NovelToon NovelToon
Geminiorum Pendekar Sayap Putih

Geminiorum Pendekar Sayap Putih

Status: tamat
Genre:Action / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:93
Nilai: 5
Nama Author: Vi nhnựg nười Nĩóđs

Langit Elarion tidak pernah benar-benar diam.

Ia bernapas.

Bukan seperti makhluk hidup—tidak dengan paru-paru atau denyut nadi—melainkan dengan ritme kosmik yang tak terlihat, gelombang halus yang mengalir di antara bintang-bintang seperti bisikan yang terlalu tua untuk diingat. Warna ungu kebiruan yang membentang di ufuk fajar bukan sekadar fenomena cahaya, melainkan residu dari hukum-hukum yang terus menulis ulang dirinya sendiri, detik demi detik, tanpa pernah berhenti.

Di dunia manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vi nhnựg nười Nĩóđs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: API YANG TERBANGUN

Malam telah turun sepenuhnya, menyelimuti dunia di bawah selimut kegelapan yang tenang. Namun di lereng-lereng tinggi pegunungan ini, udara terasa jauh lebih tipis dan jauh lebih dingin. Bintang-bintang tampak lebih besar dan lebih terang, seolah-olah mereka hanya berada beberapa jengkal di atas kepala, siap untuk diambil.

Lira berjalan di samping Nyxarion. Langkah mereka teratur, memecahkan kebisuan alam yang mendalam.

Sejak menerima bantuan pria itu, Lira merasa beban di pundaknya sedikit berkurang. Nyxarion tidak banyak bicara, namun setiap gerakannya penuh keyakinan. Ia tahu jalan setapak mana yang aman, ia tahu di mana sungai tersembunyi berada, dan ia tahu cara menghindari kabut tebal yang bisa membuai pikiran.

Namun masalah terbesar Lira bukanlah jalan yang terjal atau binatang buas.

Masalahnya ada di dalam dirinya sendiri.

Dug… Dug… Dug…

Jantungnya berdetak semakin kencang, tidak seirama dengan langkah kakinya. Setiap kali mereka naik seratus meter lebih tinggi, ia bisa merasakan tekanan yang aneh. Seolah-olah ada dua tangan raksasa yang sedang meremas dadanya, mencoba memeras sesuatu yang tersembunyi di dalam sana.

Energi itu.

Kekuatan Myrrha yang selama ini tertidur, kini benar-benar bangun. Ia bergejolak di dalam tubuh kecilnya, mendesak ingin keluar, mendesak ingin bebas seperti dulu lagi.

“Nnngh…” Lira mengerang pelan, terhuyung sedikit. Kakinya lemas, dan pandangannya mulai kabur. Cahaya-cahaya kecil berwarna emas mulai melayang keluar dari pori-pori kulitnya, tanda bahwa tubuh fisiknya mulai tidak sanggup menampung energi spiritual yang begitu masif.

“Hey, jangan diam!” suara Nyxarion terdengar tegas dan mendesak.

Tangan dinginnya segera mencengkeram bahu Lira, menyalurkan sedikit energi gelapnya untuk menstabilkan keadaan gadis itu. Bukan untuk menambah kekuatan, tapi untuk bertindak sebagai penahan, sebagai dinding yang menahan agar cahaya itu tidak meledak keluar secara tak terkendali.

“Kau harus mengendalikannya, Lira! Jangan biarkan dia yang menguasaimu!” seru Nyxarion.

“Aku… aku tidak bisa!” rintih Lira, matanya terpejam erat menahan rasa panas yang menjalar ke seluruh tubuh. “Rasanya seperti ada api yang membakar dari dalam! Aku merasa akan meledak!”

“Maka biarkan dia mengalir! Jangan ditahan, tapi juga jangan dilepaskan semuanya!” ajar Nyxarion dengan suara yang tegas namun tetap tenang. “Kau mengerti? Bayangkan dirimu adalah sebuah wadah. Jika kau menutup rapat dan air terus mengalir masuk, wadah itu akan pecah. Tapi jika kau membuka keran terlalu besar, airnya akan tumpah dan membanjiri segalanya.”

Lira berusaha keras mencerna kata-kata itu. Ia berdiri diam di tengah jalan berbatu itu, membiarkan angin malam menerpa wajahnya yang memerah.

Tenang, Lira… Tenang… bisiknya dalam hati. Ingat saat kau membuat bunga mekar? Kau tidak memaksanya. Kau hanya… menemaninya tumbuh.

Ia mencoba menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara pegunungan yang dingin. Ia mencoba memvisualisasikan energi yang panas dan liar itu di dalam perutnya. Ia membayangkan energi itu sebagai seekor naga emas yang besar dan kuat, yang sedang marah karena dikurung.

Dulu, ia selalu mencoba menguncinya.

Sekarang, ia mencoba berbicara dengannya.

“Tenanglah…” pikirnya memohon dengan lembut. “Aku tahu kau kuat. Aku tahu kau ingin keluar. Tapi kita butuh tubuh ini untuk berjalan. Tolong… ikutlah denganku secara perlahan.”

Ajaibnya, saat ia berhenti melawan dan mulai menerima, rasa sakit itu berkurang drastis.

Energi yang tadinya menderu kencang seperti badai, kini mulai bergerak teratur. Ia mulai mengalir keluar dari jantung, menyebar ke tangan, ke kaki, dan ke kepala, namun tetap berada di dalam batas tubuhnya, tidak tumpah keluar menjadi ledakan yang berbahaya.

Cahaya-cahaya emas yang melayang di udara perlahan ditarik kembali masuk ke dalam kulitnya.

Lira membuka matanya. Matanya kini bersinar terang dengan cahaya keemasan yang lembut, namun tidak menyilaukan. Ia bisa merasakannya. Kekuatan itu ada di sana, penuh dan dahsyat, namun kini ia memegang kendali. Ia adalah tuannya.

“Bagus…” gumam Nyxarion dari samping, wajahnya tampak terkesan. “Sangat bagus. Kau belajar cepat.”

Lira menatap tangannya sendiri. Ia merasakan kekuatan baru yang luar biasa. Kakinya yang tadinya lemas kini terasa ringan, seolah-olah ia tidak memiliki berat badan sama sekali.

“Aku merasa… bisa terbang,” bisik Lira tak percaya.

“Kau memang bisa,” jawab Nyxarion santai. “Tapi sayapmu belum sepenuhnya tumbuh kembali dalam wujud fisik. Jadi untuk saat ini, gunakan kekuatan itu untuk melangkah.”

Lira tersenyum. Sebuah senyum percaya diri yang baru.

Ia melangkah maju. Dan saat telapak kakinya yang telanjang menyentuh batu yang tajam dan dingin, sesuatu yang menakjubkan terjadi.

Ia tidak menginjak batu itu.

Kakinya melayang beberapa sentimeter di atas permukaan tanah.

Cahaya emas tipis terbentang di bawah kakinya, menjadi jalan setapak yang tak terlihat. Lira berjalan di udara, melangkah seolah-olah ia berjalan di atas air atau di atas awan. Medan yang terjal dan curam di depannya kini terasa rata dan mudah dilalui.

“Wah…” Lira terkikak senang, melupakan sejenak bahaya yang mengintai. “Ini luar biasa!”

Nyxarion menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah polos gadis itu, namun sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum tipis.

“Jangan terlalu senang dulu,” tegur Nyxarion namun tanpa nada keras. “Energi itu menggunakan cadangan hidupmu. Jika kau berjalan seperti itu terus-menerus, kau akan kelelahan sebelum sampai di puncak.”

“Iya, iya…” jawab Lira manja, namun ia perlahan menurunkan kakinya kembali menyentuh tanah, meski langkahnya tetap terasa ringan dan melayang.

Mereka melanjutkan perjalanan lagi. Namun suasana kini telah berubah total.

Lira bukan lagi gadis kecil yang ketakutan dan bingung. Ia mulai memahami panggilan jiwanya. Ia mulai merasakan koneksinya dengan alam semesta. Setiap desiran angin berbisik padanya arah mana yang harus diambil. Setiap bintang di langit memberinya kekuatan.

Api di dalam dadanya tidak lagi menjadi ancaman yang ingin membakarnya hidup-hidup. Api itu kini telah menjadi obor, menjadi sumber panas dan cahaya yang menerangi jalan gelap di hadapan mereka.

Di depan sana, puncak gunung semakin dekat. Pilar cahaya yang menjadi Gerbang Langit kini tampak begitu jelas, bersinar megah menembus malam, seolah-olah sedang menanti kedatangan putri hilangnya yang akhirnya kembali ke rumah.

Perjalanan masih panjang, namun untuk pertama kalinya sejak ia memutuskan pergi dari desa, Lira tidak merasa sendirian. Dan yang paling penting, ia tidak lagi takut pada dirinya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!