Ternyata di belahan dunia ini masih tersisa seorang pria berhati malaikat. Meski semua orang tak mempercayai itu. Sebab yang mencintaiku itu adalah seorang mafia jahat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehilangan bayi
Nyonya Ratih Wijaya menarik napas lega, seolah baru saja membuang sampah busuk yang selama ini mengotori ruang tamunya. Ia mengibaskan tangannya di udara, lalu merapikan tatanan rambut sanggulnya yang sedikit berantakan karena tenaga yang ia keluarkan untuk menyeret Laila tadi.
"Akhirnya, bersih juga rumah ini dari wanita pembawa sial itu," gumam Nyonya Ratih dengan senyum puas yang merekah.
"Ya, saran mama memang benar sekali. Seharusnya sudah sejak dahulu aku mendepak Laila dari rumah ini."
Gion berdiri di samping ibundanya, masih menyesuaikan kancing kemeja mahalnya yang sempat ditarik-tarik Laila. Tidak ada raut penyesalan di wajahnya. Baginya, Laila hanyalah masa lalu yang menghambat kariernya. Sebagai General Manager di salah satu anak perusahaan di bawah naungan raksasa Sinar Pradipta Corporation, Gion merasa levelnya sudah jauh di atas Laila yang penampilannya tak lebih dari seorang asisten rumah tangga. Sungguh memalukan sekali.
"Sudahlah, Gion. Jangan dipikirkan lagi. Kamu itu calon orang besar. Sebentar lagi, dengan bantuan Nona Sarah, posisi Direktur bukan lagi mimpi," ucap Nyonya Ratih sambil menepuk bahu putranya.
"Iya, Mommy. Gion tahu. Laila memang nggak pantas ada di sini. Sudah lima tahun, tapi satu cucu pun nggak bisa dia kasih. Benar-benar nggak berguna," sahut Gion dingin. Dalam hatinya merasa lega, seperti beban yang terlepas dari pundaknya.
Tepat saat itu, Nona Sarah melangkah anggun memasuki pelataran rumah. Aroma parfum high-end langsung memenuhi udara, kontras dengan bau anyir darah yang tadi sempat tercecer di paving blok.
"Selamat datang, Nona Sarah! Suatu kehormatan besar bagi keluarga Wijaya," sapa Nyonya Ratih dengan nada suara yang dibuat semanis madu.
Sarah melepaskan kacamata hitamnya, menatap Gion dan ibunya bergantian dengan senyum tipis yang sulit diartikan. "Terima kasih, Nyonya Ratih. Pak Gion, Anda tampak sangat siap untuk ekspansi kita ke Dubai, ya?"
"Tentu, Nona. Saya sudah menyiapkan semua laporan performa perusahaan. Saya harap Sinar Pradipta Corporation bisa melihat dedikasi saya selama ini," jawab Gion penuh percaya diri, berusaha tampil karismatik di depan wanita yang memegang kunci kenaikan pangkatnya itu.
"Oh, tentu. Kami sangat menghargai... loyalitas," ujar Sarah pendek sambil melirik ke arah gerbang yang baru saja tertutup rapat.
Sambil tersenyum Gion memegang lembut tangan Sarah yang sangat lembut.
Dalam hati nyonya Ratih mulai menyukai Sarah.
"Dan tentunya, dia harus menjadi menantuku," gumamnya dalam hati sambil tersenyum kegirangan. Membayangkan semua terjadi seperti keinginannya.
Di luar gerbang yang menjulang tinggi itu, nyawa Laila seolah berada di ujung tanduk. Kesadarannya hampir hilang sepenuhnya. Namun, di tengah kegelapan yang mulai menjemputnya, suara deru mesin mobil yang halus terdengar berhenti tepat di samping tubuhnya yang meringkuk.
Pintu mobil terbuka. Sepasang sepatu pantofel hitam mengkilap melangkah turun. Seorang pria dengan setelan jas custom-made berwarna abu-abu gelap berdiri mematung melihat pemandangan tragis di depannya. Matanya yang berwarna biru tajam itu berkilat penuh kemarahan saat melihat genangan merah di bawah tubuh wanita yang sangat ia kenal.
"Laila?" bisik pria itu. Suaranya berat, penuh dengan emosi yang tertahan.
Tanpa memedulikan jas mahalnya akan kotor, pria itu berlutut dan langsung mengangkat tubuh Laila ke dalam dekapannya. "Sialan! Apa yang mereka lakukan padamu?!"
"Tuan Zayn? Kita harus segera pergi, kondisi Nona sangat kritis," ucap asistennya yang juga panik melihat banyaknya darah.
Dan lebih khawatir jika ada orang yang melihat keberadaan tuannya itu.
"Segera ke Rumah Sakit! Sekarang!" perintah pria bernama Zayn Malik itu dengan nada yang sangat dingin hingga membuat bulu kuduk meremang.
Mobil mewah itu melaju membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi. Di kursi belakang, Zayn memangku kepala Laila. Tangannya yang besar gemetar saat mengelus dahi Laila yang dingin dan pucat pasi.
"Tunggulah sedikit lagi, Laila. Bertahanlah demi aku," ucapnya nyaris tak terdengar, seolah membisikkan janji pada malaikat maut agar tidak menjemput wanita di pelukannya ini.
Sesampainya di Rumah Sakit bertaraf Internasional, suasana mendadak tegang. Zayn bukan orang sembarangan; kehadirannya membuat jajaran direksi rumah sakit turun tangan. Laila segera dilarikan ke ruang ICU dengan pengawalan ketat.
Zayn berdiri di depan pintu ICU, menatap lampu merah yang menyala. Ia mengabaikan noda darah yang mengering di kemeja putihnya. Amarahnya membumbung tinggi. Ia mengeluarkan ponsel, mendial sebuah nomor.
"Cari tahu apa yang terjadi di kediaman Wijaya satu jam yang lalu. Aku ingin rinciannya. Jangan lewatkan satu detik pun," perintahnya pada seseorang di seberang telepon.
Hampir tiga puluh menit berlalu—waktu yang terasa seperti selamanya bagi Adrian. Pintu ICU akhirnya terbuka. Seorang dokter senior keluar dengan wajah yang tampak lelah namun lega karena berhasil melewati masa kritis.
"Bagaimana, Dok?" tanya Zayn langsung, suaranya tetap dingin namun terselip kekhawatiran yang nyata.
Dokter itu menghela napas panjang, menatap Zayn dengan penuh simpati. "Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menghentikan pendarahannya, Tuan Zayn."
Zayn menyipitkan mata. "Lalu?"
"Maafkan kami, Tuan... Dia kehilangan bayinya. Janin itu tidak bisa diselamatkan karena benturan keras dan pendarahan hebat yang dialami pasien. Kondisinya saat ini juga belum stabil karena kehilangan terlalu banyak darah."
Duar! Seolah ada petir yang menyambar di siang bolong, tubuh Zayn menegang. Matanya berkilat penuh api kemarahan.
"Bayi? Laila sedang hamil?" tanya Zayn dengan suara yang merendah, namun setiap katanya terasa tajam seperti pisau.
"Benar, Tuan. Usianya baru sekitar enam minggu. Sepertinya pasien sendiri bahkan belum menyadarinya," jawab dokter itu pelan.
Zayn mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Bayi yang selama ini diidamkan Laila, bayi yang seharusnya menjadi pelengkap kebahagiaannya, justru lenyap karena kekejaman pria yang Laila sebut suami.
"Gion Wijaya..." Zayn mendesiskan nama itu dengan penuh kebencian. "Kamu tidak hanya mengusir istrimu, tapi kamu juga baru saja membunuh anakmu sendiri."
Ia berbalik, menatap asistennya yang berdiri tak jauh dari sana.
"Batalkan semua rencana investasi dengan Gion Wijaya. Aku ingin pria itu hancur seancur-ancurnya malam ini juga. Jangan biarkan dia memiliki satu sen pun tersisa di rekeningnya."
"Baik, Tuan Zayn. Lalu bagaimana dengan Nona Laila?"
Zayn menatap pintu kaca ICU, di mana Laila terbaring lemah dengan berbagai selang di tubuhnya.
"Mulai hari ini, dia adalah tanggung jawabku. Keluarga Wijaya akan segera tahu, bahwa wanita yang mereka sebut 'tidak guna' itu adalah berlian yang paling berharga bagi pemilik Sinar Pradipta yang sesungguhnya."
Zayn tersenyum miring, sebuah senyum yang menandakan awal dari kehancuran keluarga Wijaya. "Gion ingin kenaikan pangkat, kan? Mari kita beri dia 'kejutan' yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya."