Adrian Alfarezel adalah CEO yang menderita germaphobia ringan dan sangat gila keteraturan. Hidupnya yang membosankan berubah total saat ia bertemu Zevanya (Zeva), seorang gadis pengantar paket yang hobi motoran, bicaranya ceplas-ceplos, dan tidak takut pada siapa pun—termasuk Adrian.
Pertemuan mereka dimulai dari insiden "helm melayang" yang mengenai mobil mewah Adrian, berlanjut ke skema "pacar kontrak" untuk menghindari perjodohan kolot kakek Adrian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ngidam Balap dan Rahasia Daster Sutra
Memasuki trimester ketiga, kehidupan Zevanya Sanjaya bukan lagi tentang strategi korporasi yang dingin atau pengejaran musuh di gang-gang gelap. Kini, musuh terbesarnya adalah gravitasi, rasa mual yang datang tanpa undangan, dan yang paling parah: proteksi tingkat dewa dari Adrian Alfarezel.
Pagi itu, di penthouse mewah yang biasanya tenang, suara teriakan Zeva memecah keheningan.
"Adrian! Lu apain jaket kulit gue?! Kenapa baunya jadi kayak bunga melati begini?!"
Zeva berdiri di depan lemari besarnya, memegang jaket kulit kesayangannya dengan ujung jari, seolah benda itu adalah limbah beracun. Wajahnya yang sedikit lebih bulat—chubby yang menggemaskan menurut Adrian, tapi "bengkak" menurut Zeva—tampak merah padam.
Adrian masuk ke kamar dengan santai, mengancingkan manset kemejanya. "Aku menyuruh pelayan mencucinya dengan disinfektan organik dan pewangi terapi, Zeva. Bau oli dan aspal di jaket itu tidak baik untuk pernapasanmu sekarang. Dokter bilang—"
"Dokter lagi, dokter lagi! Lama-lama gue nikahin aja tuh dokter biar lu puas!" potong Zeva sambil mengempaskan tubuhnya ke kasur king-size yang empuk. Ia mendesah frustrasi. "Gue kangen bau bensin, Adrian. Gue kangen suara mesin yang menderu, bukan musik klasik yang lu puter tiap malem buat 'stimulasi otak bayi'. Anak kita ini keturunan mekanik, dia butuh suara piston, bukan denting piano!"
Adrian menghampiri istrinya, duduk di tepi ranjang, dan mencoba mengelus perut Zeva yang sudah membulat sempurna. "Kenzo—atau siapa pun nama yang kita sepakati nanti—sedang butuh ketenangan, Sayang. Lagipula, kau tetap terlihat cantik meski memakai daster sutra ini."
Zeva melirik daster sutra berwarna champagne yang melekat di tubuhnya. Daster mahal pemberian Adrian yang harganya setara dengan satu set mesin motor Ninja terbaru. "Daster ini licin banget, Adrian! Gue ngerasa kayak belut sawah. Gue mau pake kaos oblong Ujang yang udah belel aja, lebih enak buat napas."
Pukul dua siang, saat Adrian sedang terjebak dalam rapat dewan komisaris yang membosankan, Zeva mulai merasakan serangan "ngidam" level akut. Tapi ini bukan ngidam makanan hotel bintang lima.
"Ujang, lu di mana?! Cepetan ke sini, bawa motor matic lu yang knalpotnya agak berisik itu!" bisik Zeva ke ponselnya, sambil bersembunyi di balik pilar ruang tengah.
"Aduh, Nona... saya bisa dipenggal Pak Adrian kalau ketahuan bawa Nona keluar," suara Ujang di seberang sana terdengar bergetar.
"Diem lu! Gue mau martabak telur di gang sempit deket bengkel lama. Yang masaknya pake kaos kutang dan keringetnya bercucuran itu. Cepetan! Kalau nggak, gue pecat lu jadi asisten mekanik gue!"
Sepuluh menit kemudian, dengan teknik "penyamaran tingkat daster"—yang melibatkan daster sutra, jaket hoodie kedodoran, dan kacamata hitam—Zeva berhasil menyelinap keluar lewat lift barang. Ia merasa seperti mata-mata internasional, padahal gerakannya sudah agak lambat karena beban di perutnya.
Di parkiran bawah, Ujang sudah menunggu dengan motor matic bututnya. Zeva langsung naik ke boncengan dengan susah payah.
"Jalan, Jang! Gas pol sebelum pengawal robot itu sadar gue ilang!"
Menembus kemacetan Jakarta dengan motor matic adalah kemewahan bagi Zeva. Angin yang menerpa wajahnya terasa seperti oase. Ia tidak peduli pada debu atau polusi; baginya, ini adalah kebebasan.
Sesampainya di kedai martabak pinggir jalan itu, Zeva langsung memesan dengan semangat. "Bang, martabak telurnya satu, telor bebeknya empat ya! Biar anak gue pinter nanjak!"
Sambil menunggu, Zeva duduk di kursi plastik yang reyot. Ia merasa pulang ke rumah. Orang-orang di sekitar tidak tahu kalau wanita yang sedang lahap makan martabak dengan saus encer itu adalah pemilik saham mayoritas Alfarezel Group.
"Zev, lu beneran nggak apa-apa makan beginian? Pak Adrian nyuruh gue laporin semua asupan Nona," tanya Ujang cemas.
"Kalo lu lapor, gue pastiin lu nggak bakal bisa pegang kunci inggris lagi seumur hidup. Makan aja udah, diem!" sahut Zeva sambil menyuapkan potongan besar martabak ke mulutnya. "Beuh... ini baru namanya makanan manusia. Bukan salad rumput yang dikasih Adrian."
Keesokan harinya, Adrian memaksa Zeva mengikuti kelas yoga hamil privat di rumah. Seorang instruktur wanita yang sangat sabar sudah menunggu di ruang senam yang menghadap ke pemandangan kota.
Zeva, yang biasanya lincah membongkar mesin, kini harus berurusan dengan bola besar (gym ball) dan gerakan-gerakan yang menurutnya sangat tidak masuk akal.
"Sekarang, Nona Zeva, tarik napas dalam-dalam, bayangkan bunga mawar mekar di dalam hati Anda..." instruksi sang guru.
Zeva mencoba mengikuti, tapi pikirannya melayang. "Mawar? Bisa nggak gue bayangin busi yang lagi memercikkan api aja? Lebih kerasa energinya, Mbak."
Adrian, yang menonton dari ambang pintu sambil memegang kopi, hanya bisa menahan tawa. Zeva yang sedang duduk di atas bola karet, mencoba menjaga keseimbangan dengan wajah yang sangat serius, adalah pemandangan paling menghibur sekaligus mengharukan baginya.
Tiba-tiba, Zeva kehilangan keseimbangan. Bolanya menggelinding ke kiri. "Eits, eits! Adrian! Gue mau terguling!"
Adrian dengan sigap berlari dan menangkap Zeva sebelum istrinya mencium lantai marmer. Zeva terengah-engah di pelukan Adrian, wajahnya memerah.
"Gue bilang juga apa, ini olahraga nggak cocok buat gue! Lebih gampang gue angkat ban truk daripada disuruh pose kayak pohon begini," gerutu Zeva, namun ia tidak melepaskan pelukan Adrian.
Adrian mencium pucuk hidung Zeva. "Satu sesi lagi, ya? Demi fleksibilitas saat persalinan nanti."
Zeva cemberut. "Oke, tapi abis ini gue mau martabak lagi. Dan lu nggak boleh protes soal kolesterol!"
Di bulan-bulan terakhir ini, Adrian memberikan kompromi besar. Ia membangunkan sebuah "bengkel bersih" di salah satu ruangan kedap suara di penthouse. Tidak ada mesin besar yang mengeluarkan asap, tapi ada meja kerja dengan peralatan presisi untuk merestorasi jam tangan mekanik atau mesin miniatur.
Itu adalah tempat persembunyian Zeva. Saat malam tiba dan Adrian sibuk dengan dokumen kantor, Zeva akan menyelinap ke sana. Ia akan memakai kacamata pembesarnya, memegang pinset, dan dengan telaten memperbaiki roda-roda gigi kecil.
Satu malam, Adrian menemukannya sedang tertidur di meja kerja, kepalanya berbantalkan lengan, dan tangannya masih memegang sebuah obeng kecil. Di sampingnya, ada sebuah miniatur mesin motor yang sedang ia rakit untuk calon bayinya.
Adrian tertegun. Ia melihat sebuah ukiran kecil di bodi miniatur itu: "Untuk Kenzo, dari Mekanik No. 1 di Jakarta."
Adrian menyadari bahwa meskipun ia mencoba memberikan segala kemewahan duniawi, jiwa Zeva akan selalu terikat pada logam dan mesin. Ia menggendong Zeva perlahan kembali ke tempat tidur. Zeva mengigau pelan, "Bautnya... kurang kenceng... Ujang goblok..."
Adrian tersenyum. Istrinya tetaplah Zeva yang semprul, bahkan saat sedang mengandung ahli waris tahta Alfarezel.
Kehamilan tidak selalu tentang momen lucu. Ada malam-malam di mana Zeva terjaga karena punggungnya terasa mau patah, atau kakinya yang membengkak hingga ia tidak bisa memakai sepatu kets kesayangannya.
"Adrian... sakit banget," bisik Zeva suatu malam, air mata kecil mengalir di sudut matanya.
Adrian tidak banyak bicara. Ia langsung duduk di belakang Zeva, memijat punggung istrinya dengan minyak aroma terapi selama berjam-jam hingga tangannya sendiri terasa kaku. Ia membisikkan kata-kata penenang, menceritakan masa depan yang akan mereka bangun bersama Kenzo.
"Nanti kalau dia udah gede, kita ajarin dia balap ya?" tanya Zeva dengan suara lemah.
"Kita ajarin dia bisnis dulu, Zeva," jawab Adrian diplomatis.
"Nggak seru lu! Bisnis mah gampang, tinggal tanda tangan. Balap itu butuh nyali!" Zeva mulai kembali ke mode aslinya.
"Iya, iya. Apa pun untukmu, Sayang. Sekarang tidurlah."
Di penghujung bulan kesembilan, suasana di Menara Alfarezel berubah menjadi siaga satu. Tim medis sudah disiagakan 24 jam. Tas persalinan sudah siap di dekat pintu, berisi perlengkapan bayi bermerk... dan tentu saja, sebuah kunci inggris kecil berbahan plastik yang dibeli Zeva secara rahasia untuk mainan pertama anaknya.
Zeva berdiri di balkon, menatap lampu-lampu Jakarta. Ia merasa seperti mesin yang baru saja melewati tahap modifikasi besar-besaran. Ia lebih berat, lebih lambat, tapi ia merasa jauh lebih kuat dari sebelumnya.
"Gue nggak nyangka, anak bengkel kayak gue bakal ngelahirin di rumah sakit mewah begini," gumam Zeva pada dirinya sendiri. "Pah, liat ya dari sana. Cucu lu bakal jadi Alfarezel paling keren yang pernah ada."
Pintu balkon terbuka. Adrian masuk membawa shawl untuk menutupi pundak Zeva.
"Siap untuk besok?" tanya Adrian. Besok adalah jadwal operasi caesar yang disarankan dokter karena posisi bayi yang agak melintang—sepertinya sang bayi juga punya sifat keras kepala seperti ibunya.
Zeva menyeringai, menunjukkan deretan giginya yang rapi. "Gue selalu siap, Bos Robot. Anggap aja besok itu hari balapan final. Dan gue... gue pasti bakal naik podium pertama."
Adrian memeluk istrinya dari belakang, keduanya menatap kota yang tidak pernah tidur itu, menantikan fajar baru yang akan mengubah hidup mereka selamanya. Tidak ada lagi ketakutan akan Helena atau Robert Tan. Hanya ada harapan, cinta, dan sedikit aroma oli yang entah bagaimana masih tercium di daster sutra Zeva.
tapi kok bisa si kakek gak tau kalo zeva adlh anak dari sahabat nya
aksi zevanya sungguh di luar nurul dan di luar prdiksi bmkg🤣🤣🤣
semngat kak tokoh cwek nya kuat badas gak menye menye , aku suka kk author mantan