang sedang tidur. Arga mencoba menyentuhnya dengan kesadarannya, berusaha membangkitkannya.

Tidak ada respons.

Tentu saja tidak semudah itu. Arga menghela napas dalam hati. Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara menggunakan energi ini. Teknik kultivasi mana pun yang kukenal—bahkan teknik tertinggi dari era Kuno—dirancang untuk Qi biasa. Tidak ada yang bisa menangani sesuatu seperti ini.

Ia membuka mata dan menatap langit-langit gelap di atasnya.

Tapi setidaknya... ini adalah awal. Benang ini muncul setelah aku melakukan Teknik Pernapasan Kaisar Kuning. Berarti teknik itu memang memicu sesuatu di dalam Racun Langit Bawaan.

Kalau begitu, aku harus terus melakukannya.

---

Tiga hari berlalu.

Arga menjalani rutinitas yang sama setiap harinya. Pagi hingga sore, ia bekerja membersihkan lumbung—sambil diam-diam melanjutkan latihan Senam Penguat Tubuh Kuno di sela-sela pekerjaannya. Malam harinya, setelah Sari mengantarkan makanan, ia duduk bersila dan melakukan Teknik Pernapasan Kaisar Kuning hingga larut malam.

Hasilnya lambat. Sangat lambat.

Benang perak di Dantian-nya tidak bertambah panjang. Ia hanya berdenyut sekali setiap kali Arga menyelesaikan satu siklus penuh teknik pernapasan—sekitar seratus delapan napas. Itu berarti dalam semalam, benang itu hanya berdenyut tiga atau empat kali.

Tapi setiap denyutan membawa perubahan kecil.

Arga mulai memperhatikan bahwa otot-ototnya terasa sedikit lebih kuat. Bukan karena latihan fisiknya—itu juga membantu—tapi seolah-olah ada sesuatu di dalam tubuhnya yang perlahan-lahan... bangun.

Di hari ketiga, ia menyadari sesuatu yang lain.

Meridian-meridiannya yang tersumbat—delapan jalur utama yang tadinya bagaikan selokan penuh lumpur—mulai menunjukkan tanda-tanda perubahan. Bukan terbuka. Tidak. Sumbatan-sumbatan itu masih ada. Tapi di sekelilingnya, semacam... lapisan tipis mulai terbentuk. Lapisan berwarna perak transparan yang melapisi dinding meridian, seolah-olah mempersiapkan sesuatu.

Menarik. Arga mengamati fenomena ini dengan seksama. Sepertinya tubuh ini sedang beradaptasi. Mempersiapkan diri untuk menerima energi dari Langit Kesepuluh dalam jumlah yang lebih besar.

Tapi untuk itu, aku butuh lebih banyak benang. Dan untuk mendapatkan lebih banyak benang, aku harus terus melakukan teknik pernapasan.

---

Di hari keempat, sesuatu terjadi.

Sore itu, Arga sedang menyapu di sudut lumbung ketika suara langkah kaki yang familiar terdengar mendekat. Bukan satu atau dua orang. Kali ini ada lima.

Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa mereka. Indranya—yang sudah mulai terasah kembali meski masih jauh dari tingkat seorang kultivator—menangkap aura mereka dengan jelas.

Ardi. Reno. Beno. Dan dua lainnya. Tingkat kultivasi Pemurnian Qi tahap kelima dan keenam. Yang satu adalah kultivator senior dari Sekte Awan Kelabu.

Arga menghela napas pelan. Ini akan merepotkan.

"Di situ dia, Kak!" Suara Beno melengking dari arah pintu. "Aku sudah bilang, dia jadi aneh akhir-akhir ini!"

Kelima pemuda itu masuk ke dalam lumbung. Ardi berjalan di depan, lengannya masih diperban akibat insiden beberapa hari lalu. Wajahnya penuh dengan ekspresi dendam yang tidak disembunyikan. Di belakangnya, Reno dan Beno mengikuti dengan ragu-ragu—jelas mereka masih trauma dengan pertemuan sebelumnya.

Tapi dua orang di belakang mereka berbeda.

Yang pertama adalah pemuda berusia sekitar dua puluh tahun dengan jubah biru Sekte Awan Kelabu. Rambutnya diikat ke belakang, memperlihatkan wajah yang cukup tampan namun dengan sorot mata yang angkuh. Dari cara ia membawa diri, Arga bisa langsung menilai tingkat kultivasinya: Pemurnian Qi tahap kelima, puncak.

Yang kedua adalah pria yang sedikit lebih tua, mungkin dua puluh dua atau dua puluh tiga tahun. Jubahnya sama, tapi ada emblem perak di dadanya—tanda bahwa ia adalah murid senior di sekte itu. Tingkat kultivasinya: Pemurnian Qi tahap keenam.

"Jadi ini dia," kata pria beremblem perak itu sambil menatap Arga dari atas ke bawah. "Sampah Klan Sanjaya yang katanya tiba-tiba bisa menghindari serangan Reno."

Ardi melangkah maju, menunjuk Arga dengan jari gemuknya. "Itu dia, Kak Darmo! Dia bukan hanya melawan, dia juga berani melukai lenganku! Lihat ini!" Ia mengangkat lengannya yang diperban. "Aku tidak bisa menggunakan tangan kananku selama tiga hari!"

Darmo—pria beremblem perak itu—mendengus. "Kau dilukai oleh sampah yang bahkan tidak bisa berkultivasi? Memalukan."

"Tapi, Kak! Dia benar-benar berbeda sekarang! Ada yang aneh dengannya!"

Darmo tidak langsung menjawab. Ia menatap Arga lekat-lekat, seolah-olah mencoba menilai sesuatu. Arga balas menatapnya dengan ekspresi datar, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.

Pemurnian Qi tahap keenam. Di kehidupan sebelumnya, aku bisa membunuhnya dengan satu jentikan jari. Sekarang... aku bahkan tidak yakin bisa menghindari semua serangannya.

"Kau," Darmo akhirnya bicara, nadanya dingin dan penuh wibawa. "Aku tidak tahu trik apa yang kau pakai untuk mengelabui Reno. Tapi di hadapanku, trik itu tidak akan berguna. Aku akan memberimu satu kesempatan. Berlututlah, minta maaf pada Ardi, dan terima hukumanmu. Mungkin aku akan bersikap lunak."

Arga menatapnya selama beberapa detik. Lalu, dengan nada yang sama datarnya, ia menjawab: "Tidak."

Satu kata itu menggema di dalam lumbung yang sunyi.

Wajah Darmo mengeras. "Kau berani menolak?"

"Aku tidak melihat alasan untuk berlutut. Ardi yang memukulku duluan. Aku hanya membela diri. Jika itu salah di matamu, maka masalahnya ada padamu, bukan padaku."

Ardi melongo. Reno dan Beno saling berpandangan dengan ekspresi tidak percaya. Bahkan pemuda satunya—yang belum bicara sejak tadi—mengangkat alisnya.

Darmo tertawa. Tapi tawanya tidak mengandung humor. Itu tawa dingin yang biasa dikeluarkan oleh orang yang tidak terbiasa ditolak.

"Menarik. Sampah sepertimu berani bicara seperti itu." Ia melangkah maju, melewati Ardi dan yang lainnya. "Baiklah. Karena kau tidak mau berlutut dengan sukarela, aku akan membuatmu berlutut dengan paksa."

Ia mengangkat tangannya, dan Arga bisa melihat Qi berkumpul di telapak tangan itu. Bukan jumlah yang besar—hanya cukup untuk satu pukulan yang bisa meremukkan tulang.

Dia tidak berniat membunuhku. Hanya ingin melukai dan mempermalukan.

Arga mengatur napasnya. Ia tahu kali ini tidak akan mudah. Darmo adalah kultivator sejati, bukan seperti Reno yang hanya mengandalkan kekuatan fisik. Serangannya akan lebih cepat, lebih kuat, dan yang terpenting—diperkuat oleh Qi.

Tapi bukan berarti tidak mungkin dihindari.

Darmo melangkah. Tubuhnya bergerak dengan kecepatan yang jauh di atas manusia biasa. Telapak tangannya melesat ke arah bahu Arga—serangan yang bertujuan untuk melumpuhkan, bukan membunuh.

Arga melihatnya datang.

Satu tarikan napas. Dua tarikan napas.

Waktu seolah melambat. Ini bukan teknik sihir—hanya efek dari tiga ribu tahun pengalaman bertarung yang tertanam dalam jiwanya. Otaknya memproses sudut serangan, kecepatan, jarak, dan kemungkinan variasi dalam sekejap mata.

Lalu tubuhnya bergerak.

Ia menurunkan bahunya, memutar pinggang, dan melangkah ke samping. Bukan gerakan besar—hanya beberapa senti. Tapi itu cukup untuk membuat telapak tangan Darmo meleset di atas bahunya, hanya mengenai udara kosong.

"Apa?!"

Darmo terkejut, tapi ia tidak berhenti. Ia memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan rendah ke arah kaki Arga. Cepat dan mematikan.

Arga melompat kecil—sekadar mengangkat kakinya beberapa senti dari tanah—dan tendangan itu meleset di bawah telapak kakinya.

"Ini tidak mungkin!"

Darmo semakin marah. Ia mulai melancarkan serangan bertubi-tubi—pukulan, tendangan, sikutan—semua diperkuat dengan Qi. Setiap serangannya cukup kuat untuk mematahkan tulang orang biasa.

Tapi Arga terus menghindar.

Gerakannya minimal, efisien, dan tepat. Ia tidak membalas. Ia hanya bergerak seperti air yang mengalir di antara batu-batu. Ke kiri. Ke kanan. Membungkuk. Berputar. Setiap serangan Darmo meleset dengan selisih yang sangat tipis—terkadang hanya selebar kertas.

Yang lain hanya bisa menonton dengan mulut ternganga.

"Apa... apa yang terjadi?" bisik Beno. "Bahkan Kak Darmo tidak bisa mengenainya?"

Ardi menggigit bibirnya. Matanya berkilat campuran antara takut dan marah. "Ini... ini pasti semacam sihir! Atau jimat! Dia pasti memakai sesuatu!"

Reno tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Arga dengan ekspresi ngeri. Karena sekarang ia mengerti—apa yang ia alami beberapa hari lalu bukanlah kebetulan. Pemuda di depannya ini benar-benar berbeda.

Sementara itu, pemuda satunya—yang sedari tadi hanya diam—akhirnya bersuara.

"Cukup, Darmo."

Suaranya tenang tapi berwibawa. Darmo langsung menghentikan serangannya dan mundur beberapa langkah. Napasnya memburu, keringat membasahi dahinya. Sementara Arga... Arga berdiri tenang, bahkan napasnya teratur.

"Kak Raka..." Darmo menoleh pada pemuda itu. "Aku... aku hanya—"

"Aku tahu apa yang kau lakukan." Raka melangkah maju. Ia menatap Arga dengan mata yang berbeda dari yang lain. Bukan mata yang penuh kebencian atau kesombongan. Tapi mata seorang pengamat yang cerdas. "Dan aku melihat apa yang terjadi."

Arga balas menatapnya. Raka. Pemurnian Qi tahap kelima. Tapi kualitas Qi-nya... lebih murni dari Darmo. Dia lebih berbakat. Dan dari sorot matanya, dia juga lebih berbahaya.

"Kau... bukan Arga yang dulu," kata Raka pelan. "Arga yang kukenal adalah pemuda pengecut yang akan menangis hanya karena dibentak. Tapi kau... kau menghindari semua serangan Darmo tanpa mengeluarkan setetes Qi pun. Bagaimana mungkin?"

Arga tidak menjawab.

Raka tersenyum tipis. "Tidak apa-apa. Kau tidak perlu menjawab. Setiap orang berhak menyimpan rahasianya." Ia berbalik, memberi isyarat pada yang lain. "Ayo pergi."

"Tapi, Kak!" protes Ardi. "Dia belum dihukum! Dia—"

"Aku bilang, ayo pergi." Nada suara Raka tidak meninggikan, tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat Ardi langsung menutup mulutnya.

Satu per satu, mereka keluar dari lumbung. Darmo menatap Arga dengan ekspresi tidak terima, tapi ia tidak berani membantah Raka. Reno dan Beno mengikutinya dengan lega—mereka jelas tidak ingin terlibat lebih jauh.

Raka adalah yang terakhir. Sebelum keluar, ia berhenti di ambang pintu dan menoleh.

"Arga," panggilnya. "Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Tapi satu hal yang pasti—Klan Sanjaya akan segera menghadapi ujian besar. Festival Perebutan Warisan akan dimulai dalam tiga bulan. Jika kau benar-benar sudah berubah... mungkin kau bisa membuktikannya di sana."

Ia pergi tanpa menunggu jawaban.

Arga berdiri sendirian di dalam lumbung yang kini sunyi. Matanya menatap pintu yang sudah kosong.

Festival Perebutan Warisan...

Ingatan tubuh ini memberinya informasi. Festival itu adalah acara tahunan di mana semua klan kecil di wilayah ini—termasuk Klan Sanjaya—bersaing memperebutkan sumber daya kultivasi dari klan-klan besar yang menjadi pelindung mereka. Tahun lalu, Klan Sanjaya hampir terdegradasi karena peringkat mereka yang terus merosot.

Jika tahun ini mereka kembali gagal, mereka akan kehilangan semua hak atas tambang batu roh di wilayah mereka. Tanpa tambang itu, Klan Sanjaya akan benar-benar hancur.

Menarik, pikir Arga. Ini mungkin kesempatanku.

---

Malam harinya, Arga kembali ke kamarnya. Tapi kali ini, ia tidak langsung bermeditasi.

Ia duduk di ranjangnya, memikirkan kata-kata Raka.

"Festival Perebutan Warisan akan dimulai dalam tiga bulan."

Tiga bulan. Dalam dunia kultivasi, tiga bulan bukanlah apa-apa. Bagi kultivator biasa, tiga bulan bahkan tidak cukup untuk naik satu tahap kecil.

Tapi Arga bukan kultivator biasa.

Aku punya tiga ribu tahun pengalaman. Aku punya teknik-teknik kuno yang bahkan tidak dikenal di era ini. Dan yang terpenting... aku punya benang perak dari Langit Kesepuluh.

Ia menutup mata dan memeriksa Dantian-nya. Benang perak itu masih di sana. Masih sepanjang setengah ruas jari. Masih berdenyut pelan.

Tapi aku butuh lebih. Jauh lebih banyak.

Ia mulai melakukan Teknik Pernapasan Kaisar Kuning. Satu siklus. Dua siklus. Tiga siklus. Benang perak itu berdenyut setiap seratus delapan napas, persis seperti sebelumnya.

Tapi malam ini, ia tidak berhenti di tiga siklus.

Ia terus melanjutkan. Empat siklus. Lima siklus. Enam siklus.

Tubuhnya mulai terasa panas. Bukan panas biasa—panas yang berasal dari dalam, seolah-olah ada api kecil yang menyala di pusat dirinya. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, tapi ia tidak berhenti.

Tujuh siklus. Delapan siklus.

Sesuatu mulai terjadi. Benang perak di Dantian-nya—yang tadinya hanya berdenyut pasif—kini mulai bergerak. Sangat pelan, sangat lembut, ia merayap seperti ular kecil yang baru bangun dari tidur panjangnya.

Sembilan siklus.

Benang itu kini bergerak lebih aktif. Ia berputar-putar di dalam Dantian, meninggalkan jejak-jejak kecil energi perak yang langsung diserap oleh dinding Dantian. Arga bisa merasakan perubahan—Dantian-nya menjadi lebih kuat, lebih elastis, seolah-olah sedang dipersiapkan untuk menampung sesuatu yang jauh lebih besar.

Sepuluh siklus.

KRAAK!

Suara retakan kecil terdengar dari dalam tubuhnya. Arga membuka mata, terkejut. Ia segera memeriksa dengan Mata Batin Langit.

Dan apa yang ia lihat membuatnya terdiam.

Salah satu sumbatan di meridian utamanya—bukan terbuka—tapi retak. Sebuah retakan kecil, tidak lebih lebar dari sehelai rambut, muncul di permukaan sumbatan yang tadinya padat dan keras seperti batu.

Dari retakan itu, secercah kecil Qi—Qi biasa dari dunia fana, bukan dari Langit Kesepuluh—mulai merembes masuk.

Ini...

Arga menahan napas. Ia tidak berani bergerak, takut mengganggu proses yang sedang terjadi. Retakan itu tetap di sana, tidak membesar, tapi juga tidak menutup. Qi yang masuk sangat sedikit—bahkan lebih sedikit dari yang bisa diserap oleh anak berusia lima tahun yang baru mulai berkultivasi.

Tapi itu adalah Qi. Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun di tubuh ini, tubuhnya benar-benar menyerap Qi dari alam.

Racun Langit Bawaan tidak membuka sumbatanku. Ia hanya... melunakkannya. Membuatnya cukup rapuh sehingga sedikit Qi bisa menembus. Tapi kenapa? Kenapa tidak membukanya sekalian?

Jawabannya datang beberapa saat kemudian, saat ia memperhatikan benang perak di Dantian-nya.

Benang itu kini berputar lebih cepat, dan ia mulai melakukan sesuatu yang tidak Arga duga. Ia menyerap Qi yang masuk melalui retakan tadi. Menyedotnya seperti spons kering yang menemukan setetes air.

Dan saat Qi itu diserap, benang perak itu... tumbuh.

Sangat sedikit. Mungkin hanya seperseratus rambut. Tapi ia tumbuh.

Arga membuka matanya lebar-lebar.

Aku mengerti sekarang. Racun Langit Bawaan tidak akan membuka sumbatanku karena ia ingin aku menyerap Qi biasa dulu. Qi dari dunia fana ini adalah... makanannya. Semakin banyak Qi biasa yang kuserap, semakin besar benang perak ini akan tumbuh. Dan ketika ia cukup besar...

Ia mengepalkan tangannya.

...mungkin saat itulah sumbatan-sumbatanku akan benar-benar terbuka. Dan aku akan bisa mengakses kekuatan Langit Kesepuluh sepenuhnya.

Ini adalah sistem kultivasi yang sama sekali berbeda. Bukan hanya berbeda dari apa yang dikenal di dunia fana ini—tapi berbeda dari semua yang pernah ia pelajari sebagai Kaisar Langit.

Ini bukan kultivasi biasa. Ini adalah... metamorfosis.

Arga menghela napas panjang, membaringkan tubuhnya yang lelah. Otot-ototnya terasa seperti diremas-remas, tapi ada kepuasan aneh di dalamnya.

Tiga bulan, pikirnya sambil menatap langit-langit gelap. Aku punya tiga bulan untuk membuat retakan-retakan kecil di seluruh sumbatanku. Untuk menyerap cukup Qi agar benang perak ini tumbuh. Untuk mempersiapkan tubuh ini menghadapi Festival Perebutan Warisan.

Ini tidak akan mudah. Tapi aku sudah menempuh jalan yang lebih sulit sebelumnya.

Tepat saat ia hendak memejamkan mata, suara ketukan pelan terdengar dari pintu.

"Tuan Muda?" Suara Sari, berbisik. "Kau sudah tidur?"

Arga bangkit dan membuka pintu. Sari berdiri di sana, wajahnya pucat dan cemas. Di tangannya, ia membawa sebuah bungkusan kain kecil.

"Ada apa, Sari?"

Gadis itu menelan ludah. "Aku... aku menemukan sesuatu, Tuan Muda. Di kamar mendiang Nyonya. Aku sedang membersihkan seperti biasa, dan... ini jatuh dari balik lemari."

Ia membuka bungkusan kain itu.

Di dalamnya, terbaring sebuah liontin giok berwarna ungu gelap—warna yang persis sama dengan inti Racun Langit Bawaan di Dantian Arga. Liontin itu berbentuk aneh, seperti simbol yang tidak dikenal.

Tapi yang membuat darah Arga berdesir bukanlah bentuknya.

Melainkan fakta bahwa liontin itu... berdenyut.

Dengan ritme yang persis sama dengan benang perak di Dantian-nya.

1
Mommy Dza
Wah bersatu yah
Mommy Dza
So sweet 😁 akhirnya Arga bs tdur nyenyak
Mommy Dza
Masuk ke dalam kegelapan
kenangan pertama
Mommy Dza
Mencari pecahan
Mommy Dza
Pilihan yg sulit
Mommy Dza
pemangsa yg kesepian ternyata🥹
Mommy Dza
Lanjut💪
Mommy Dza
Tetap semangat Arga 💪
Mommy Dza
Cara memperkuat segel adalah
Mommy Dza
Bravo Arga 👍💪
BlueHeaven
Sekelas Penguasa Tertinggi kok sampe nggak tau sih, apalagi setetes demi setetes tiap harinya
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
Mommy Dza
Arga kembali 💪
Mommy Dza
Arga mau dimangsa 🥹 haddehh
hancurkan dia Arga
Mommy Dza
Memperbarui segel dan mengurung pemangsa 💪
Mommy Dza
Arga semakin kuat 💪
Mommy Dza
Nasib apa yg menunggunya 🥹
Mommy Dza
Lanjut thor
Mommy Dza
Wah ketemu pecahan kedua yah 💪
Mommy Dza
Siapa lagi yg muncul /Smug/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!