NovelToon NovelToon
Bos Baruku Ternyata Mantanku

Bos Baruku Ternyata Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.

Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.

Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11

Di ruangan HRD yang dingin dan terasa asing, Aira hanya bisa duduk terdiam. Suara pendingin ruangan yang berdengung pelan terdengar lebih jelas dibandingkan kata-kata yang baru saja ia dengar. Dunia seakan berhenti berputar. Semua terasa berat, menekan dadanya tanpa ampun.

Pikirannya kosong, namun di saat yang sama penuh oleh ketakutan.

Jika ia benar-benar dipenjara… bagaimana dengan ayahnya?

Bayangan wajah ayahnya muncul begitu saja. Wajah tegas yang selama ini selalu menuntutnya untuk menjadi sempurna. Tidak pernah salah. Tidak pernah gagal.

“Jangan mempermalukan keluarga,” suara itu kembali terngiang di kepalanya.

Aira menunduk. Tangannya mengepal pelan di atas pangkuannya.

Apakah ayahnya akan mendengarkannya?

Atau… seperti biasa… hanya menghakimi tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan?

Dadanya terasa semakin sesak.

Tanpa sadar, matanya mulai berkaca-kaca.

Selama ini… ia selalu berusaha menjadi anak yang baik. Mengikuti aturan. Menahan diri. Mengorbankan keinginannya sendiri.

Namun pada akhirnya… tetap saja tidak cukup.

Aira menghela napas panjang, lalu berdiri perlahan. Kakinya terasa lemas, tetapi ia memaksa dirinya untuk berjalan keluar dari ruangan itu.

Pintu terbuka.

Ia melangkah keluar tanpa menoleh sedikit pun.

Seakan semua yang baru saja terjadi tidak lagi penting.

Atau mungkin… ia sudah terlalu lelah untuk peduli.

Koridor kantor terasa panjang dan sunyi. Orang-orang berlalu-lalang, namun Aira tidak melihat siapa pun. Pandangannya kosong. Langkahnya pelan, tanpa arah yang jelas.

Ia hanya berjalan.

Tidak tahu ke mana.

Tidak tahu untuk apa.

Di dalam dirinya, sesuatu terasa hancur. Sesuatu yang selama ini ia jaga dengan susah payah.

Kepercayaan.

Harapan.

Dan mungkin… dirinya sendiri.

“Apa gunanya bertahan…” gumamnya lirih.

Suaranya hampir tidak terdengar.

Ia terus berjalan hingga akhirnya sampai di mejanya sendiri. Tasnya masih tergeletak di sana, seperti menunggunya.

Aira menatapnya beberapa detik.

Kemudian tersenyum tipis.

Senyum yang kosong.

“Sudah cukup,” katanya pelan.

Tangannya meraih tas itu. Ia tidak lagi peduli pada pekerjaan. Tidak peduli pada perusahaan yang membiarkannya dihina, direndahkan, dan diperlakukan seolah tidak berarti.

Ia ingin pergi.

Pergi sejauh mungkin.

Dari tempat ini.

Dari semua ini.

Mungkin… dari dunia ini.

Langkahnya kembali berlanjut. Kali ini lebih cepat, meski tetap tanpa arah yang jelas. Kepalanya tertunduk, rambutnya sedikit menutupi wajahnya.

Hingga—

Bruk.

Ia menabrak seseorang.

Tubuhnya sedikit terhuyung.

“Maaf—” ucapnya refleks.

Namun kata itu terhenti di tenggorokan ketika ia mendongak.

Bima.

Pria itu berdiri di hadapannya, menatapnya dengan tajam. Tatapan yang dingin, menusuk, dan penuh makna yang sulit dijelaskan.

Beberapa detik mereka hanya saling diam.

Lalu Bima berbicara.

“Putus asa?” tanyanya datar.

Aira mengernyit pelan.

Bima melanjutkan, suaranya terdengar tenang namun sarat emosi yang tertahan.

“Wajah seperti itu… aku pernah merasakannya.”

Aira menatapnya lurus.

“Apa maksudmu?” tanyanya dingin.

Bima tersenyum tipis.

“Saat kamu meninggalkanku.”

Kata-kata itu seperti tamparan.

Namun Aira tidak menunjukkan reaksi berlebihan. Ia hanya menatap Bima lebih dalam, lalu… tersenyum.

Senyum yang tidak mencapai matanya.

“Selamat,” katanya pelan. “Sepertinya kamu berhasil membalasnya.”

Bima sedikit mengernyit.

“Aku tidak melakukan apa pun,” jawabnya.

Aira tertawa kecil.

Tawa yang pahit.

“Tidak melakukan apa pun?” ulangnya. “Lucu sekali.”

Ia menggeleng pelan.

“Rasanya tidak adil, tahu?” lanjutnya. “Aku harus merasakan sakit dua kali… sementara kamu hanya sekali.”

Bima menatapnya lebih serius.

“Kamu pikir aku hanya terluka sekali?” suaranya mulai berubah, lebih dalam. “Aku hancur saat itu, Aira. Dan kamu tidak pernah tahu bagaimana rasanya.”

Aira terdiam.

Beberapa detik.

Kemudian sesuatu dalam dirinya seperti pecah.

“Tidak tahu?” suaranya bergetar.

Matanya mulai memerah.

“Kamu bilang aku tidak tahu?” ulangnya, kali ini lebih keras.

Bima terdiam, sedikit terkejut.

Aira menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan emosinya… namun gagal.

“Aku memutuskanmu karena terpaksa!” akhirnya ia berkata.

Air matanya mulai jatuh.

“Aku juga terluka, Bima!” suaranya pecah. “Tapi kamu tidak pernah mencoba untuk tahu!”

Bima membeku.

Aira melangkah mendekat, matanya menatap langsung ke dalam mata Bima.

“Kamu hanya sibuk dengan rasa sakitmu sendiri,” lanjutnya. “Kamu tidak pernah berpikir… mungkin aku juga hancur saat itu.”

Bima membuka mulut, namun tidak ada kata yang keluar.

Aira tersenyum lagi.

Senyum yang rapuh.

“Kalau kamu masih belum puas…” katanya lirih. “Silakan.”

Bima mengernyit.

“Lakukan apa pun yang kamu mau.”

“Apa maksudmu?”

Aira menatapnya tanpa berkedip.

“Pukul aku,” katanya pelan. “Hancurkan aku sekalian.”

Bima terkejut.

“Aira—”

“Aku sudah tidak peduli,” potongnya cepat. “Karena kamu tidak akan pernah mengerti.”

Air matanya terus mengalir.

“Rasa sakitku… tidak akan pernah sebanding dengan apa pun yang kamu lakukan.”

Suasana menjadi hening.

Berat.

Mencekam.

Aira menarik napas panjang, lalu mundur satu langkah.

“Selamat menikmati balas dendammu,” katanya dingin.

Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik.

Dan pergi.

Langkahnya cepat, seolah ingin melarikan diri dari semua itu.

Dari Bima.

Dari masa lalu.

Dari rasa sakit yang tidak kunjung hilang.

Bima tetap berdiri di tempatnya.

Diam.

Tidak bergerak.

Kata-kata Aira terus terngiang di kepalanya.

“Aku juga terluka…”

Ia menunduk.

Dadanya terasa sesak.

Melihat Aira menangis di depannya… seharusnya memberinya kepuasan.

Bukankah itu yang ia inginkan?

Balas dendam.

Membuat Aira merasakan apa yang pernah ia rasakan.

Namun yang ia rasakan sekarang… justru sebaliknya.

Kosong.

Dan sakit.

Lebih sakit dari sebelumnya.

“Kenapa…” gumamnya pelan.

Tangannya mengepal.

Ia tidak bahagia.

Sama sekali tidak.

Balas dendam yang selama ini ia pikir akan menenangkan hatinya… ternyata tidak ada artinya.

Justru… ia merasa sedang menyakiti dirinya sendiri.

Sementara itu, Aira terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.

Air matanya tidak berhenti.

Ia bahkan tidak peduli lagi siapa yang melihatnya.

Semua terasa tidak penting.

“Aira!”

Suara Ayunda terdengar dari belakang.

Aira tidak berhenti.

“Aira, tunggu!”

Langkah Ayunda terdengar semakin mendekat.

Namun Aira tetap berjalan.

Ia tidak ingin berhenti.

Tidak ingin mendengar apa pun.

Tidak ingin menjelaskan apa pun.

“Aira, tolong—”

“Aku ingin sendiri,” ucap Aira tanpa menoleh.

Suaranya lemah, namun tegas.

Ayunda terdiam.

Langkahnya melambat.

Aira terus berjalan.

Keluar dari kantor.

Keluar dari semua yang menekannya.

Begitu sampai di luar, udara terasa berbeda. Lebih bebas… namun tidak cukup untuk menghilangkan beban di hatinya.

Ia menatap jalanan di depannya.

Ramai.

Bising.

Namun ia merasa sendirian.

Sangat sendirian.

“Aku benci ini…” gumamnya.

Ia menggeleng pelan.

“Aku benci semuanya.”

Matanya kembali basah.

“Aku hanya ingin hidup bebas…”

Suara itu hampir tidak terdengar.

Setelah lepas dari ayahnya, ia pikir ia akhirnya bisa menentukan hidupnya sendiri.

Namun kenyataannya…

Ia hanya berpindah dari satu tekanan ke tekanan lain.

Dari ayahnya… ke dunia kerja yang kejam.

Ke orang-orang yang tidak peduli.

Ke lelaki yang memandang wanita hanya sebagai sesuatu yang bisa dipermainkan.

Dan Bima…

Aira menutup matanya sejenak.

Bima yang dulu mengatakan ingin melupakan masa lalu…

Ingin memulai lembaran baru…

Ternyata hanya menunggu waktu untuk membalas luka lama.

Aira tertawa kecil.

Pahit.

“Tidak ada yang benar-benar berubah,” bisiknya.

Ia kembali melangkah.

Tanpa tujuan.

Tanpa arah.

Seolah satu-satunya yang ia inginkan hanyalah terus berjalan…

Menuju sesuatu yang ia sebut kebebasan.

Meski ia sendiri tidak tahu… di mana itu berada.

1
Wayan Sucani
Lanjut thor...
Nurjana Bakir
lanjut thoor
Black Rascall: siap👍👍👍 jangan lupa likenya kak
total 1 replies
Cucu Rodiah
udah kalou begini terus tidak baca lagi
Black Rascall: makasih udah mampir kak semoga nanti mau mampir lagi
total 1 replies
Cucu Rodiah
komentar apalagi udah dua kali komentar
Black Rascall: tenang aja kak nanti kalau view nyentuh 5K saya update 10 bab sehari buat ngasih bonus ke pembaca yang sudah mendukung
total 1 replies
Cucu Rodiah
teruskan kan jangan di potong potong
Black Rascall: sabar ya kak udah saya siapkan bab terjadwal sampai bab 44 kok update setiap hari
total 1 replies
Cucu Rodiah
maki seru bagus
Black Rascall: makasih dukungannya bab berikutnya mungkin lebih parah ributnya
total 1 replies
Nana umi
bagus
Black Rascall: makasih kak bantu likenya
total 1 replies
Lempongsari Samsung
makasih crazy up nya thor❤❤❤
Black Rascall: yang penting likenya yang rajin kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!