Di Benua Awan Gelap, yang kuat dihormati bagai dewa, dan yang lemah diinjak bagai semut. Shen Yuan, seorang pemuda dengan pembuluh nadi bawaan yang cacat, hidup dalam kehinaan di sudut kota terpencil. Namun, takdirnya berubah ketika kepingan darah dari masa purbakala menyatu dengan jantungnya, memberikannya warisan "Jalan Iblis Penelan Surga".
Dari seorang buangan, ia melangkah di atas lautan darah dan gunung tulang. Ia akan menantang keangkuhan para putra langit, menghancurkan sekte-sekte berusia ribuan tahun, dan menguak tabir kebohongan para dewa yang bertahta di Sembilan Cakrawala. Ini adalah kisah tentang fana yang menggugat takdir, selangkah demi selangkah menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Pedang Perak
Salju yang turun dari langit kelabu perlahan menutupi lautan darah dan sisa-sisa daging yang berserakan di lereng bukit. Tubuh Kepala Keluarga Lin, yang dulunya adalah penguasa mutlak yang ditakuti ribuan pendekar di Kota Bintang Jatuh, kini tidak lebih dari sekadar kerangka beku yang akan segera dilupakan oleh kejamnya waktu.
Shen Yuan memutar tubuhnya, membelakangi pemandangan mengerikan tersebut. Ia tidak kembali ke arah Kota Bintang Jatuh. Kehancuran Keluarga Lin, meskipun tidak menyisakan saksi mata secara langsung, akan segera memicu badai yang mengguncang seluruh penjuru kota begitu lentera-lentera jiwa mereka padam di aula leluhur.
Lebih buruk lagi, kubu raksasa dari alam menengah, Sekte Pedang Langit, pasti akan segera mengirimkan ahli-ahli yang jauh lebih menakutkan dari sekadar Ranah Pengumpulan Lautan Qi untuk mencari utusan mereka yang hilang dan merampas kembali peta purbakala tersebut.
"Waktu adalah kemewahan yang tidak kumiliki saat ini," gumam Shen Yuan seraya mengeratkan jubah abu-abunya.
Langkah Bayangan Hantu!
Tubuh Shen Yuan terpecah menjadi empat bayangan hitam yang melesat menembus tirai badai salju, mengarah lurus ke utara—menjauhi wilayah perbatasan Benua Awan Gelap yang ia kenal. Kecepatannya di Ranah Penempaan Raga Lapisan Kedelapan begitu menakjubkan, hingga salju di tanah bahkan tidak sempat tercetak oleh telapak kakinya.
Ia berlari melintasi ngarai es dan hutan pinus beku selama tiga hari tiga malam tanpa henti. Tubuh Emas Gelap miliknya memberinya daya tahan ragawi yang nyaris tak terbatas, menyerap sari pati udara dingin tanpa merusak organ dalamnya.
Pada senja hari keempat, Shen Yuan tiba di sebuah lembah berbatu yang dipenuhi oleh pilar-pilar batu kapur raksasa. Tempat ini sangat sunyi, nyaris tidak ada tanda-tanda kehidupan binatang buas, menjadikannya tempat persembunyian yang sempurna. Ia memilih sebuah celah tebing yang dalam, membersihkan salju di dalamnya, dan duduk bersila beralaskan batu yang dingin.
"Sekarang, mari kita lihat takdir macam apa yang mengorbankan nyawa ayahku," bisik Shen Yuan dengan mata menyipit.
Ia menepuk Kantong Qiankun tingkat menengah hasil rampasannya, dan selembar perkamen kulit domba yang lapuk muncul di telapak tangannya. Peta Makam Tuan Tanah Hantu. Benda ini memancarkan aura kuno yang sangat pekat, membawa beban sejarah ribuan tahun yang membuat udara di dalam celah tebing itu terasa berat.
Shen Yuan mengalirkan kesadaran spiritualnya ke dalam peta tersebut. Namun, saat pikirannya menyentuh permukaan perkamen, ia merasa seolah-olah menabrak sebuah dinding besi yang tak kasat mata.
"Jangan membuang tenagamu, Bocah," tawa serak Leluhur Darah bergema di lautan kesadarannya. "Itu adalah pusaka peninggalan seorang ahli di Ranah Peleburan Jiwa! Pemahaman mereka tentang kaidah alam jauh melampaui semut-semut fana di alam bawah. Kesadaran spiritualmu yang masih mentah tidak akan pernah bisa menembus segel pengaman yang ditinggalkan oleh sang Tuan Tanah Hantu."
"Lalu bagaimana cara membacanya? Apakah Keluarga Lin atau Sekte Pedang Langit belum membukanya?" tanya Shen Yuan, alisnya berkerut.
"Tentu saja belum! Segel ini membutuhkan darah. Tetapi bukan sembarang darah. Sang Tuan Tanah Hantu kemungkinan besar menetapkan syarat khusus, entah itu darah dari keturunannya, atau darah dari seseorang yang memiliki fisik dan hawa pembantaian yang melampaui batas kewajaran," jelas Leluhur Darah. "Darah ayahmu dulunya tertumpah di atasnya, namun fondasinya terlalu lemah untuk diakui oleh peta ini. Sekarang, cobalah dengan darahmu. Teteskan intisari dari Nadi Iblis Penelan Surga, dan biarkan pusaka tua itu merasakan apa arti kekuatan yang sesungguhnya!"
Shen Yuan tidak ragu. Ia menggigit ujung jari telunjuk kanannya hingga berdarah. Ia memusatkan setetes intisari darah yang memancarkan warna merah kehitaman yang sangat pekat—darah yang telah menyerap berbagai esensi binatang buas, ahli fana, dan bahkan hawa murni dari Cairan Sumsum Bumi serta Akar Darah Naga Matahari.
Satu tetes darah itu jatuh tepat di tengah perkamen usang tersebut.
Wuuuung!
Seketika itu juga, perkamen kulit domba itu bergetar hebat. Darah Shen Yuan tidak meresap seperti air yang membasahi kertas, melainkan terbakar layaknya api yang menyulut serbuk mesiu! Garis-garis merah menyala mulai menjalar dengan cepat, membentuk rute, lembah, sungai, dan pegunungan purba yang perlahan melayang di udara, menciptakan sebuah bayangan semu yang tampak begitu nyata.
Di ujung gambaran peta tersebut, terdapat gambar sebuah gerbang tengkorak raksasa yang berada di tengah-tengah cekungan gelap. Di samping gerbang itu, tertulis deretan aksara kuno yang memancarkan aura kematian: Lembah Jurang Seribu Tulang, Wilayah Utara Benua Awan Gelap.
"Lembah Jurang Seribu Tulang..." Shen Yuan mengeja nama itu. Itu adalah tempat terlarang yang konon berjarak puluhan ribu li dari posisinya saat ini, sebuah perjalanan yang akan memakan waktu berbulan-bulan melintasi kekuasaan berbagai sekte dan kekaisaran fana.
Namun, sebelum Shen Yuan bisa mempelajari rute itu lebih teliti, sebuah kejanggalan mematikan terjadi!
Tepat di sudut gambaran peta itu, sebuah titik cahaya berwarna perak tiba-tiba meledak. Titik perak itu tidak berasal dari peta asli, melainkan sesuatu yang ditanamkan secara paksa ke dalam perkamen tersebut!
"Hati-hati, Bocah! Itu adalah perangkap!" raung Leluhur Darah.
Titik perak itu meluas dalam sekejap mata, berubah menjadi sebilah pedang ilusi yang murni dibentuk dari hawa murni dan tekad membunuh yang mutlak. Pedang perak itu melesat keluar dari peta, menebas udara dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap oleh mata telanjang, mengincar langsung untuk menghancurkan lautan kesadaran dan jiwa Shen Yuan!
Ini adalah Niat Pedang!
Seseorang di alam atas telah meninggalkan Niat Pedang Pembelah Jiwa di dalam peta ini untuk membunuh siapa saja yang berani membuka segelnya tanpa izin! Ini jelas merupakan perbuatan leluhur dari Sekte Pedang Langit, yang menanamkan pelacak dan perangkap sekaligus pada barang lelang mereka sebagai tindakan berjaga-jaga.
"Sialan!"
Shen Yuan tidak memiliki waktu untuk menghindar. Niat Pedang Perak itu langsung menembus dahinya, masuk ke dalam lautan kesadarannya.
Di dalam pikiran Shen Yuan, badai perak mengamuk. Pedang ilusi itu mencoba membelah kesadarannya menjadi dua. Jika ia gagal bertahan, tubuh fananya mungkin akan tetap utuh, namun ia akan menjadi mayat hidup tanpa jiwa!
Rasa sakit yang merobek jiwa membuat Shen Yuan memuntahkan darah segar dari mulutnya di dunia nyata. Namun, alih-alih menyerah pada keputusasaan, kegilaan dan keangkuhan Nadi Iblis Penelan Surga justru terbakar!
"Ini adalah lautan kesadaranku! Bahkan dewa dari Sembilan Cakrawala pun harus berlutut jika masuk ke wilayahku!" aum Shen Yuan dalam batinnya.
Sutra Penelan Surga, Putaran Pelahap Jiwa!
Ini adalah pertama kalinya Shen Yuan menggunakan teknik pamungkasnya bukan di alam fisik, melainkan di alam batin. Pusaran hawa murni iblis yang selama ini berdiam di Dantian-nya memancarkan bentuknya ke dalam lautan kesadarannya.
Seekor naga iblis berwarna hitam pekat yang tak berwujud bangkit dari dasar lautan jiwanya. Naga itu membuka rahang raksasanya dan langsung menggigit Niat Pedang Perak yang sedang mengamuk tersebut!
Traanggg! Kreeeaaak!
Suara benturan antara niat pedang sekte raksasa dan jiwa iblis purbakala mengguncang pikiran Shen Yuan. Niat Pedang Perak itu meronta hebat, mencoba memancarkan ribuan bilah cahaya untuk merobek naga hitam tersebut. Namun, di bawah hukum pelahapan mutlak dari Sutra Penelan Surga, bahkan Niat Pedang yang ditinggalkan oleh ahli di atas Ranah Lautan Qi pun mulai terkikis.
"Hancur untukku!"
Dengan satu cengkeraman batin terakhir yang menyatukan seluruh kebencian dan tekad bertahan hidupnya, naga iblis itu meremukkan Niat Pedang Perak tersebut hingga berkeping-keping!
Serpihan cahaya perak itu kemudian ditelan habis oleh kesadaran Shen Yuan, berubah menjadi asupan jiwa yang langsung memperluas lautan kesadarannya hingga dua kali lipat, membuat pandangan mata batinnya menjadi jauh lebih tajam dan jernih dari sebelumnya.
Shen Yuan membuka matanya di dunia nyata. Napasnya terengah-engah, seluruh tubuhnya basah oleh keringat dingin. Jika bukan karena ketangguhan jiwanya yang telah ditempa berkali-kali di ambang kematian, perangkap Niat Pedang tadi pasti sudah mengakhiri takdirnya.
"Menakjubkan... kau benar-benar menelan Niat Pedang dari ahli sekte raksasa," ucap Leluhur Darah, nadanya bercampur antara pujian dan kekhawatiran. "Tetapi penghancuran Niat Pedang ini membawa petaka baru. Pemilik asli pedang itu pasti telah merasakan bahwa tanda pelacaknya dihancurkan. Mereka sekarang tahu bahwa Keluarga Lin telah gagal, dan petanya ada di tangan orang lain yang mampu mematahkan segel mereka!"
Shen Yuan mengusap darah di bibirnya. Ia melihat gambaran peta itu telah memudar kembali menjadi perkamen usang biasa, namun rute dan tujuan akhirnya telah terekam sempurna di dalam ingatannya berkat perluasan lautan kesadarannya.
"Biarkan mereka tahu. Biarkan mereka memburu," Shen Yuan tersenyum buas, menyimpan kembali peta itu ke dalam Kantong Qiankun-nya. "Lembah Jurang Seribu Tulang di Wilayah Utara. Perjalanan ini akan dipenuhi oleh darah mereka yang mencoba menghalangiku."
Shen Yuan berdiri, menatap ke arah utara di mana pegunungan dan langit menyatu dalam warna kelabu. Ia telah meninggalkan kedudukan sebagai sampah dari Kota Debu Merah. Ia telah meruntuhkan tiran Kota Bintang Jatuh. Kini, ia akan melangkah ke dunia yang sesungguhnya—dunia di mana para jenius sekte raksasa dan tokoh-tokoh tua dari masa lalu saling memperebutkan takdir langit.
"Tunggu aku, Tuan Tanah Hantu. Warisanmu akan menjadi batu pijakanku."
Dengan satu hentakan kaki yang menghancurkan batu karang di bawahnya, Shen Yuan menggunakan Langkah Bayangan Hantu, melesat membelah angin utara, memulai perjalanan panjangnya melintasi Benua Awan Gelap. Babak perburuan makam akhirnya dimulai dengan gema pedang perak yang patah.