bertemu dengan pria yang super duper nyebelin udah mah dia yang di tabrak ke mobil sekarang dia yang harus ganti rugi
itu yang di alami Ara bertemu dengan yoga pria yang paling nyebelin versi dia
ehh harus bertemu lagi dengan pria nyebelin dalam ikatan pacar(sewaan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Septiayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ketidakyakinan
Malam mulai turun perlahan. Lampu-lampu kafe menyala hangat, menandakan jam operasional hampir selesai. Suasana yang tadinya ramai kini mulai sepi, hanya tersisa beberapa pelanggan terakhir.
Arabella berdiri di balik kasir, merapikan struk dan memastikan semuanya sudah beres. Ia menghela napas panjang, tubuhnya terasa lelah setelah hari yang penuh kejadian tak terduga.
Beberapa menit kemudian, ia melepas apron dan mengambil tasnya.
“Bela, hati-hati ya,” suara Bu Dian terdengar dari dalam.
“Iya, Bu,” jawab Arabella sambil tersenyum kecil.
Ia melangkah keluar dari kafe.
Udara malam terasa lebih sejuk.
Namun langkahnya tiba-tiba terhenti.
Di seberang jalan, bersandar santai di dekat mobil hitam, seseorang sudah berdiri menunggunya.
Yoga.
Arabella langsung menghela napas panjang.
“Kenapa kamu masih di sini?”
Yoga menegakkan tubuhnya dan berjalan mendekat.
“Aku menunggu kamu.”
Arabella mengerutkan kening.
“Untuk apa?”
“Aku akan mengantarmu pulang.”
Jawaban itu terdengar santai, seolah hal itu sudah pasti terjadi.
Arabella langsung menggeleng.
“Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri.”
Yoga tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya beberapa detik.
“Sudah malam.”
“Aku biasa pulang sendiri.”
“Aku tidak tanya,” balas Yoga singkat.
Arabella langsung menatapnya kesal.
“Aku bilang tidak perlu.”
Yoga membuka pintu mobilnya.
“Masuk.”
Arabella menghela napas, mulai kesal.
“Kamu ini selalu memaksa ya.”
Yoga menatapnya datar.
“Anggap saja ini bagian dari tanggung jawab.”
Arabella menyilangkan tangan.
“Aku tidak butuh itu.”
Beberapa detik mereka saling menatap.
Lalu Yoga berkata pelan, tapi tegas—
“Kalau kamu tidak masuk, aku akan tetap berdiri di sini sampai kamu berubah pikiran.”
Arabella menatapnya tidak percaya.
“Kamu serius?”
Yoga hanya diam… tapi itu sudah cukup jadi jawaban.
Arabella menghela napas panjang, akhirnya menyerah.
“Dasar keras kepala…”
Ia membuka pintu mobil dan masuk.
Yoga menutup pintu dengan tenang, lalu berjalan ke sisi pengemudi.
Beberapa menit kemudian mobil melaju membelah jalan malam yang cukup lengang.
Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa canggung.
Arabella menatap ke luar jendela.
Yoga fokus menyetir.
Namun sesekali mereka saling melirik… tanpa benar-benar bicara.
Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah kos sederhana.
Arabella membuka sabuk pengaman.
“Terima kasih.”
Nada suaranya datar, tapi tidak lagi sekeras sebelumnya.
Yoga mengangguk kecil.
Arabella turun dari mobil dan berjalan menuju pintu kos.
Namun langkahnya tiba-tiba terhenti.
Di depan pintu…
beberapa koper terlihat.
Dan pintu terbuka sedikit.
Arabella mengerutkan kening.
“Ini…?”
Ia mendorong pintu perlahan.
Begitu masuk—
matanya langsung membesar.
“Ibu?!”
Di dalam ruang tamu kecil itu, seorang wanita paruh baya berdiri sambil tersenyum hangat.
“Bela!”
Arabella langsung mendekat.
“Ibu… kenapa di sini?”
Dua anak kecil berlari mendekat.
“Kak Bela!”
Arabella memeluk mereka dengan kaget.
“Kalian juga ikut?”
“Dari kampung,” jawab ibunya dengan lembut. “Kami ingin menjengukmu.”
Arabella masih terlihat terkejut.
Namun sebelum ia sempat menjelaskan apa pun—
suara langkah dari belakang membuat semua orang menoleh.
Yoga masuk ke dalam.
“Sepertinya kamu lupa sesuatu.”
Kalimat itu membuat Arabella langsung panik.
“Yoga— tunggu—”
Terlambat.
Ibunya sudah melihatnya.
Tatapan penuh rasa penasaran langsung muncul.
“Ini siapa, Bela?”
Arabella membeku.
Mulutnya terbuka… tapi tidak ada kata yang keluar.
Namun sebelum ia bisa menjawab—
Yoga melangkah maju dengan tenang.
Ia menatap ibu Arabella dengan sopan.
“Saya Yoga.”
Ia berhenti sejenak… lalu berkata dengan yakin,
“Pacar Arabella.”
Arabella langsung menoleh cepat dengan mata membesar.
“Apa?!”
Ibunya terlihat kaget, lalu perlahan tersenyum.
“Oh… jadi ini pacarmu?”
Arabella benar-benar tidak bisa berkata apa-apa.
Sementara itu ibunya mulai bertanya dengan antusias.
“Kamu tinggal di mana, Nak?”
“Di komplek mawar, Bu.”
“Kerja apa?”
Yoga menjawab dengan tenang, tanpa ragu sedikit pun.
“Saya CEO di Dinata Group.”
Suasana mendadak hening.
Arabella membeku.
Adik-adiknya langsung menatap dengan kagum.
Ibunya terlihat semakin terkejut.
“Perusahaan besar itu?”
Yoga mengangguk santai.
“Iya, Bu.”
Arabella menutup wajahnya dengan satu tangan.
Ini… benar-benar di luar kendalinya.
Semua terjadi terlalu cepat.
Ibu Arabella memandang Yoga dari atas sampai bawah, mencoba memahami sosok yang tiba-tiba muncul dan mengaku sebagai pacar anaknya.
“Oh… jadi kamu pacarnya Bela?” tanyanya sekali lagi, kali ini dengan nada lebih hati-hati.
Yoga mengangguk sopan.
“Iya, Bu.”
Arabella langsung menoleh cepat.
“Ibu, ini—”
Namun ucapannya terhenti. Ia tidak tahu harus menjelaskan apa.
Ibunya kembali bertanya, kini lebih serius.
“Nama lengkapmu siapa, Nak?”
“Yoga Pratama dinata, Bu.”
“Orang tua kamu?”
Yoga menjawab tanpa ragu.
“Ayah saya pemilik Dinata Group. Sekarang perusahaan itu saya yang pegang.”
Arabella langsung memejamkan mata sejenak.
Ia tahu… ini akan jadi rumit.
Ibu Arabella terlihat sedikit terkejut, tapi belum berhenti.
“Kamu anak ke berapa?”
“Anak pertama, Bu.”
Yoga berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada tenang namun tegas,
“Dan pewaris penuh perusahaan keluarga.”
Kali ini suasana benar-benar berubah.
Jika sebelumnya wajah ibu Arabella terlihat antusias…
sekarang perlahan berubah menjadi lebih kaku.
Senyumnya tidak lagi selebar tadi.
“Oh…”
Jawabannya singkat.
Ia mengangguk pelan, lalu menatap Yoga sekali lagi, seolah menilai.
“Perusahaan besar itu ya…”
“Iya, Bu.”
Tidak ada lagi nada kagum berlebihan.
Hanya keheningan yang terasa sedikit berat.
Arabella langsung menyadari perubahan itu.
Ia menatap ibunya dengan bingung.
“Ibu…?”
Namun ibunya hanya tersenyum tipis, tidak menjawab.
Ia lalu duduk perlahan di kursi, menarik napas pelan.
Sementara itu, dua adiknya masih terlihat kagum.
“Kak, pacarnya keren banget…” bisik salah satu dari mereka.
Arabella hanya bisa menatap kosong ke depan.
Di sisi lain, Yoga juga menyadari perubahan sikap itu.
Tatapan ibu Arabella kini tidak lagi sekadar penasaran…
melainkan lebih hati-hati. Lebih menjaga jarak.
Beberapa detik hening.
Lalu ibu Arabella kembali bicara, kali ini dengan nada lebih pelan.
“Kamu… sudah lama kenal Bela?”
Yoga melirik sekilas ke arah Arabella, lalu menjawab,
“Sudah cukup lama, Bu.”
Arabella langsung menegang.
Ia tahu… itu bukan jawaban yang sepenuhnya benar.
Ibunya mengangguk pelan, tapi tidak banyak bereaksi.
“Begitu…”
Nada suaranya datar.
Tidak lagi sehangat sebelumnya.
Arabella semakin merasa tidak nyaman.
“Ibu kenapa?” tanyanya pelan.
Ibunya menatapnya, lalu tersenyum tipis.
“Tidak apa-apa.”
Namun jelas… ada sesuatu yang berubah.
Bukan marah.
Bukan juga menolak.
Tapi ada jarak yang tiba-tiba muncul.
Seolah-olah…
ia mulai berpikir ulang tentang hubungan yang baru saja ia dengar.
Sementara itu, Yoga berdiri diam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung berkata apa-apa.
Ia hanya memperhatikan.
Suasana di dalam kos itu masih terasa kaku.
Ibu Arabella berdiri perlahan dari kursinya. Wajahnya tidak lagi sehangat tadi. Ia menatap Arabella sekilas, lalu tersenyum tipis.
“Bela… Ibu capek. Mau istirahat dulu.”
Arabella langsung menoleh.
“Iya, Bu…”
Dua adiknya yang sejak tadi duduk langsung berdiri.
“Ayo, Kak,” ujar salah satu dari mereka sambil menarik koper kecil.
Ibu Arabella mengangguk, lalu berjalan menuju kamar bersama kedua anaknya.
Sebelum benar-benar masuk, ia sempat menoleh ke arah Yoga.
“Makasih ya sudah mengantar Bela.”
Nada suaranya sopan… tapi terasa berjarak.
Yoga mengangguk hormat.
“Iya, Bu.”
Pintu kamar pun tertutup.
Klik.
Dan dalam sekejap—
suasana berubah.
Arabella langsung menoleh tajam ke arah Yoga.
Wajahnya yang tadi berusaha tenang kini berubah penuh emosi.
“Apa maksud kamu tadi?!”
Suaranya tertahan, tapi jelas marah.
Yoga menatapnya datar, seolah sudah menduga reaksi itu.
“Apa?”
Arabella melangkah mendekat.
“Kenapa kamu bilang kamu pacarku?!”
Yoga menghela napas pelan.
“Karena memang itu perannya.”
Arabella langsung menggeleng tidak percaya.
“Di depan ibuku, Yoga!”
“Justru karena itu.”
Jawaban singkat itu membuat Arabella semakin kesal.
“Ini bukan bagian dari perjanjian!”
“Sekarang jadi bagian.”
Arabella menatapnya tajam.
“Kamu seenaknya menambah aturan.”
Yoga tetap tenang.
“Aku hanya menjaga konsistensi.”
Arabella tertawa kecil, tapi tanpa humor.
“Konsistensi?”
“Iya.”
Yoga melanjutkan dengan nada serius.
“Kalau aku ragu atau terlihat tidak meyakinkan, ibumu akan curiga.”
Arabella langsung membalas cepat.
“Dan kamu pikir bilang kamu CEO segala itu tidak mencurigakan?!”
Yoga mengangkat alis sedikit.
“Itu fakta.”
Arabella menutup wajahnya sebentar.
“Ini gila…”
Ia berjalan beberapa langkah, mencoba menenangkan diri.
Namun emosinya masih terasa.
“Kamu tidak punya hak bicara seperti itu di depan keluargaku.”
Yoga menatapnya lebih dalam kali ini.
“Aku melakukan itu supaya peran kita tetap aman.”
Arabella langsung berbalik.
“Aku tidak butuh itu!”
“Kamulah yang butuh.”
Arabella terdiam sesaat.
Kalimat itu mengenai tepat sasaran.
Yoga melanjutkan, lebih pelan.
“Kamu yang memilih pekerjaan ini.”
Arabella mengepalkan tangannya.
“Aku tidak memilih melibatkan keluargaku.”
Suasana hening beberapa detik.
Kali ini Yoga tidak langsung menjawab.
Ia terlihat berpikir, lalu berkata,
“Kalau kita setengah-setengah… semuanya akan runtuh.”
Arabella menatapnya dengan mata tajam.
“Dan kalau kita terlalu dalam… kita tidak bisa keluar.”
Yoga terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak punya jawaban cepat.
Keheningan menggantung di antara mereka.
Arabella menghela napas panjang.
“Ini sudah terlalu jauh, Yoga.”
Nada suaranya lebih pelan… tapi lebih serius.
Yoga menatapnya, lalu berkata,
“Kita sudah terlanjur di dalam.”
Arabella menunduk sebentar.
Ia tahu… itu benar.
Namun bukan berarti ia menerimanya.
Ia kembali menatap Yoga.
“Mulai sekarang… jangan bicara sembarangan di depan keluargaku.”
Yoga mengangguk pelan.
“Baik.”
Arabella menyilangkan tangan.
“Dan jangan menambah cerita tanpa bilang ke aku.”
“Baik.”
Jawaban Yoga kali ini singkat… tanpa perdebatan.
Beberapa detik mereka saling diam.
Lalu Yoga melangkah mundur sedikit.
“Aku pulang.”
Arabella tidak menjawab.
Ia hanya berdiri diam, masih memproses semuanya.
Yoga berhenti sejenak di depan pintu.
“Ara.”
Arabella tidak langsung menoleh.
“Aku tidak bermaksud memperumit semuanya.”
Arabella akhirnya menatapnya.
“Tapi kamu melakukannya.”
Yoga terdiam.
Ia tidak membantah.
Beberapa detik kemudian, ia membuka pintu dan keluar.
Klik.
Pintu tertutup.
Arabella berdiri sendirian di ruang kecil itu.
Ia menghela napas panjang.
Hari itu terasa begitu panjang…
dan semuanya berubah lebih cepat dari yang ia bayangkan.
Ara Bella berjalan mengunci pintu rumah kosan nya tapi tiba tiba suara pintu terbuka dari arah kamar .
Ibu bela keluar dengan wajah datar nya.
Entah kenapa saat ini perasaan Bella tidak enak entah kenapa dari raut wajah sang ibu Bella bisa menyimpulkan ibu nya tidak suka terhadap yoga
Ibunya duduk di sofa panjang ruangan itu di susul dengan bella yang duduk di sebelah nya .
Tidak langsung bicara.
Beberapa detik hanya diam… tapi suasananya terasa berat.
“Bela…” suaranya pelan.
Arabella menoleh.
“Iya, Bu?”
Ibunya menarik napas panjang.
“Tentang Yoga…”
Arabella langsung menegang.
“Ibu tidak menyukainya.”
Kalimat itu kembali diucapkan—lebih tegas dari sebelumnya.
Arabella menunduk.
“Tapi… dia baik, Bu…”
Ibunya mengangguk.
“Iya. Ibu akui itu.”
Ia menatap Arabella dengan lembut.
“Sikapnya sopan. Cara bicaranya juga baik.”
Arabella sedikit lega… tapi itu tidak bertahan lama.
“Tapi itu bukan masalahnya, Bela.”
Ibunya menggenggam tangan Arabella.
“Masalahnya… dia berasal dari dunia yang berbeda.”
Arabella diam.
“Kita ini hidup pas-pasan. Kamu tahu itu.”
“Iya, Bu…”
“Sedangkan dia…” suara ibunya sedikit melemah, “dia dari keluarga kaya. Sangat kaya.”
Hening sejenak.
Ibunya menunduk, seolah mengingat sesuatu.
“Ibu tidak ingin kamu mengulang kesalahan Ibu.”
Arabella langsung menoleh.
“Maksud Ibu?”
Ibunya tersenyum tipis… tapi matanya mulai berkaca-kaca.
“Dulu… Ibu juga seperti kamu.”
Arabella terdiam.
“Ibu jatuh cinta dengan laki-laki dari keluarga berada.”
Suasana mendadak terasa lebih dalam.
“Itu… Ayah?”
Ibunya mengangguk pelan.
“Iya.”
Arabella menahan napas.
Ibunya melanjutkan dengan suara yang lebih pelan.
“Awalnya semuanya terasa indah. Dia baik, perhatian… membuat Ibu merasa dunia ini sederhana.”
Ia tersenyum pahit.
“Tapi kenyataannya tidak.”
Arabella hanya bisa diam, mendengarkan.
“Keluarganya tidak pernah benar-benar menerima Ibu.”
Suara itu mulai bergetar.
“Mereka melihat Ibu… tidak sebanding.”
Kata itu kembali terdengar.
Arabella mengepalkan tangannya pelan.
“Ibu bertahan. Berpikir kalau cinta itu cukup.”
Ibunya menggeleng perlahan.
“Ternyata tidak.”
Hening.
“Pada akhirnya… Ibu ditinggalkan.”
Arabella menatap ibunya dengan mata membesar.
“Ditinggalkan?”
Ibunya mengangguk pelan.
“Dia memilih orang lain… yang lebih ‘pantas’ menurut keluarganya.”
Suasana terasa semakin berat.
“Dan sebelum itu…” suaranya hampir berbisik, “dia juga sudah tidak setia.”
Arabella menahan napas.
Ia tidak pernah mendengar cerita ini sedalam ini sebelumnya.
“Ibu… diselingkuhi.”
Kalimat itu jatuh pelan… tapi menghantam keras.
Air mata mulai menggenang di mata ibunya, tapi ia tetap tersenyum tipis.
“Dan akhirnya… kami berpisah.”
Arabella tidak tahu harus berkata apa.
“Ibu tidak ingin kamu mengalami hal yang sama, Bela.”
Ibunya menggenggam tangan Arabella lebih erat.
“Rasa sakit itu… tidak mudah hilang.”
Arabella menunduk. Dadanya terasa sesak.
“Bu…”
“Ibu tahu kamu kuat.”
Ibunya mengusap kepalanya dengan lembut.
“Tapi Ibu tidak mau kamu harus kuat karena terluka.”
Air mata Arabella mulai jatuh tanpa ia sadari.
“Kalau kamu terlalu jauh berharap…”
Ibunya berhenti sejenak.
“…dan ternyata semuanya tidak seperti yang kamu kira, itu akan lebih sakit.”
Arabella menggigit bibirnya.
“Ibu hanya ingin kamu bahagia.”
Ia menatap Arabella dalam.
“Dengan orang yang tidak membuatmu merasa ‘kurang’.”
Keheningan menyelimuti mereka.
Arabella tidak bisa menjelaskan apa pun.
Ia tidak bisa bilang kalau semua ini hanya perjanjian.
Ia juga tidak bisa menyangkal…
bahwa hatinya mulai goyah.
Ibunya berdiri perlahan.
“Maaf kalau Ibu terdengar keras.”
Arabella menggeleng cepat.
“Tidak, Bu…”
Ibunya tersenyum lembut.
“Ibu hanya takut.”
Ia berjalan menuju pintu, lalu berhenti sejenak.
“Bela…”
Arabella menoleh, matanya masih basah.
“Jangan jatuh terlalu dalam… kalau kamu tahu tempatnya tidak aman.”
Pintu tertutup pelan.
Arabella duduk diam.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Pikirannya kacau.
Karena untuk pertama kalinya—
ia mulai bertanya pada dirinya sendiri…
apakah ini benar-benar hanya perjanjian…
atau sesuatu yang perlahan berubah menjadi lebih dari itu.